
Tukang cukur itu datang setiap hari Minggu di pasar kecamatan dengan mengayuh sepeda tuanya. Selepas subuh, ia menyandarkan sepedanya pada pohon beringin di seberang pasar, mulai menata seluruh perlengkapan cukur yang dikeluarkannya dari peti kecil di bagian belakang sepeda. Sebuah cermin yang sudah memudar pantulannya digantung pada paku yang menancap di pohon beringin, sementara kursi lipat berbahan kayu diletakkan di hadapan cermin. Gunting dan aneka peralatan mencukur lainnya tetap ia simpan di dalam peti yang menempel di sepedanya.
Konon, tukang cukur itu sudah ada di desa kami sejak bapakku masih remaja. Dulu, ketika rambut bapakku mulai lebat dan membesar seperti rambut Ahmad Albar—penyanyi idolanya, Kakek menyeret Bapak ke pasar, mendatangi tukang cukur itu dan memintanya memangkas habis rambut Bapak saat itu juga, tidak peduli ada belasan orang yang sedang mengantre. Mungkin karena segan akan ketokohan Kakek—kakekku adalah ulama terpandang di daerah kami—tukang cukur itu langsung mencukur habis rambut kesayangan Bapak saat itu juga, disaksikan belasan orang yang sudah mengantre sebelumnya.
Sejak peristiwa dipotongnya rambut kesayangan bapakku itulah hubungan misterius antara Bapak dengan tukang cukur itu bermula. Setiap rambutku mulai panjang dan ujung-ujungnya mulai menyentuh alis atau telinga, Bapak akan menyuruhku datang ke tukang cukur itu. Bapak akan mengantarku ke pasar. Ketika kami sudah tiba di pasar, Bapak akan menyuruhku mengambil nomor antrean sementara Bapak hanya berdiri di gerbang pasar memperhatikanku dari kejauhan. Tidak sekalipun pernah kulihat Bapak mendekati pohon beringin di seberang pasar, apalagi memotong rambutnya ke tukang cukur itu—yang oleh pamanku dianggap sebagai bentuk rasa dendam karena tukang cukur itulah yang memotong rambut kesayangan bapakku ketika beliau masih remaja dulu.
Jika nomor antrean yang kuperoleh adalah angka yang cukup besar, misalnya di atas angka 20 atau 30 (itu lebih sering terjadi dibandingkan angka belasan atau satuan), aku akan bertanya terlebih dahulu berapa nomor antrean orang yang sedang dicukur, untuk mengira-ngira berapa lama aku harus menunggu. Jika jarak antreanku masih lama, aku kembali mendatangi Bapak yang menunggu di gerbang pasar (yang biasanya sedang asyik menonton tukang obat kuat mempromosikan dagangannya dengan cara yang jenaka), sedikit memaksanya untuk mengajakku masuk berkeliling pasar, memintanya membelikan mainan atau sekadar jajanan pasar sebagai hadiah karena aku bersedia cukur rambut.
Pelanggan tukang cukur itu memang banyak, anak-anak hingga orang tua datang untuk menggunakan jasanya. Ketika pelanggan pertama datang, tukang cukur itu akan langsung memberikan nomor antrean, tidak peduli apakah ada orang lain yang sedang menunggu setelahnya atau tidak.
Nomor antrean itu berupa kartu remi yang dibubuhi angka-angka menggunakan spidol. Setiap selesai mencukur rambut pelanggannya, kartu antrean itu akan diambil kembali dari tangan si pelanggan dan dimasukkan ke dalam saku bajunya. Tukang cukur itu dapat menghitung jumlah orang yang sudah dicukurnya pada hari itu dengan cara menghitung jumlah kartu remi di dalam saku. Menghitung angka tertinggi di kartu antrean tentu tidak akan sesuai dengan jumlah pelanggan yang datang, sebab banyak di antara calon pelanggan yang tidak kembali lagi setelah mengambil nomor antrean karena enggan menunggu terlalu lama.
