Halte

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Aku seharusnya tahu kalau sore itu dia sudah mati, ketika kami duduk di halte depan rumah sakit umum. Kendaraan lalu lalang seperti biasanya, tapi lyn kota yang kami tunggu tak kunjung lewat. Dia di sisi kiriku, wajahnya terlalu tenang untuk ukuran orang hidup. Bola matanya jernih macam kelereng.

Aku tak berbicara apa pun. Dan dia tak berminat untuk ngobrol. Kami sudah lama tak bicara selain tentang hal-hal sepele: sabun mandi rumah yang habis, galon yang perlu diisi ulang, nomor antrean puskesmas, tanggal jatuh tempo cicilan online. Hidup kami belakangan ini irit perbendaraan kata.

Langit agak gelap. Angin mengembus pelan, mungkin membawa air yang hendak dijatuhkan ke seluruh kota. Dia duduk dengan lutut saling rapat, tangannya dingin saat kusentuh. Di pangkuannya, tas kain bergambar Sinchan. Aku tak ingat siapa yang membeli tas itu. Mungkin aku. Mungkin dia pesan di marketplace seperti biasanya. Banyak hal di antara kami yang tak jelas siapa yang lebih dulu memutuskan, seolah semua terjadi tanpa kesepakatan. Bahkan kadang spontan tanpa pertimbangan sehingga barang-barang yang sebenarnya tak begitu berguna menumpuk begitu saja.

“Kalau hari ini kita tidak pulang,” katanya memecah keheningan di antara kami, “kira-kira akan ada yang mencariku, gak?”

Aku menoleh pelan tanpa menjawab. Dia menatap mataku seperti menuntut jawaban.

Aku ingin sekali menyalakan rokok. Mulutku kecut setelah empat jam berada di area rumah sakit. Terpampang tanda larangan merokok di tembok halte, dan dia, kutahu, selalu membenci bau tembakau dan secara tak resmi melarangku merokok ketika ada di dekatnya. Tapi sore itu, aku yakin dia tak melarangku. Ketenangan matanya yang seperti kelereng itu seolah membaca pikiranku dan menyilakan apa yang aku ingin. Meski begitu, toh aku tetap memilih tidak jadi merokok, meredam keinginanku sekuat mungkin.

“Kalau besok aku tidak bangun, jangan kasih tahu siapa-siapa dulu. Kalau rekan kerja menghubungi abaikan saja. Biarkan sehari, dua hari, atau tiga hari. Biar orang-orang mulai menebak. Aku gimana atau di mana. Aku ingin menjadi gosip,” ucapnya beberapa menit kemudian.

Suaranya agak samar. Dan aku merasa dalam kalimat itu dia sedang menyerahkan sesuatu yang sangat pribadi padaku. Sesuatu yang hening dan kelak keheningan itu begitu menyakitkan.

Seekor burung merpati terbang dari atap halte. Terbang lurus ke utara. Ke arah laut. Kurasa burung itu menyimak kami dari tadi. Dia menatap burung itu, lalu mengalihkan pandangan ke tangannya sendiri. Lalu dia berbicara lagi, sama samarnya dengan perkataan sebelumnya “Aku ingin mati di tempat asing. Jangan di rumah. Jangan di kamar kita. Aku ingin mati tanpa ada yang tahu kecuali kamu.”

Setiap kali ngomong aneh pikiranku pun sibuk mencari sesuatu. Mungkin mencari sanggahan, atau semacam permohonan agar dia tak mengatakan itu. Tapi tetap tak kulakukan, maksudnya tak kukatakan meski akhirnya aku menemukan kalimat untuk menyanggah perkataannya.

Tiba-tiba lyn kota muncul dan berhenti di depan kami. Tapi kami tak berkeinginan untuk naik. Sopir menengok sekilas, lalu tancap gas lagi. Diam kami baginya adalah tanda menolak jadi penumpang.

Setelah jeda agak lama dari kedatangan lyn itu, kami pun beranjak dari halte, berjalan kaki. Tanpa kesepakatan terlebih dahulu, tiba-tiba saja kami sama-sama bergerak, membawa langkah ke trotoar jalan. Dia berjalan di sisi kiriku. Kami menyusuri trotoar. Trotoar yang kami lewati banyak yang lepas pavingnya. Dan kalau tak salah ingat, dari dulu keadaannya memang seperti itu, saat pertama kali aku tiba di kota ini.

Sekitar tiga puluh lima menit kami sampai di ujung jalan utama, berhenti di jembatan besar yang menyeberangi sungai berwarna kecokelatan. Aku berdiri memandangi rumah-rumah kumuh di bantaran sungai, kondisi yang mengingatkanku pada masa kanak, mengingatakan pada bapak yang selalu berseru ketika hujan tiba “Cek seluruh rumah, mana bagian yang bocor”.

Dia mencondongkan badan ke pagar jembatan, menatap arus yang mengalir lambat.

“Apa sungai ini bisa membawa mayat ke laut, Jef?” tanyanya.

