Kentaur

Ilustrasi: Aprililia

“Setelah semuanya, perayaan ini benar-benar menjadi tak biasa! Kau pikir sajalah, apa rasanya jika kau tak percaya, sedangkan kita dulu sudah semakan-seminum?” umpatnya. Giginya terkatup rapat menahan sesuatu yang lebih dari sekadar amarah.

Palapah besi itu menghantam kepala jasad yang tertelungkup dengan ayunan liar. Dentumannya menghentak, logam bertemu tulang, disusul semburan darah dari retakan tengkorak.

Tongkat penabuh dol nan sakral itu tak lagi menjadi warisan lama yang tidak seharusnya digunakan di luar waktu. Ia kini menjelma menjadi sesuatu yang membuat bergidik dalam ceruk yang bungkam.

“Tak terhitung kalinya kau ludahi pusaka warisan dari umbu kami ini dengan lidah busukmu itu,” sambil menunjuk ke arah miniatur yang menyerupai menara suci. “Oh iya, kusebut saja kau pria bergamis dengan mulut bau amis,” ucapnya sambil tertawa ringan.

“Kau tuduh syirik, kau cap bidah, kau hina di depan orang-orang luar seakan-akan kami murni penyembah berhala!” Palapah itu masih meneteskan darah. Dingin, basah, dan memantulkan sorot mata pelaku yang tak berkedip.

Bau amis menyusup ke ubun-ubun, melekat di ubin lembab, dinding kusam berlumut, dan pori-pori malam. Ia membungkuk sedikit, wajahnya hanya sejengkal dari mayat itu.

“Kau pikir warisan ini senda gurau? Tapi … kenapa kau masih tetap ingin menikmati perayaannya? Masih saja tiap tahun di barisan ini hanya untuk mencaci di belakangnya. Apa yang kau cari sebenarnya? Kehormatan? Nama? Atau kesucian semu yang pria sok suci sepertimu ciptakan sendiri?”

Hiasan kepala dari kain batik besurek terikat erat di kepala lelaki itu, dengan lekuk-lekuk usia di keningnya, menyatu dengan rona kulit legam khas masyarakat pesisiran barat Bumi Raflessia. Rambut separuh memutih yang dipangkas ringkas tanpa cela. Orang-orang biasa memanggilnya, Ciung. Ia berdiri tegak, membisu, dengan sorot mata yang menyimpan keheningan panjang.

Tiga pemuda berdiri bersisian di belakangnya. Wajah mereka yang nirmala, rahang terukir tegas, dan pandangan yang menyiratkan ketundukan yang telah ditempa sejak kecil.

Puluhan anak keturunan tabot lainnya membentuk lingkaran yang padat dan khidmat. Tak ada suara selain desir pasir. Cahaya pendar dari layar-layar telepon genggam diangkat tinggi, menyinari wajah-wajah mereka.

Doa dilafalkan pelan. Saat selesai, Ciung memberi isyarat kecil kepada pemuda di depannya untuk maju. Ia menggali. Suara logam bertemu bumi terdengar berat. Satu hentakan, lalu sunyi kembali.

“Kau tahu kau itu tak pernah pakai otak kalau bicara—benar-benar tak paham apa pun. Tapi sok tahu soal seni, soal ritual, hanya karena pernah mendengar dongeng nenekmu yang setengah lupa siapa dirinya. Hah?!” Lelaki itu membentak, suaranya parau membelah sunyi ruangan sempit berlantai keramik hijau gelap.

Ia merogoh pinggang, dan dari sana ia mengeluarkan sebilah kerambit tua. Lurus dan sedikit panjang, ujungnya sangat runcing, sisinya tajam tak terkatakan.

Bilah tipis seperti lidah setan, senjata tua peninggalan penguni lamo, mereka yang memegang ilmunya dengan sumpah darah hitam. Mata pisaunya memantulkan cahaya dari pelita di pojok ruangan, dingin dan tak berkedip.

“Andai otakmu tak selalu dikuasai gumam congkak itu, mungkin kau sempat menunda laknatmu sendiri. Tapi, ah—kau kan cuma remah sombong dari leluhur yang sebenarnya tak kau mengerti perkataannya.”

