Otot dan Otak dalam Kekuasaan

Novela Animal Farm karya George Orwell berkisah tentang pemberontakan para binatang terhadap tuannya dalam sebuah peternakan binatang bernama Manor Farm. Pemberontakan tersebut sebenarnya tidak direncakan secara rinci, tetapi berhasil mengusir pemiliknya dari peternakan tersebut. Para binatang pun kemudian mengganti nama peternakan itu menjadi Animal Farm. Mereka pun mulai menyusun rencana bagaimana perternakan itu seharusnya dikelola untuk mengakomodasi kepentingan bersama. Sayangnya, di akhir cerita, revolusi ini gagal total.

Buku ini adalah satir yang ditulis dalam bentuk fabel terkait dengan kekuasaan korup. Lewat karya ini, George Orwell mengingatkan kita bahwa revolusi dapat berakhir buruk, kembali ke titik nol atau bahkan ke titik lebih rendah (minus). 

Novela ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1945 dan sejak itu sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa lain termasuk bahasa Indonesia. Dalam hitungan saya, setidaknya terdapat tujuh terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Tiga di antaranya merupakan hasil terjemahan Mahbub Djunaidi (1983), Bakdi Soemanto (2015), dan Djokolelono (2021).

Lama sebelumnya, Aus Suriatna sudah menerjemahkan novela tersebut pada tahun 1946, setahun setelah penerbitan karya aslinya. Menariknya, para penerjemah memberikan judul yang bervariasi untuk terjemahannya. Dalam kajian penerjemahan, penerjemahan kembali (retranslation) sebuah teks paling tidak dipengaruhi oleh dua alasan: pertama, sebagai koreksi atas terjemahan yang sudah ada dan, kedua, sebagai indikator atas urgensi dari moral dalam teks (cerita) tersebut.   

Tulisan ini bermaksud untuk membahas tujuan yang kedua lebih jauh dengan menganalisis dua tokoh dalam buku Animal Farm, yaitu Snowball dan Napoleon. Snowball digambarkan lebih cerdas secara intelektual dan ikhlas ingin memajukan kesejahteraan semua binatang pascarevolusi (kemerdekaan?).

Sementara itu, Napoleon dirupakan sebagai sosok yang lebih penuh perhitungan dan haus kekuasaan; ia tampaknya memahami bahwa yang menentukan kepemimpinan bukan sumbangan, melainkan kendali. Dalam alur ceritanya, keduanya merupakan figur yang potensial untuk diangkat sebagai pemimpin pascarevolusi di ‘negara binatang’ dimaksud.

Sejak awal, Snowball terlihat sebagai pemimpin yang visioner. Ia aktif dalam berbagai komite, pendidikan, dan proyek besar seperti pembangunan kincir angin. Snowball memproyeksikan kincir angin tersebut akan berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk keperluan penerangan dan juga akan menjadi sumber listrik bagi automasi peralatan di peternakan tersebut.

Snowball mampu berbicara dengan meyakinkan dan punya tujuan jelas untuk memperbaiki kehidupan semua hewan. Gagasan-gagasannya menggambarkan masa depan yang lebih baik, di mana misalnya teknologi bisa mengurangi kerja berat. Snowball mewakili semangat revolusi yang idealis dan penuh harapan.

Sebaliknya, Napoleon tidak tertarik pada program-program demikian. Ia tidak aktif dalam komite dan tidak terlibat dalam perdebatan tentang masa depan peternakan. Ia tampak pasif, seolah tidak peduli. Namun, sikap demikian tampaknya adalah bagian dari strateginya. Napoleon tampaknya tahu diri bahwa ia tidak bisa menyaingi Snowball dalam hal kecerdasan berpikir, kemampuan berbicara, dan mengeksekusi keputusan. Walaupun menyadari kekurangannya, ia tetap menginginkan kekuasaan berada di tangannya. Oleh karena itu, ia memilih cara lain untuk mengalahkan Snowball melalui ‘otot’, bukan otak. 

Untuk tujuan tersebut, Napoleon ‘mempersiapkan’ kekuasaannya di masa depan sejak awal. Saat Snowball fokus pada ide, Napoleon fokus pada alat kekuasaan. Dalam novela Animal Farm tersebut, ini ditandai dengan keputusannya mengambil sembilan anak anjing di bawah perlindungannya. Awalnya langkah ini terlihat biasa saja.

