Ramadan di Mentawai, Ada yang Merokok Menunggu Waktu Berbuka

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Tempat favorit saya saat bulan Ramadhan inginnya berada di Kepulauan Mentawai. Di sana sambil merintang-rintang hari menunggu beduk, bisa melihat lautnya yang jernih bagai kristal. Saat diterpa angin lautnya yang segar, rasanya saya langsung kenyang.

Dua tahun lalu, saya puasa selama seminggu di sebuah kampung pesisir di Siberut Barat Daya. Saat itu saya sedang liputan primata endemik Mentawai. Bermula dari ajakan teman saya D, pegiat koservasi di sana mengundang untuk mengisi acara jurnalis warga sambil melihat primata Mentawai di hutan.

Awalanya saya sempat ragu juga, bulan puasa mau liputan? Sanggupkah, apalagi masuk ke hutan memcari monyet. Di rumah saja seharian puasa sudah bikin lemas.

Tapi saya menyambut ajakannya. Keindahan Siberut Barat Daya langsung terbayang di depan mata. Sunrise dan sunsetnya yang bulat merah, bisa dilihat setiap hari. Belum lagi pejalanan dengan perahu ke sana menyusuri terusan mangrove dan melewati teluk dan pulau-pulau kecil yang indah. Salah satu spot surfing dunia terbaik juga ada di sana.

Begitulah, akhirnya saya berangkat ke Siberut dengan kapal cepat. Di pelabuhan Maileppet disambut D teman saya dengan senyum lebar.

“Puasa kak,” sapanya menyalami saya.

“Ya iya lah,” jawab saya.

“Tenang, nanti sampai di kampung untuk berbuka ada subet, sagu dan ikan rebus disiapkan ibu-ibu,” katanya menyenangkan hati saya. Saya sudah mengenal D cukup lama. Dia pemuda Mentawai yang langka karena mau bergiat di konservasi, bahkan konservasi primata Mentawai yang selama ini jadi santapan dan sumber protein orang di Mentawai sejak dulu.

Kami segera beangkat ke Siberut Barat Daya dengan pompong, perahu dengan mesin tempel. Perjalanannya seindah yang saya bayangkan, cuaca cerah, perahu kami meluncur membelah ombak. Kami tiba sore itu di kampung pesisir yang permai, pasirnya putih dan banyak pohon kelapa.

Di beranda tempat menginap, makanan mulai dihidangkan.

Benar saja kata D tadi, beragam kuliner Mentawai terhidang. Ada sagu obuk, sagu yang dibakar dalam bambu, keladi rebus ungu yang empuk, pisang mengkal rebus, sup ikan karang, siput laut dan subet, ini terbuat dari keladi, pisang rebus dan kelapa parut yang dibulatkan seperti onde-onde.

Walau hanya saya dan dua teman lainya- ahli primata dan burung- dari Yogjakarta yang puasa, tapi semua orang sepertinya sama-sama menunggu bedug. Ah…begitu tolerannya mereka, padahal mereka makan duluan juga tidak apa-apa.

Begitu beduk dari hp berbunyi, kami menyerbu hidangan.

Saya langsung mengambil dua piring kosong. Ini cara makan di Mentawai. Sepotong sagu dimasukan ke satu piring, piring lainnya tempat sup ikan. Lalu sagunya dicocol dengan kuah ikan, ambil dagingnya, dan dimakan. Mananam kata orang Mentawai, enak.

Kalau siput laut dimakan dengan pisang rebus mengkal, dicocol ke sambal cabe rawit, bawang merah yang diberi perasan jeruk nipis. Makan malam itu diakhiri dengan segelas kopi panas dan makan subet yang manis alamai. Kami semua puas dengan hidangan malam itu.

Pagi itu kami mulai perjalanan masuk hutan dan mendaki bukit di belakang kampung mengamati burung dan primata. Mendaki punggungan demi punggungan bukit, anehnya tidak terasa berat untuk saya, tidak capek dan tidak kehausan.

Seorang pemandu lokal yang berjalan di belakang saya ikut heran.

“Kuat sekali ya kak, tahun lalu, dua pengamat primata dari Jogja, keduanya perempuan, juga kesini, salah satunya pingsan saat dibawa mendaki bukit ini,” katanya.

“O ya,” saya tersenyum lebar, sulit menyembunyikan kebanggan karena dibilang lebih kuat (semoga ini bukan sifat riya yang bisa membatakan puasa).

Dalam perjalanan itu , D membawa kami menyaksikan spot mengamati primata. Di atas pohon Kruing saya melihat satu keluarga Simakobu, seekor induk Simakobu sedang mengawasi dua anaknya bermain di atas dahan pohon kruing. Sungguh pemandangan indah dan perjumpaan yang langka. Rasanya saat itu dapat berkah Ramadhan di tengan hutan Siberut.