Tangannya bergerak perlahan, menggores kulit dada mayat itu dengan ketekunan muram. Sayatan itu tak mengeluarkan jerit, hanya udara basi yang meluap pelan dari balik daging.

Tangan kiri mayat itu diputus tepat di pangkal pergelangan tanpa ragu. “Kanan untuk mulia, kiri untuk nista,” gumamnya lirih. Kerambit di genggamannya bergerak nyaris tanpa suara, membelah daging dan urat dengan kecekatan yang dingin.

Percikan darah mengalir hangat di kulit tangannya dan mulai mengendap di lantai ubin tua. Organ diangkat, ditaburi dengan serbuk pengawet. Rongga dadanya diisi campuran kapur barus, resin damar, dan lem akrilik, barulah disuntikkan perlahan untuk menahan waktu.

Kepalanya—ya, yang sudah terpenggal itu—diproses lebih hati-hati. Matanya diambil, sisa jaringan dikelupas, lalu dilapisi tipis resin transparan. Selain diberi rempah kering agar baunya tak mencuat, seluruh tubuh dicat tipis dengan pewarna alami.

Lalu, potongan tangan itu ditaruhnya di lantai dengan gerakan terukur, kemudian mulai mengulitinya. Ujung bilah membuka lapisan demi lapisan dan daging yang lembap mulai tersingkap, menampakkan tulang-tulang jari yang pucat kemerahan.

Udara di sekelilingnya malam itu terasa begitu pekat oleh keringat, darah, dan bau logam yang menusuk. Bibir pria itu tetap terkatup, wajahnya menunduk, matanya menatap kerja tangannya sendiri.

Ia seka tulang-tulang itu dalam diam. Darah yang membingkah luruh perlahan di bawah cahaya temaram dan jari-jari yang kini hanya kerangka dilipat kembali. Kertas emas mengkilap dikeluarkan dari sakunya, dibentangkan, dan setelahnya ia membungkus tiap bagian-bagian tulang dengan cermat.

Bumantara tampak muram saat hari kelima Muharram dan fajar seakan enggan menyibak gulita. Di halaman luas yang dikurung pagar kayu tua dan bendera tabot yang mulai pudar warnanya, para keturunan duduk bersila mengelilingi penja, miniatur tangan suci yang berkilau redup, yang seharusnya terbuat dari logam tua, dan baru dicuci pagi itu dengan air tujuh sumur dan kembang tujuh rupa.

Uap bunga dan tanah basah memenuhi udara. Wanginya menyamarkan bau anyir, menggantung di sela-sela napas. Wajah-wajah mereka tenang, mata tertunduk, mulut komat-kamit mengucap zikir, ritual yang diwarisi turun-temurun.

Jemari itu, jemari di balik keheningan yang khusyuk terbungkus rapi dalam kertas emas dan telah menyatu dengan penja yang mereka sucikan. Dan entah apa sebabnya, anjing hitam yang penuh luka sayatan di badannya, tampak disengaja, namun tak ada pula yang peduli, melolong tanpa arah di luar pagar, dan tak lama diam begitu saja.

Tua dan muda dari keluarga tabot saling menyapa dan bercengkerama dalam hangatnya kebersamaan. Suasananya hanya hadir di bulan penuh makna menurut mereka. Di bawah nabastala yang dilapisi cahaya lampu jalan, suara dol menggema pelan, ritmis, dan berat.

Sipai—para penabuh dol—mulai dengan suwena, tabuhan lambat nan sakral terasa mampu menghidupkan kembali jejak para leluhur. Anak-anak berhenti bermain, para orang tua terdiam sejenak, mengenang sesuatu yang tak mereka ucapkan.

Di sela-sela kemeriahan, para jola, anak-anak muda dari keluarga tabot, bergerak dari satu rumah ke rumah lain, mengumpul rupiah demi rupiah. Semangat mereka tidak sekadar untuk menghidupkan tradisi, tapi juga menjaga warisan leluhur yang begitu agung dan penuh makna.