* * *
Hanya sedikit di antara kami yang pernah datang ke desa di mana tukang cukur keliling itu berasal. Ia menyebut berasal dari Lobuk, salah satu kampung yang terletak di balik bukit. Tukang cukur itu harus mengayuh sepedanya kurang lebih selama satu jam untuk tiba di kecamatan kami.
Pada hari pasaran yang hanya ada seminggu sekali, pasar akan dipenuhi oleh para pedagang yang datang dari luar kecamatan, bahkan tidak sedikit yang datang dari kabupaten lain. Pedagang mingguan yang datang itu menawarkan berbagai dagangan: beraneka jenis kain, obat-obatan penambah stamina dan kejantanan, binatang ternak, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Tempat yang kemudian dijadikan sebagai pasar mingguan itu semula adalah terminal, yang karena saking jarangnya mobil angkutan berhenti di sana, akhirnya tempat itu dialihfungsikan sebagai pasar. Orang-orang kini lebih sering menyebutnya sebagai pasar daripada terminal. Dan tukang cukur itu, adalah salah seorang pendatang yang ikut menyemarakkan hari pasaran di kecamatan kami.
Datang sebagai tukang cukur ke desa kami, sebenarnya adalah sebuah pertaruhan. Hampir setiap lelaki dewasa di desa kami memiliki bakat bawaan sebagai tukang potong rambut. Tidak heran jika di desa kami ada kelakar: setiap bayi laki-laki yang terlahir di desa kami memiliki dua bakat bawaan: pertama, sebagai pembual; kedua, sebagai tukang potong. Jika bakat pertama itu dikembangkan, kau akan menjadi pedagang, penipu, penyair, penceramah, atau guru—kemampuan berbual sangat dibutuhkan dalam menunjang profesi-profesi itu. Sementara jika bakat jenis kedua dikembangkan, kau akan menjadi tukang jagal, tukang cukur, mantri sunat, atau minimal penjual sate—profesi-profesi yang mengandalkan kelihaian memotong sesuatu.
Sebelum kedatangan tukang cukur keliling itu, kami sudah terbiasa meminta bantuan kerabat kami untuk mencukur rambut kami jika sudah mulai panjang. Kedatangan tukang cukur itu benar-benar mengubah kebiasaan orang-orang desa kami. Jika rambut kami mulai panjang, kini kami tidak lagi harus mendatangi kerabat kami, melainkan kami akan menunggu hari pasaran dan rela antre untuk menggunakan jasa tukang cukur keliling itu. Dan sejak kedatangan tukang cukur keliling itu, orang-orang desa kami seakan baru sadar bahwa mencukur rambut ternyata bisa dijadikan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Maka sejak itulah, mulai banyak bermunculan tukang cukur di desa kami, yang membuka lapak jasa di depan rumah masing-masing. Bahkan tidak sedikit laki-laki dari desa kami yang mengadu nasib ke daerah lain untuk bekerja sebagai tukang cukur. Namun betapa pun banyaknya tukang cukur yang baru bermunculan dan menjadi saingan, tukang cukur keliling yang membuka lapak di seberang pasar di hari pasaran itu tidak merasa dirugikan. Pelanggannya tetap banyak, bahkan antreannya hingga puluhan.
Hari mulai beranjak siang, pasar makin ramai, suara penjual obat terus saja menggelegar. Akhirnya tukang cukur itu menyebut nomor antreanku. Aku langsung duduk di kursi lipat menghadap cermin yang digantung di batang pohon beringin. Tukang cukur itu mula-mula akan membersihkan gunting kodoknya dengan sikat, menyemprotkan sedikit minyak pelicin, kemudian mengangin-anginkan gunting kodok itu sebelum digunakan. Sebelum gunting godok itu mulai digunakan, tukang cukur itu memegang kepalaku dengan kedua tangannya, lalu menyentuh kedua bahuku memintaku duduk tegak, dan setelah memastikan posisi dudukku sudah tegak, ia mengambil sisir dan mulai menyentuhkan gunting kodoknya ke rambutku.
