Truntum

Ilustrasi: Aprililia

Kala Ibu berencana mengambrukkan rumah Simbah, aku hanya mampu menelan ludah. Selain kenangan yang akan luluh lantak bersama ambruknya rumah itu, sesungguhnya ada sebuah rahasia yang sedang kusimpan rapat-rapat. Hanya aku dan Simbah yang tahu. Lalu, bagaimana bila seseorang itu kembali ke sini dan ia hanya menemukan puing-puing kayu lapuk?

Saat aku mengajukan ketidaksetujuanku, Ibu membalikkan dengan sebuah pertanyaan.

“Buat apa dipertahankan?”

Pertanyaan retoris dari Ibu memang ada benarnya mengingat perekonomian keluarga kami yang waktu itu sedang tidak baik-baik saja. Saat rumah joglo itu rubuh, kayu-kayunya yang telah lapuk dapat kami gunakan untuk bahan bakar di dapur. Sedangkan lincak, lemari, dan dipan yang masih bagus akan kami jual untuk menyambung hidup. Lalu tanah bekas rumah yang akan menjadi lapang itu, entahlah, aku tak tahu apakah Ibu akan tetap hati menjual satu-satunya warisan dari Simbah?

Jika iya, mungkin kami tak perlu lagi memikirkan utang-utang Bapak dan tinggal berongkang-ongkang kaki. Namun, apakah Ibu sudi rumah tangganya hancur gara-gara dua masalah yang semua diakibatkan oleh perangai buruk Bapak: serong dengan biduan dari desa sebelah dan kebiasaan berjudi, lalu Ibu yang harus menyelesaikannya dengan cara menjual satu-satunya warisan yang ia punya?

Tiga hari kemudian, saat pulang sekolah dan umurku tepat delapan belas tahun, aku menyaksikan rumah Simbah luluh lantak digempur oleh lima tukang batu suruhan Ibu. Aku memang belum bisa membantu menyelesaikan masalah kedua orang tuaku, tetapi menyaksikan apa yang ada di depanku saat ini, membuat air mataku makin terjun bebas di kedua pipi.

Kenangan-kenangan semasa kecil di rumah simbah bersatu dan saling sesak di kepalaku. Saat masih duduk di kelas satu sekolah dasar, karena sekolahku dekat dengan rumah Simbah, tak ada alasan untuk tak singgah ke rumah Simbah yang pintunya selalu terbuka. Simbah adalah seorang penjahit yang cukup tersohor tak hanya di kampung kami, tetapi juga sampai kampung-kampung sebelah. Bahkan beberapa pejabat di kabupaten sengaja datang dengan membawa potongan kain batik untuk dijahit khusus oleh Simbah.

“Mengapa orang-orang itu datang kesini, Mbah?” kataku sambil bermain-main dengan gulungan benang dan kutumpuk menjadi sebuah bangunan berbentuk rumah.

“Karena tak banyak yang bisa njahit batik secara nyanggit.”

Aku yang masih duduk di kelas satu tentu tak paham makna kalimat itu dan masih asyik bermain dengan gulungan benang warna-warni. Baru setelah duduk di bangku “putih-biru”, tepatnya saat pelajaran seni budaya, aku baru mengetahui bahwa menjahit kain batik itu tak bisa dilakukan sembarangan.

Mungkin pertaruhan seorang penjahit terletak pada saat itu: saat-saat mendebarkan waktu menggunting pola. Motif-motif batik yang terlukis di selembar kain itu harus tetap menyambung jadi satu dan tak boleh terputus. Itulah yang dinamakan nyanggit. Jadi saat pakaian itu selesai dijahit dan dipakai oleh si pemilik, si pemilik seakan-akan memakai selembar kain batik utuh. Jahitannya bisa samar karena motifnya masih sambung-menyambung, tapi begitu apik karena sudah berbentuk menjadi sebuah baju.

Saat itu aku tak sabar ingin segera pulang ke rumah Simbah walau harus menaiki angkot karena jaraknya cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang batik-batik yang dibawa oleh pelanggan Simbah. Rasanya begitu rindu karena aku sudah disibukkan dengan berbagai pelajaran tambahan sehingga sangat jarang singgah ke rumah Simbah. Namun, di sore itu aku tak menyangka akan disambut oleh batuk Simbah yang terdengar begitu parah.

Simbah hanya terbaring lemas di lincak bambu di samping mesin jahitnya. Lincak itu dialasi busa yang tak begitu tebal. Aku memijit-mijit punggung Simbah sambil mengolesinya dengan minyak kayu putih agar batuknya mereda.

Mataku mengedar ke ruangan yang cukup luas itu. Sisi kanan rumah ini terdiri dari dua kamar yang cukup besar. Satu untuk kamar Simbah dan satu untuk kamar tamu. Di sisi kiri adalah ruang kerja Simbah. Ada sebuah mesin jahit tua yang mungkin umurnya lebih tua dari pemiliknya, sebuah meja besar untuk membuat pola, sebuah lincak bambu untuk beristirahat, sebuah rak dari besi untuk menggantung pakaian yang sudah jadi, dan dua buah kursi kayu untuk menerima tamu.

