
Jenderal Besar Tohar Dahamud hanya perlu mengibaskan kepalanya satu kali ke kanan untuk memberi instruksi kepada anak buahnya. Instruksi itu langsung dilaksanakan oleh Kolonel Ranto Bujang yang turut hadir pada acara hari itu tanpa perlu penjelasan apa pun. Sang kolonel bergegas mlipir meninggalkan pertemuan nonformal di meja makan ketika para tamu dan pejabat negara sedang tertawa terbahak-bahak bersama sang Jenderal Besar, lalu pergi ke salah satu ruangan staf pembantu presiden. Kolonel Ranto Bujang memakai telepon yang ada di ruangan itu untuk menghubungi kantor Komando Distrik Militer 1308/Luwuk Banggai.
Gerakan-gerakan praktis macam itu memang sudah biasa dilakukan oleh Jenderal Besar Tohar Dahamud. Tidak hanya kepada bawahannya saat hendak menyampaikan perintah, tetapi juga kepada semua orang sebagai pengganti ucapan. Pada banyak kesempatan ia bahkan tidak bermaksud membuat kode apa pun agar tak dipahami orang lain, melainkan memang demikianlah caranya berkomunikasi ketika ia sedang malas bicara. Pernah suatu kali, sebelum menjadi presiden, kepada teman seangkatannya yang telah menjadi seorang konglomerat kaya raya, Jendeal Besar Tohar Dahamud cukup menggerakkan jari kakinya untuk menyilakan tamunya itu duduk lesehan di gazebo kecil di belakang rumahnya yang menghadap ke kolam ikan koi. Kebiasaannya itu muncul bukan lantaran ia telah menjadi seorang perwira tinggi, melainkan karena ditularkan oleh ayahnya yang seorang seniman yang tak mau patuh pada pola tata krama umum sejak ia masih kecil.
Setengah jam yang lalu, Jenderal Besar Tohar Dahamud baru saja ikut merayakan Hari Anak Nasional di halaman istana negara. Ia ditemani istrinya, menteri-menterinya, sejumlah perwira tinggi, dan para staf dan pembantu istana. Duta besar dan sejumlah delegasi dari berbagai negara juga turut meramaikan acara itu. Siang itu adalah hari yang cerah dan suasana begitu menggembirakan. Jenderal Besar Tohar Dahamud mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif bunga berwarna abu-abu dan celana linen hitam yang agak longgar. Para pejabat laki-laki yang mendampinginya juga mengenakan setelan yang sama, termasuk bule-bule diplomat itu.
Anak-anak dari berbagai daerah datang berkumpul atas undangan langsung dari istana yang disampaikan melalui Kementerian Pendidikan. Jenderal Besar Tohar Dahamud berdiri hampir satu jam di tengah kerumunan anak-anak, menyapa mereka satu per satu dengan senyumnya yang kelak membekas di ingatan siapa pun yang pernah hidup di masa rezimnya, yang membuat orang-orang menjulukinya si Bapak Senyum. Ia memandangi anak-anak itu dengan tatapan seorang bapak yang bijaksana dan mengayomi, sekaligus yang tidak boleh ditentang.
“Kalian mau jadi apa kalau besar nanti?”
Jenderal Besar Tohar Dahamud melempar pertanyaan itu sambil menebar pandangannya. Anak-anak sekolah dasar itu malu-malu ingin menjawab. Mereka plirak-plirik satu sama lain, dan karena tak ada satu pun yang berani tunjuk tangan, Jenderal Besar Tohar Dahamud akhirnya menunjuk salah seorang di antara mereka.
“Hayo, kamu. Siapa nama kamu?”
Seorang staf yang berada tak jauh dari Jenderal Besar memberikan mik kepada si anak untuk menjawab.
“Nama saya Leonardo Latipay dari Irian Jaya, Kabupaten Paniai.”
“Baik. Kamu apa cita-citanya?”
“Mau jadi presiden seperti Bapak,” kata anak itu. Jenderal Besar Tohar Dahamud dan para hadirin tergelak mendengar jawaban anak itu.
“Bagus, bagus. Tapi, presiden hanya satu. Di negara ini, rakyatnya ada 190 juta, presidennya hanya satu, ya! Ingat itu!”
Jenderal Besar Tohar Dahamud kembali menebar pandangannya ke anak-anak, lalu memilih seorang lagi.
