Mochtar Lubis: Jurnalis yang Bercerita dari Pengalaman

Di sebuah toko buku loak di Pasar Raya Padang hampir tiga puluh tahun lalu. Secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku berjudul Berkelana dalam  Rimba. Bacaan remaja yang tak begitu tebal, kurang dari dua ratus halaman. Tak lama kemudian asyik menikmati buku yang menceritakan petualangan di rimba Bukit Barisan. Kisahnya ditulis layaknya cerita detektif dengan bumbu mistis, karena Rimba Gunung Hitam –tempat petualangan itu berlangsung— dikenal masyarakat setempat sebagai hutan sakti tempat bermukim hantu dan orang bunian..

Berbekal pengetahuan ilmiah, Paman Rokhtam –tokoh utama yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB)— mengajak emp orang anak didiknya memasuki rimba belantara di jantung pulau Sumatra itu. Petualangan itu membuka dunia baru bagi keempat anak itu tentang wilayah hutan. Di hutan mereka menemukan banyak jenis bunga yang cantik, binatang kecil yang unik, juga mengenal berbagai bentuk jejak kaki binatang liar yang menghuni rimba itu. Dengan rinci, dijelaskan berbagai jenis flora dan fauna yang ada di rimba, aneka jenis buah-buahan hutan yang bisa dimakan, hingga bentuk jejak harimau dan bekas cakaran beruang. Saat itulah untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa Mochtar Lubis, penulis buku yang dikenal sebagai jurnalis dan sastra itu, juga menulis cerita anak dan remaja.  

Bagaimana Mochtar mengenal baik isi hutan liar? Setelah menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), jenjang pendidikan dasar pada masa kolonial Belanda, di  Sungai Penuh, Kerinci, Mochtar Lubis melanjutkan pendidikan di Sekolah Ekonomi di Kayu Tanam. Sekolah yang terletak tak jauh dari stasiun kereta api dan berdampingan dengan lokasi awal INS Kayu Tanam ini, didirikan dan dipimpin oleh Soetan Mahmoed (S.M.) Latif. Tokoh terakhir ini merupakan cucu dari M. Saleh Datuk Orang Kaya Besar, saudagar asal Pariaman yang legendaris itu.

Tak banyak keterangan tentang sosok S.M. Latif ini. Paparan singkat berikut dirangkum dari beberapa sumber.  Latif lahir di Pariaman pada 24 September 1888. Selesai menamatkan HIS di Pariaman, Latif melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Pertanian Menengah di Bogor. Pada tahun 1917, atas biaya kakeknya yang merupakan pedagang sukses, Latif melanjutkan studinya ke Sekolah Tinggi Pertanian untuk Daerah Tropis di Deventer, Belanda. “Sekembali dari Belanda menetap di Jakarta dan menikah dengan gadis Sunda Miryam Natawisastra, putri Kanduran Mas Natawijaya” (Mestika Zed, 2017. Saudagar Pariaman, Menerjang Ombak Membangun Maskapai, hal. 3).  

Latif kemudian pulang ke Sumatra Barat dan mendirikan Sekolah Ekonomi di Kayu Tanam.  Tampaknya sekolah ini tidak bertahan lama. Pada akhir Juli 1947, saat Muhammad Radjab melakukan perjalanan jurnalistik ke Sumatra dan singgah di Kayu Tanam, ia bertemu Latif yang digambarkannya sebagai “sarjana dalam hutan yang tentram”,  “…sedang menelaah sebuah kitab Arab yang tebal, terkembang di atas sebuah rehal…” (Muhammad Radjab, 2018. Catatan di Sumatra, hal.127). Mereka bertemu di  Perpustakaan Negara, bukan di sekolah. Perpustakaan Negara itu memiliki koleksi ribuan buku dalam berbagai bahasa yang disumbangkan oleh Latif sendiri. Pada awal tahun 1950-an Latif pindah  ke Bogor, dan bekerja di Kebun Raya Bogor. Latif menulis banyak buku dalam bidang pertanian, baik untuk tingkat pemula maupun tingkat lanjut. Salah satu karyanya yang menarik dan masih dijual di berbagai toko online adalah buku-buku tentang anggrek. Peninggalan lain dari tokoh ini adalah suntingan dan usahanya untuk mencetak manuskrip otobiografi kakeknya sendiri, Riwajat Hidup dan Perasaian Saya, Mohammad Saleh Gelar Datuk Orang Kaya Besar. Sebagaimana kita tahu, manuskrip itu menceritakan dengan amat menarik dan detil tentang dunia perdagangan di pantai barat Sumatra di awal abad dua puluh. Latif adalah cucu kesayangan dari kakeknya itu.

