PPF 2025: Perpuisian Indonesia dalam “Harap dan Cemas”

Ada nuansa kelabu mengamati perkembangan puisi Indonesia dalam dua dekade terakhir. Apalagi setelah media cetak mulai ditinggalkan. Kemudian, publikasi puisi kini beralih ke media-media online—termasuk media sosial: sastrawan disergap oleh dua kata, harap dan cemas. Harap, karena puisi akan berhadapan dengan media baru yang memiliki potensi meningkatkan potensi bentuk maupun isi. Cemas, karena media baru ini akan menggerus standar yang pada titik tertentu mengantar pada kecenderungan “mana-suka”.

Simpulan itu terpampang pada Diskusi ‘Pertangunggjawaban Dewan Juri Sayembara Manuskrip’. Program yang setiap tahun diadakan Payakumbuh Poetry Festival (PPF). Dimoderatori, Ivan Adilla, hari terakhir PPF 2025 itu, mampu menghadirkan ketiga dewan juri; Gus tf, Inggit Putria Marga dan Raudhal Tanjung Banua. Mereka bergantian memaparkan di depan khalayak mengenai postur sayembara.

Panita menyebutkkan, sayembara mengoleksi 108 naskah manuskrip puisi yang dinyatakan lolos administrasi. Jumlah yang sudah dikerucutkan akibat 16 lainnya gagal menenuhi syarat. Gus tf menyebutkan, setelah mencermati, membaca berulang-ulang selama satu bulan, tidak ada manuskrip yang menunjukkan cara lepas dari lingkaran ‘harap dan cemas’. Seluruh manuskrip dianggap perpanjangan belaka, dari puisi-puisi yang marak hadir di media-media cetak pada masa sebelum dua dekade lalu.

Penyair Indonesia itu menyatakan, manuskrip puisi yang di baca, sebetulnya tidak memenuhi ekspektasi yang diinginkan. Terutama dalam kerangka regenerasi penyair dalam dunia kesusastraan khususnya puisi. Regenarasi dalam pola pikir dan inovasi karya. Puisi-puisi yang sampai ke tangannya umumnya lemah, dan belum bisa sampai pada level yang diharapkan.

Namun, Inggit memiliki pandangan berbeda. Ia menilai, manuskrip puisi memang jauh lebih sulit dibandingkan menilai sebuah puisi. Dan menurut penyair asal Lampung ini, ketika dihadapkan dengan porsi karya yang lebih banyak tidak memenuhi standar, justru memudahkan dalam proses penjurian.

Umumnya karena ada beberapa puisi yang disampaikan dengan kuat dan ada beberapa yang lemah. Inggit menetapkan lima kriteria dalam proses penjurian; benang merah/tematik dalam kuratorial, unsur intrinsik puisi, inovasi dalam puisi, kepadatan dalam berbahasa dan cara penyair mengekspresikan pikiran. Standar yang sudah disepakati bersama dewan juri lainnya.

Dalam kepadatan berbahasa dan inovasi sebagai contoh, Gus tf mengatakan si penyair belum mampu mengolah dan membawa idiom-idiom itu masuk ke dalam lingkup semantik. Padahal, ada manuskrip puisi mencoba mengambil idiom dari istilah-istilah teknis komputer atau teknologi informasi.

Tentu saja yang dimaksud peraih Sea Write Award di sini mengenai pembaharuan sebagai salah satu penilaian hanya berurusan dengan bentuk. Pembaharuan yang lebih mendasar justru sering bersinggungan dengan gaya pengucapan yang dibuat si penyair.

Memilih Antara Atah dan Beras

Jika ditilik sejarah dan tradisi pendek perpuisian Indonesia—setidaknya dari Raja Ali Haji dan Hamzah Fansuri sampai ke Afrizal Malna dan Joko Pinurbo—justru berpusat pada keahlian penyair memanfaatkan perangkat puitik atau poetic devices. Sayangnya, dari 108 manuskrip puisi yang dewan juri baca, tidak satu pun manuskrip mampu, atau berpotensi, membuka atau memberi jalan baru untuk sejarah dan tradisi perpuisian Indonesia yang pendek itu.

Ukuran penilaian lain yang sebetulnya merupakan tahap awal yang diterapkan adalah keterbacaan. Ukuran ini diterapkan di depan karena bisa dengan segera memisahkan mana yang puisi mana yang tidak; mana yang atah mana yang beras.

