Sebentang Bayang-Bayang

Ilustrasi: Aprililia

Lihatlah danau itu dari jauh, dari kamar hotelmu di puncak bukit, maka kupastikan keindahan belaka yang akan menghampar di matamu: Air bening biru kehijauan yang memantulkan wajah bukit-bukit, berpagar jejeran kelapa dengan pelepah menjuntai hingga seolah ingin mengecup para nelayan yang hilir-mudik dengan sampan kayu untuk menebar jaring atau melempar pancing, sementara di atas mereka ratusan atau mungkin ribuan ekor bangau terbang merendah, mencari kecipak ikan-ikan. Jangan, jangan kau tergoda keluar dari kamar hotelmu dan turun menyusuri pinggang bukit untuk melihat danau itu dari dekat.

Jika dari jauh, dari kamar hotelmu, kau menyaksikan para nelayan berlalu-lalang dengan sampan mereka menebar jaring atau melempar pancing untuk menangkap ikan nila gendut, gariang bersisik perak, atau barau bertelur, dan kau pun berpikir betapa damai, betapa bahagianya tinggal di pinggir danau itu karena jika kau lapar, kau tinggal turun ke danau dengan sampan dan pukat, lalu dalam hitungan menit, ikan segar sudah bisa kaubawa pulang untuk diolah dan disantap bersama nasi hangat, maka ketika kau memutuskan turun ke sana, aku khawatir bayangan surgawi yang terbangun di kepalamu akan buyar seketika.

Ketika kau benar-benar sudah berada di pinggir danau, kau mungkin akan kecewa mendapati bahwa air bening biru kehijauan yang terlihat dari kamar hotelmu sama sekali berbeda dengan apa yang mengada di depanmu: Air danau itu berbau amoniak, penuh ganggang dan eceng gondok, batu-batu berbalut lumut kuning kecokelatan, dan serpihan pakan ikan yang licin berlendir membungkus hamparan pasir. Dan, keramba-keramba itu, yang membuatmu bertanya-tanya, kenapa baru terlihat sekarang? Apakah karena mereka menambatkan tali-tali keramba itu ke batang pohon kelapa sehingga dari kamar hotel yang terlihat hanya rimbun pelepah?

Begitu juga ketika kau melangkah lebih jauh dan bertanya kepada para nelayan yang kautemui. Aku takut, kau tak akan sanggup mendengar keluh kesah mereka. Tak akan kuat kau menampung segala beban mereka. Dan rasa kecewamu pun akan bertambah-tambah.

“Sudah dapat berapa ekor, Pak?” Kau mungkin akan bertanya seperti itu. Itu pertanyaan umum saja, tak sedikit pun menyalahi norma kesopanan. Justru memang demikianlah seharusnya kau bersikap sebagai seorang pendatang.  

“Baru sedikit!” Mungkin nelayan itu akan menjawab demikian, sambil terus memperhatikan jaringnya. Bahkan andaikata ia sudah dapat banyak sekalipun, ia akan tetap menjawab demikian. Baru sedikit. Baru sedikit. Mungkin dari tempatmu berdiri kau melongokkan kepala ke dalam sampannya dan kau bisa melihat puluhan ekor nila sebesar telapak tanganmu menggelepar di sana, dan kau berpikir ikan yang ia tangkap sangat banyak. Namun, sedikit yang dimaksud nelayan itu tentu karena ia membandingkan hasil tangkapannya hari itu dengan tahun-tahun yang telah berlalu, ketika danau masih belum disesaki keramba apung, ketika sisa pakan belum menggunung di bawah sana, ketika ikan-ikan memenuhi sampannya hingga ia kesusahan mendayung hingga ke tepian.

