Membaca Buku Semacam “Sesi Fisioterapi” untuk Melenturkan Pikiran

Sumber Ilustrasi: Penerbit Yaguwipa

Pernahkah sesekali menyadari betapa lelahnya pikiran ini setelah berjam-jam menatap layar gawai tanpa henti? Layar yang terus berganti memunculkan video pendek, satu ke yang lainnya, mengalir seolah tanpa ujung. Rasanya seperti ada ruang hampa di kepala, padahal mata baru saja dijejali oleh ribuan informasi acak. Jari jempol ini seolah bergerak sendiri, menggeser layar ke atas secara refleks seakan sudah diprogram. Sebuah rutinitas nirfaedah yang sayangnya sudah terlampau lumrah kita lakukan setiap hari.

​Saya sering merenungkan fenomena yang cukup mengkhawatirkan ini belakangan. Kita hidup di masa dimana perhatian adalah komoditas yang paling mahal harganya untuk diperjualbelikan. Algoritma media sosial memang dirancang sedemikian rupa dengan sangat teliti untuk meretas sistem saraf kita. Mereka dengan sengaja menyuntikkan aliran dopamin instan lewat konten berdurasi lima belas detik yang meledak-ledak.

Sangat wajar jika pada akhirnya pikiran kita menjadi kebas, jenuh, dan perlahan mati rasa. Lonjakan dopamin yang konstan itu perlahan tapi pasti merusak rentang fokus alami yang kita miliki sejak lahir. Segalanya harus serba cepat, serba instan, dan harus langsung memicu tawa atau amarah detik itu juga. Kita mulai kehilangan kemampuan untuk sekadar duduk diam menikmati sebuah proses yang berjalan lambat dan tenang. Pikiran menjadi sangat mudah terdistraksi oleh getaran sekecil apapun dari telepon genggam di atas meja kerja. Ini sungguh sebuah tragedi modern yang ironisnya menjangkiti hampir semua lapisan umur tanpa pandang bulu.

​Kondisi karut-marut ini sering disebut banyak orang dengan istilah brainrot, atau kebusukan pikiran akibat terlalu banyak mengonsumsi konten rongsokan. Istilah yang terdengar lumayan kasar memang, tapi nyatanya sangat akurat dalam menggambarkan realitas yang ada di depan mata. Pikiran kita dipaksa mengunyah informasi instan yang sama sekali tidak bergizi secara masif dan terus-menerus. Akibatnya, kemampuan kognitif kita untuk berpikir kritis dan mendalam pelan-pelan menyusut lalu menghilang tanpa bekas. Sungguh mengerikan melihat bagaimana kita dengan sukarela menyerahkan kendali akal sehat pada sebuah mesin. Lebih menyedihkannya lagi, fenomena ini tidak hanya menyerang orang dewasa yang setidaknya sudah punya benteng logika dasar. Lihat saja generasi anak-anak sekarang, yang kerap kali dilabeli dengan julukan iPad kids oleh masyarakat luas. Anak-anak kecil yang akan tantrum

hebat jika layar menyala itu direbut secara paksa dari tangan mungil mereka. Tontonan serba cepat dengan warna mencolok telah merampas hak asasi mereka untuk sekadar merasa bosan. Padahal, dari rasa bosan yang tak nyaman itulah imajinasi dan kreativitas manusia biasanya mulai tumbuh berkembang secara liar.

​Melihat semua rentetan kekacauan kognitif ini, saya merasa kita sangat butuh sebuah jalan keluar yang radikal dan tegas. Dan ironisnya, penawar dari penyakit super modern ini justru adalah sebuah benda yang mungkin sudah dianggap sangat kuno. Ya, membaca buku adalah antitesis paling sempurna untuk melawan arus kebisingan era digital yang memekakkan telinga ini. Sebuah tumpukan kertas terjilid yang diam, tak bersuara, dan sama sekali tidak memancarkan seberkas cahaya biru. Di sanalah letak kekuatan magis aslinya yang sering kali kita pandang sebelah mata karena dianggap membosankan.

Buku tidak pernah berusaha mati-matian merebut perhatian pembacanya dengan deringan notifikasi atau alunan musik yang berisik. Benda statis ini menuntut kita yang harus datang kepadanya dengan kesadaran penuh serta niat yang utuh. Membaca memaksa ritme napas dan detak jantung kita untuk melambat secara perlahan, mengikuti alur kata demi kata. Sama sekali tidak ada jalan pintas untuk melompati sebuah paragraf tanpa kehilangan konteks cerita seutuhnya. Lewat lembaran kertas ini, kita pada dasarnya sedang dipaksa untuk kembali belajar tentang seni bersabar.