Lalu, tamatam tiba-tiba meletup seperti ledakan kecil di dada—cepat, dinamis, dan menggairahkan. Sorak tawa membaur dengan detak dol yang kian liar, membuat kaki menari tanpa sadar.

Para jola menyusup lincah di antara kerumunan. Mereka membawa kotak sumbangan yang dibungkus kain bersulam ayat dan harapan. Bukan sekadar mengetuk pintu rumah, mereka mengetuk ingatan tentang tabot yang dibangun dari luka dan cinta.

Seorang nenek berkerudung hitam terlihat menggenggam tangan seorang jola, bibirnya gemetar, “Tetap semangat, Nak! Ambil ini dari uwak. Mungkin tak seberapa, tapi kalian harus tetap riang gembira.” Si anak muda mengangguk, tak menjawab, tapi genggaman itu lebih dari cukup.

Dan sosok itu tak menari, tak berseru di tengah keramaian—namun justru memahat decak kagum dengan sunyinya. Sang seniman dari keluarga tabot, yang tiap tahun hadir tak hanya untuk menghias, tetapi juga untuk menghidupkan kembali yang sudah lama tak terlihat mata.

Jemari lentiknya bekerja dalam sunyi di rumah tua yang selalu terkunci rapat. Gemerisik kertas emas yang ia lekatkan pada bingkai kentaur, makhluk mitologi setengah manusia, setengah kuda, yang tubuhnya dirakit dengan presisi dingin. Direkatkan satu per satu pada kulit yang bukan sepenuhnya kulit kayu.

Kepalanya dihiasi wig bergelombang, menyerupai rambut manusia, dan wajahnya bukan ukiran biasa, tampak hidup, lengkap dengan kerutan halus dan tatapan yang tak berkedip. Tak satu pun dari keluarga tabot berani melihat, apalagi diam-diam menyentuh sebelum waktunya.

Bumi Raflessia diselimuti udara hangat dan desir angin pelan yang membawa bisik-bisik masa lalu pada malam ketujuh Muharram. Dari kejauhan, suara dol terdengar lamat-lamat, membesar seiring langkah kaki yang menyusuri jalan-jalan sempit dan lebar.

Seorang sipai muda berteriak di antara kerumunan, “Suwari, sekarang!” dan seketika ritme berubah, tak terduga tapi tetap berpadu. Suwari bercampur lambat dan cepat seperti kehidupan itu sendiri. Tenang di awal, bergelora di tengah, lalu tak jelas ujungnya—apakah ini puncak atau baru permulaan?

Api obor berkedip-kedip di tangan para pemuda, menerangi wajah-wajah yang penuh harap dan kerinduan. Arak-arakan itu tak sekadar pawai—ia adalah perjalanan batin yang sunyi, dibalut gemuruh suka cita.

Para warga bergabung tanpa undangan resmi. Mereka tampak seperti tersihir. Pemuda-pemudi, orang tua, bahkan anak-anak menyusup dari gang-gang, mengikuti irama yang tak terdengar tetapi terasa kuat di dalam dada.

Arus kendaraan lumpuh perlahan di tengah keramaian yang tak teratur dan padat. Mobil dan motor menepi, memberi ruang bagi sesuatu yang lebih besar dari sekadar tradisi.

Penja, sosok suci yang dinanti, akhirnya muncul—tinggi, menjulang, tapi diam dan misterius. Terselip sepuluh jari tak bernyawa di antara hiasan dan simbol-simbol sakral.

Langkah lebih pelan datang di malam kedelapan Muharram, namun tak kalah menggugah. Kali ini, penja tak sendiri. Melayang sebuah sorban putih di belakangnya, yang membawa beban tak terlihat, simbol duka, penanda kepergian cucu Baginda Nabi yang tersayang.

Kedua benda yang dikeramatkan itu dibawa dalam satu arak-arakan yang tak hanya bergerak, tapi hidup dalam irama langkah, teriakan syukur, dan air mata yang tak semuanya berasal dari kesedihan. Warga mengiringi, larut dalam gelombang manusia yang meluap.