“Semangat, Pak!” Ini juga bisa kauucapkan kepadanya. Meski ia mungkin saja akan mengernyitkan dahi, berusaha mencerna kata ‘semangat’ yang kaumaksud. Ya, mereka tak pernah tak bersemangat. Sepanjang hari turun ke danau, menebar pukat, memancing, menangguk, atau menyelam dengan panah di tangan. Namun, tak peduli sebesar apa pun semangat yang membara di dada, ikan-ikan sudah sangat sulit untuk ditangkap.

Kau tentu tak perlu tahu bahwa ribuan keramba apung yang menyesaki danau itu telah menjadi musabab hilangnya ikan-ikan. Tentu tak akan menjadi beban pikiran mereka jika keramba itu adalah milik mereka. Tentu masih ada yang bisa mereka harapkan ketika musim panen ikan tiba. Namun, keramba-keramba itu adalah milik para pemodal besar dari kota. Sekalipun angin darek—yang datang mengaduk-aduk tuba belerang di dasar danau dan membunuh ikan-ikan—sesekali menggagalkan panen, uang para pemodal itu tak akan pernah habis. Berbeda sekali dengan nelayan yang kautemui itu, yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada berkah dari danau. Tak ada ikan yang ditangkap, tak akan terlihat asap di tingkap.

Maka, daripada kau ikut larut dan larat, ketika nelayan itu berlalu, memang sebaiknya kau kembali saja ke hotelmu dan cukup memandang danau itu dari jauh. Tapi, jika kau tetap ingin meneruskan perjalananmu menyusuri kampung pinggir danau itu, biar tidak menelan kecewa, kau bisa menerapkan beberapa kiat berikut.

Sebagai pelancong dari kota, alihkan saja perhatianmu pada masjid atau surau-surau sederhana di tepian danau. Ya, tak akan susah bagimu menemukan rumah Tuhan di sini. Dan kau pun bisa terus menyusuri jalan setapak menuju sebuah masjid tua berarsitektur unik tak jauh dari sana, yang fotonya mungkin sering kaulihat di situs pariwisata.

Ini masih pagi. Bangau-bangau putih baru turun dari pucuk-pucuk pohon berembun menuju keramba apung, mengintai ikan-ikan yang muncul ke permukaan danau. Sungguh menenteramkan mata dan jiwa, pikirmu. Namun, ah, nun, di ujung jalan setapak di pinggir danau itu, seorang laki-laki bersungkup kain sarung juga tengah berjalan dengan gegas ke arahmu. Gomuk namanya. Kau tentu tak tahu bahwa ia baru saja turun dari pintu dapur seorang perempuan bernama Nubai, yang suaminya selalu salat berjemaah di masjid dan menghabiskan waktu hingga pagi merekah di sana. Dan kau tentu juga tak tahu apa yang dilakukan Gomuk dan Nubai pada saat suami perempuan itu tidak di rumah.

“Dari masjid, Pak?” Kau mungkin akan menyapanya begitu kalian berpapasan.  

Dia mungkin akan gelagapan. Mungkin ia akan membenarkan letak kain sarungnya, meski sebenarnya tak ada yang salah dengan sarung itu. Namun, karena kau menyapanya dengan sopan, dan mungkin ia tahu kau adalah orang asing belaka di sana, maka dia akan mengangguk, memberikan sedikit senyuman, dan segera berlalu. Menuju rumahnya, di pinggir danau juga.

Kau tentu akan berhenti sejenak di halaman masjid, mengagumi susunan mozaik rumit di dinding dan tiangnya. Mengambil beberapa swafoto dengan latar masjid tua itu tentu hal yang wajar saja kaulakukan. Lalu, ketika kau mengintip ke dalam dari jendela yang terbuka, kau akan melihat seorang laki-laki tengah membaca Al-Qur’an. Dialah suami Nubai, yang selalu menunaikan salat berjemaah di masjid. Ah, betapa merdu suaranya melantunkan ayat-ayat suci, pikirmu. Dan, kusarankan, cukup itu saja yang kautahu tentang laki-laki itu. Jangan kau berlama-lama, apalagi berada di sana hingga siang menjelang, ketika waktu salat datang. Aku takut, kau akan mendengar suara merdu yang menenangkan itu berubah teriak menakutkan ketika laki-laki itu menghardik bocah-bocah yang berkejaran di beranda masjid ketika orang-orang salat.

