Author name: Febrianti

Seorang jurnalis lingkungan yang banyak menulis tentang Mentawai. Ia juga Pemimpin Redaksi Uggla.Id. Selain itu ia juga koresponden Tempo.

Febrianti
Liputan

Tato Mentawai Reborn

Tato tradisional Mentawai yang dahulu dilarang dan nyaris punah, kini bangkit kembali. Digerakkan oleh generasi muda seperti Bajak Letcu, seni rajah tubuh ini tak lagi dianggap tabu. Tato kini kembali diakui bukan sekadar hiasan fisik, melainkan murni sebagai simbol identitas, kebanggaan, dan warisan leluhur masyarakat Mentawai yang harus terus dilestarikan.

Tato Mentawai Reborn Selengkapnya

Liputan

Mengenang Aman Laulau, Sikerei yang Memperjuangkan Umanya dan Budaya Mentawai

Artikel ini mengenang kisah heroik Aman Laulau, seorang sikerei terkemuka dari Butui, Kepulauan Mentawai. Pada era 1980-an, ia dengan berani melawan diskriminasi dan upaya pemberangusan budaya lokal, Arat Sabulungan, oleh aparat. Bersama fotografer Charles Lindsay, ia berhasil menemui Gubernur Sumatera Barat untuk menghentikan pelarangan tersebut dan menyelamatkan warisan budaya leluhurnya.

Mengenang Aman Laulau, Sikerei yang Memperjuangkan Umanya dan Budaya Mentawai Selengkapnya

Sketsa

Ramadan di Mentawai, Ada yang Merokok Menunggu Waktu Berbuka

Ikuti kisah menarik Febrianti, jurnalis lingkungan yang menjalani puasa Ramadan sembari meliput di Kepulauan Mentawai. Dari menikmati pesona alam Siberut , perjumpaan langka dengan primata endemik , mencicipi kuliner khas seperti sagu dan subet , hingga menyaksikan keunikan toleransi dan warga pesisir yang merokok santai saat menunggu waktu berbuka di ujung Pagai Selatan.

Ramadan di Mentawai, Ada yang Merokok Menunggu Waktu Berbuka Selengkapnya

Scroll to Top