Tahun lalu tanpa diduga tiba-tiba saya juga ada liputan saat bulan Ramadhan di Mentawai. Kali ini ke pulau-pulau kecil di ujung selatan Pulau Pagai Selatan. Saya berangkat dengan teman saya G yang bekerja di NGO Mentawai dan sedang ada program pemberdayaan nelayan di kawasan itu. Ikut juga teman saya J sesama jurnalis lingkungan. Kami ingin meliput nelayan korban ikan todak, karena beberapa bulan sebelumnya ada pemain surfing dari italia yang meninggal tertusuk ikan todak saat surfing di Siberut Barat Daya. Kata G, di lokasi tempatnya bekerja juga ada nelayan yang meninggal karena diserang ikan todak. Karena itu kami mengikuti G ke ujung selatan Kepulauan Mentawai itu.

Dari Sikakap ibu kecamatan, kami meneruskan perjalanan dengan boat ke ujung Pagai Selatan. Kami berangkat didampingi Pak Kades T. Pak Kades T meyakinkan kami tidak usah membawa makanan matang untuk berbuka.

“Kita makan ikan segar di sana, daerah saya itu pusat perikanan di Mentawai,” katanya tersenyum bangga.

“Siap Pak Kade,” jawab saya mengacungkan jempol dan masuk ke boat.Jadilah perbekalan kami hanya teh, gula, kopi dan roti gabin. Ombak di perjalana cukup tinggi, kadang rasanya setinggi rumah sehingga boat kami terasa melambung diatas ombak.

Sampai di lokasi pertama, di dusun pesisir, kami menginap di rumah dinas petugas Kamla. Rumahnya di pantai dan tempatnya sangat strategis untuk mengawasi pulau-pulau kecil yang ada di sana.

Tetapi impian makan ikan kakap terpaksa dikubur, ternyata nelayan di sana banyak yang tak melaut siang hari, mungkin karena bulan puasa. Banyak orang Mentawai yang muslim di kampung itu.

Teman saya G langsung menggelar diskusi dengan belasan nelayan di mushola. Saya ikut mendengarkan mereka, karena setelah itu mau wawancara.

Menjelang berbuka, makanan ringan, kopi, teh dan susu mulai dihidangkan kaum ibu. G juga meletakkan beberapa bungkus rokok untuk bapak-bapak nelayan yang hadir. Tiba-tiba satu persatu mulai mengambil rokok dan menyulutnya. G teman saya yang Kristen itu bingung melihatnya.

“Katanya tadi mereka puasa, kok sekarang malah merokok, apa puasanya nggak batal,” bisiknya pada saya.

Saya angkat bahu, mungkin di ujung paling selatan Mentawai ini puasa tidak terlau ketat. Setelah sirinei tanda bebuka berbunyi, barulah semuanya minum dan makan.

Desa di ujung Pulau Pagai Selatan itu sangat indah, dengan ratusan pulau-pulau kecilnya. Pasirnya putih bersih dengan laut berwarna biru tua. Di sana selama tujuh hari saya menjalani puasa sambil liputan dengan gembira.

Saat pulang, dari Sikakap kami naik Kapal Gambolo, kapal penumpang dan mengangkut barang dagangan. Malam itu kapal yang seharusnya berangkat pukul 12 malam, molor jadi jam tiga dini hari karena memuat berton-ton pisang hasil bumi Pagai. Jadilah kami tekatung-katung lama menunggu di pelabuhan.

Di kapal, pagi datang lebih cepat, disambut matahari terik, membuat perjalanan terasa melelahkan. Banyak penumpang yang terlihat mabuk perjalanan. Ibu-ibu pedagang dari Padang terlihat sudah menggelar tikar, makan dan minum.

Saya yang sudah sangat letih jadi tergoda membatalkan puasa. “Bukankah saya sedang jadi musafir,” kata saya membenarkan diri dalam hati.

Akhirnya saya pergi ke kantin kapal, membeli segelas kopi panas dan pop mie, lalu naik ke dek kapal di lantai dua, ada banyak bangku dan meja di sana tempat duduk sambil memandang ke laut.

Saya bergabung dengan teman saya G yang sedang makan siang. Teman saya J kelihatan juga tidak lagi puasa, sedang minum air aqua.

Saya menikmati kopi sambil melihat ke sekeliling. Laut yang biru terlihat bergelombang, kami sedang berada di atas Samedera Hindia. Tapi Padang masih jauh.

Di seberang bangku saya ada tiga pemuda, sedang klumunan sarung. Mungkin juga mereka pedagang dari Padang. Saya pikir mereka pasti juga sedang makan atau sedang merokok. Ternyata tidak, mereka hanya ngobrol. Sepertinya mereka orang-orang yang masih bertahan puasa di atas kapal.

Salah satunya menoleh ke saya saat saya sedang makan pop mie. Rasanya jadi malu sekali. Jadi menyesal setengah mati kenapa membatalkan puasa.

Ah…maafkan saya Tuhan.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top