Lagipula, salah satu argumentasinya terkait dengan masa depan peternakan tersebut adalah bahwa pendidikan anak-anak lebih penting. Sebuah justifikasi yang sulit dibantah mengingat masa depan memang harus disiapkan bagi dan akan diisi oleh generasi muda. Sambil cerita bergulir, pembaca tahu bahwa Napoleon mengasuh anak-anak anjing tersebut sebagai langkah awal perebutan kekuasaan ketika saatnya tiba. 

Sebenarnya, Napoleon mengasuh anak-anak anjing itu dengan cara asing. Mungkin lebih tepatnya ia hanya mendoktrin mereka untuk patuh penuh atas semua perintahnya. Dengan kata lain, ia hanya melatih mereka untuk menjadi alat kekerasan. Ia menyembunyikan mereka hingga hewan lain melupakan keberadaan mereka.

Begitu sabar dan penuh perhitungannya Napoleon. Ia menunggu anak-anak anjing itu tumbuh besar dan menunggu waktu yang tepat untuk memanfaatkan mereka sebagai aparatur kekerasan. Situasi ini mengingatkan kita bahwa resiliensi dapat terjadi dalam konteks negatif. 

Momen itu datang saat perdebatan apakah kincir angin perlu dibangun atau tidak di peternakan tersebut. Snowball berpidato dengan penuh semangat dan berhasil meyakinkan hewan-hewan lain untuk membangun kincir tersebut. Ia menunjukkan keunggulan intelektualnya. Sementara itu, Napoleon hanya berbicara singkat dan terlihat tidak peduli, tetapi ia tidak berniat membiarkan keputusan diambil secara demokratis.

Ketika rapat masih berlangsung, tiba-tiba, sembilan anjing itu menyerang Snowball yang terpaksa lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri ke luar dari peternakan yang ia coba bangun. Pengusiran Snowball dengan kekerasan menjadi titik akhir demokrasi di peternakan itu. Sejak saat itu, kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh diskusi atau kesepakatan, tetapi oleh rasa takut.

Anjing-anjing itu kemudian menjadi pengawal pribadi Napoleon. Mereka selalu berada di sekelilingnya, terutama saat ia hadir di tengah publik. Kehadiran mereka membuat binatang lain enggan menentang apa pun yang diperintahkan Napoleon. Dalam pertempuran melawan manusia, anjing-anjing ini juga berperan penting.

Mereka membantu memenangkan pertempuran. Namun, hal ini tidak menghapus kenyataan bahwa mereka diciptakan sebagai alat penindasan. Justru hal ini menunjukkan bahwa alat kekuasaan bisa bersifat problematik. Aparatur kekuasaan dapat berguna dan berbahaya sekaligus. 

Selesai membaca Animal Farm tersebut, kita pun menyadari bahwa kenaikan Napoleon ke tampuk kekuasaan bukanlah kebetulan. Ia merencanakannya dengan matang dan ia dibakar oleh ambisi besarnya. Ia memahami bahwa kekuasaan tidak diperoleh dari ide, tetapi dari kontrol atas kekuasaan.

Pada akhirnya, Napoleon menjadi simbol bagaimana revolusi bisa gagal dari dalam. Harapan dan cita-cita bersama yang disepakati sebelum dan di awal revolusi sebagai bagian dari proses nation building dikangkangi demi kepentingan pribadi dan golongan.

Faktanya, inilah yang terjadi dalam novela tersebut. Pascarevolusi, para binatang menyusun semacan konstitusi yang dikenal dengan Seven Commandments (Tujuh Perintah (dalam terjemahan Bakdi Soemanto)). ‘Konstitusi’ ini, yang merupakan versi singkat dari prinsip Binatangisme yang sudah lebih dulu mereka susun, intinya melarang para binatang berprilaku seperti manusia. 

Namun, bab demi bab dalam novela itu menunjukkan berbagai adegan atau insiden yang bertentangan dengan ketujuh perintah ini. Demi menghindari kesenjangan antara aturan dan perbuatan, ketujuh perintah itu pun dimodifikasi sebagai justifikasi atas pelanggaran yang dilakukan rezim.

Salah satu dari Tujuh Perintah itu awalnya berbunyi ‘Semua hewan setara’, yang mengakui persamaan hak semua hewan atau menolak sistem kasta di antara mereka. Pada akhir cerita, ketujuh Perintah itu hanya menyisakan satu Perintah tunggal ‘Semua binatang setara, tetapi beberapa binatang lebih setara daripada yang lainnya’. Artinya, sebagian hewan (kelompok Atas) dapat memiliki keistimewaan untuk beprilaku seperti manusia, tetapi kelompok lain tidak. Napoleon berkhianat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top