Tukang cukur itu memompa gunting kodoknya dengan tangan kanan, dan tangan kirinya terus menggerakkan sisir. Sesekali badannya mundur beberapa langkah untuk memastikan bahwa hasil cukurannya sudah rata antara kiri dan kanan, presisi di bagian depan dan belakang. Ketika tukang cukur itu hendak meratakan rambutku sekali lagi, aku iseng bertanya.
“Pak, apa benar sampeyan yang dulu mencukur rambut kribo bapak saya?”
“Siapa nama bapakmu?”
“Pak Hari.”
“Hari anaknya Kiai Mursalim?”
“Iya.”
“Itu sudah lama sekali. Dua gunting kodokku jadi tumpul gara-gara mencukur rambut bapakmu.”
Aku tertawa. Beberapa orang yang sedang duduk mengantre di atas rerumputan ikut tertawa mendengar percakapan kami. Tidak salah lagi, mungkin bapakku memang punya dendam dengan tukang cukur keliling itu.
Tukang cukur itu kemudian mengambil silet Tatra untuk memberikan sentuhan terakhir pada rambutku. Sisa rambut di dekat kedua telinga dan di bagian tengkukku diratakan dengan silet itu. Tukang cukur itu berkali-kali mengingatkanku agar jangan bergerak, karena sedikit bergerak bisa membuat kulit tengkukku terluka.
Setelah selesai dicukur, aku menyerahkan kartu remi antreanku kepada si tukang cukur sembari menyodorkan uang untuknya.
* * *
Kartu remi yang dijadikan sebagai nomor antrean itu pernah menimbulkan masalah yang membuat tukang cukur keliling itu celaka. Suatu hari, sekelompok polisi muda (yang baru dipindahtugaskan ke daerah kami) melakukan razia mendadak untuk menumpas judi togel yang sering dilakukan diam-diam di dalam area pasar. Beberapa orang yang dicurigai tengah melakukan judi togel ditangkap. Sialnya, tidak seluruh orang yang ditangkap ketika itu adalah benar-benar pelaku judi togel. Namun dengan dalih menemukan bukti berupa kartu remi yang dibubuhi angka-angka, orang itu tetap ditangkap. Ketika para polisi muda itu menanyakan dari mana ia mendapatkan kartu itu, tanpa banyak berpikir orang itu menjawab bahwa kartu remi itu diperolehnya dari tukang cukur di seberang pasar.
Maka kejadian nahas yang menimpa tukang cukur keliling itu terjadilah. Sekelompok Polisi muda itu langsung menuju seberang pasar, mendatangi tukang cukur keliling itu dan langsung menyeretnya tanpa bertanya, memaksa tukang cukur itu mengakui perbuatannya sebagai bandar judi togel.
Terkejut dengan kedatangan para polisi muda yang tiba-tiba menyeret dan mencecarnya dengan berbagai tuduhan, tukang cukur itu bingung, berkali-kali berusaha membantah bahwa dirinya tidak tahu menahu akan judi togel yang dimaksud si polisi. Karena tidak mau mengaku, beberapa orang polisi melayangkan pukulan ke perut dan dada si tukang cukur. Penyiksaan itu mungkin tidak akan berhenti jika beberapa orang yang sedang mengantre untuk dicukur bersusah-payah menjelaskan pada para polisi itu bahwa kartu remi yang di dalamnya tertera angka-angka itu bukanlah kartu judi togel, melainkan nomor antrean. Mendengar penjelasan dari orang-orang, sekelompok polisi muda itu langsung meninggalkan begitu saja si tukang cukur yang kesakitan tanpa meminta maaf.