“Pergi kalian semua dari sini! Masjid ini tempat salat, bukan tempat bermain! Dasar anak-anak tak tahu agama!” Teriakannya akan menggema di selasar masjid, menghalau bocah-bocah itu menjauh dari sana.

Maka, biar penilaianmu terhadap laki-laki itu tak tergerus, bersegeralah beranjak dari sana, teruskanlah tamasyamu, susuri saja jalan setapak pinggir danau itu. Karena tak jauh dari masjid itu, ketika matahari benar-benar sudah benderang dan bayang-bayang memanjang, kau akan melihat sepasang suami-istri turun ke sawah, menyiangi padi yang sudah mulai gendut berisi. Betapa damai, betapa menyenangkan hidup sebagai petani, pikirmu. Makan nasi dari padi yang kautanam sendiri. Tak perlu memikirkan laporan bulanan dan segala tetek-bengeknya yang memusingkan kepala. Tak perlu bertemu rekan kerja bermuka dua. Tak perlu menghadapi atasan yang menyebalkan. Sebagai petani, kau adalah bos untuk dirimu sendiri.

Cukup kaubiarkan pikiran mengembara sampai di situ saja. Jangan kaucari lebih jauh tentang sawah siapa yang digarap oleh suami-istri itu, apakah mereka mendapatkan dengan cara baik-baik atau justru mengambilnya secara paksa dari orang lain. Apakah sawah itu sudah bersertifikat atau masih dalam status sengketa, kau tak perlu mencari tahu. Sebagai seorang pelancong, cukup kaulihat mereka sebagai petani yang sederhana, yang hanya menginginkan hal-hal sederhana dalam hidup, tidak lebih. Tentang pematang sawah mereka yang terus bergeser melebar dari tahun ke tahun, yang selalu menimbulkan cekcok dengan tetangga hingga pernah menimbulkan perkelahian berdarah, kau tentu tak perlu tahu sampai sejauh itu. Begitu juga dengan kelakuan mereka pada saat sawah akan dibajak, yang akan berjalan malam-malam menyusuri tali air, memutus aliran ke sawah orang lain, menumpah-curahkan air hanya ke tumpak-tumpak sawah mereka.

“Subur-subur sekali padinya, Pak, Buk!” pujimu dari jauh.

“Alhamdulillah,” sahut mereka serempak.

“Semoga nanti hasil panennya melimpah!”

“Aamiin!”

Kusarankan, Kawan, kau terus saja berjalan hingga kau melihat seorang bocah laki-laki di pematang sawah, mengangkat bubu-bubu perangkap belut yang tadi malam ia pasang. Kau mungkin bisa melihatnya tersenyum semringah begitu mendapati seekor belut menggeliat gelisah di dalam perangkap bambu miliknya. Ah, betapa damai, betapa menyenangkan, pikirmu lagi, menjalani kehidupan sebagai seorang bocah di kampung pinggir danau itu.

“Dapat berapa ekor?”

“Baru beberapa ekor.”

“Mau dimasak atau dijual?”

“Dijual, Om.”

Dan, cukup kauhentikan percakapanmu sampai di situ saja. Kau tak perlu tahu tentang untuk apa uang yang diperoleh bocah itu dari hasil ia menjual belut nanti. Apakah ia membelanjakannya untuk peralatan sekolah atau untuk membeli lem dan pil anjing yang membuatnya melayang ke awang-awang bersama teman-temannya, itu juga bukan sesuatu yang mesti kaupedulikan. Atau bahkan kau tak perlu berpikir apakah ia masih sekolah atau tidak. Kau memang tak perlu tahu tentang semua itu. Kau adalah seorang turis di sini. Tujuanmu ke sini bukan untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Kau datang semata untuk bersenang-senang, bukan untuk membuat urat saraf kian menegang.  