Aku menoleh. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum yang sudah lama kurindukan.

“Kalau airnya tinggi tentu bisa,” kataku.

“Kalau gak?”

“Tentu akan tersangkut bersama sampah-sampah.”

Dia mengangguk. Seolah mendapat kepastian, atau mungkin suatu persetujuan total dari keputusan besar. Lalu dia menyentuh tanganku, menggenggamnya erat. Genggaman yang lembut dan penuh makna.

Kami tak bicara lagi. Hanya berdiri di sana, di pinggir jembatan. Sementara senja tumbuh dalam mendung dengan warnanya seolah meneror.

Setelah itu aku tidak tahu siapa yang lebih dulu bergerak. Hanya tiba-tiba tubuhnya sudah di pelukanku. Kami berangkulan seperti sepasang kekasih yang baru jumpa setelah lama berpisah. Lalu aku mendorongnya pelan. Sangat pelan, sampai terasa seperti dorongan penuh kasih. Dan dia jatuh ke sungai.

Tidak ada suara teriakan darinya. Hanya bunyi air yang terdengar memercik kecil. Lalu tenang kembali. Permukaan sungai seperti tak berubah. Seakan memang sudah menunggu seseorang dijatuhkan ke dalamnya. Dia sudah tak tampak, air menyembunyikannya.

Aku menengok sekilas. Tidak mencoba atau berusaha menyelamatkannya. Tidak mencari. Tidak berteriak, apalagi meminta tolong kepada orang lain. Aku beranjak dari jembatan. Aku berjalan pelan, menyusuri jalan dan gerimis turun mengiringi langkahku. Di bawah tiang listrik aku berhenti. Aku membuka ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan.

***

Aku pernah melihatnya di halte yang lain. Halte dekat pasar buah yang kini sudah diratakan dengan tanah karena akan dibangun gelanggang olah raga. Dia duduk dengan posisi yang kukenal: lutut saling rapat dan tangan memeluk tas kain bergambar Sinchan. Matanya kosong menatap jalanan yang penuh lalu-lalang kendaraan.

Aku tak segera menyapanya. Aku membeli rokok, menyalakan sebatang. Lalu memperhatikannya dengan saksama dari warung. Aku mendekatinya beberapa menit kemudian. Dia menoleh dan berkata, “Terlambat. Kau selalu terlambat.”

Tanpa menunggu jawaban muncul dari mulutku, dia berdiri dan meninggalkan bangku halte, berjalan ke utara ke arah di mana laut terhampar. Itu mengingatkanku bahwa dia selalu menyukai utara, meyukai laut. Dan kami memang sering ke laut utara pada hari libur kerja, duduk di pasir hingga senja datang dan mata kami lelah memandang gelombang.

Aku mengikutinya. Dia melangkah cukup cepat tak seperti langkahnya yang kukenal. Kami menyusuri trotoar yang agak rusak. Dia tak menoleh sama sekali, hanya kadang melambat, membuatku nyaris sejajar. Tapi kemudian mempercepat lagi langkahnya sehingga membuatku agak tertinggal. Seolah dia mau menjaga jarak.

Di perempatan kecil yang selalu riuh pada jam pulang kerja, saat kami melewatinya aku merasa langkah kami berubah arah. Bukan ke utara. Tapi debur ombak mulai terdengar. Dia semakin mempercepat langkah. Dan aku terus mengikutinya tanpa sedikit pun memalingkan mata, takut dia lenyap begitu saja.

Kami tiba di jalan setapak yang menurun, diapit pagar besi dan semak-semak yang membuatku merasa tak pernah melewati jalan itu. Bukan jalan yang biasa kami lewati saat ke laut. Di ujungnya ada undakan batu dan laut mulai terlihat. Ketika dia akhirnya berhenti di depan sebuah bangku kayu yang menghadap laut, aku berdiri beberapa meter darinya. Dia duduk perlahan, merapikan rambut dan berkata tanpa menoleh, “Duduklah. Sudah jauh kita berjalan. Kurasa kamu capek.”

Namun perempuan itu bukan dia. Dia lebih muda. Rambutnya lebih pendek. Cara duduknya cukup berbeda. Meski dia memegang tas kain bergambar Sinchan di pangkuannya dan pakaian yang dikenakannya adalah dia. Sepatunya adalah sepatu dia, yang waktu itu aku belikan untuk ulang tahunnya. Tapi dia bukan dia.

Perempuan itu menoleh ke arah keramaian di kejauhan. Kemudian menoleh ke laut dan berucap, “Kalau besok aku tidak bangun, biarkan saja dulu. Jangan kau kasih tahu siapa-siapa. Biar orang-orang menebak kemudian menggosip. Aku ingin jadi gosip.”

Lalu debur ombak terdengar lebih jelas. Seolah menanggapi perkataannya. Lalu cahaya senja jatuh di rambutnya. Dan aku berdiri di seberang jalan, memandangi halte kosong samping taman kota, bukan di dekatnya di pinggir laut. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top