Pengenalan Mochtar Lubis terhadap hutan Sumatra besar kemungkinan berawal dari gurunya, S.M. Latif.  Sebagaimana diungkapkan Lubis dalam pengantar Berkelana di Rimba, dia sering diajak gurunya melakukan perjalanan ke hutan sekitar Kayu Tanam agar siswa mengenal alam dan lingkungannya. Pengalaman di sekolah itu kemudian yang digubahnya menjadi cerita remaja Berkelana di Rimba.

Mochtar Lubis dikenal sebagai jurnalis dan sastrawan. Karirnya sebagai jurnalis dimulai sebagai wartawan di kantor berita Antara, kemudian pindah ke Harian Merdeka, dan memimpin majalah Mutiara. Karirnya menanjak setelah ia mendirikan dan memimpin Harian Indonesia Raja, media perjuangan yang amat kritis terhadap penguasa. Melalui surat kabar itu, Mochtar mengkritik berbagai kebijakan di rezim Soekarno, sehingga korannya dilarang terbit dan ia sendiri dijebloskan ke balik jeruji. Ketika rezim berganti dan Mochtar Lubis dibebaskan seiring munculnya Orde Baru, sikapnya sama sekali tak bergeming. Ia menerbitkan kembali Harian Indonesia Raya dan dengan lantang mengkritik kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Rezim Orde Baru melarang surat kabar itu terbit dan Mochtar sendiri kembali dipenjarakan.  Meski keluar-masuk penjara, Mochtar tak pernah mundur dan melunak. Ia tetap dengan prinsipnya untuk memperjuangkan kebenaran. Sikap tanpa kompromi itu membuat dia digelari sebagai jurnalis berkepala granit. Juga  menjadikan Mochtar Lubis tampil sebagai mercusuar pers Indonesia.

Sebagai jurnalis, Mochtar terbiasa mencatat berbagai hal. Catatan itu menjadi bahan baginya untuk menulis laporan jurnalistik yang mendalam. Sebagian laporan urnalistik itu kemudian dibukukan, di antaranya Perlawatan ke Amerika, Perkenalan di Asia Tenggara,  Indonesia di Mata Dunia. dan Catatan Korea. Buku terakhir ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea dan menjadi bahan ajar di beberapa perguran tinggi di negeri gingseng itu. Kebiasaan menulis itu berlanjut saat ia ditahan. Dari balik jeruji ia menulis Catatan Subversif dan Kampdagboek.

Penjara juga menjadi ranah kelahiran beberapa novel Mochtar Lubis. Senja di Jakarta selesai ditulis pada Maret 1957, saat penulisnya berada dalam tahanan rezim Orde Lama.  Ketika pada tahun 1961, atas izin pemerintah, Mochtar Lubis menghadiri undangan dari International Pers Institut (IPI) di Tel Aviv, dia membawa serta manuskrip novel tersebut. Manuskrip itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Claire Holt dan diterbitkan pertama kali di London, Inggris.  Novel berikutnya, Maut dan Cinta, juga ditulis di penjara pada era Soekarno, dan diselesaikan ketika ia diundang dalam program Artist in Residence di Alpen Institut, Amerika Serikat tahun 1973. Dilihat dari masa penulisannya, novel Harimau-Harimau mungkin sekali juga mulai ditulis atau diselesaikan draftnya saat di penjara. Kenyataan ini makin meneguhkan kenyataan yang ironis ini; penjara adalah tempat terbaik untuk menulis karya sastra

