Usai Bandang, Sebuah “Refleksi Bencana” dari Medan Melalui Pameran Foto, Sastra dan Diskusi

Suasana acara diskusi. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Pada akhir November 2025, akibat kerusakan lingkungan dan deforestasi gila-gilaan terjadi di Pulau Sumatera. Hal itu menyebabkan banjir bandang besar di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Sekitar 52 kabupaten/kota dengan ribuan kecamatan di ketiga provinsi tersebut porak-poranda. Banjir bandang ini juga memutus akses listrik, jaringan telekomunikasi, dan menyebabkan krisis air bersih. Realita pahit– bencana di Sumatera memilukan di November lalu, seolah melukis garis luka yang memanjang dari utara hingga ke selatan.

Dalam situasi yang belum teratasi hingga saat ini, tidak tertutup kemungkinan para penyintas ada yang mulai kehilangan harapan, bahkan trauma dan frustrasi. Apalagi, setelah dua bulan lebih, para relawan yang awalnya banyak memberikan bantuan mulai kembali ke aktivitas masing-masing. Bantuan berkurang.

Berangkat dari empati dan memaknai bencana tersebut, yang hingga kini belum tuntas penanaganannya, Komunitas Ngobrol Buku Sumatera Utara, bekerjasama dengan Roha dan Fotografer Andi Gultom, menggelar Pameran Foto, Charity, dan Diskusi Kemanusiaan. Acara tersebut diadakan di Galeri Lt 2, Roha Café, Jl. Abdullah Lubis No. 79/101 Medan, mulai 31 Januari – 14 Februari lalu.

Ketua Komunitas Ngobrol Buku, Eka Dalanta, bercengkerama dengan undangan Pameran Foto. (Foto: Dokumentasi Panitia)

“Mereka, para penyintas, tidak boleh dilupakan. Mereka adalah manusia, bukan sekadar angka” kata Eka Dalanta, Ketua Komunitas Ngobrol Buku, yang juga Manager Pameran ini, memperkuat alasan kegiatan ini diselenggarakan. Ditambahkan juga oleh Fotografer Andi Gultom, bahwa sudah dua bulan banjir bandang Sumatera melanda, namun situasi di daerah korban belum berubah. Masyarakat masih banyak tidur di tenda-tenda pengungsian, akses air bersih masih sulit, bahkan saat hujan turun, banjir masih terjadi, rumah-rumah warga kembali terendam banjir.

Menurut Eka, tujuan utama pameran ini membangun kesadaran publik terhadap dampak bencana ekologis di Sumatera, dengan menyajikan foto yang jujur dan beretika terkait bencana dan kemanusiaan. Hal ini katanya, sekaligus menjadi wadah diskusi lintas disiplin mengenai kebencanaan, pemulihan, dan mitigasi, serta penggalangan dana (charity) untuk membantu masyarakat terdampak.

Adapun tema yang dipilih “Usai Bandang: Sebuah Refleksi”.  Pemilihan tema tersebut, untuk menyoroti bagaimana kita melakukan refleksi terhadap bandang besar yang baru saja melanda Pulau Sumatera.

Seorang pengunjung menuliskan doa dan harapan untuk korban banjir bandang. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Ada 60 foto-foto Andi Gultom yang telah dikurasi oleh fotografer dan jurnalis Fatris MF, yang semuanya terkait daerah yang didatangi dan dipotret Andi sebagai relawan bersama Komunitas Ngobrol Buku ketika menyalurkan bantuan ke Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Aceh Tamiang pada bulan Desember 2025 dan Januari 2026. Foto-foto yang dihadirkan, merekam peristiwa dan melalui diskusi melakukan refleksi perjalanan masyarakat dari fase bencana, proses bertahan, hingga harapan akan pemulihan dan masa depan yang lebih Tangguh. Sepanjang bulan Desember dan Januari, Komunitas Ngobrol Buku telah sepuluh kali mengirimkan bantuan ke Tapanuli Tengah dan Sibolga, serta Aceh Tamiang, baik dengan turun langsung ke lapangan maupun berkolaborasi dengan relawan lain di lapangan.

“Foto-foto yang dihadirkan Andi Gultom, kepada saya, juga kepada Anda semua, adalah gambar-gambar yang tidak utuh, yang penuh celah di sana-sini, yang mengganggu serta mengusik rasa penasaran: apa yang terjadi di balik foto-foto ini? Jika foto-foto hasil jepretan Andi ini adalah suara dari Sumatra, maka suara itu adalah teriakan,” tulis Fatris lagi.

