Tato Mentawai Reborn

Sikarei di Siberut dalam ritual adat. Hanya sebagian sikerei yang kini memakai tato Mentawai.

Di atas pentas dalam ruang teater Wahyu Sihombing di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Bajak Letcu, seorang penato Mentawai bersiap bercerita tentang perjalanannya menekuni tato Mentawai. Ia batal mengenakan kabit, kostum tradisional Mentawai seperti rencana semula agar dia bisa memamerkan tato Mentawai yang ada di tubuhnya dan menjelaskannya pada penonton. Dinginnya AC yang berembus dalam ruangan itu membatalkan rencananya.

“Saya tidak  kuat menahan dingin, AC nya kencang sekali,” kata Bajak Letcu kepada saya sebelum kami naik ke pentas.

Saya dan Bajak Letcu diundang untuk bercerita tentang tato Mentawai dalam Pesta Pinggiran, sebuah festival komunitas  yang diselenggarakan oleh Project Multatuli yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki di Jakarta pada 25 Januari lalu.

Akhirnya siang itu Bajak Letcu jadinya mengenakan kaos dan kemeja lengan panjang warna hitam dipadu  dengan bawahan kain batik biru serta sepatu boot. Ia juga memakai luat dari rangkaian manik di kepala khas Mentawai. Hanya sedikit tatonya yang terlihat, di bagian leher dan di kaki.

Penulis dan Bajak Letcu bercerita tentang tato Mentawai dalam Pesta Pinggiran yang diselenggarakan oleh Project Multatuli di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 25 Januari 2026. (Foto: Project Multatuli)

Untungnya di layar belakang kami ada foto dan video tato Mentawai yang diputar melengkapi cerita kami. Gambar foto dan video itu saya ambil saat merekam perjalanan  Bajak Letcu menato warga di Simatalu, Siberut Barat beberapa tahun lalu.

Saya bercerita tentang perjalanan saya sebagai jurnalis lingkungan yang intens liputan deforestasi di Kepulauan Mentawai, termasuk   menyaksikan kebangkitan kembali tato Mentawai yang sebelumnya hampir punah.

Sedangkan Bajak Letcu menceritakan tentang perjuangan anak muda Mentawai menghadirkan kembali tato Mentawai agar tidak punah.

“Tato bagi orang Mentawai sangat penting,  di mana ada banyak makna dari simbol yang dirajah pada tubuh, tato bukan hanya sekadar seni, tapi juga identitas orang Mentawai.

Kearifan lokal masyarakat Mentawai di masa lalu yang tercermin dalan tradisi, praktik, dan hubungan yang unik terhadap lingkungan, dapat dirasakan oleh generasi muda di mana mulai terbangun rasa hormat terhadap pengetahuan leluhur,” kata Bajak Letcu di atas panggung.

Bajak Letcu yang punya nama asli Viator Simanri Sakombatu, 38 tahun  adalah orang muda Metawai yang mempopulerkan kembali tato Mentawai saat tato di ambang kepunahan.

Bajak Letcu (tengah) dan dua pemuda Mentawai yang dia tato dengan tato motif Mentawai.

Bajak Letcu mulai belajar menato dari pamannya, Ta Endei Romek Sakombatu pada 2012 saat ia masih tinggal di kampungnya di Pokai, Siberut Utara. Pamannya seorang sipati atau penato tradisional. Sang paman juga memiliki tato yang lengkap di seluruh tubuhnya.

“Saat itu tinggal dia yang masih punya tato, sementara orang tua saya sudah tidak lagi menggunakan tato, akibat pelarangan pada masa lalu,” kata Bajak Letcu.

Ia mengatakan, yang keras melarang tato pada saat itu polisi dan pemuka agama Protestan, karena tato danggap bagian dari  Arat Sabulungan, kepercayaan terhadap roh-roh yang menjadi jantung budaya Mentawai.

Pamannya, Pata Endei Romek Sakombatu pada 1980-an pernah dihukum polisi karena memiliki tato Mentawai, ia harus ikut kerja paksa memperbaiki jalan kecamatan selama tiga bulan.

“Sedangkan hukuman dari gereja Protestan  berupa sanksi sosial yang dinamakan siasat gereja, yang kena hukum dikucilkan selama setahun sebagai jemaat gereja,”kata Bajak Letcu.

Setelah pamannya meninggal pada 2015, Bajak Letcu melanjutkan belajar  tato kepada Teu Ronganga, seorang sikerei dan penato yang sudah tua yang tinggal di Simatalu, Siberut Barat.

Ia belajar teknik menato, membuat motif tato, membuat peralatan menato, dan  ritual menato.