Kejadian salah tangkap yang sangat memalukan itu membuat tidak ada lagi polisi yang berani menampakkan diri di tengah keramaian. Beberapa bulan setelah kejadian salah tangkap yang memalukan itu, pihak kepolisian seakan hendak menebus kesalahan mereka kepada tukang cukur keliling itu dengan mengundangnya ke Kantor Polsek untuk memotong rambut para tahanan yang mulai panjang. Tidak cukup memotong rambut para tahanan, beberapa preman berambut gondrong dan bertato yang ditangkap dengan dalih berpotensi membuat keonaran dan melakukan tindakan kriminal pun dipangkas habis oleh si tukang cukur keliling itu.
* * *
Kini, berselang sekitar tiga puluh tahun sejak peristiwa dipotongnya rambut kribo bapakku secara paksa atas desakan kakekku, iseng aku menanyakan peristiwa itu secara langsung kepada bapakku. Sebagaimana bapakku yang ketika remaja memanjangkan (atau lebih tepatnya membesarkan) rambutnya, aku pun kini memanjangkan (lebih tepatnya membesarkan) rambutku. Seorang bapak yang kribo akan menghasilkan anak laki-laki yang kribo pula. Maka tujuanku bertanya tentang peristiwa pencukuran paksa rambut bapakku puluhan tahun itu, selain karena iseng, juga ingin memastikan bahwa bapakku tidak akan memaksaku mencukur rambut, sebagaimana dulu kakekku memaksa Bapak mencukur rambut kribonya. Kutanyakan kepada Bapak, apakah ia masih menyimpan dendam pada tukang cukur keliling itu? Dan apakah tukang cukur keliling itu masih hidup? Bertahun-tahun merantau meninggalkan kampung halaman membuatku tidak lagi banyak mengetahui kabar orang-orang kampung halaman yang dulu kukenal.
“Tukang cukur keliling itu namanya Pak Mad Said, beliau sudah meninggal setahunan yang lalu. Bapak dan Ibu datang melayat ke Lobuk, bahkan bapakmu juga ikut pemakamannya dan ikut turun mengantar menguburkan almarhum ke liang lahat,” ibuku, yang mendengar percakapan kami tiba-tiba menimpali. Cerita dari ibuku tentu membuatku terkejut. Aku tidak pernah menyangka bahwa keluarga kami menjalin hubungan yang sangat baik dengan Pak Mad Said, tukang cukur keliling yang keberadaannya begitu melegenda di desa kami. Jika mengingat dulu Bapak bahkan terkesan tidak pernah mau bertatap muka dengan Pak Mad Said, cerita dari Ibu tentu cukup mengejutkanku.
“Asal kamu tahu, di kampungnya, Pak Mad Said membangun masjid, pakai uang pribadi, dari tabungan selama bekerja sebagai tukang cukur keliling. Bapakmu sering diundang ceramah di sana,” kata Ibu melanjutkan ceritanya.
Cerita-cerita dari Ibu, membuatku mengingat lagi sosok tukang cukur keliling yang selalu datang setiap Minggu pagi ke desa kami dengan mengayuh sepeda tuanya. Tiba-tiba aku teringat pada pohon beringin di seberang pasar, pada gunting kodok dengan bau minyak pelicin yang cukup tajam, pada silet merek Tatra yang selalu membuatku merinding, pada kartu-kartu remi yang dibubuhi angka sebagai tanda nomor antrean. Kuingat-ingat lagi raut wajah tukang cukur profesional pertama di daerah kami itu. Jika kini kalian dengan mudah mendapati plang “Potong Rambut Madura” di kota-kota kalian, kukira, itu tidak dapat dilepaskan dari jasanya, orang pertama yang menyadarkan bahwa tukang cukur dapat dijadikan sebagai pekerjaan yang cukup menjanjikan. Setiap melihat plang semacam itu di kota-kota yang kulewati sepanjang perantauan, ingatanku tidak bisa lepas dari tukang cukur keliling itu. []