Ada pendapat, makin sulit memahami sebuah puisi maka makin bermutulah si puisi. Pendapat ini, dalam pandangan dewan juri, harus bertanggung jawab terhadap mutu sembarangan penyair yang seenaknya menggunakan kata, menganggap sintaksis-susunan kalimat tidak penting, dan kerumitan adalah tujuan utama. Dan segera, hampir sepertiga dari 108 manuskrip langsung gugur dalam seleksi.

Rendahnya eksplorasi bacaan juga bisa diukur dengan sebaliknya: terlalu panjang dan berbelit-belit terbata-bata menggunakan kata. Berbeda dari kasus pertama, kasus kedua ini benar-benar lahir dari kurangnya keterampilan dan pemahaman penyair dalam berbahasa.

Menulis puisi, kata Gus tf, sejatinya, adalah puncak kemahiran berbahasa. Hanya pada tingkat mahirlah seseorang baru bisa bermain-main dengan kata. Aneh sekali bila seorang penyair masih kerepotan, misalnya, dengan aturan berbahasa yang bahkan tidak bisa membedakan “di” sebagai kata depan atau “di-” sebagai imbuhan. Dengan ini segera pula, sepertiga lain langsung tersisih, membuat dewan juri tinggal berhadapan dengan 30-an manuskrip.

Awalnya dewan juri berpikir dengan jumlah 30-an tentu penilaian akan lebih mudah. Namun, kenyataannya justru pada tahap inilah dewan juri dituntut berhati-hati. Bukan hanya karena ukuran-ukuran penilaian berikutnya—kepaduan (koherensi), kedalaman (kompleksitas), dan keaslian (orisinalitas)—menghendaki ketelitian, kecermatan, dan tentu pula kesabaran, melainkan karena 30-an manuskrip puisi yang tersisa berkualitas lebih kurang sama.

Bagi sebagian kita ungkap dewan juri, orisinalitas mungkin disikapi sama dengan inovasi. Bila hanya didasarkan pada pandangan perbadaan karya penyair satu dengan penyair lain. Namun, bila perbedaan ini dipatok pada kontribusi seorang penyair memberikan sumbangan terhadap tradisi dan perkembangan kesusastraan sebuah bangsa, inilah yang disebut dengan inovasi; sesuatu yang, kalau diibaratkan makanan, mungkin ia adalah bahan pokok, entah itu beras, umbi-umbian atau daging dan telur. Sementara keaslian adalah bumbunya, akan jadi apa makanan ini bergantung pada bumbu yang dipakai untuk mengolah bahan pokok. Dengan kata lain, keaslian berurusan dengan “sidik jari” seorang penyair. Sementara inovasi lebih berurusan pada bagaimana karya seorang penyair “menjadi jalan” bagi penyair lain pada masa sesudahnya.

Dari 30-an manuskrip, dikatakan bahwa dewan juri kesulitan menemukan keaslian. Manuskrip yang sudah mampu memperlihatkan jati diri penyairnya. Beberapa, memang tampak berbeda, tetapi hal itu lebih dikarenakan pilihan penulis pada tema ataupun latar dan media ucap puisi-puisi mereka. Seperti manuskrip karya Polanco Surya Achri, misalnya, yang memanfaatkan dunia manga (komik Jepang) dan mangaka (creator). Atau manuskrip pemenang pilihan karya Galeh Pramudita Arianto yang media ucapnya memanfaatkan dunia sekitar film atau adegan-adegan film.

Kepaduan dan kedalaman adalah ukuran atau kriteria terakhir bagi dewan juri memilih 10 dari 30-an manuskrip, untuk kemudian memilih 5 terbaik dari 10 manuskrip. Dalam hal kepaduan, dewan juri tidak hanya melihat perpaduan masing-masing puisi dalam satu manuskrip, tetapi juga pada adanya satu wacana, kalau bukan tema, tertentu yang digarap melalui kesadaran estetika tertentu. Dengan kata lain, sebuah manuskrip puisi bagus harusnya tidak hanya berisi sejumlah puisi bagus tanpa ada benang merah antara satu puisi dengan puisi lainnya.

Dalam hal kedalaman kompleksitas dewan juri menggali manuskrip yang mampu mengantarkan kepada pemahaman-pengalaman berlapis, yakni puisi-puisi yang sering dilabeli “tidak habis sekali baca”. Apa yang ingin disampaikan dewan juri ialah, kompleksitas merupakan puncak kesadaran seorang penyair, karena di sinilah kita bisa melihat bagaimana penyair berjuang memilih-memiuh kalimat, klausa, frasa, kata, sehingga mampu menghadirkan makna yang lebih banyak dari apa yang dikatakannya.

