Peta Sejarah sebagai Sumber yang Interaktif dan Imajinatif

JudulPeta Sejarah Propinsi Sumatera Barat
PenulisZaiful Anwar, M. Sanan Zainul, Ishaq Thaher, dan Koentowijoyo
PenerbitDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986
Tebal41 halaman

Sumber bacaan yang saya hadirkan kepada pembaca kali ini agak berbeda. Sebuah buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1986. Buku berjudul Peta Sejarah Propinsi Sumatera Barat ini hanya berupa peta tematik yang menunjukkan lokus-lokus penting berkaitan dengan peristiwa, bangunan, jalur, hingga sumber-sumber penting seperti pertambangan atau pusat produksi senjata.

Peta yang disusun oleh Zaiful Anwar dkk ini merupakan hasil pembacaan dan juga pengamatan yang penting, sebagai data untuk meninjau lebih jauh objek-objek yang mungkin menarik perhatian kita. Kartografer buku peta ini adalah Sumarsono. Peta sejarah ini juga dibuat untuk propinsi-propinsi lain di Indonesia pada masa itu. Jika diperhatikan, peta sejarah ini merupakan sebuah proyek penyajian data yang melengkapi narasi-narasi sejarah yang telah ditulis.

Membaca peta sejarah ini memiliki keunikan tersendiri, di mana kita dapat melihat bagaimana sejarah dihadirkan dalam bentuk visual, dan kita dapat membangun imajinasi, menghubungkan satu titik dengan titik lainnya, melihat berbagai potensi yang tercatat dalam bentuk miniatur. Ragam informasi dan pengetahuan sejarah memang perlu disajikan dalam berbagai bentuk. Apalagi, format peta menjadi salah satu bentuk yang sudah dikenal luas dalam bidang sejarah, untuk membantu pembaca dalam memahami sejarah dengan lebih seksama.

Buku berukuran kertas A3 ini tidak banyak berisi narasi, hanya membubuhkan penjelasan tanda yang digunakan untuk mewakili objek sejarah yang dihadirkan. Terdapat 37 peta Sejarah dan budaya Provinsi Sumatra Barat yang disajikan dalam buku ini, dimulai dari peta Indonesia, Provinsi Sumatra Barat, Kerajaan di Minangkabau abad XIII-XVI, jalur pengaruh Aceh dan perdagangan emas, kekuasaan kolonial, persebaran agama Hindu dan Budha, pengaruh Islam dan tinggalannya, hingga berbagai tinggalan-tinggalan penting lainnya. Peta terakhir adalah mengenai kesenian tradisional di Sumatra Barat.

Sumber penting ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk memahami kajian Sejarah yang telah dilakukan, yang tentu saja sudah semakin banyak temuan-temuan penting lainnya setelah peta ini dibuat. Karena itu, akan sangat bernilai jika ada pengembangan dari peta sejarah ini, dengan memuat temuan-temuan mutakhir yang telah dikumpulkan khususnya oleh para sejarawan kita. Dalam dunia pengetahuan, diperlukan upaya untuk mengumpulkan kajian-kajian yang ada, misalnya dalam bentuk bibliogafi, kamus, atau peta semacam ini. Salah satu tujuan yang dapat kita rasakan manfaatnya adalah untuk meninjau bagian-bagian yang telah diolah sebelumnya, dan membuka kemungkinan baru baik dalam hal wilayah jelajah kajian maupun interpretasi yang dapat dilakukan.


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top