
Dalam perjalanan saya ke Siberut Kepulauan Mentawai, banyak cerita-cerita tentang penghancuran budaya Mentawai pada masa lalu yang masih dituturkan para orang tua karena melekat dalam ingatan mereka.
Pada pertengahan 2022 saya berkunjung ke uma-rumah tradisional Mentawai-milik Aman Laulau, seorang sikerei dari Butui di Siberut Selatan. Saya datang bersama beberapa teman yang akan membuat film dokumenter tentang uma Aman Laulau.
Untuk mencapai Butui yang jauh di pedalaman Siberut, dari Muara Siberut kami mengarungi Sungai Rereiket selama lima jam dengan pompong, perahu kecil bermesin tempel.

Di lembah Butui di tepi sungai yang jernih, uma Aman Laulau berdiri megah. Ia menyambut kami dengan senyum hangat di depan umanya. Aman Laulau mengenakan luat khas sikerei di kepalanya, dan terselip beberapa kuntum bunga simakainauk berwarna kuning yang membuat tampilannya jadi menarik.
Uma Aman Laulau punya beranda yang luas. Tinggi uma hingga puncak atapnya sekitar enam meter, panjang uma itu 23,5 meter dan lebar umanya 8,5 meter.
Dari atas tanah, ketinggian uma 1, 2 meter, ditopang tonggak-tonggak kayu yang kokoh yang dibenamkan ke dalam tanah.
Selama pengerjaan uma itu, ia telah mengeluarkan biaya yang besar berupa 40 ekor babi dan sekitar 50 ekor ayam untuk menyediakan makanan untuk kerabat yang membantu mengerjakan umanya. Banyak pohon besar yang harus ditebang untuk membuat umanya. Semuanya jenos pohon yang bagus dan berkualitas yang diambil dari hutan milik keluarganya.
“Uma ini bisa memuat puluhan orang saat ada punen (pesta adat),” kata Aman Laulau dengan bangga.