Sebagai seseorang yang sehari-harinya lumayan banyak bergelut membedah barisan teks dan literatur, saya menemukan semacam oase ketenangan di sana. Ada filosofi less is more yang begitu kental terasa saat kita tenggelam sendirian dalam lautan kalimat panjang. Tanpa adanya bantuan visual yang meledak-ledak, otak kita dituntut bekerja keras membangun sendiri representasi dari narasi tersebut. Proses sunyi inilah yang pelan-pelan memperbaiki sirkuit otak yang sebelumnya terlanjur rusak oleh gempuran konten pendek.

Membaca ibarat sebuah sesi fisioterapi panjang yang perlahan mengembalikan kelenturan pikiran yang terlanjur kaku. Dopamin yang perlahan dihasilkan dari menamatkan sebuah buku tentu sangat jauh berbeda sensasinya dengan bermain gawai. Ia bukan sebuah kejutan instan yang meledak lalu hilang begitu saja tanpa bekas, meninggalkan rasa hampa yang menyiksa. Melainkan sebuah kepuasan batin yang menumpuk secara teratur, meresap jauh ke dalam cara pandang kita terhadap dunia. Kita belajar menyelami makna empati dengan mencoba memahami karakter atau argumen yang mungkin bertentangan dengan prinsip pribadi. Sesuatu nilai luhur yang hampir mustahil untuk didapatkan dari sekadar berdebat kusir di kolom komentar media sosial.

​Namun tentu saja, mengembalikan kebiasaan baik membaca ini bukanlah sebuah perkara yang gampang untuk dieksekusi begitu saja. Terutama bila kita mencoba melihat konteks yang jauh lebih luas di negara kita sendiri, yaitu Indonesia. Fakta pahit bahwa tingkat literasi nasional kita masih terjerembab di urutan bawah memang sangat memprihatinkan untuk diakui. Kita hidup menetap di tengah masyarakat yang cenderung lebih suka mendengarkan gosip panas daripada membedah isi sebuah tulisan. Ada budaya komunal yang kadang membuat aktivitas membaca sendirian di sudut ruangan justru terlihat aneh atau asosial.

​Padahal jika ditelaah lebih dalam, rendahnya tingkat literasi ini sebenarnya adalah akar dari begitu banyaknya masalah sosial kita. Mulai dari kebiasaan mudahnya hoaks tersebar luas, hingga perlahan hilangnya kesopanan dasar dalam berdebat di ruang publik. Ketika masyarakat luas tidak terbiasa membaca informasi secara utuh, mereka akan sangat mudah terprovokasi oleh judul berita sensasional. Oleh sebab itu, menjadikan buku sebagai rutinitas harian bukan lagi sekadar hobi pinggiran untuk bersantai membuang waktu. Ia kini sudah bertransformasi menjadi semacam alat perlawanan intelektual yang sangat vital dan amat krusial.

​Sebuah bentuk perlawanan sunyi terhadap kebodohan massal dan kedangkalan berpikir yang kian hari kian dinormalisasi oleh keadaan. Saat saya membuka perlahan halaman pertama sebuah buku, rasanya seperti sedang membangun barikade kecil di dalam kepala. Barikade kokoh untuk menahan serbuan algoritma yang ingin terus mengeksploitasi sisa waktu dan emosi secara sepihak. Memang butuh usaha yang luar biasa keras pada awalnya untuk memusatkan perhatian pada lembaran statis tersebut. Mata rasanya selalu gatal ingin cepat-cepat melirik layar ponsel untuk merespon pesan yang bahkan belum tentu ada.

​Tapi di celah sempit itulah letak tantangan sebenarnya yang harus perlahan ditaklukkan dengan tingkat kedisiplinan tinggi. Sama persis seperti otot tubuh yang perlu dilatih beban, rentang perhatian kita pun harus dibiasakan lagi untuk memanjang. Dimulai dari target ringan lima halaman sehari, lalu meningkat sepuluh halaman, hingga akhirnya kita bisa tersesat berjam-jam. Rasanya sungguh sangat melegakan ketika menyadari bahwa kita rupanya masih punya kendali penuh atas pikiran kita sendiri. Bahwa kepekaan rasa dan daya imajinasi liar itu belum sepenuhnya mati direnggut oleh dinginnya layar kaca.

​Pada konklusi akhirnya, tumpukan kertas bernama buku inilah yang berpotensi besar menyelamatkan kita dari kepungan informasi berlebih. Di dalam relung keheningannya yang syahdu, kita justru menemukan kembali suara hati kita sendiri yang selama ini tenggelam. Pikiran pelan-pelan menjadi jauh lebih peka, lebih tajam dalam menganalisa, dan jauh lebih bijak merespon sebuah isu. Mari pelan-pelan mencoba meletakkan gawai itu sejenak di atas meja, dan kembali menyentuh tekstur kertas yang nyata. Karena menyembuhkan pikiran yang hancur lebur selalu dimulai dari satu halaman sunyi yang dibaca dengan kesadaran penuh. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top