“Kamu yang di ujung sana, mau jadi apa kalau sudah besar?”
Anak itu diam, malu-malu.
“Mau jadi presiden juga?”
“Iya,” jawab anak itu akhirnya.
“Kalau nggak jadi presiden, jadi apa?”
“Jadi dokter.”
“Nah, bagus, bagus.”
Jawaban anak yang satu ini bikin Jenderal Tohar Dahamud senang.
***
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum terdengar suara menjawab di seberang telepon. Kolonel Ranto Bujang, orang kepercayaan Jenderal Besar Tohar Dahamud sejak masih bertugas di kemiliteran, meminta kepada seorang bintara berpangkat sersan dua yang mengangkat telepon itu untuk memanggilkan Letkol Inf. Ribak Sude, Komandan Kodim 1308/Luwuk, yang segera menyahut beberapa menit kemudian dengan napas tersengal-sengal sehabis berlari karena tahu bahwa yang menelepon adalah Kolonel Ranto Bujang.
Kolonel Ranto Bujang menyampaikan perintah dengan penjelasan yang cukup rinci sehingga Letkol Inf. Ribak Sude tak berani mengajukan satu pun pertanyaan. Apalagi di awal pesannya, Kolonel Ranto Bujang menyisipkan kalimat yang membikin keringat dingin bercucuran dari dahi Letkol Inf. Ribak Sude: Menurut petunjuk Bapak …. Padahal, Letkol Inf. Ribak Sude sebetulnya ingin sekali bertanya ‘anak itu sekolah di mana’ karena hal itu luput disampaikan oleh Kolonel Ranto Bujang.
Siang menjelang sore itu juga Letkol Inf. Ribak Sude langsung mengumpulkan anak buahnya, termasuk yang sedang berada di luar markas. Ia hanya punya waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk menemukan orang tua dari anak bernama Hamli yang dimaksud oleh Kolonel Ranto Bujang. Begitu selesai meneruskan perintah yang diterimanya dari sang kolonel, siang menjelang sore itu juga Letkol Inf. Ribak Sude memerintah anak-anak buahnya untuk mendatangi sekolah-sekolah dasar yang masih buka. Para prajurit itu menjelma detektif dadakan oleh sebab perintah dadakan yang mereka terima.
Dari 389 sekolah dasar yang ada di Banggai, hanya empat puluh tiga yang membuka kelas siang dan itu pun hanya delapan yang jaraknya bisa mereka tempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Meski begitu, beberapa sekolah yang hanya membuka kelas pagi masih tetap buka karena para pegawainya bekerja sampai sore. Di salah satu sekolah yang masih buka walau siswa-siswanya sudah pada pulang itulah, seorang prajurit berhasil menemukan sekolah yang mereka cari-cari.
“Betul. Dia anak terpintar di kelas 6. Makanya dia kami pilih mewakili sekolah kami ke Jakarta untuk perayaan Hari Anak Nasional,” kata seorang pegawai tata usaha kepada prajurit yang menanyainya.
“Saya minta nama orang tuanya beserta alamatnya.”
“Kalau boleh tahu, untuk keperluan apa ya, Pak?”
“Jangan banyak tanya. Ini perintah dari Bapak …”
“Bapak?”
“Ya, Bapak Senyum.”
Pegawai tata usaha itu akhirnya paham perintah itu dari siapa sebelum menjawab, “Oh, baiklah kalau begitu. Asal Bapak senang ….”
Prajurit itu bergegas meninggalkan sekolah itu dan langsung mengabarkan keberhasilannya kepada komandannya—Letkol Inf. Ribak Sude.
***
Usai menanyakan cita-cita mereka, Jenderal Besar Tohar Dahamud memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya kepadanya. Seorang anak malu-malu mengangkat tangan.
“Nama saya Faisol Abot. Saya berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sejak kapan bapak bercita-cita menjadi presiden?”
Pertanyaan anak itu membuat Jenderal Besar Tohar Dahamud tertawa. Hadirin yang semula takut tertawa jadi ikut tertawa karena melihat sang Jenderal Besar tertawa. Jenderal Besar Tohar Dahmud lantas menjawab pertanyaan itu dengan ligat seperti seorang bocah yang adu cepat dalam lomba cerdas cermat.