Aman Laulau adalah seorang sikerei besar dan sangat terkenal. Sikerei adalah ahli pengobatan di Mentawai yang memanfaatkan tanaman obat. Seorang sikerei juga berperan penting dalam setiap ritual adat karena dia bisa menjadi penghubung dengan roh sesuai dengan kepercayaan Arat Sabulungan, agama local di Mentawai.
Selama di Butui, pada malam hari saat istirahat, saya bisa banyak mendengar cerita dari Aman Laulau. Banyak kisahnya yang menarik dan tak terduga. Berhadapan dengannya seperti mendengar kisah-kisah Mentawai yang jarang ditulis.
Diskriminasi pada orang Mentawai sudah mulai saat awal kemerdekan Indonesia pada zaman Orde Lama 1954 ketika Perdana Menteri Republik Indonesia Ali Sastroamidjojo mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan Panitia Interdeparte mental Peninjauan Kepercayaan-Kepercayaan di dalam Masyarakat.
Surat Keputusan ini muncul bukan khusus untuk menangani Mentawai, tetapi seluruh aliran kepercayaan, di Indonesia. Namun dampak dari pelaksanaan SK tersebut di Mentawai sungguh luar biasa.
Pemerintah Sumatera Barat memberangus Arat Sabulungan, kepercayaan asli orang Mentawai. Orang Mentawai diminta memilih salah satu agama resmi ynag ada di Mentawai saat itu, Islam atau Kristen Protestan. Jika tidak melakukan pilihan, semua alat keagamaan Arat Sabulungan dibakar oleh polisi, bahkan diancam hukuman.
Pada 1955 secara resmi penduduk Mentawai yang belum beragama terpaksa memasuki salah satu agama yang ada.
Arat Sabulungan kemudian dilarang dengan melibatkan polisi untuk menghentikan semua aktivitasnya. Di antara yang dihentikan adalah memanjangkan rambut bagi laki-laki, melakukan semua ritual yang melibatkan sikerei, menato tubuh, dan meruncing gigi.
Pemerintah pun melakukan program trasmigrasi lokal untuk menjauhkan orang Mentawai dari budaya lama. Akibatnya, Arat Sabulungan yang menjadi jantung kebudayaan Mentawai pun menghilang.
Di empat pulau besar di Kepulauan Mentawai yang dihuni (Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan), hanya di Pulau Siberut Arat Sabulungan tersisa. Di tiga pulau lain sudah lenyap. Arat Sabulungan bisa bertahan di sebagian Pulau Siberut, selain karena pusat kebudayaan Mentawai juga karena susah dijangkau.
Pada awal 1980-an, pedalaman Siberut banyak dikunjungi turis asing yang ingin melihat kebudayaan Mentawai. Saat itu, kepolisian dan aparat kecamatan di Siberut masih melangsungkan pelarangan ritual budaya.
Aman Laulau masih mengingat masa-masa penghancuran budaya Mentawai di Siberut.
“Waktu itu penghancuran budaya Mentawai sangat gawat, semua peralatan sikerei dibakar polisi, di Matotonan terjadi pembakaran uma oleh dua orang polisi, pemilik uma meraung-raung menangis ke hutan,” kata Aman Laulau.
Saat itu pada pertengahan 1980-an, ia sudah menjadi sikerei-ahli pengobatan dan pemimpin ritual adat. Ia juga sudah memiliki uma di Butui. Seorang polisi bernama Buncu setelah membakar uma di Matotonan, lalu mendatangi umanya. Tapi Aman Laulau menghadangnya.
“Di halaman uma saya katakan, kalau kamu berani mengganggu uma saya, saya akan menghadapimu, lalu dia tidak berani masuk,” kata Aman Lalau. Polisi itu lalu pergi, tapi Aman Laulau diliputi rasa cemas.
Ketika itu Aman Laulau berteman dengan Charles Lindsay, yang ia panggil Charlie, seorang fotografer berkebangsaan Kanada yang sedang membuat foto Mentawai di Siberut untuk majalah GEO Magazin di Jerman. Charles Lindsay sering tinggal di uma Aman Laulau dan membuat foto aktivitas keluarga Aman Laulau.
“Kemudian datanglah Charles Lindsay ke uma saya, ia menyampaikan kepada saya seperti ini, “Aman Laulau, mereka akan membakar peralatan kereimu”,
Lalu saya balik bertanya, siapa yang mau membakar, apakah si Buncu, kalau sempat dia membakar rumah saya maka langsung saya habisi orang itu. Charlie memperingatkan saya supaya tidak melakukan itu sebab nanti dihukum,” kata Aman Laulau.
Ia melanjutkan, “Saya membantah perkataannya, saya harus melakukan itu, sebab apa alasannya dia akan membakar rumah saya. Mengapa ada orang yang seenaknya membakar rumah orang, jika ada orang yang melakukan itu kepada saya maka pasti saya habisi dia.”
Kemudian, kata Aman Laulau, Charlie menjawab, “Aman Laulau jangan melawan seperti itu.
“Lalu saya tanya lagi kepada Charlie, bagaimana bagusnya. Setelah Charlie berpikir, ia memutuskan besoknya kami harus ke Padang bertemu gubernur. Setelah saya memikirkan ajakannya, saya katakan kepadanya, kalau kita ke Padang nanti, jika ada yang berani menggunting rambut saya, pasti orang itu akan saya hajar,” kata Aman Laulau.

Ketika sampai di Muara Siberut, pusat Kecamatan Siberut Selatan, Charles Lindsay menelepon seseorang, mengatakan dia akan membawa satu orang Mentawai datang ke kantor gubernur.
Setelah itu kami berangkat ke Padang. Itu pertama kalinya saya keluar dari Siberut,” kata Aman Laulau.
Sampai di kantor gubernur di Padang, ia dan Charles Lindsay dikawal satpam ke ruangan gubernur di lantai dua.
“Kemudian orang yang di dalam kantor itu mengatakan kami harus datang ke kantor gubernur lagi jam tiga sore, sebab ia akan menelepon Bupati Padang Pariaman untuk hadir dalam pertemuan itu. Tepat pukul tiga sore kami naik lagi masuk ke ruang gubernur, terbukalah pintu ruangan gubernur, kami masuk, pintu ditutup. Kami hanya berempat di ruangan itu, yakni saya, Charlie, Gubernur, dan seorang pegawai kantornya.”
Kemudian, kata Aman Laulau, Charlie menceritakan masalah yang ia hadapi di Siberut kepada gubernur. Gubernur orangnya baik, dia mengatakan tidak ada masalah dengan budaya Mentawai yang kami jalani. Gubernur prihatin dengan apa yang telah kami hadapi. Lalu dia mau berfoto dengan saya berdua dan Charlie memotret kami sedang bersalaman,” katanya.

