| Judul Buku | Pedoman Baroe I, Mengapakah Terdjadi Perang Asia Timoer Raya |
| Penulis | Moehammad Sjafei |
| Penerbit | Sendenhan Nisikaigansyu Seityo Soematera, 1945 |
| Pencetak | Syonan Sinbunkai Sumatora Sosibu |
| Tebal | 48 halaman |
Di buku Pedoman Baroe ini, Mohammad Sjafei dan tim penyusun buku memberikan gambaran yang cukup luas mengenai latar belakang peperangan di Asia, antara Jepang dengan negara-negara barat, seperti Amerika, Inggris, dan Belanda. Jepang dianggap mewakili kepentingan dan keamanan Asia, terhadap serangan dan keinginan barat untuk menjajah dan mengeksploitasi. Karena itu, usaha Jepang haruslah didukung sebab hasilnya nanti akan menjadi buah kemenangan bagi Asia.
Buku propaganda ini sepertinya disusun untuk memberikan citra dan menarik simpati masyarakat terhadap keberadaan Jepang di Indonesia dan juga negara-negara lain di Asia. Berbagai alasan historik sejarah dan peran Jepang dalam memandang harga diri Asia disampaikan di awal-awal bagian buku ini. Demikian juga dengan ekspansi Jepang ke negara-negara lain itu, dimaknai sebagai sebuah usaha dalam menyatukan Asia, untuk melawan barat, yang nantinya akan membawa kesejahteraan bagi bangsa-bangsa di Asia. “Dalam tjatjatan sebaran ini: “Mengapakah terdjadi perang Asia Timoer Raja”, telah beroelang-oelang diterangkan bahwa boekanlah sekali-kali Nippon jang memetjah peperangan ini oentoek kepentingan Nippon sadja, bahkan bagi Nippon, setelah sampai saatnja penghabisan hidoep atau mati, baroelah bangkit. Nippon senantiasa bergerak memikirkan seloeroeh bangsa di Asia Timoer Raya dibelakang dirinja. Tidak adanja Nippon, tidak ada negeri-negeri di Asia Timoer. Djoega ada negeri-negeri Asia Timoer Raja, baroelah adanja Nippon berkedoedoekan didoenia” (hlm. 34).
Jika kita membaca buku ini di waktu sekarang, tentu akan timbul banyak pertanyaan berkaitan dengan pernyataan-pernyataan yang disajikan, seperti disebut di atas. Sebagai buku propaganda, tentu saja isi buku ini telah diplot oleh para pimpinan Jepang di Indonesia. Berbagai fakta dan kejadian diberikan interpretasi yang positif, untuk melegalkan dan melanggengkan kekuasaan Jepang di Indonesia. Akan tetapi, yang menarik adalah bahwa proses penulisan dan percetakan buku ini berada persis di tengah masa transisi keberadaan Jepang di Indonesia dan masa kemerdekaan Indonesia.
Kesan kegalauan penyusun buku ini sangat jelas tergambar pada bagian akhir. Kebimbangan antara pemujaan terhadap Jepang dan kemerdekaan Indonesia yang akan, dan sedang, terjadi pada masa itu. Sjafei dan para penyusun buku ini yang bekerja sebagai Sidang Pengarang “Padang Nippo” harus mengikuti perkembangan situasi yang terjadi. Demikian juga dengan kelanjutan buku-buku propaganda Jepang yang akan diterbitkan. Misalnya saja, kita baca di hlm. 40: “Sewaktoe hamper selesai menjoesoen rentjana ini, maka pada tanggal 7/9 Syowa 19 apakah jang sebagai halilintar dalam tjoeatja terang dengan tiba2 menggontjang seloeroeh boemi dan angkasa poelau Soematera? Apakah jang menemboes anak telinga segenap pendoedoek Soematera? Apakah jang mengalir dengan serentak sebagai listerik dari oedjoeng ramboet sampai keoedjoeng koekoe kaki? “Djandji Kemerdekaan dimasa depan”!” Kemerdekaan Indonesia, dikesan dari buku ini, merupakan hadiah dari Perdana Menteri Koiso, yang disampaikan pada persidangan ke 85 Teiko Gikai, pada tanggal 7/9 Syowa 19 itu.
Buku ini menjadi salah satu sumber penting, khususnya bagi sejarawan, yang ingin mengulas dan meneliti ulang sejarah perjuangan dan revolusi khususnya di Sumatera Barat. Demikian juga bagi kita, pembaca, akan mendapatkan gambaran penting tentang bagian dari sejarah kepenulisan dan penerbitan, yang salah satunya menjadi alat bagi penguasa dalam menjaga dan membangun kelangsungan kekuasaannya. Buku propaganda merupakan salah satu lini terbitan penting dalam peperangan, terutama dalam perang urat syaraf dan mengadu mental, dan juga bagi para penulis di masa peperangan.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