Agak siang, ketika kau baru saja menghabiskan sepiring nasi goreng bertabur ikan-ikan kecil kriuk khas danau ini, kau mungkin akan mendengar bunyi tetabuhan tambur. Ya, sepasang penganten baru sedang diarak berkeliling kampung, dan orang-orang pun bersorak gembira. Kaubayangkan penganten perempuan itu—seorang gadis desa yang lugu—tengah malu-malu berjalan di samping suaminya. Pasti ia masih sangat kikuk dengan kehadiran seorang laki-laki dalam hidupnya, meskipun laki-laki itu mungkin tumbuh bersamanya sejak kecil di kampung ini.  Ah, betapa lugu, betapa tak banyak tingkah, pikirmu.  

Namun, tentu saja aku akan mengatakan kepadamu bahwa cukup sampai di sana saja kau membiarkan pikiranmu berkeliaran. Dan setelah kau mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan—karena memang tidak setiap hari kauu bisa menyaksikan pemandangan seperti itu—segeralah berbalik ke pangkal jalan, kembali ke hotelmu di puncak bukit. Karena, aku takut, jika kau berlama-lama di sana, akan ada saja orang yang kaudengar berbicara tentang penganten yang sedang diarak itu. Tentang pernikahan mereka yang harus disegerakan karena perut si perempuan yang sudah mulai membuncit. Tentang ayah pihak laki-laki yang tak sudi menghadiri pernikahan mereka. Tentang si laki-laki yang kabarnya sudah mempunyai anak di tempat lain. Ah, sungguh, itu bukan hal yang harus kaudengar sebagai seorang pelancong di pinggir danau ini.

Marilah, Kawan, susuri kembali jalan setapak yang kautempuh tadi. Matahari sudah terik sekali. Lihatlah, bocah penangkap belut itu sudah tidak ada lagi di sana. Mungkin ia sudah menjual belut-belut yang berhasil ia tangkap. Begitu juga dengan sepasang petani tadi. Mereka agaknya sudah kembali ke rumah setelah menuntaskan pekerjaan di sawah. Dan, laki-laki yang tadi mengaji di masjid, apakah ia sudah kembali ke rumahnya atau sudah pula kembali ke masjid untuk bersiap-siap melaksanakan salat Zuhur? Saat kau bertanya-tanya demikian, kau justru mungkin akan bertemu dengan Nubai, istrinya. Kau tak mengenal perempuan itu, tapi begitu kau lewat di depan rumahnya dan kau melihatnya tengah menyampirkan baju di tali jemuran, dia tersenyum kepadamu. Apakah ia tersenyum karena ingin menunjukkan karamahtamahan khas orang danau kepada pelancong sepertimu atau karena ia masih mengingat lirikan nakal Gomuk ketika mereka kembali bertemu di danau saat ia mencuci baju tadi, kau tentu tak perlu tahu. Cukup nikmati saja senyum ramah yang ia berikan kepadamu sebagai pelengkap tamasyamu di pinggir danau. Lalu, nelayan yang kautemui tadi, apakah ia masih mendayung sampannya untuk mencari ikan lebih banyak?

Kau tak perlu memikirkan hal itu.

Kembalilah ke hotelmu, masuk ke kamarmu. Nanti sore, besok, atau hari-hari berikutnya hingga waktu liburanmu habis, jangan pernah lagi berpikir untuk pergi ke bawah sana. Cukup kaulihat danau itu dari jendela kamar hotel di puncak bukit, maka kupastikan keindahan semata yang akan menghampar di matamu. Ya, cukup begitu, cukup kaunikmati danau itu dari jauh.[]

Padang Panjang—JKT, 4—10, 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top