Sitor Sebagai Penyair

Walaupun dikenal juga sebagai salah seorang cerpenis kuat Indonesia, bersama Pramoedya Ananta Toer, AA Navis, dan Iwan Simatupang, tapi Sitor Situmorang lebih dikenal sebagai penyair di Sastra Indonesia. Bahkan karena kepenyairannya itu dia dianggap sebagai salah seorang sastrawan Angkatan 45, walaupun hal ini masih bisa diperdebatkan lagi ketepatannya. Angkatan 45 adalah generasi sastrawan Indonesia yang berkiprah sejak pendudukan Jepang atas Indonesia sampai meninggalnya sastrawan terbesarnya Chairil Anwar pada 1949. Puisi pertama Sitor yang bergaya penyair Pujangga Baru berjudul “Kaliurang” diterbitkan pada 1948 di mingguan Siasat di Jakarta dan buku kumpulan puisi pertamanya berjudul Surat Kertas Hijau diterbitkan pada 1953. Kumpulan cerpen pertamanya berjudul Pertempuran dan Salju di Paris diterbitkan pada 1956 dan mendapat Hadiah Sastra Nasional 1955/1956 dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Disamping Surat Kertas Hijau (1953), buku-buku kumpulan puisi Sitor lainnya adalah Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Dinding Waktu (1976) Peta Perjalanan (1977) yang meraih Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976/1977, Angin Danau (1982), Bunga di Atas Batu (Si Anak Hilang) (1989), Rindu Kelana (1994), dan Biksu Tak Berjubah (2004).

Sitor juga menulis puisi dalam bahasa Belanda dan Inggris. Kumpulan puisinya dalam bahasa Inggris telah diterbitkan dengan judul The Rites of The Bali Aga (2001). Puisi dan cerpen Sitor sudah diterjemahkan ke bahasa Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia. 

Pada 2003 Sitor mendapatkan Hadiah Francophonie atas karya-karyanya yang memunculkan kehidupan dan kebudayaan Perancis, dianugerahi SEA Write Award (Penghargaan Penulis Asia Tenggara) pada 2006 dan mendapat Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2010.  

Dilahirkan dengan nama Raja Usu Situmorang di sebuah kampung Batak tradisional di tepi Danau Toba, Sumatera Utara bernama Harian Boho pada 2 Oktober 1924 di zaman Hindia Belanda, cerpen dan terutama puisi Sitor banyak dipengaruhi oleh budaya dan alam Tanah Batak tempat dia dibesarkan dan mendapat pendidikan Barat pertamanya. Kemudian perantauannya di Eropa terutama di Paris, Prancis sangat dominan mempengaruhinya seperti terlihat di buku puisi pertamanya Surat Kertas Hijau dan juga kumpulan cerpennya Pertempuran dan Salju di Paris. Konon filsafat Eksistensialisme Prancis yang sedang mendominasi pemikiran kebudayaan di Prancis saat dia berada di Paris (1951-1952) merupakan pengaruh paling besar di awal karier kepenyairan Sitor disamping budaya Batak. Setelah lama bermukim di negeri Belanda, Sitor meninggal dunia pada 21 Desember 2014 dalam usia 90 tahun di Apeldoorn, Belanda. Sitor dimakamkan di kampung kelahirannya Harian Boho di tepi Danau Toba disamping ibunya, sesuai dengan wasiat yang dituliskannya dalam sajaknya “Tatanan Pesan Bunda”:

Bila nanti ajalku tiba
kubur abuku di tanah Toba
di tanah danau perkasa
terbujur di samping Bunda

Bila ajalku nanti tiba
bongkah batu alam letakkan
pengganti nisan di pusara
tanpa ukiran tanpa hiasan

kecuali pesan mahasuci
restu Ibunda ditatah di batu:
Si Anak Hilang telah kembali!
Kujemput di pangkuanku!

(Paris, April 1998)

Dari keseluruhan puisi yang terdapat di kumpulan Surat Kertas Hijau, satu puisi yang dianggap membuat nama Sitor jadi terkenal sebagai penyair adalah “Cathedrale de Chartres”:

Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih.

Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat

Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata

Ketika malam itu sebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
Tersedu ia dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis

Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu

Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre-dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang

Demikianlah kisah kisah hari Paskah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan isteri yang setia

Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
Bersatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lambaian cinta setia dan pelukan perempuan

Demikianlah
Cerita Paskah
Ketika tanah basah
Air mata resah

Dan bunga-bunga merekah
Di bumi Perancis
Di bumi manis
Ketika Kristus disalibkan

(1953)

Kritikus sastra asal Belanda A. Teeuw, misalnya, dalam bukunya Modern Indonesian Literature (1967) mengklaim bahwa puisi ini:

“Puisinya yang mengesankan, “Cathedrale de Chartres”, jelas merupakan salah satu yang terbaik dalam kumpulan puisi pertama yang patut diperhatikan ini. Di dalamnya kita menemukan kesadaran yang lebih kuat dan menyedihkan tentang kerusakan yang tak tersembuhkan, tentang keterkaitan yang tak terpisahkan antara perzinahan dan kesetiaan, tentang kutukan nafsu dan rahmat Tuhan, dan tentang hidup dan kebangkitan yang tak terpisahkan”.

Lebih jauh A. Teeuw menyatakan bahwa “Cathedrale de Chartres” dan puisi-puisi lain dalam kumpulan puisi Surat Kertas Hijau, baginya, merupakan “manifestasi puisi paling penting dari generasi baru sejak kematian Chairil”. Sitor menulis tentang absennya rasa bersalah dan penyesalan dan pengungkapan kekacauan secara grafik dari kondisi dan eksistensinya dengan jauh lebih menggugah daripada banyak puisi lain pada periode ini.

Sementara bagi kritikus Subagio Sastrowardoyo dalam bukunya Sosok Pribadi Dalam Sajak (1980), puisi “Cathedrale de Chartres” “telah mencapai keindahan yang mengesan … karena dramatik batin yang tegang. Seluruh sajak … diliputi oleh arus suasana batin yang berbenturan”. Apa yang disebut A. Teeuw sebagai “absennya rasa bersalah dan penyesalan dan pengungkapan kekacauan secara grafik”, bagi Subagio merupakan  “kemelut yang rupanya dialami Sitor [yang] tersamar di balik wajah tenang sajak-sajaknya. Kemelut itu terjadi dalam alam kejiwaan Sitor, yang ingin membukakan diri dan lepas dari Keterasingan diri. Nada kebingungan yang terkekang selalu menyertai keinsafannya akan kegagalannya hendak mencapai pertalian diri yang sepenuhnya dengan dunia luar”.

Kita lihat betapa rasa keterasingan diri yang disebabkan oleh kemelut yang terjadi dalam alam kejiwaan Sitor, dalam kondisi dan eksistensinya, merupakan motif utama puisi “Cathedrale de Chartres” sekaligus keseluruhan isi kumpulan Surat Kertas Hijau.

Gaya ucap simbolis dengan tema Eksistensialis dalam bentuk sajak Soneta dan Pantun tradisional Indonesia diklaim Subagio dalam eseinya “Manusia Terasing di balik SimboIisme Sitor” di bukunya di atas merupakan ciri utama dari puisi Sitor terutama di masa awal kepenyairannya seperti dimuat di buku-buku puisinya yang diterbitkan di periode 1950an.

Sitor Situmorang. (Foto: CNN Indonesia / Arie Mp Tamba)

Apa yang absen dalam pembicaraan tentang puisi Sitor, yaitu eksistensialisme temanya, adalah pengaruh peristiwa kolonialisme Belanda dan eksil fisik dan intelektual yang disebabkannya yang menjadikannya manusia terasing antara dua dunia Timur dan Barat seperti yang disebut para kritikus. Namun Sitor tidak tercerabut dari budaya asalnya, seperti yang diklaim Subagio Sastrowardoyo misalnya, tapi hidup di dua dunia sekaligus di mana dunia asalnya itu juga merupakan bagian penting dari keterasingannya itu yang terus menerus membayangi sebagai manusia hibrid pascakolonial. Menolak membicarakan identitas pascakolonialnya ini akan berakibat pada ketimpangan dalam memahami konflik eksistensial yang dominan mewarnai puisi-puisi terbaik Sitor terutama pada periode 1950an dari kepenyairannya.