Mentoring bagi Pemenang

Dari tahapan penilaian itu, kemudian panitia mencocokan nomor-nomor manuskrip dengan pengirim. Lalu, setelahnya baru lah dewan juri dan panitia mengetahui siapa pemilik manuskrip terbaik dari sayembara penulisan manuskrip puisi PPF 2025 ini. Pemenang lima mansukrip terbaik: Arsitektur Kekkai, Variasi Filler, dan Biografi Semacam Aku karya Polanco Surya Achri (Yogyakarta, DIY). Balada Penangkal Musim Buruk karya Arif Purnama Putra (Padang, Sumatera Barat) Belajar Menanggalkan Bulan karya Dandri Hendika (Solok Selatan, Sumatera Barat. Meneroka dan Membakar Batu-Batu karya Adriansyah Subekti (Banyumas, Jawa Tengah). Sebelum Mati, Ia Berbisik: Amor Fati karya Badrul Munir Chair (Grobogan, Jawa Tengah). Lalu lima manuskrip puisi pilihan: Distorsi Afek://Error404 karya Wawan Kurniawan (Soppeng, Sulawesi Selatan). Kronik Hari karya Andreas Mazland (Pekanbaru, Riau) Meditasi Jantung Hutan karya Mohammad Habibi (Sumenep, Jawa Timur) Mendengar Nocturne 20 pada C Sharp Minor karya Bima Yuswa (Lampung Tengah, Lampung) Mengunjungi Kembali Adegan Favoritmu karya Galeh Pramudita Arianto (Tangerang Selatan, Banten).

Lantas tidak hanya sampai di situ, panitia PPF juga mengupayakan program mentoring bagi pemenang manuskrip terbaik dan pemenang pilihan dengan mengundang dua mentor lain selain dewan juri yaitu Dorothea Rosa Herliany dan Kiki Sulistyo. Masing-masing pemenang manuskrip terbaik dan pemenang pilihan akan mengadakan pertemuan sebanyak empat kali via daring.

Tujuan dari mentoring ini ialah untuk lebih mengeksplore dan meningkatkan ‘mutu’ dari mauskrip yang dikirimkan pemenang. Masing-masing mentor tentu memiliki gaya yang berbeda. Misalnya, mentor sekaligus dewan juri yakni Raudhal Tanjung Banua. Dari wawancara bersama pemenang yakni Badrul Munir Chair, Raudhal sebagai memposisikan dirinya sebagai teman diskusi. Sehingga penyair bisa tahu di mana kelemahan dari manuskripnya. Namun, dengan cara mentoring yang nyaman. Diakui Badrul, cara ini membantunya mendapatkan sudut pandang baru dari pembaca tanpa menghilangkan perspektif ahli.

Adanya diskusi pertanggungjawaban dewan juri dan mentoring bagi pemenang, seperti yang disebut oleh Gus tf agaknya dapat memunculkan kembali ruang dialog dalam festival. Agar, festival tidak lagi dipandang sebagai seremonial semata.

Memperlihatkan Solidaritas

Dalam diskusi, tak hanya Badrul yang hadir. Adriansyah Subekti, Polanco Surya Achri, dan Dandri Hendika pun akhirnya tiba di Payakumbuh setelah dua hari terjebak di Padang akibat banjir. Badrul dan Inggit, sampai duluan karena pesawatnya mendarat di Pekanbaru. Malam, 27 November itu, mereka menuju Payakumbuh dan baru sampai dini hari.

PPF tahun ini, memang dilaksanakan dalam duka mendalam akibat banjir yang mengakibatkan longsor yang mendera beberapa daera di Sumbar. Namun, karena Payakumbuh dalam kondisi hijau, Panitia tetap melanjutkan. “Pilihannya, diundur. Dan kita tidak tahu sampai kapan penanganan akan selesai,” ujar Direktur Festival, Roby Satria.

Dalam memperlihatkan solidaritas, tiap malam, panitia mengumpulkan donasi untuk korban banjir. Setiap kesempatan, diucapkan duka mendalam terhadap korban. Untunglah, pada Sabtu, saat diskusi dewan juri diadakan, cuaca sudah cerah. (***)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top