| Judul | Naskah Riwayat Hidup Abdul Manaf Pengantar dan Suntingan Teks |
| Penulis | Pramono |
| Penerbit | Suri dan FIB Unand, 2015 |
| Tebal | xii + 137 halaman |
Sumatra Barat dikenal sebagai salah satu daerah yang melahirkan para intelektual, termasuk para ulama. Sejumlah ulama itu tidak hanya berkiprah di wilayah ini saja, namun juga hingga ke luar negeri. Pikiran-pikiran mereka juga menjadi rujukan penting bagi negara-negara Islam. Seperti ditunjukkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama, sebaran Islam di Sumatra Barat cukup massif, bahkan menjadikan agama Islam ini sebagai sendi bagi kehidupan, adat, dan budaya.
Salah satu ulama yang cukup dikenal Adalah Abdul Manaf yang bermukim di Batang Kabung, Padang. Riwayat hidup Abdul Manaf, yang bergelar Haji Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib, ditulis dalam sebuah autogiografi yang kemudian ditransliterasikan oleh Pramono dalam buku berjudul Riwayat Hidup Abdul Manaf. Autobiografi Abdul Manaf ini sangat menarik untuk diikuti, karena kisah yang dilalui oleh Abdul Manaf penuh dengan suka duka, catatan sosial politik, kisah perjalanan, dan kesan dan pandangannya terhadap berbagai fenomena yang terjadi.

Riwayat hidup yang disajikan dalam autobiografi ini dimulai dari kelahiran Abdul Manaf pada hari Sabtu, 18 Agustus 1922. Seperti anak-anak lainnya, ia kemudian mengaji alif ba ta kepada guru perempuan bernama Sarikamah dan berlanjut mengaji kiraat kepada Anku Faqih Lutan. Usia delapan tahun ia masuk ke sekolah desa dan kemudian masuk ke sekolah governemen di Tabing. Selanjutnya Abdul Manaf mengaji berbagai ilmu agama kepada berbagai ulama di beberapa tempat.
Cerita Abdul Manaf kemudian dilanjutkan dengan pengalamannya dalam mengikuti pendidikan agama, polemik mengenai khutbah Jumat, penyerangan Belanda di Sumatra Barat. Kisah ini dapat dijadikan sebagai informasi tambahan untuk pemahaman kita mengenai konteks sejarah Sumatra Barat pada masa penjajahan.
Setelah kemerdekaan, Abdul Manaf menceritakan kisah perjalanannya selama berziarah ke Aceh, termasuk sejumlah hal yang ia temui selama perjalanan. Catatan tentang pemilihan umum yang ia hadirkan juga menarik untuk kita baca. Pada pemilu tahun 1955, terjadi perebutan massa, terutama antara Perti dan Muhammadiyah. Penggunaan simbol keagamaan dalam politik praktis ini, melalui buku autoniografi ini, ternyata sudah berlangsung lama. Selain itu, ia juga menceritakan kisah perjalanan haji yang dilaluinya. Semua kisah yang dihadirkan oleh Abdul Manaf ini sangat rapi dan detil, termasuk waktu-waktu dan tempat-tempat yang ia ceritakan. Kesan dan pandangannya tentang hal-hal yang ia bahas dan temui juga sangat menarik, dengan suguhan pengetahuannya terhadap berbagai topik yang terkait.

Pramono, penulis buku ini, memberikan pertanggungjawaban transliterasi pada bagian pertama. Ia menjelaskan latar kehadiran naskah autobiografi Abdul Manaf, proses kreatif, konteks karya, dan telaah atas naskah dan juga peran Abdul Manaf dalam penyebaran agama Islam dan keulamaannya. Pertangungjawaban transliterasi ini penting dalam kajian filologi, untuk menjelaskan konteks naskah dan juga pekerjaan peneliti dalam menyunting naskah yang dihadapinya. Bagian kedua merupakan hasil transliterasi naskah, yang sebelumnya ditulis dengan menggunakan arab melayu ke tulisan huruf roman.
Salah satu pernyataan yang cukup menarik di bagian naskah ini adalah mengenai motif penulisan autobiografi ini. Naskah ini ditulis karena permintaan penduduk Batang Kabung dan juga permintaan mahasiswa Unand. Hal ini mengindikasikan bahwa naskah autobiografi ini merupakan respon Abdul Manaf, yang memandang penting kisah hidup dan sejarahnya untuk dituliskan. Memang dari naskah ini, kita dapat memperoleh banyak sekali informasi, yang dapat kita jadikan sebagai sumber pengetahuan dan juga inspirasi.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





