
Sabtu sore, 14 Februari 2026, ruas Jalan Kalimantan Dalam Kompleks Perumahan Bumi Kasai, Korong Kasai, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, terlihat semarak. Di ruas jalan dengan kiri kanan rumah-rumah, tampak ramai oleh warga, anak-anak, remaja, para kreator seni dan budaya. Kawasan tersebut bernama “Ruang Temu Nan Tumpah”, sebuah “ruang” atau arena berkreativitas seni bagi warga bersama Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT). Ada sekitar 20 rumah di sana, yang anak-anaknya mengikuti program Kelana Akhir Pekan, sebuah program kelas kreatif di bidang tari, seni rupa, menulis, silek dan teater.
Di rumah-rumah dimana pada setiap pintunya keluar anak-anak dan orangtua dengan wajah suka cita pada sore itu, pada beberapa rumah terlihat lukisan terpajang di dinding ruang tamunya. Juga, karya-karya lain bisa ditemukan di puing-puing, di antara rumput liar, tumpukan sampah, kandang ayam, dan tiang jemuran warga di komplek perumahan teresebut.

Menurut Mahatma Muhammad, Ketua Komunitas Seni Nan Tumpah, karya-karya tersebut diproduksi langsung di lokasi di antara warga kompleks. Material yang digunakan sebagian besar ditemukan dari lingkungan sekitar: genteng, seng, kayu, kain bekas, limbah, hingga sisa material bangunan. Ada tiga perupa yang mengeksekusi ledakan gagasan itu, yaitu Imam Teguh Sy dari Pasawangan Art yang berdomisili di Padang Panjang, Olimsyaf Putra Asmara dari Komunitas Punago di Kayutanam, dan Boy Nistil dari Kaday Loket di Solok.
Gambaran di atas, merupakan potret kecil dari program acara tahunan “Ke Rumah Nan Tumpah #10”, yang telah berjalan sejak tahun 2017. Program ini merupakan upaya bersama dalam memberdayakan kesenian tradisional sekaligus menggali potensinya sebagai sumber penciptaan karya seni kontemporer. KSNT juga menghadirkan penampil dari luar, seperti Bandar Kertas Buram Band, Sanggar Museum Parak Sintuk, Kiraiku Nan Jombang, Komunitas Laguna Nusantara serta Obe jo Gogo.
Menurut Mahatma, kali ini Nan Tumpah menghadirkan dua kegiatan utama yaitu Pameran Silotigo dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan yang dibuka pada 7 Februari lalu. Pameran Silotigo merupakan kolektif seni yang digagas oleh Imam Teguh SY, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil, yang menampilkan karya personal maupun kolaboratif ketiga seniman, sedangkan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan merupakan ruang presentasi karya siswa kelas seni binaan Komunitas Seni Nan Tumpah bagi anak-anak dan remaja Korong Kasai, dalam bentuk pertunjukan tari, musik, teater, pameran seni rupa, serta peluncuran buku fiksi.

Dalam pengamatan cagak.id sore itu, kawasan Ruang Temu Nan Tumpah terlihat semarak. Pertunjukan baru akan digelar pukul 20.00 malam, sementara warga sudah mulai antusias melihat anak-anak berdandan, make up, mengepang rambut, dan melakukan aktivitas persiapan pertunjukan. Menyaksikan mereka menyiapkan diri untuk tampil pada malam harinya, suatu keasyikan tersendiri. Bahkan, terasa pertunjukan seni sudah dimulai sore itu sejak mereka mulai kasak-kusuk menyiapkan diri untuk tampil. Banyak para pengunjung dan warga yang mengabadikan aktivitas, tingkah polah lucu dan riang anak-anak itu dengan kamera handphone.
Komunitas Seni Nan Tumpah, sejak berdirinya tahun 2010, tidak pernah kosong dengan kegiatan. Banyak hal yang telah diwujudkan. Menariknya, keberadaan KSNT di Korong Kasai tersebut, mewujud sebagai sebuah pusat kesenian alternatif dimana warga bersama anak-anak mereka menjadikan ini rumah bersama. Kesenian di sini bagai hidup bersama warga.
Ketika Sabtu malam tiba, anak-anak “Kelana Akhir Pekan Tampil” untuk mengikuti ujian di pentas atas apa yang mereka pelajari. Pertunjukan seni di panggung yang telah disediakan, salah satu daya tarik yang membuat warga atau tamu undangan tetap semangat menonton, walau hujan deras mengguyur. Pada malam itu, diselai listrik padam, hujan dan genangan air, program KSNT tetap jalan dan meriah. Anak-anak yang tampil dan warga yang menonton, bagai menganggap malam baik-baik saja, hujan yang turun deras adalah tamu rutin yang numpang lewat.