Fotografer Andi Gultom, saat bicara pada diksusi ke-7. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Dalam hantaran pameran ini, Fatris menyampaikan, bahwa penindasan dilakukan oleh kekuasaan dengan cara yang jauh lebih licik: hutan mereka diambil, ditanami dengan tumbuhan industri, keruk menjadi tambang, seluas-luasnya. Bila curah hujan tinggi, tentu saja, akan terjadi banjir, longsor, galodo. Dan kematian akan datang begitu cepat, rumah akan dihancurkan, kampung-kampung akan diseret, dan makam-makam leluhurmu akan hilang. Dan Sumatra tercerabut dari akar sejarahnya sendiri. Lihat, bagaimana alam dijadikan sebagai perpanjangan tangan kerakusan segelintir orang untuk membunuh banyak orang? Apa artinya seribu orang yang mati oleh banjir bandang di Sumatra di mata kekuasaan(?)

Dari foto-foto yang dihadirkan, setidaknya menyentuh ingatan dan bayangan kita, ada tangan jahat yang mengakibatkan bencana dengan derita pada orang-orang kecil, pada mereka yang dalam sehari-hari untuk makan saja susah.

Diskusi, Sastra dan Donasi

Kegiatan ini juga menghadirkan tujuh diskusi kemanusiaan yang digelar setiap akhir pekan. Diskusi pertama, 31 Januari 2026, mengangkat topik “Ketika Air Datang: Membaca Kebenaran dari dalam Frame”. Diskusi ini  sekaligus sebagai penyerta pembukaan pameran. Diskusi ini memaparkan peran literasi visual melalui fotografi dengan merekam bencana sebagai dokumentasi, sekaligus edukasi dan advokasi.. Hadir dalam diskusi ini sebagai narasumber antara lain Andi Gultom (Fotografer Usai Bandang), T. Agus Khaidir (Jurnalis), dan Ahmad Arief Tarigan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya USU).

Bupati Tapanuli Tengah Masinton mengikuti diskusi 1. (Foto: Dokumentasi Panitia)

Di hari ini juga, diskusi kedua diselenggarakan dengan topik “Melihat Manusia, Bukan Angka”. Tema ini menekankan pendekatan humanis dalam isu kebencanaan, mencegah praktik eksploitasi penderitaan korban bencana, dan menyoroti tubuh yang paling rentan dalam bencana (seperti bayi, ibu menyusui, ibu hamil, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas). Diskusi ini menyoroti bantuan yang seringkali seragam dan tidak adil. Panitia menghadirkan narasumber Lisza Megasari, S.Pd (Ketua Asosiasi Ibu Menyusui/AIMI Kota Binjai dan Guru SLB Kota Binjai).

Diskusi ketiga diadakan pada Minggu, 1 Februari 2026. Mengangkat topik “Mengapa Bandang Terjadi, Membaca Alam dan Lanskap”. Adapun narasumber yang dihadirkan, Mikhael Naibaho (dari BMKG). Diskusi ini lebih menjelaskan faktor lingkungan dan antropogenik penyebab banjir bandang. Tentu, juga bagaimana  meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan berkelanjutan, serta mendorong integrasi perspektif ekologi dalam kebijakan kebencanaan.

Diskusi keempat mengangkat topik “Risiko yang Kita Hidupi: Ruang Tinggal, Kerentanan Sosial, dan Dampak Ekonomi” dengan menghadirkan tiga narasumber; Bergman Siahaan (Analis Kebijakan Publik), Avena Matondang (Antrolopog), dan Ridha Jaya Sukma (Penyintas Banjir Bandang Aceh Tamiang). Dalam diskusi ini narasumber menawarkan pemahaman konsep risiko dan kerentanan bencana. Fokus bahasan, lebih kepada analisis risiko sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah rawan. Diskusi mencakup kerentanan sosial, pilihan ruang tinggal, serta dampak ekonomi bencana—kehilangan mata pencaharian, rusaknya aset produktif, dan siklus kemiskinan pasca bencana.

Menelusuri masalah dan cerita, dalam diskusi. (Foto: Dokumentasi Komunitas Ngobrol Buku)

Diskusi kelima digelar Sabtu, 7 Februari 2026 dengan topik “Luka yang Tidak Terlihat: Trauma Pasca Banjir Bandang”. Selain kerusakan fisik, bencana juga menimbulkan dampak psikologis jangka panjang bagi penyintas. Trauma yang sering tidak tampak, muncul terlambat, dan memerlukan pendekatan empatik. Aspek kesehatan mental masih sering terabaikan dalam penanganan pascabencana. Diskusi yang menghadirkan narasumber Bambang F. Wibowo (Konsultan Perlindungan Anak UNICEF) dan Grace Fiona Sitepu, M.Psi (Psikolog dan Inisiator Mentari Cilik) ini lebih menekankan pada peningkatan pemahaman tentang dampak psikologis bencana, juga bagaimana menguatkan pendekatan pemulihan berbasis psikososial, serta mendorong integrasi kesehatan mental dalam respon bencana.