“Saya menato sendiri kaki saya untuk mempraktikkan cara menato,  juga untuk merasakan tingkat sakitnya jarum tato tradisional yang digunakan, mulai dari duri jeruk, kayu karai yang diruncingkan hingga kawat yang diruncingkan, itu semua sakit sekali, akhirnya untuk menato saya memilih jarum tato, agar tidak sakit dan lebih savety,” ujarnya.

***

Saya pertama kali betemu Bajak Letcu di Festival Pesona Mentawai di Muntei, Siberut Selatan pada 2018. Saat itu saya tertarik melihat  papan nama di depan salah satu stand yang bertuliskan Ti’ti tradisional Mentawai. Ti’ti’dalam bahasa Mentawai adalah tato.

Di dalam stand itu ada seorang pemuda berbaring di tikar. Kakinya sedang ditato Bajak Letcu dengan menggunakan lilipat patiti, alat untuk menato, terdiri dari kayu kecil yang melengkung dan diujungnya ada jarum. Jarum dicelup dalam cairan hitam yang terbuat campuran dari air dan arang lampu semprong.

Bajak Letcu sedang menato seorang pemuda Mentawai di studio tatonya di Tuapeijat, Mei 2025.

Ia memukul kayu lilipat patiti yang jarumnya sudah dicelupkan ke pewarna hitam dengan tongkat kayu kecil dalam ketukan cepat dan berirama. Jarum tato menembus kulit dan mengikuti garis pola yang sudah digambar sebelumnya, sebuah tato ti’ti’ salio dengan motif mirip pagar yang dihiasi motif duri manau yang melengkung dari lutut hingga betis.

Pemuda yang ditato Jumsen Sababalat, mahasiswa ISI Padang Panjang itu  sesekali meringis. Beberapa pemuda yang duduk mengelilinginya  ikut meledek dan tertawa. Mereka bertelanjang dada dan sudah punya tato  Mentawai,  di lengan, dada, punggung dan kaki seperti Bajak Letcu.

“Sakitkan ditato?” tanya saya pada Jumsen Sababalat.

“Lebih sakit kalau tato Mentawai itu hilang,” jawabnya diplomatis. Teman-temannya yang mengelilinginya  bersorak riuh dan memuji-muji jawabannya.

Tidak hanya mahasiswa Mentawai yang ditato, seorang sikerei, Pangarita Siritoitet  juga datang ke stand tato itu dan  meminta pada Bajak Letcu untuk menatonya. Ia ingin melengkapi tato di kedua lengannya. Sikerei itu telah memiliki tato di dada dan punggung.

Edo Salelebaja seorang sipatiti Mentawai sedang menato di stand tato Mentawai pada Festival Iklim LBH Padang di Taman Budaya Sumatera Barat, 16 April 2026. (Foto: Kris Irawandi Saleleubaja)

 “Dulu untuk menato kami harus melakukan diam-diam agar tidak dihukuman oleh polisi,” kata Pangarita Siritoitet. Kisah pelarangan tato dan ritual budaya masih segar dalam ingatannya.

“Kalau melakukan punen (ritual adat), sikerei ditangkap dan rambut panjangnya dipotong, peralatannya juga dihancurkan, manik-manik dibakar, kabit dibakar, tapi kemudian kami membuat yang baru,” kata Pangarita. Pangarita  kemudian ditato Bajak Letcu dimuali dari lemgan kirinya.

“Tidak sakit, kalau dulu saat ditato sangat sakit dan berdarah,” katanya setelah selesai ditato. Ia tersenyum puas melihat tato barunya, Dia akhirnya punya tato motif  Ti’ti’ Simumurat di lengannya, sebuah motif duri manau.

Pada Festival Pesona Mentawai 2019 di Tuapeijat, Sipora Utara, ibu kota Kepulauan Mentawai, gerakan kembali menggunakan tato Mentawai tampak semakin masif. Itu terlihat pada spanduk petisi menyelamatkan tato Mentawai dari  kain putih sepanjang 15 meter di lokasi festival. Semua pengunjung yang mendukung penyelamatan tato Mentawai ramai-ramai menandatangani petisi di kain putih itu.

Saya baru-baru ini mewawancarai Robert Choi Sudarno Sakombatu yang mengagas petisi penyelamatan tato Mentawai di Festival Pesona Mentawai pada tujuh tahun lalu.

Robert Choi Ketua Sukat Mentawai yang memperjuangkan tato Mentawai lewat petisi. (Foto: Febrianti)

“Petisi tato itu  dulu terlahir dari diskusi saya dengan Bajak Letcu dan teman-teman pegiat tato Mentawai, karena melihat respon masyarakat saat itu sangat menolak tato Mentawai  hidup kembali,” kata Robert Choi yang kini  menjadi koordinator Suara Kaum Adat Mentawai (Sukat Mentawai), sebuah komunitas masyarakat adat di Mentawai.