“Waktu kecil saya sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi presiden. Kehidupan saya dulu di zaman penjajahan sangat menderita. Sekolah saja, dapat dikataken, tidak mudah. Satu desa yang bersekolah hanya saya sendiri, anak-anak yang lain tidak. Kehidupan pada waktu itu tidak mudah. Tidak hanya untuk sekolah, apa-apa dulu susah. Tidak seperti sekarang. Kamu sekarang bisa menikmati daripada perjuangan dan hasil pembangunan daripada yang saya lakuken. Ya, tho?”
Hadirin tepuk tangan, dan Jenderal Besar Tohar Dahamud berhenti sejenak membiarkan mereka bertepuk tangan, sebelum meneruskan:
“Cita-cita saya waktu kecil hanya ingin berjuang saja. Berjuang untuk membebasken diri dari penjajahan. Kebetulan di tengah jalan perjuangan itu, rakyat memercayai saya, dan Tuhan mengizinkan saya untuk menjadi presiden,” lanjut Jenderal Besar Tohar Dahamud, pelan tapi terukur. Si anak yang bertanya manggut-manggut antara salut dan takut.
“Hayo, siapa lagi yang mau bertanya?”
Seorang anak lain tunjuk tangan.
“Nama saya Winter Hadari dari Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Saya mau nanya,” kata anak itu. Kalimatnya terhenti sebentar, sebelum diteruskannya. “Nanya saja, boleh?”
“Boleh, boleh,” sahut Jenderal Besar.
“Apakah orang cacat bisa jadi dokter, Pak?”
“Ya, bisa. Kecuali kalau cacat mental. Kalau cacat tubuh masih bisa. Seperti Helen Keller, dia buta tapi bisa jadi tokoh dunia. Asalkan mau belajar, pasti bisa. Asal ada semangat mengabdi kepada negara dan bangsa, semuanya bisa.”
Si anak yang bertanya mengangguk-angguk tanda paham.
“Siapa lagi?”
Seorang anak lagi tunjuk tangan.
“Nama saya Butet Lubis dari Sipiongot, Sumatera Utara. Kenapa masih ada penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan?”
“Sekarang ada 190 juta rakyat Indonesia secara keseluruhan. Yang masih hidup di bawah garis kemiskinan tahun 1993 tercatat ada 25,9 juta. Masih banyak tho? Tapi, yang sudah kita entasken daripada kemiskinan itu juga banyak. Selama 25 tahun saya memimpin, dari yang tadinya 60 persen, sekarang tinggal 13 persen. Hebat, tho? Karena itulah saya masih jadi presiden sampai sekarang untuk mengentasken itu semua.”
Jawaban Jenderal Besar Tohar Dahamud membuat si Butet Lubis dari Sipiongot takjub.
“Siapa lagi, hayo?”
Seorang anak lainnya lagi tunjuk tangan.
“Nama saya Sardi dari Sulawasi Tenggara, Kabupaten Kendari. Saya mau tanya, bagaimana cara menjaga kesehatan?”
“Cukup makan makanan yang bergizi, tapi jangan berlebih-lebihan. Berlebih-lebihan itu tidak baik. Kalau semua rakyat makannya berlebihan, cadangan makanan negara bisa terancam. Bisa habis. Seperti beras, misalnya. Makan beras terlalu banyak tidak baik. Makanya saya menganjurkan rakyat makan beras jagung, biar sehat,” jawab sang Jenderal Besar.
***
Tidak sulit bagi Letkol Inf. Ribak Sude untuk menemukan orang tua dari anak yang bernama Hamli. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di Kelurahan Keleke, Kecamatan Luwuk. Petang itu juga dua prajurit berpakaian sipil yang ia perintahkan, langsung menyeret ayah anak itu ke luar dari rumah dan memasukkannya ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu soal apa yang terjadi. Istrinya yang sedang hamil tua tak ikut dibawa berkat permohonan lelaki itu yang sampai menangis menyembah-nyembah. Para tetangga yang menyaksikan penjemputan itu tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tahu bahwa dua pria berbadan kekar itu adalah tentara. Mereka lebih memilih diam karena takut terlibat.
Di markas Kodim 1308/Luwuk, sambil diinterogasi, pria itu dihajar habis-habisan oleh empat prajurit yang seperti kerasukan setan. Ia terus dipukuli, ditendang, lalu roboh, dijambak supaya berdiri, dipukuli lagi, ditendang lagi, begitu seterusnya sampai para tentara itu kelelahan.