“Warga di sini sudah akrab dengan banjir, genangan air adalah bagian kehidupan mereka,” kata Mahatma, menceritakan, bahwa sejak kompleks ini dibangun pada 1996, banjir telah menjadi bagian dari pengalaman kolektif warga. Dengan kata lain, kawasan ini tidak pernah benar-benar bebas dari air. Genangan bukan peristiwa baru, melainkan kondisi yang menyertai sejarah pemukiman itu sendiri.
Karena itu, lokasi ini bukan ruang seni yang terpisah dari gangguan lingkungan. Ia berdiri di wilayah yang menyimpan ingatan banjir sebelumnya, sekaligus kecemasan akan genangan berikutnya. Aktivitas yang berlangsung di dalamnya selalu berhadapan dengan ketidakpastian: apakah ruang akan tetap kering, apakah akses masuk perumahan akan terputus, atau apakah kegiatan harus berhenti sementara karena sarana, prasarana, dan buku dan kertas kerja terendam air.

“Rukun Paksa/Berakit-Rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan”, adalah tema “Ke Rumah Nan Tumpah #10” yang secara filosofis bisa dimaknai menyimpulkan realita yang berjalan dalam kehidupan kolektif warga. Karena itu, sesuatu yang menyentuh dan membanggakan hati, ketika anak-anak atau mereka yang sudah bersusah payah latihan menyiapkan pertunjukan tiba-tiba hujan deras, air tergenang, namun di wajah mereka tidak terlihat kekecewaan, rasa menyesali capek-capek menyiapkan diri latihan tahu-tahu hujan. Tidak, semua berjalan alamiah, riang, penonton tetap nonton, mereka tetap tampil walau diselai listrik padam dan angin kencang, air tergenang. Tepuk tangan tetap hangat walau dari telapak yang basah oleh hujan.
Dalam konteks ini, kata Mahatma mengilustrasikan realita, bahwa tinggal di genangan bukanlah metafora. Ia adalah praktik hidup. Ia menuntut penyesuaian yang terus-menerus tanpa janji pemulihan yang jelas. Tidak ada garis finis yang dapat diandalkan, tidak ada fase “setelah” yang stabil. Yang ada adalah keberulangan yang menuntut kewaspadaan berkelanjutan.
Pameran Silotigo
Pameran Silotigo dalam program Ke Rumah Nan Tumpah #10 salah satu daya tarik bagi undangan atau penikmati seni yang datang dari berbagai komunitas atau daerah di luar Korong Kasai.
Karya-karya dalam pameran Silotigo ini tidak ditempatkan di ruang pamer konvensional. Mereka hadir di ruang latihan Komunitas Seni Nan Tumpah yang disulap menjadi galeri sementara, serta menyebar ke teras dan garasi rumah warga, dinding yang telah mengalami retak dan tambalan, ruang tamu, kebun, hingga puing-puing rumah yang ditinggalkan sejak gempa 2009 dan banjir-banjir setelahnya. Ruang-ruang ini tentu saja bukan ruang kosong yang siap diisi makna, tetapi ruang yang telah penuh oleh lapisan pengalaman hidup.