Selain diskusi, sesi ini juga diisi dengan praktik keterampilan praktis bagi peserta diskusi berupa Psychological First Aid (PFA) atau dasar-dasar bagi pertolongan pertama psikologi, seperti cara berbicara dan mendampingi penyintas dengan aman serta mengenali tanda trauma yang membutuhkan rujukan profesional.

Diskusi ke-6, membahas keterampilan dasar bertahan hidup. (Foto: Dokumentasi Komunitas Ngobrol Buku)

Diskusi keenam dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026 dengan topik “Selamat Saat Air Datang: Keterampilan Dasar Bertahan Hidup” dengan narasumber Jultri Saragih (Praktisi Resiko Bencana), Willie Sembiring (Certified Sea Resque), dan Maulana Shiddiq (Staf Kampanye WALHI Sumut). Diskusi ini bertujuan memberikan edukasi dasar terkait keselamatan saat banjir bandang, meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat, serta mendukung upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Fokus bahasan dikusi ini adalah prinsip utama bertahan saat banjir bandang, kesalahan fatal yang sering terjadi dan evakuasi mandiri ketika bantuan belum tiba.

Diskusi ketujuh dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, dengan suasana hari penuh cinta. Pada penutup, diskusi ini mengangkat topik “Cinta yang Bergerak, Ketika Rakyat Menjaga Rakyat.” Di tengah banjir bandang, kita menyaksikan bentuk cinta yang paling jujur, rakyat membantu rakyat, tanpa sorotan, tanpa menunggu komando.

“Hari ini, kita tidak hanya mengenang bencana—kita merayakan kemanusiaan. Diskusi dan kegiatan ini adalah persembahan kasih dari tangan kita semua, untuk mereka yang terdampak, dan untuk generasi yang sedang belajar mencintai dunia,” kata Eka Dalanta.

Sebagai wujud nyata aksi cinta kasih, pameran ini juga mengajak para pengunjung untuk ikut berdonasi baik berupa dana, buku-buku cerita anak dan pegetahuan umum, alat tulis, mainan anak, maupun bentuk donasi lainnya yang akan disalurkan kepada para korban banjir bandang di Sumatra Utara dan Aceh. Para pengunjung pameran juga bisa berdonasi dengan membeli merchandise, berbelanja di pasar barang bekas, maupun berbelanja di bazar buku yang diselenggarakan bersamaan dengan pameran.

Seusai kegiatan, foto bersama. (Foto: Dokumentasi Komunitas Ngobrol Buku)

“Usai bandang, bukan berarti persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan sudah usai. Para penyintas masih membutuhkan perhatian kita. Mereka perlu terus kita ingat, masih perlu terus kita suarakan. Sebab manusia bukan hanya angka. Kita harus tetap menjadi manusia yang memanusiakan manusia,” kata Andi Gultom.  

Usai banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu, banyak warga, komunitas, dan lembaga bergandengtangan untuk memberi dukungan dan bantuan bagi warga yang terkena bencana. Salah satunya adalah Komunitas Ngobrol Buku.

Pembacaan Puisi oleh Juhendri Chaniago & Seiska Handayani. (Foto: Dokumentasi Komunitas Ngobrol Buku)

Refleksi terhadap banjir bandang juga dilakukan melalui panggung sastra. Para penyair dan seniman kota Medan mengisi rangkaian kegiatan dengan pembacaan puisi, dramatic reading, dan pertunjukan lagu. Lewat pembacaan karya sastra, empati dirawat dan keberpihakan kepada kemanusiaan kita suarakan. Panggung sastra diisi oleh Hasan Al Banna (Sastrawan dan Penyair), Juhendri Chaniago (Penyair), Seiska Handayani (Penyair), BDJ Siregar (Aktor Teater dan Sutradara), Pertama (Musisi), Nawirul Haqqi (Penyair), Fasya Siregar (Penyair), dan Ahmad Hakiki (Pengurus Ngoborol Buku), dan lainnya. []


Liputan ini ditulis kembali oleh redaksi cagak.id berdasarkan laporan dari rilis pers Komunitas Ngobrol Buku

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top