“Saya tidak ada menyuruh, Pak. Saya juga tidak pernah mengajari. Mungkin gurunya di sekolah,” ucap pria itu, lirih, setiap kali ia roboh. Suaranya tak dihiraukan oleh para prajurit yang menghajarnya.
Para prajurit itu baru berhenti setelah komandan mereka menyuruh berhenti. Letkol Inf. Ribak Sude terlambat menyadari bahwa sasarannya kepada ayah anak itu tidak mendasar. Itu pun setelah ia ditelepon kembali oleh Kolonel Ranto Bujang yang juga terlambat menyadari bahwa ada banyak pihak yang memungkinkan berperan, selain dari orang tuanya.
Hari sudah menjelang subuh ketika pria itu sudah babak belur dan nyaris mati. Ia dicampakkan ke tengah hutan dalam keadaan sekarat.
***
Jenderal Besar Tohar Dahamud agaknya begitu gembira ditanyai oleh anak-anak. Selain ingin mencitrakan dirinya sebagai sosok penyayang anak, dia juga hendak memahamkan anak-anak itu tentang betapa berjasanya dia kepada rakyat.
“Hayo siapa lagi? Ada lagi?”
Tidak ada lagi anak yang tunjuk tangan. Semuanya plirak-plirik antara malu dan ragu-ragu. Namun saat Jenderal Besar Tohar Dahamud hendak menyudahi sesi tanya jawab itu, terlihat olehnya seorang anak perempuan mengangkat rendah tangannya. Lantas didekatinya anak itu.
“Kamu, hayo.”
“Nama saya Hamli dari Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Banggai. Saya mau tanya, mengapa presiden cuma satu padahal Indonesia sangat luas?”
Jenderal Besar Tohar Dahamud terkekeh mendengar pertanyaan itu. Hadirin ikut terkekeh, dan kali ini disertai tepuk tangan. Sambil tetap menjaga senyumnya yang penuh wibawa, Jenderal Besar Tohar Dahamud menjawab pertanyaan itu dengan suara dingin layaknya disampaikan kepada musuh politiknya.
“Ya, terang itu. Presiden itu musti hanya satu, untuk memimpin negara dan bangsa ini. Kalau sampai dua-tiga, nanti negara ini tidak bisa berjalan dengan baik. Banyak pemimpin, banyak kapten, negara ini bisa rusak. Bagi-bagi jatahnya pun susah. Maksud saya, nanti jadi rusuh, jadi rebutan. Tapi terang bahwasanya presiden yang satu ini hanya melaksanaken apa yang diputus oleh rakyat, melewati MPR, melalui Garis Besar Haluan Negara. Walaupun satu tapi terikat kepada Garis Besar Haluan Negara. Terikat kepada Pancasila, terikat kepada UUD 45. Jadi memang menurut undang-undang hanya satu. Satu saja hanya untuk lima tahun. Setelah lima tahun boleh dipilih lagi untuk lima tahun. Setelah lima tahun bisa juga dipilih lagi untuk lima tahun lagi. Setelah itu dipilih lagi untuk lima tahun berikutnya. Lalu dipilih lagi untuk lima tahun berikutnya. Begitu seterusnya.”
Jawaban panjang lebar itu sejatinya sudah sangat memuaskan bagi si anak, tapi justru tidak bagi sang Jenderal Besar sendiri. Ia merasa terusik dengan pertanyaan itu dan karenanya ia balik bertanya.
“Kenapa kamu tanya begitu, heh?”
Dalam keadaan merinding, para hadirin masih sempat tertawa, meski pelan.
“Kenapa, heh? Siapa yang suruh kamu tanya begitu?” tanya sang Jenderal Besar lagi, sambil melirik ke arah kerumunan orang-orang yang hadir.
“Siapa yang suruh, siapa, heh?” tanyanya lagi.
Anak bernama Hamli itu cengengesan ditanyai begitu. Tak paham dia apa maksud sang Jenderal Besar.
“Karena hanya ingin tahu saja, ya? Di rumah, kan, juga begitu. Kan tidak ada bapak dua-tiga, ya tho? Bapak kamu hanya satu, tho? Mudah-mudahan kamu masih bisa jumpa bapak kamu saat pulang nanti, ya.” []




