Musikal Perahu Kertas: Perjuangan Meraih Mimpi dan Cinta

Musikal Perahu Kertas. (Foto: Yusrizal KW)
Aku bermimpi menuliskan buku/ dongeng pertamaku. Sejak kamu ada/ aku merasa mimpiku semakin dekat/ Belum pernah sedekat ini

Aku bermimpi selamanya bisa/ menulis dongeng. Aku bermimpi bisa/ berbagi dunia itu/ bersama kamu

Bersama kamu aku tidak takut lagi/Menjadi pemimpi. Bersama kamu, aku/ ingin memberi judul bagi buku ini

Karena hanya bersama kamu/ Segalanya terasa dekat. Segala/ sesuatunya ada, segala sesuatunya/ benar. Dan bumi hanyalah sebutir/ debu di bawah telapak tangan kita

Terima kasih, Keenan

Teks yang indah dengan cahaya itu terpapar di  layar atas panggung “Musikal Perahu Kertas”. Terdengar bagai puisi sedang dibacakan dengan mendalam. Penonton meresapi baris per baris lirik tersebut. Ada percikan makna yang sedang “bekerja” di panggung musikal.

(Foto: Yusrizal KW)

Seorang Kugy, diperankan Alya Syahrani, menjadikan teks tersebut seakan hantaran untuk buku dongeng yang baru ia selesaikan dengan baik. Bersama kamu aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Tegas! Sesuatu harus diwujudkan. Bahwa Kugy mengakui, keberadaan Keenan yang diperankan Dewara Zaqqi, adalah inspirasi utama yang membuat mimpinya terasa nyata dan bisa digapai.

Demikian gambaran babak akhir “Musikal Perahu Kertas”, yang diadaptasi dari novel Dee Lestari. Pentas ini, dimulai sejak 30 Januari hingga 15 Februari, selalu ramai penonton, yang menyesak seru di Ciputra Artpreneur Theater, lantai 11, Jakarta. Dan cagak.id mendapat undangan, berkesempatan menonton pada tanggal 11 Februari 2026.

Musikal Perahu Kertas menampilkan perjalanan tentang pencarian jati diri, penerimaan, kehilangan, dan keberanian untuk menghidupkan lagi mimpi-mimpi melalui kisah Kugy dan Keenan, dua jiwa muda yang sama-sama lahir dengan darah seni. Kugy, yang sadar bahwa realita tak seindah itu, memilih untuk menciptakan dongeng sebagai zona nyamannya. Sementara Keenan, pelukis muda yang hidup di bawah bayang ekspektasi ayahnya, mencari jalan untuk bebas mengekspresikan diri meskipun dunia menuntutnya menjadi orang lain. Keduanya bertemu. Sebuah pertemuan yang membuat mereka percaya, suatu hari kelak cerita dan karya mereka akan saling bersama di persimpangan hidup.

Panggung Perahu Kertas, ruang gerak alur Merawat Mimpi. (Foto: Yusrizal KW)

Kugy harus “melepaskan” Keenan berkali-kali, ke arus deras kehidupan, seakan hanyut –ke Bali, ke wanita lain, ke karier lain– sebelum akhirnya arus itu membawa Keenan kembali padanya. Kugy harus memahami, hidup tak selalu dalam genggaman. Ada saatnya lepas, diperjuangkan, tergapai kembali– mewujud. Arus yang mengalir, merupakan alur hidup, yang juga patut dipercaya. Perlu diyakini, dimiliki kelaknya.

Musikal “Perahu Kertas” ini dihadirkan oleh Trinity Entertainment Network berkolaborasi dengan Indonesia Kaya. Di panggung yang indah yang menghadirkan kepaduan antara sastra, teater, musik, tari dengan alur cerita yang apik itu, membuat penonton tidak hanya merasa terpesona pada dekorasi artistik dan panorama estetikanya, melainkan juga: Kita bagai dikurung di ruang kehidupan dimana mimpi dan cinta dipertaruhkan dan diperjuangkan dalam konflik dan harapan. Cerita yang dikarang Dee itu, bagai menjadi arus yang mengalirkan dimensi khusus kehidupan, kita berada pada perahu guna merasakan besar kecil dan derasnya tidak arus kehidupan itu demi mewujudkan mimpi dan cinta. Sebagaimana dikatakan Dee sendiri, mimpi yang dijaga dengan sabar akan menemukan jalan bermanifestasi.