Bagi bapak teori pascakolonial Edward Said seperti yang dituliskannya dalam eseinya “Reflections on Exile” (1984), eksil adalah kondisi historis dari perpecahan paksa, yang disebabkan oleh perang, imperialisme, dan kekerasan nasionalis, ketimbang metafora untuk mobilitas budaya. Eksil melibatkan kehilangan yang tak dapat diperbaiki atas rumah, bahasa, dan identitas politik, dan potensi kritis eksil terjadi karena penolakan rekonsiliasi baik dengan tanah air yang hilang maupun negeri asing tempat bermukim. Intelektual eksil menempati posisi bermusuhan, mengembangkan apa yang disebut Said sebagai kesadaran kontrapuntal yang menahan beragam sejarah dalam ketegangan tanpa menyelesaikannya.

Perpecahan paksa dari kampung kelahiran atau negeri asal, bahasa dan identitas politik yang disebabkan oleh kolonialisme Belanda menyebabkan Sitor harus meninggalkan kampung halamannya pada usia sangat muda untuk bersekolah dasar di sebuah kota asing yang tak pernah dikunjunginya, sebuah sekolah dasar Belanda, lalu melanjutkan pendidikannya juga di sekolah menengah Belanda di kota asing lain bahkan di Batavia (sekarang Jakarta) di sebuah pulau lain yang jauh dari Tanah Batak. Dalam peristiwa bersekolah ini saja Sitor telah mengalami perpisahan paksa dari bahasa ibunya yaitu bahasa Batak ke bahasa asing Belanda dan masuk ke sebuah identitas baru yaitu subjek terjajah. Perpecahan paksa ini juga menyebabkan Sitor kecil harus meninggalkan tradisi adat istiadat dan kepercayaan Batak dan menjadi penganut agama baru Kristen dengan segala ritualnya. Dislokasi tempat tinggal, pendidikan dan agama asing adalah peristiwa-peristiwa sejarah baru yang terus bersitegang dengan sejarah lamanya, yang tak mungkin bisa dilupakannya, dalam kesadaran Sitor sebagai subjek terjajah dan menjadi motif utama dari identitas kepenyairannya. Eksil dan pengalaman diaspora fisik dan spiritual yang disebabkan kolonialisme Belanda ini adalah jalan masuk untuk memahami kondisi keterasingan eksistensial yang merupakan motif dominan dalam puisi-puisi di awal kepenyairan Sitor yang gagal dipahami oleh para peneliti Sitor termasuk A. Teeuw dan Subagio Sastrowardoyo seperti bisa dibaca di kedua studi mereka di atas.

Ketegangan beragam sejarah tanpa penyelesaian antara kampung dan rantau atau eksil dalam kesadaran kontrapuntal Sitor ini menemukan ekspresinya yang paling konkrit dalam puisinya yang sangat terkenal “Si Anak Hilang” dari kumpulan puisinya yang kedua Dalam Sajak (1955):

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
- Laki-laki layak menahan hati -

Anak duduk disuruh bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapa sudah lama mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang

Walau danaunya tahu si anak tiada pulang sekarang tapi si anak dalam hatinya memilik begitu banyak pertanyaan tentang kampungnya yang tidak dia utarakan, dia justru lebih hendak bertanya: Berapa kali panen sudah? Apa saja telah terjadi?

Ketegangan beragam sejarah dalam kesadaran kontrapuntal Sitor yang digambarkan dalam puisi di atas – yang membuat banyak kritikus seperti Subagio Sastrowardoyo mengklaim bahwa Sitor telah tercerabut dari akarnya – dan yang menurut Edward Said tak ada penyelesaiannya itu ternyata berakhir berbeda. Bukankah Sitor akhirnya memutuskan untuk kembali selamanya ke kampung halamannya, asal dari eksil dan diasporanya, akar dari identitas pascakolonialnya, dengan meninggalkan wasiat “Bila ajalku nanti tiba” agar dimakamkan di tempat kelahirannya di tepi Danau Toba, di sisi ibunya yang sudah begitu lama menunggunya? Eksil Sitor menemui akhirnya, ketegangan beragam sejarah dalam kesadaran kontrapuntal Sitor berakhir dengan rekonsiliasi, dan Si Anak Hilang telah kembali di kedamaian kampung Harian Boho yang sejuk di kaki gunung Pusuk Buhit yang keramat.  []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top