Ia mengatakan, saat itu mereka sebagai pegiat tato dianggap membawa generasi muda mundur ke belakang, kembali ke kepercayaan lama Mentawai Arat Sabulungan yang dianggap bertolak belakang dengan ajaran agama.

“Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai pada saat itu juga sepertnya malu  mengakui tato Mentawai itu sebagai warisan leluhur, padahal di luar Mentawai mereka selalu membanggakan tato Mentawai,” kata Robert Choi.

Akhirnya Robert Choi dan pegiat tato Mentawai membeli kain putih sepanjang 15 meter seharga Rp1,5 juta. Uangnya mereka dapat dari hasil jualan aksesoris di festival seperti gantungan kunci, pendayung, tas baklu sikerei, panah dan kaos Mentawai.

Petisi itu berhasil menarik perhatian pengunjung festival, hampir seribu orang membubuhkan tandatangan di kain putih itu. Tato Mentawai semakin mendapat perhatian, banyak orang Mentawai yang di tato saat itu.

Robert Choi mulai ditato Bajak Letcu pada 2017. Saat itu ia baru selesai menamatkan kuliah S2nya di Universitas Negeri Malang.

“Saat sidang tesis, empat dosen penguji meminta saya harus memakai tato, karena kata mereka itu identitas saya sebagai orang Mentawai, itulah yang semakin menguatkan saya untuk bertato,” kata Robert Choi.

Apalagi kedua kakek dan neneknya dulunya punya tato. Hanya di generasi orang tuanya tidak lagi menggunakan tato.

“Alasan kedua orang tua saya tidak ditato karena larangan dari orang tua mereka, selain trauma pada masa lalu saat pembasmian tato dan Arat Sabulungan juga ada stigma bahwa orang yang memakai tato itu bodoh dan primitif.

Ini saya dengar langsung dari kakek, namun saya yakin pemikirannya itu berasal dari pemuka agama dan aparat pemerintah yang melarang tato,” kata Robert Choi.

Ia kemudian meminta izin menggunakan tato Mentawai pada kedua orang tuanya, dan mereka mengizinkan. Selain itu, Bajak Letcu juga adik ibunya.

“Saya ditato di tengah rumah kami di Matobek, Sipora Selatan, kulit saya dihajar  lilipat patiti untuk praktek tato paman saya Bajak Letcu, yang disaksikan oleh kedua orang tua saya,” kata Robert Choi.

Bajak Letcu sedang menato seorang warga di Simatalu Siberut Barat, Maret 2020. (Foto:Febrianti)

Ia mengatakan, tato Mentawai kini sudah diterima masyarakat dan tidak lagi dianggap tabu. Anak muda di Mentawai yang ditato sudah banyak, dan penato muda dari Mentawai juga terus bertambah.

Selain Bajak Letcu, kini sudah ada beberapa Sipatiti atau penato dari generasi muda Mentawai, salah satunya Edo Saleleubaja, 28 tahun, pemuda asal Maileppet, Siberut Selatan. Ia mulai ditato pada 2020 oleh Bajak Letcu.

“Saya memutuskan untuk ditato karena saya ingin melestarikan  tato Mentawai, dan yang paling mendorong saya adalah ketika  melihat  para sikerei di hulu Sungai Sareriket di Siberut Selatan, mereka punya tato yang indah,” kata Edo Saleleubaja.

Ia mengaku, kedua orang tuanya bangga dengan pilihannya memakai tato Mentawai.

“Dulu ada juga orang-orang di Mentawai yang mengatakan saya seperti orang kuno, mau ditato, tetapi sekarang kebanyaklan orang Mentawi sudah bangga dengan tato Mentawai, dan menganggapnya sebagai bagian dari budaya Mentawai,” kata Edo.

Secara bertahap tatonya terus bertambah dengan motif tato Sarereket daerah asalnya. Selain ditato Edo juga belajar menato pada Bajak Letcu.

Edo kini sudah berprofesi sebagaai Sipaiti tato Mentawai dan menetap di Padang. Ia punya akun Instagram dengan nama Aikau Sipati’ti, media sosial tempatnya mengenalkan diri sebagai seorang  Sipatiti atau penato dari Mentawai.  Edo sudah menato sekitar empat puluh orang, diantaranya turis asing yang surfing ke Mentawa, warga Padang, warga Jakarta dan mahasiswa Mentawai.