Kulihat beberapa baju sudah tergantung rapi di rak besi, menunggu diambil sang pemilik. Mungkin simbah sudah tak menerima jahitan lagi karena stok kain yang belum dijahit sudah habis. Ah, sungguh bodoh diriku mengapa tak memperhatikan kondisinya selama ini. Aku juga tak bisa menyalahkan Ibu karena saat itu sedang santer beredar gosip Bapak main serong dengan biduan desa sebelah. Ibu kalut dan kusaksikan mereka berdua kerap beradu mulut.

Di antara baju-baju yang tergantung rapi itu, ternyata masih terselip selembar kain batik yang belum sempat dijahit. Kalau aku tidak salah, kain batik itu bermotif truntum karena kulihat bintang-bintang kecil terlukis di hamparannya. Lalu aku mendapatkan jawaban mengejutkan saat kutanya mengapa kain itu belum digunting atau dijahit oleh Simbah.

“Simbah tidak tahu siapa pemilik kain itu. Dua minggu lalu, kain itu tergantung begitu saja di centelan pintu.”

***

Aku menapaki remah-remah rumah Simbah. Satu tahun setelah batuk yang dideritanya makin parah, Simbah tak berpesan apa-apa padaku selain harus menjaga kain batik truntum tanpa pemilik itu. Aku kembali didera rasa takut, bagaimana bila seseorang itu kembali ke sini dan ia hanya menemukan puing-puing kayu lapuk?

Sebelum rumah itu diambrukkan, aku memang sudah menyelamatkannya. Aku menjaga amanat terakhir dari Simbah. Sebenarnya aku ingin mencegah Ibu untuk tidak meruntuhkan rumah itu, tapi kami tak punya pilihan. Utang Bapak sudah menumpuk banyak gara-gara digunakan untuk berjudi dan menghidupi biduan selingkuhannya dari desa sebelah. Kami bagai pepatah Jawa ora melu mangan nanging keno pulute, yang artinya tidak ikut makan tapi kena getahnya. Kami tidak melakukan kesalahan, tapi ikut menanggung akibatnya. Para rentenir itu silih berganti datang menggedor-gedor pintu rumah kami. Mereka tak peduli apakah Bapak ada di rumah atau tidak. Mereka hanya pantang pulang sebelum membawa uang.

Dalam situasi seperti itu, satu-satunya jalan memang hanya merobohkan rumah Simbah karena kami sudah tak punya apa-apa lagi. Sepeninggal Simbah, selama empat tahun rumah itu tidak berpenghuni. Jika tanah itu ikut dijual Ibu, aku makin tak tahu bagaimana akhir nasib pemilik kain truntum itu. Apakah ia akan menemukanku?

***

Saat itu usiaku sudah dua puluh satu. Seiring runtuhnya rumah Simbah, rumah tangga Bapak dan Ibu juga tak terselamatkan. Aku diam-diam menyukai keputusan itu walau harus menanggung akibat hidup menjadi seorang anak tanpa bapak. Tapi keadaan itu tentu jauh lebih baik daripada harus menghadapi muka garang rentenir setiap hari.

Saat hujan turun deras pada Januari, aku menggelar kain truntum itu di atas tubuhku. Aku berlindung dari dinginnya udara akibat air hujan yang tak kunjung berhenti menghunjam bumi. Rasanya hangat. Aku jadi teringat saat kecil menginap di rumah Simbah, beliau selalu menyelimutiku dengan kain jarik. Begitulah rasanya, selimut tebal pun kurasa kalah hangat dari selembar kain ini.

Aku jadi berpikir, mungkin kain ini memang bukan milik sesiapa karena hingga saat ini sang pemilik tak kunjung datang jua. Kain ini memang kepunyaan Simbah yang ingin diwariskan kepadaku. Truntum berarti kembang di langit. Truntum adalah simbol kasih sayang. Aku jadi teringat kembali akan perkataan guru seni budayaku saat duduk di bangku SMA. Waktu Sunan Pakubuawana III mempunyai selir baru dan mengabaikan istrinya, Ratu Kencana, sang ratu melampiaskan kecemburuannya pada goresan lukisan bintang dan bunga pada sehelai kain.

Saat Ratu tengah membatik, hati Sunan kembali tersentuh, dan rasa cinta itu tumbuh kembali. Terciptalah taruntum yang berarti bersemi kembali. Apakah Simbah berharap rasa cinta Bapak bersemi kembali pada Ibu? Karena aku tahu, Simbah tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Simbah tak mampu menasihati menantunya yang berkepala batu, yang tiap hari main judi dan serong sana-sini.

Saat semua sudah berakhir, aku mengambil pelajaran dari semua itu. Ketika kain truntum ini menyelimutiku, dan saat Simbah tak bisa mengharapkan apa-apa dari menantunya yang berkepala batu, aku hanya berharap, rasa cinta itu terus bersemi dalam diriku. Rasa cinta pada siapa saja. Pada orang tuaku yang masih ada walau sudah tak bersama, pada orang yang kelak menjadi pasanganku, pun pada buah hati yang suatu saat akan lahir dari rahimku. Semoga rasa cinta itu akan terus bersemi bak kembang-kembang serupa bintang yang selalu bersinar di langit. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top