“Dalam pameran ini seniman tidak ditempatkan sebagai pembawa nilai atau pembaharu, melainkan sebagai tamu yang perlu membaca ruang sosialnya, beradaptasi dan memahami kapan boleh berbicara, kapan cukup mendengar. Kesadaran akan posisi ini menjadi bagian penting dari praktik artistik itu sendiri,” ulas Mahatma menanggapi pertanyaan kehadiran karya tiga perupa Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil.
Ketiga perupa yang disebut Mahatma tersebut, melakukan program Residensi Kolektif Silotigo, yang dijalani Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil selama satu bulan di Sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah. Selama program residensi tentu ketiga perupa ini berinteraksi dengan warga, terutama dengan anak-anak Kelana Akhir Pekan. Ketika kita menghadiri event “Ke Rumah Nan Tumpah #10” juga ada sebuah ruang yang memarkan karya-karya seni anak-anak setempat, yang telah melalui kurasi.
Membangun Pusat Kesenian di Pinggiran
Menanggapi kehadiran KSNT sejak berdirinya, Nasrul Azwar, Pengamat Seni dan Budaya Sumatera Barat, yang juga mencermati perkembangan komunitas ini sejak berdirinya, mengatakan Nan Tumpah memiliki tata kelola dan manajemen yang berbeda dibandingkan dengan kelompok seni lainnya. Perbedaan tersebut terlihat dari cara mereka mengorganisasi kegiatan-kegiatan yang tergabung dalam satu irama kerja yang selaras. Fokus utama tata kelola mereka bukan semata-mata pada kualitas karya yang ditampilkan, melainkan pada sistem pengelolaan yang konsisten dan terencana dengan baik.

Menurut Nasrul, dalam sejarah panjang KSNT, salah satu langkah yang dianggap fenomenal adalah keberanian mereka memulai sebuah festival dengan menerapkan sistem tiket berbayar, sesuatu yang hampir tak berani dilakukan di Padang. Penerapan tiket tersebut tidak justru mengurangi minat masyarakat untuk hadir, melainkan menunjukkan respons yang tetap tinggi. Festival-festival yang diselenggarakan di Taman Budaya dan Universitas Negeri Padang, misalnya, mendapatkan sambutan yang cukup besar meskipun berbayar. Langkah ini menjadi bukti bahwa mereka berani menjual kualitas pertunjukan dan menunjukkan bahwa karya yang disajikan tidak dilakukan secara sembarangan.
Apabila kualitas dipisahkan dari konteks penilaian—seperti pendekatan artistik, metodologi, atau tema—maka yang dapat dipastikan adalah tingkat partisipasi penonton yang tinggi. Dalam satu pekan penyelenggaraan festival, jumlah penonton rata-rata mencapai hampir seribu orang. Puncak tertinggi terjadi pada Festival Nan Tumpah tahun 2025 yang diselenggarakan secara gratis, karena pendanaannya berasal dari dana publik sehingga tidak diperkenankan menerapkan tiket berbayar.
“Pada satu hari penyelenggaraan, jumlah penonton bahkan mencapai sekitar tiga ribu orang. Meskipun gratis, sistem tiket tetap digunakan sebagai bentuk pendataan dan kontrol kehadiran,” tukas pengamat yang akrab disapa Mak Naih ini ketika diwawancarai di sela-sela kegiatan Nan Tumpah.

Dari sisi kuratorial, KSNT menerapkan proses kurasi sejak tahap awal. Manajemen kurasi mereka berjalan dengan jelas dan tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap kelompok atau individu yang diundang memiliki latar belakang, sejarah, serta rekam jejak yang relevan dengan tema festival yang diusung. Pendekatan tata kelola inilah yang banyak dibicarakan dan dituliskan, bahkan telah terdokumentasi dalam bentuk buku dan arsip, sebagian di antaranya dapat diakses melalui laman resmi mereka nantumpah.org
Konsep festival yang dikembangkan KSNT cenderung mengarah pada festival warga, dengan menekankan keterlibatan publik secara luas. Arsipasi menjadi aspek krusial dalam praktik mereka, meskipun hal ini masih jarang dilakukan secara serius oleh komunitas seni. KSNT justru berani dan konsisten melakukan dokumentasi secara lengkap, baik dalam bentuk katalog, buku program, maupun arsip kegiatan. Praktik ini penting sebagai investasi pengetahuan untuk masa depan.

