| Judul | Menyulam Visi DKSB dalam Catatan |
| Penulis | Nasrul Azwar (ed.) |
| Penerbit | Dewan Kesenian Sumatea Barat, 2003 |
| Tebal | 511 halaman |
Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) menjadi sebuah lembaga yang penting dalam dunia seni dan budaya. Sejumlah kegiatan, program, dan fungsi organisasi DKSB telah memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam dinamika kebudayaan di Provinsi Sumatera Barat. Sejak diinisiasi pendiriannya, termasuk polemik untuk menimbang keberadaannya pada sekitar tahun 1993/1994, DKSB pertama kali dipimpin oleh A.A. Navis.
Setelah itu, DKSB tetap berlanjut dengan segala jenis kegiatan dan kepemimpinan. Salah satu tinggalan dokumentasi, selain karya dan pengaruh dari kegiatan dan programnya adalah sebuah buku berjudul Menyulam Visi DKSB dalam Catatan.
Buku Menyulam Visi diterbitkan oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat pada tahun 2003. Buku ini menjadi dokumentasi lengkap atas berbagai pemberitaan, makalah, catatan, profil seniman dan budayawan, dan juga sejumlah tulisan berupa opini yang terkait secara kelembagaan dan kegiatan DKSB. Alur buku ini disusun pertama berdasarkan kegiatan kelembagaan DKSB, dan kedua tulisan tulisan-tulisan di luar program kegiatan.
Bagian pertama adalah Pentas Seni 2000, yang berisi tulisan-tulisan dan berita terkait dengan program tersebut. Sebagaimana diketahui, DKSB memiliki beberapa komite (misalnya seni rupa, sastra, tari, musik, film, seni tradisi, dan teater) yang pada program-program tertentu dan dianggap besar bersama-sama menjadi bagian dalam kegiatannya.

Bagian kedua berjudul Sastra Kepulauan & Festival Pesisir, yang mendapat porsi paling banyak dalam buku ini. Bagian ketiga diberi judul Alek Nagari Batipuah, yang merupakan sebuah festival seni tradisi yang diadakan di Nagari Batipuah, Tanahdatar. Bagian keempat berjudul Pentas Seni II & Temu Teater 2002, dan dilanjutkan dengan bagian kelima dengan judul Pentas Seni III.
Bagian keenam buku Menyulam Visi adalah dokumentasi tulisan-tulisan lepas yang ditulis oleh para kritikus yang menelisik karya-karya yang dihadirkan dalam kegiatan DKSB, pemberitaan non program, dan opini yang menyinggung keberadaan DKSB. Bagian keenam ini diberi judul Sisi Lain. Selanjutnya adalah profil para seniman dan budayawan yang pernah dimuat di surat kabar, meskipun sebagiannya tidak secara langsung berhubungan dengan DKSB.
Bagian ketujuh ini diberi label Visi Sosok, yang berisi 14 profil seniman dan budayawan, dan pandangan mereka mengenai proses kreatif dan wacana seni budaya. Bagian terakhir, kedelapan, berjudul Perspektif, merupakan kumpulan makalah dan tulisan yang pernah disajikan dalam diskusi dan seminar yang diadakan oleh DKSB.
Buku Menyulam Visi ini merupakan salah satu warisan penting dalam hal fungsinya sebagai pertanggungjawaban kelembagaan publik. Pembaca dapat mengetahui kegiatan dan laporan dalam bentuk catatan, termasuk juga penilaian yang diberikan oleh para penulis. Editor buku ini, Nasrul Azwar, yang menjadi sekretaris DKSB beberapa periode, telah bekerja dengan baik dalam hal mengarsipkan dan menyusun buku ini.

Sayangnya, penerbitan buku serupa ini baru dilakukan dalam satu periode kepengurusan, sehingga kita mungkin kehilangan dokumentasi kegiatan dan pengaruh DKSB secara utuh. Setidaknya, buku ini dapat dijadikan sebagai referensi perjalanan DKSB, dan kebudayaan secara umum di Sumatera Barat, dalam satu rentang waktu. Sebagai perbandingan, Dewan Kesenian Jakarta juga pernah melakukan pendokumentasian kegiatannya dalam bentuk buku. Meski pun tidak menyertakan pemberitaan-pemberitaan yang tentu saja banyak, setidaknya program-program yang pernah dilakukan DKJ terdokumentasi.
Dua buku yang pernah diterbitkan oleh DKJ adalah Pesta Seni 1974 dan Pesta Seni 1976. Kita dapat belajar banyak dari buku-buku seperti ini, termasuk dalam menyusun peta jalan kebudayaan, menghindari pengulangan-pengulangan program, dan mencari bentuk dan gagasan baru yang didasarkan pada program-program yang telah ada.
Buku Menyulam Visi ini saya kira penting untuk dibaca oleh khalayak ramai, terutama para seniman, budayawan, aktivis budaya, pengajar, dan mahasiswa dalam ranah kebudayaan, selain informasi dan gagasan di dalamnya, juga bagaimana mengelola organisasi dan program kebudayaan. Apa lagi DKSB saat ini, sejak tahun 2011, tidak lagi ada karena kevakuman dan entah kapan kita akan memiliki lembaga kebudayaan yang memiliki peran penting dalam menjaga dinamisasi kebudayaan.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