Hadir di hadapan panggung yang bergerak sesuai seting cerita, penonton menikmati pertukaran suasana dan babak cerita, serta suara lagu, gerakan koreografi, dan dialog yang kadang haru, sedih, lucu dan sesekali ada kejutan. Sebagai drama musikal, “Perahu Kertas”, memang memanjakan penonton dengan sebuah keutuhan panggung: enak dilihat, enak didengar, nyaman di hati, menghibur: semua terbuhul dalam imajinasi dan kreativitas. Di sini, kita menyaksikan sebuah proses kreatif yang inovatif, bisa merasakan plot cerita berada pada alur yang terjaga, panggung yang bisa berubah set dan properti, perpindahan adegan dan tempat dari kampus, rumah Keenan, Sekola Alit, kantor, galeri, dan suasana di Bali pada rumah Wayan. Hal ini, membuat penonton merasa terikat dalam suasana, tidak terjebak pada kejenuhan, walau durasi pentas hampir tiga jam. Perahu Kertas, sebuah drama musikal yang tidak hanya menghibur, tapi memberi nilai-nilai kehidupan yang inspiratif, juga edukatif.

Begitu juga, kolaborasi Trinity Entertainment Network dengan Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), membuat drama musikal ini cukup mampu memberikan dimensi audio-visual yang kuat. Lirik lagu dan aransemen musiknya mampu menangkap kegelisahan batin Kugy dan Keenan dengan jauh lebih intim, dan hal itu bisa diresapi oleh hati para penonton.

“Nonton Musikal Perahu Kertas saya berasa bagai 17 tahun lalu saat nonton West Side Story di Broadway Manhattan New York. Tata panggung dan mobilitas propertinya keren banget, juga animasi dan musik terjaga. Para pemainnya jangan ditanya, cakep-cakep banget penampilannya. Ini salah satu pertunjukan musikal terbaik yang pernah ada di Indonesia,” kata Wien Muldian, pegiat literasi dan pendiri serta pengelola Perpustakaan Baca Di Tebet, yang hadir sebagai penyaksi pada tanggal 11 Februari 2026. Bagi Wien, juga beberapa komentar penonton, bahwa semua tokoh dalam “Perahu Kertas” menikmati dan menjalankan peran masing-masing dengan baik. Mereka bernyanyi, bercerita, menari dan tertawa. Kadang (juga) terasa sunyi, kala sedih tiba.

Wien Muldian. (Foto: Yusrizal KW)

Tentu Musikal Perahu Kertas didukung tim kreatif yang kuat. Musikal ini diracik oleh Sutradara dan Koreografer Venytha Yoshiantini, Penulis Naskah Musikal  Widya Arifianti, Komposer Ifa Fachir, Simhala Avadana, Pengarah Musik Nathania Karina dengan Penata Musik  Ivan Tangkulung.

Musikal Perahu Kertas menayangkan 18 lagu orisinil hasil karya komposer Ifa Fachrir dan Simhala Avanda, yang pada setiap komposisi merefleksikan emosi secara mendalam. Ini tentu tidak terlepas dari kolaborasi dengan Ivan Tangkulung sebagai Pengarah dan Penata Musik, sehingga penenton serasa memiliki pengalaman audio yang mengesankan. Ada tiga lagu lama dari soundtrack filmnya yang diaransemen ulang oleh Ivan Tangkulung. Dee Lestari, ikut tampil menyanyikan “Perahu Kertas”, hanya empat hari. Dua hari pada gala dan pembukaan dan dan dua hari pada hari terakhir pementasan.

Menghidupkan Mimpi

Pertunjukan “Musikal Perahu Kertas” mendayung tema “Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi”. Ada pesan tersirat. Kita harus punya mimpi, jika padam, kembali nyalakan. Jika belum terwujud, tertunda selama ini, silakan “periksa ulang pilihan hidup itu” untuk kembali memperjuangkannya, mewujudkannya.

Sebagaimana ditulis genz.id, Produser Eksekutif Musikal Perahu Kertas sekaligus CEO Trinity Entertainment Network, Yonathan Nugroho mengatakan pementasan ini sebagai perjalanan emosional yang panjang. “Perahu Kertas tumbuh bersama mimpi-mimpi di dalamnya. Musikal ini bukan sekadar adaptasi medium, tapi upaya merawat cerita agar jiwanya tetap utuh. Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan karya lokal yang jujur, relevan, dan berkualitas,” ujarnya.