Mochtar Lubis dilahirkan di Padang dan menjalani masa kanak-kanak di Sungai Penuh, Kerinci. Ayahnya seorang pegawai pemerintah kolonial. Saat ayahnya menjadi kepala distrik di Kerinci, Mochtar Lubis secara tak sengaja menyaksikan ayahnya mencambuk beberapa kuli kontrak yang berusaha melarikan diri. Ketika ayahnya mengetahui bahwa anaknya menyaksikan tindakannya menghukum kuli kontrak, ia mewasiatkan agar anak-anaknya tidak bekerja di pemerintahan. Peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam pada diri Mochtar, yang kemudian dia wujudkan menjadi cerita pendek berjudul “Kuli Kontrak”. Pengalaman masa kecil lainnya muncul dalam bentuk cerita anak-anak, yang awalnya dipublikasikan dalam majalah Sinar Deli dan dibukukan dalam antologi Si Jamal.

Kesenangan Mochtar Lubis pada dunia cerita berasal dari cerita-cerita yang disampaikan ibunya menjelang tidur. Kisah itu kemudian dia ceritakan kembali kepada teman-temannya di sekolah. Kebiasaan menceritakan kembali inilah tampaknya yang membawa Mochtar ke dunia jurnalistik dan sastra. Dunia jurnalistik mewajibkan pelakunya untuk mencatat dan melaporkan peristiwa yang ia saksikan, sementara dunia sastra menagih kemampuan berbahasa dan berimajinasi untuk membangun sebuah kisah.

Karya sastra yang ditulis Mochtar Lubis bertolak dari pengalaman dan pengamatan langsungnya. Novel-novelnya mengambil latar masa perjuangan kemerdekaan, masa yang dialami langsung dalam hidupnya. Maut dan Cinta, misalnya, bertolak dari kisah nyata seorang pilot asing yang membantu perjuangan Indonesia. “Buku ini juga untuk mengenang penerbang-penerbang asing yang telah membantu perjuangan Republik Indonesia menerobos blokade Belanda”, tulis Mochtar Lubis di awal novel ini. Sebagian besar kisahnya bercorak realis, dengan gambaran detil tentang peristiwa dan latar cerita. Alur kisahnya juga kebanyakan linear, bergerak maju dalam rangkaian sebab-akibat. Jalan Tak Ada Ujung secara rinci menggambarkan suasana Jakarta pada masa perjuangan.

Novelnya yang bercorak simbolik adalah Harimau-Harimau, yang membongkar sisi psikologis manusia yang dikejar dosa-dosanya.  Novel ini amat mengesankan karena kemampuan Mochtar menjalin kisah dalam alur yang menarik dan bahasa yang jernih. Melalui kisah sederhana ia mampu mengajak pembaca untuk membincangkan hal yang komplek dan mendalam. Karya ini sekali lagi memperlihatkan kedekatan Mochtar Lubis dengan lingkungan alam, khususnya rimba raya dengan segala isi dan misterinya.

Dibatasi geraknya dalam bidang jurnalistik, Mochtar Lubis beralih ke dunia sastra, hukum dan intelektual.  Ia salah seorang pendiri Majalah Sastra Horison, majalah sastra yang menjadi arena utama sastrawan Indonesia pada era 1980-an hingga tahun 2000-an. Mochtar juga salah seorang pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), lembaga bantuan hukum yang memperjuang hak sipil. Ia juga mendirikan Yayasan Pustaka Obor, sebuah lembaga yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan melalui penerbitan buku, diskusi dan penerjemahan.

Setiap pembicaraan tentang Mochtar Lubis hampir selalu dikaitkan dengan pidato kebudayaan yang disampaikan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977, tak lama setelah ia dibebaskan dari tahanan Orde Baru. Pidato itu  kemudian dibukukan dengan judul  Manusia Indonesia. Pidato yang bersifat otokritik itu menimbulkan kontriversi dan kehebohan tak lama setelah disampaikan. Kehebohan itu terus berlanjut saat dibukukan. Pendapat yang disampaikan hampir setengah abad lalu itu masih relevan hingga hari ini. Anda dengan mudah dapat menemukan komentar tentang karya itu. Bahkan bisa mengunduhnya dengan mudah melalui internet. Itulah alasan kenapa Manusia Indonesia tidak dibicarakan di sini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top