Menurut Pemimpin Redaksi sumbarsatu.com ini, sebagaimana juga dipaparkan Mahatma sebelumnya, bahwa dalam hal manajemen internal, KSNT yang terkenal dengan program “Pekan nan Tumpah” ini menerapkan pembagian tugas yang jelas. Setiap anggota memiliki deskripsi kerja yang terstruktur, dan sistem tersebut berjalan dengan baik. Di luar aktivitas kesenian, para anggotanya juga mengembangkan praktik ekonomi kreatif, seperti produksi film, penjualan karya, dan aktivitas lain untuk menunjang keberlanjutan hidup. Hal ini disadari sebagai kebutuhan, mengingat praktik kesenian tidak selalu menjamin kestabilan ekonomi.
Langkah lain yang dinilai berani adalah keputusan Nan Tumpah untuk membangun pusat aktivitas seni di wilayah pinggiran, seperti di Korang Kasai Kanagarian Kasang saat ini. Lokasinya jauh dari pusat kota dan ruang-ruang kesenian formal. Pilihan ini menantang pandangan umum yang selama ini memosisikan kesenian sebagai aktivitas yang dekat dengan pusat kota. Di tengah masyarakat Minangkabau, kesenian kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak mendesak, karena kebutuhan hidup seperti bekerja di sawah dan ladang dianggap lebih utama. Namun, pada dasarnya, kesenian justru merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan makna demikianlah KSNT hadir bersama masyarakat, merayakan dengan anak-anak dan remaja serta keluarga mereka di kawasan yang bersama mereka sebut “Ruang Temu Nan Tumpah”.

KSNT juga mengadopsi pamenan ke dalam program Pekan Nan Tumpah atau Ke Rumah Nan Tumpah. Ia dimainkan di galanggang sebagai bagian dari kehidupan komunal, bukan sebagai pertunjukan yang dikemas secara mewah. Ketika randai kemudian dibawa ke ruang-ruang formal dan dikemas secara artistik, ia berubah menjadi seni pertunjukan yang terstruktur dan mengalami proses dramatisasi.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Nan Tumpah mengembangkan dan membaca ulang praktik kesenian tradisional: kesenian sebagai aktivitas hidup, spontan, dan melekat pada keseharian masyarakat.
Kebermanfaatan dan Perjuangan KSNT
Pencapaian KSNT saat ini, sesuatu yang inspiratif dan berdampak pada masyarakat. Mereka melalui proses panjang, sehingga memiliki konsep dan perencanaan program yang terukur.
Menoleh ke belakang, lahirnya KSNT adalah sebuah momentum penting, jika ditilik dari perkembangan seni di Sumatera Barat. Waktu itu, tahun 2009, Mahatma Muhammad, setelah 13 tahun di Jogja, pulang ke Padang. Tak banyak punya teman di ibu kota provinsi Sumatera Barat, kecuali satu dua teman masa kecilnya. Yosifintia Sinta salah satunya. Sinta dan Mahatma, sedari kecil main di Taman Budaya Sumbar, dikarenakan orang tua mereka, seniman, sama-sama punya aktivitas yang membuat sering ke Taman Budaya.
Nah, bersama Yosifintia Sinta, dan Halvika Padma, keduanya alumni Fakultas Ilmu Budaya Univeristas Andalas, memutuskan membuat sebuah pertunjukan teater. Ada sepuluh bulan persiapannya. Pada 2010, pementasan pertama Mahatma, yang sekaligus sebagai sutradara, di taman Budaya Sumbar.
Bersamaan dengan pertunjukkan tersebut, setelah memastikan satu sama lain para pendukung yang telah terlibat dalam waktu yang panjang dalam menyiapkan produksi, maka semua sepakat, memakai nama Teater Nan Tumpah. Anggotanya kala itu, dari mahasiswa Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang.