Musikal ini diproduseri Billy Gamaliel, Eunike Elisaveta, dan Chriskevin Adefrid. Diungkapkan Billy Gamaliel yang juga Program Manager Indonesia Kaya, mengutip channelsatu.com, bahwa pertunjukan ini sebagai perayaan imajinasi. Musikal ini dirancang untuk memanjakan visual, telinga, dan hati. Billy  berharap karya ini tidak hanya menghibur, tapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap seni pertunjukan dan mengingatkan bahwa mimpi selalu layak diperjuangkan.

Pada kalimat: Karena hanya bersama kamu segalanya terasa dekat. Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak tangan kita, menyiratkan  suatu keniscayaan atas keteguhan hati dalam berjuang menggapai impian, menemukan belahan jiwa, sekaligus tujuan hidup yang hakiki. Tidak ada yang tak mungkin, jika kekuatan hati menjadi energi bersama yang utuh. Karena itu, memiliki impian, sama hal memiliki kekuatan untuk mewujudkannya.

“Cerita itu pernah mati suri 11 tahun. Jika saja saya menyerah, membiarkannya teronggok sebagai sampah data, Perahu Kertas tak mungkin lahir. Namun, saya selalu menaruh percaya pada kisah Kugy dan Keenan. Mereka tak pernah benar-benar padam. Saya pelihara api mereka menyala meski sangat kecil, jauh di belakang. Saya selalu yakin, akan ada saatnya saya menghidupkan mereka kembali,” demikian kata Dee, di akun Instagramnya.

Perahu Kertas: upaya merawat cerita agar jiwanya tetap utuh. (Foto: Yusrizal KW)

“Dewi Dee Lestari adalah seniman lengkap,” kata Kanti W Janis, penulis novel Saraswati, karya nomine di ajang penghargaan Sastra Khatulistiwa (kini Kusala Literary Award) pada 2007. Karya-karyanya, menurut Kanti, telah berbicara. Mulai sebagai penyanyi dalam grup Rida Sita Dewi (RSD), pencipta lagu, hingga penulis novel. Dee selalu berhasil menampilkan ciptaannya dalam berbagai medium, termasuk film, dan tanpa diduga ia melahirkan Perahu Kertas dalam format berbeda lagi, setelah novel berjudul sama diadaptasi menjadi film, sekarang ke musikal, bekerjasama dengan Trinity Entertainment Network.

“Saya berkesempatan menonton musikal tersebut pada tanggal 31 Januari. Malam itu terasa begitu istimewa ketika Dee membuka pertunjukan dengan menyanyikan lagu Perahu Kertas. Perlahan kami bagai ditarik memasuki semesta Keenan dan Kugy, sebuah kisah perjalanan pencarian jati diri dan cinta sejati,” ujar Kanti yang dikenal sebagai aktivis perempuan dan advokat ini sembarai menambahkan,  dengan kehadiran musikal di sini, terasa melengkapi untuk menikmat kisah keduanya. Setelah dari tulisan, lalu ke layar dua dimensi, sekarang karya Dee dihadirkan ke dalam media empat dimensi. Pertunjukan itu dipentaskan lebih dari dua minggu dan selalu dipenuhi penonton. Ini menunjukkan bahwa tidak semua hal bisa digantikan tampilan virtual, manusia tetap senang berinteraksi tanpa sekat.

Dee, menaruh percaya pada kisah Kugy dan Keenan. (Foto: IG @Deelestari)

Sebelum layar panggung “Perahu Kertas” turun, dari sisi kanan keluar perahu putih dengan sepasang anak muda berpakaian serba putih: pendongeng dan pelukis; Kugy dan Kenan, sembari menyanyikan lagu “Perahu Kertas”. Suasana romantik hadir, cahaya biru dominan bagai dalam laut indah, dengan orang-orang di tangannya memegang perahu kertas dan menggerak-gerakannya.  

Lagu “Perahu Kertas” yang diciptakan Dewi Lestari (Dee Lestari) pun menggema, dan penonton yang hapal ikut menyanyikan. Dee menciptakan lagu ini untuk soundtrack filmnya pada tahun 2012 dengan judul yang sama. Di tahun ini, telah dirilis versi barunya. Lagu ikonik ini melukiskan perjuangan meraih mimpi dan cinta, serta keyakinan jodoh akan menemukan jalannya.  Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)/ Cita-cita (cinta-cinta)/ Yang lama kupendam sendiri/ Berdua, ku bisa percaya. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top