“Mahasiswa Mentawai  hanya beberapa yang saya tato, mereka ragu ditato karena masih takut tidak bisa bekerja kalau sudah tamat,” kata Edo Saleleubaja. Menurutnya perlu ada peraturan daerah atau Perda  untuk melindung tato Mentawai dan pemakainya.

“Perda sangat perlu, ketika sudah punya perlindungan hukum, tentu orang  tidak akan ketakutan lagi punya tato Mentawai, tidak takut lagi tidak diterima bekerja di instansi swasta, ASN, guru, tentara, polisi, apalagi di Sumatera Barat, masih tidak mau menerima orang bekerja yang punya tato,” kata Edo.

Saya menanyakan ide melindungi tato Mentawai dengan sebuah Perda tersebut kepada Bupati Mentawai Rinto Wardana. Menurut Rinto untuk membuat Perda tentang perlindungan tato Mentawai itu sulit karena Perda sifatnya mengikat.

“Nanti kalau kita buatkan ada Perda, Perda seperti apa, apakah Perda yang mewajibkan orang-orang Mentawai memakai tato?” kata bupati yang berlatar belakang pengacara itu.

Namun, menurutnya  aturan bagaimana agar orang-orang Mentawai yang memakai tato Mentawai dibolehkan untuk bekerja di manapun perlu diperjuangkan di dalam undang-undang tentang masyarakat adat, karena tato adalah bagian dari budaya Mentawai.

Rinto memastikan di Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak ada larangan bertato Mentawai, termasuk bagi ASN (Aparatur Sipil Negara).

Seorang sikerei dan istrinya di Simatalu, Siberut Barat yang masih punya tato Mentawai. (Foto: Febrianti)

Bagaimana dengan tanggapan Gereja Protestan terhadap perkembangan tato Mentawai setelah dulunya dilarang kini kembali dipakai kaum muda Mentawai. Saya mewawancarai Parlindungan Sababalat, Ephorus, seorang pemimpin tertinggi Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM).

 “Nggak masalah, itu kan hanya hiasan. Tato itu simbol sebagai orang Mentawai, bukan lambang dari Sabulungan,” katanya.

Menurutnya dalam dokumen gereja tidak pernah ada pelarangan khusus untuk tato Mentawai. Yang dilarang adalah ritual praktik Arat Sabulungan, yang merupakan kepercayaan kuno orang Mentawai.

“Mungkin penginjil zaman dulu yang datang dari Jerman terlalu keras, semua yang berhubungan dengan peralatan budaya Mentawai dihanguskan karena dianggap praktik Sabulungan, jadi perlahan budaya cepat hilang karena ditinggalkan masyarakat, termasuk tato, itu saya sesalkan juga,” katanya.

Teu Jorik, seorang perempuan dari Simatalu Siberut Barat yang ditato Bajak Letcu  di bagian kaki dengan motif tato Simatalu. (Foto: Febrianti)

Ephorus  menjelaskan bahwa tato adalah simbol sebagai orang Mentawai dan bukan lambang dari kepercayaan Arat Sabulungan. Sedang praktik ritual Arat Sabulungan memang dilarang oleh gereja. Praktik ritual itu di antaranya melakukan pengobatan dengan memanggil roh.

Beberapa tahun lalu saya mengikuti perjalanan Bajak Letcu menato warga Simatalu di Siberut Barat melewat hutan Taman Nasional Siberut selama dua hari jalan kaki disambung naik pompong  bersama seorang sikerei dan anaknya yang menjadi pemandu.

Sampai di Simatalu, sambutan warga sangat antusias. Itu kedatangan kedua Bajak Letcu ke Simatalu untuk menato warga dengan gratis. Di Simatalu untuk membuat tato tidak murah. Orang yang ditato harus menyiapkan imbalan untuk sipatiti berupa babi atau satu keranjang ayam yang berisi induk dan anaknya.

Hal itu membuat warga jadi jadi berat punya tato karena ternak babi dan ayam mereka tidak lagi banyak seperti dulu. Selain itu sipati di Simatalu juga sudah tidak ada lagi.

Dengan kedatangan Bajak Letcu banyak warga ingin ditato lagi. Pada setiap sesi tato di rumah warga, selalu ramai penonton, bahkan anak-anak sekolah juga ikut menyaksikan sehingga terlambat ke sekolah. Sehabis menato Bajak Letcu dihadiahi seekor ayam.

 Kenapa tato  begitu penting bagi banyak orang Mentawai di Simatalu?

Seorang sikalabai, istri sikerei mengatakan pada saya.

“Kalau kami mati kami tidak bawa apa-apa, tidak bawa harta,  kami hanya bawa tato kami,” katanya. Jawabannya membuat saya tercenung. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top