Gubernur Hasan Basri Durin, kata Aman Laulau, kemudian memerintahkan membuat surat untuknya yang ditembuskan kepada Bupati Padang Pariaman dan Camat Siberut Selatan di Siberut. Aman Laulau juga diberikan tembusannya. Ia masih menyimpan surat dari Hasan Basri Durin. Surat yang diketik dengan mesin tik itu tertanggal 31 Maret 1988 yang ditujukan untuk Bupati Padang Pariaman.
Isinya surat itu gubernur mengatakan telah mendapat informasi ada tindakan dari beberapa pejabat dan alat pemerintah di Kepulauan Mentawai di Siberut terhadap masyarakat asli yang kurang dapat diterima oleh masyarakat itu sendiri seperti antara lain larangan berambut panjang, larangan tinggal di rumah asli mereka di hutan-hutan, larangan upacara ritual menurut tradisi dan kepercayaan mereka, sehingga hal itu menimbulkan keresahan dan kekecewaan masyarakat.
Dalam surat itu gubernur meminta agar Bupati Padang Pariaman dapat mencek sejauh mana kebenarannya. Ia menyampaikan bahwa masyarakat Mentawai tidak dilarang hidup menurut norma-norma dan tradisi asli mereka.
Aman Laulau mengatakan, setelah sampai di Siberut dengan surat dari gubernur tersebut, para pejabat kantor camat dan polisi di Siberut tidak berani lagi datang.

“Mereka tidak mengganggu kami lagi di Sarereiket, takut mereka kalau bertemu, mereka seperti anak kecil,” kata Aman Lalulau.
Tak lama kemudian Aman Laulau dan beberapa sikerei lain dari Siberut diundang ke Jakarta untuk menari di depan Presiden Soeharto.
“Kami mengambil peralatan kami yang dulu disita di kantor camat, juga ada tas kerei, kami ambil banyak-banyak, sebagian kami jual di Jakarta,” katanya.
Namun Aman Laulau menyesalkan pelarangan yang pernah terjadi, banyak aktivitas budaya Mentawai dan benda-benda budayanya yang hilang, termasuk uma.
“Sekarang yang ingin belajar budaya, mesti datang jauh-jauh ke sini, ke Butui untuk belajar budaya Mentawai,” katanya
Charlie Lindsay, yang saya konfirmasi lewat email, masih mengingat tentang pertemuan dengan gubernur Sumatera Barat saat membawa Aman Laulau pada 1988 lalu.
“Saat itu saya prihatin dengan beberapa dari polisi dari Maura Siberut yang kadang-kadang datang ke Butui dan Ugai dan desa-desa lain di Siberut mengatakan mereka ingin minta sesatu seperti ayam dan hal-hal kecil seperti itu, atau mereka akan membakar desa-desa Mentawai,” kata Charles Linday penulis buku Mentawai Shaman, Keeper of the Rain Forest.
“Keluarga Aman Laulau telah tinggal cukup jauh di dalam hutan, tetapi pada saat itu mereka khawatir tentang hal-hal seperti itu. Dan ketika saya datang dan menghabiskan waktu bersama di Mentawai dan tertarik dengan budaya asli mereka, itu adalah sesuatu yang sangat baru bagi mereka,” kata Carles Lindsay.
Ia mengatakan, sebelumnya beberapa orang luar yang datang ke Mentawai sangat bermasalah, mulai dari pedagang yang tidak bermoral, misionaris, polisi, transmigrasi, penebang huta. Begitu banyak interaksi orang Mentawai dengan orang luar yang terlihat sangat jelas memiliki prasangka yang sangat negatif terhadap orang Mentawai.
“Jadi saya berusaha sangat keras untuk menjadi teman sejati di keluarga Aman Laulau setelah beberapa tahun dan saya membuat keputusan dengan Aman Laulau untuk pergi ke Padang, ke Sumatera Barat, untuk bertemu dengan Gubernur Barat Hasan Basri Durin.
“Gubernur sangat baik dan murah hati dan saya fotoi ia sedang menjabat tangan Aman Laulau, dengan foto itu di tangan setidaknya Aman Laulau tidak mengalami gangguan kecil yang sama oleh polisi Indonesia seperti sebelumnya.

Gubernur benar-benar prihatin dengan nasib orang Mentawai dan ekosistemnya. Dia adalah orang yang sangat baik dan dia tertarik pada Mentawai setelah itu sehingga itu adalah pengalaman yang sangat positif bagi Aman Lau Lau dan untuk saya sendiri juga untuk gerakan lingkungan,” kata Charles Lindsay.
Aman Laulau meninggal dunia pada Februari 2023 dan dikenang sebagai tokoh yang menyelamatkan budaya Mentawai []