Tampaknya, sekali layar terkembang, pantang surut. Kesamaan visi dan misi yang tumbuh bersama, termasuk dalam pemilihan aktor, sutradara maupun pembuatan dan pemilihan naskah, menjadi energi optimis melanjutkan Nan Tumpah. Pada mulanya, kata Mahatma, keanggotaan Nan tumpah hanya terbatas pada orang dengan minat yang sama. Pada tahun 2011, Nan Tumpah malah tak bisa membendung para anggota baru, tembus 80 orang. Anggota tersebut berasal dari berbagai latar belakang usia, tidak hanya mahasiswa, tetapi juga mereka yang sudah bekerja di berbagai bidang, seperti penjaga konter, bahkan terdapat anggota yang masih duduk di bangku sekolah dasar hingga pensiunan pegawai negeri berusia sekitar 60 tahun. Beberapa seniman yang berkegiatan di Taman Budaya juga turut bergabung setelah melihat antusiasme tinggi dari para anak muda.
Hal lain yang membuat KSNT maju dengan memliki program, menurut Sekretaris komunitas ini Deni Karta Kusumah, struktur hirarki di sini tidak bersifat kaku. Meskipun terdapat pengurus, peran tersebut lebih berkaitan dengan urusan administratif dan formal. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antarpersonel lebih menyerupai hubungan pertemanan yang baik dan dekat. Apabila terdapat hal-hal yang dirasakan oleh anggota, hal tersebut dapat disampaikan secara terbuka.
Bagi Karta—sapaan akrab Deni Karta Kusuma, Nan Tumpah tak ubahnya seperti rumah kedua baginya. Tapi di rumah ini dia merasa memiliki ruang untuk mengeksplorasi dirinya sendiri, untuk sisi yang tidak harus melakukan apa-apa. Secara sederhana dimana ia hanya mengembangkan ruang kreatifnya saja. Dan di sini lah Karta berharap, dan Sebagian besar sudah terwujud, yaitu KSNT bermanfaat bagi orang banyak, bagi lingkungan sekitar. Antara lain program Nan Tumpah Masuk Sekolah, Berkunjung ke Rumah Nan Tumpah, dan lainnya.

Karta menyebutkan kebermanfaat KSNT, yaitu khusus di Korong Kasai. Anak-anak setempat kini telah bergabung dan berkegiatan seni bersama mereka, dan mewadahi potensi kreatif anak-anak misal dalam seni tradisi, teater, seni rupa, sastra dan lainnya.
“Dengan demikian, masyarakat mulai mengetahui aktivitas yang dilakukan dan menyadari bahwa kegiatan tersebut memberikan manfaat. Hal ini terlihat ketika pada tahun 2025 komunitas membuka kelas rutin bernama Kelana Akhir Pekan, yang mendapat antusiasme sangat baik dari para orang tua maupun anak-anak,” ujar Karta, yang juga dikenal sebagai penulis cerita pendek di berbagai media ini.
Berdasarkan pengamatan Karta, pandangan anak-anak di lingkungan ini terhadap aktivitas yang dilakukan oleh KSNT cenderung positif dan dianggap menyenangkan.
Keisha, kelas II SMP, mengaku senang bergabung dengan KSNT sejak tahun 2025 lalu. Ia merasa selama ini, sebelum ikut program KSNT, waktunya terasa monoton, hanya main hape. Kini semua berubah berkat dididikan program KSNT. Ia bisa mengembangkan potensi diri melalui seni, memiliki nilai dan kebanggaan. Ia merasa semakin percaya diri untuk tampil.
Seiring dengan semakin seringnya masyarakat sekitar menyaksikan proses latihan, serta semakin sering pula melibatkan adik-adik di lingkungan sekitar, yang mayoritas masih berada pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama seperti Keisha tadi, semangat untuk berlatih bersama. Pemahaman mereka pun mulai terbentuk. Untuk menyelenggarakan program kegiatan, Karta menyebutkan, KSNT juga berkolaborasi dengan komunitas-komunitas, seperti dengan RAS (Rumah Ada Seni), Pasawangan Art dan Kaday Loket Solok.
Terkait iklim kesenian di Sumatera Barat, menurut pandangan Atma, saat ini pusat kegiatan seni tidak lagi terfokus di Kota Padang, terutama sejak berkurangnya ruang-ruang representatif bagi aktivitas kesenian.
Pada kenyataannya, saat ini terdapat banyak kantong komunitas seni yang tersebar di berbagai wilayah perkotaan. Hal ini terjadi karena kesadaran untuk tumbuh dan berkembang di wilayah masing-masing sudah semakin besar. Jika diamati di beberapa kota seperti Pariaman, Solok, Padang Panjang, dan Bukittinggi, aktivitas komunitas seni kini relatif lebih tersebar dan tidak lagi terpusat. []