Bahkan penja itu tampak berayun, ikut menari dalam gemuruh suka cita. Dan pria itu tersenyum di sudut arak-arakan. Matanya bersinar oleh cahaya lampu jalan dan kepuasan hati yang tak mampu diuntaikan dengan kata.

Malam bisu dalam kalender jiwa tabot pun akhirnya datang. Aroma menyengat kemenyan dan bayang api bergetar di balik tirai tertutup di rumah ketua penghulu tabot. Dol terdiam sepenuhnya, langkah pun tak berani melintasi jalan. Suara manusia pun menghilang dari bumi yang biasanya riuh. Hanya desir angin yang menyusup lewat celah-celah jendela tua.

Gam, bukan sekadar hening di malam kesembilan nan sakral, ia bagai kabut tebal yang meresap hingga ke tulang, membawa rasa dingin yang tak berasal dari cuaca. Wajah-wajah tertunduk, tubuh bersila dalam gelap, dan dada terasa lapang.

Cahaya ina nyaris menyilaukan. Udara terasa berat, tapi bumantara bersih tanpa awan hitam di hari terakhir, hari kesepuluh. Ribuan orang bergerak dalam satu arus, memenuhi jalanan menuju Karabela, tanah lapang di tepi kota Raflessia yang dinamai dari kisah luka paling purba, Karbala.

Di sana, bukan hanya tanah yang menyimpan jejak, tapi juga gema-gema sunyi dari duka yang diwariskan turun-temurun, kini dibalut sorak dan debu. Puluhan tabot diarak megah.

Dol berdentuman dari kejauhan, lambat namun mantap, membelah barisan manusia yang menjalar sejauh hampir tiga kilometer. Tubuh-tubuh bergerak pelan, sesak tapi tak gaduh. Langkah kaki saling bersisak, bau keringat, parfum murah, bercampur jadi satu, mengambang rendah di udara.

Trotoar nyaris tak terlihat. Pedagang makanan memaku tenda, tak peduli jalur darurat atau marka jalan. Mobil-mobil diparkir melintang di halaman ruko yang tutup. Motor dijejer semaunya hingga ke gang sempit.

Terlihat seorang anak kecil di pangkuan ayahnya yang duduk di jok motornya sendiri, tertidur di antara hiruk-pikuk. Di tangan kanannya yang mungil, balon dengan karakter kartun yang gemar menyantap dorayaki itu bergoyang lemah.

Arak-arakan terus bergerak, memekakkan suara dol dan seruling yang menembus tubuh-tubuh yang basah oleh keringat. Tabot kentaur melaju anggun, menjulang di atas kerumunan, tubuhnya dibingkai payung warna-warni dan ribuan mata yang terpaku padanya. Tak berselang lama, kreekk… bunyi itu pelan, namun tajam.

Seorang remaja yang berdiri di atas kursi plastik sempat menoleh sebelum kepalanya tertunduk takut. Bangunan tabot itu oleng, menyenggol mobil yang tergeletak miring dan seketika kepala patung kentaur jatuh menghantam aspal.

Kertas emasnya robek, terkelupas. Dari celah yang menganga, sesuatu menyembul—bukan kayu, bukan tanah, tapi tengkorak. Kepala manusia, mulutnya terbuka lebar, matanya kosong mengarah ke langit yang kelabu.

Jeritan pecah di udara. Sebagian pengunjung lari kocar-kacir, lainnya membeku. Para petugas keamanan datang. Dua dari mereka mencoba membuka tubuh patung dan terkuaklah sesuatu dalam kondisi yang membuat bulu roma berdiri lama. Kulit dan belulang manusia, dirangkai di balik hiasan kentaur.

Sang seniman berdiri diam, tersenyum simpul di tengah kepanikan itu. Ia mengenakan ikat kepala batik dan setelan putih yang sama ketika ritual mengambil tanah. Dan tanpa sepatah kata pun, tangan kirinya menusukkan kerambit ke dadanya sendiri. Darah memancar, menyusuri dada, mulut hingga matanya yang tetap menatap ke arah karyanya. Tubuh itu pun jatuh perlahan. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top