Perang Kemerdekaan di Minangkabau

JudulSejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I. di Minangkabau (jilid I dan II)
PenulisAhmad Husein, Kasjmir Sutan Muntjak, Sjoe’ib, Jahja Djalil, Syafiar, Bakri Abbas, Arief Amin, dan Djohan
PenerbitBadan Pemurnian Sejarah Indonesia – Minangkabau, 1978
TebalJilid I, 714 halaman, jilid II, 799 halaman

Sumber sejarah penting selain yang sudah dibahas dalam rubrik Pusaka Sastra edisi sebelumnya adalah buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I di Minangkabau 1945-1950, yang diterbitkan oleh Badan Pemurnian Sejarah Indonesia – Minangkabau (BPSIM) pada tahun 1978. Buku ini dibagi menjadi dua jilid, dengan sedikit perbedaan judul antara keduanya. Pada jilid satu memasukkan Riau dan pada jilid kedua tidak mengggunakan Riau pada judulnya.

Buku ini menjelaskan kondisi dan perkembanga yang terjadi di daerah Sumatra Barat atau Minangkabau dan juga beberapa daerah yang termasuk dalam Provinsi Sumatra Tengah pada masa sebelumnya. Bagian awal pada jilid I menjelaskan latar belakang sosial budaya yang mencakup bidang politik, sastra, ekonomi, agama, Pendidikan, pertanian, dan juga kepariwisataan. Sumatra Barat memang memiliki progresifitas dalam bidang-bidang ini, dengan hidupnya sektor Pendidikan modern dan tradisional, yang menghasilkan kaum terdidik atau intelektual. Demikian juga dengan aktivitas perekonomian yang cukup terkenal dengan sejumlah saudagar dan juga lembaga-lembaga perekonomiannya.

Penjajahan Belanda di Sumatra Barat juga mendapatkan tantangan yang hebat dari masyarakat. Selain berbagai pemberontakan yang terkenal seperti penolakan pajak atau anti belasting di Kamang dan pemberontakan Silungkang, berbagai penolakan juga terjadi melalui sarana non fisik seperti penerbitan. Beberapa kali para pejabat Belanda mengirimkan orang-orang pentingnya untuk turun langsung ke Sumatra Barat, termasuk gubernur jenderalnya pada masa perlawanan Tuanku Imam Bonjol.

Kedatangan dan pengambilalihan kekuasaan oleh Jepang menjadi bagian pembahasan berikutnya. Pada masa ini, Soekarno tinggal di Padang dalam perjalanan perpindahannya dari Bengkulu, yang karena ketiadaan alat transportasi harus berdiam beberapa waktu di Padang. Awal-awal kedatangan Jepang ini sebenarnya membuka harapan baru bagi kemerdekaan, namun agenda Jepang untuk melakukan penjajahan ternyata berkata lain. Peperangan antara sekutu dengan Jepang di Indonesia dan di Sumatra Barat kemudian menjadi momentum kemerdekaan Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ternyata sejarah menunjukkan bahwa perjuangan panjang masih belum berakhir. Perjuangan untuk menentang kembalinya sekutu setelah kemerdekaan, atau yang dikenal dengan aksi revolusioner atau perang kemerdekaan masih berlanjut. Berbagai dinamika perlawanan inilah yang menjadi fokus dari dua jilid buku ini.  Pembahasan berikutnya mencakup berbagai aksi perlawanan dan peperangan yang terjadi di berbagai daerah di Sumatra Barat. Dari buku ini kita dapat membaca gerakan-gerakan yang terjadi, mulai dari perampasan senjata, pembentukan kelompok-kelompok perjuangan, aksi peperangan, kepemimpinan dan penyusunan strategi dan kebijakan, yang dilakukan oleh berbagai kelompok sipil.

Beberapa kali gencatan senjata yang dilakukan untuk memberikan ruang bagi perundingan-perundingan perdamaian juga menjadi pembahasan buku ini. Upaya damai melalui perjanjian atau perundingan merupakan strategi peperangan, baik untuk usaha perdamaian secara permanen maupun siasat memenangkan peperangan, yang sudah dikenal dalam pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah kita. Bagian yang menarik dan cukup relevan dengan isu belakangan ini adalah pembahasan mengenai usaha pembentukan Daerah Istimewa Sumatera Barat (DISBA) yang pernah diusahakan (hlm. 478-481).       

Perang kemerdekaan ini menjadi bagian utama yang dilanjutkan pada buku jilid II. Pada lanjutan buku jilid II ini, catatan-catatan dan aksi militer dan politik mendominasi penjelasan yang diberikan. Kehadiran Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) sebagai penyelamat republik juga menjadi bagian penting yang dibahas dalam buku ini. Bagian akhir buku ini Adalah dengan berakhirnya perang kemerdekaan dengan adanya pernjanjian Meja Bundar dan pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS), yang menjadi salah satu episode sejarah Indonesia.


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top