Hari Menjelang Kematian

Ilustrasi: Aprililia

Pagi itu seperti pagi yang lain, tetapi udara mengandung sesuatu yang tak dapat kutangkap: seolah ada sehelai tipis waktu yang mulai mengendur, layaknya benang-tenun yang perlahan kehilangan ketegangannya. Namaku Arsy, dan di usia tiga puluh lima tahun ini aku telah terbiasa dengan sunyi yang menyelimuti rumah masa kecilku. Namun hari itu, sunyi itu berbeda—ia seperti gema dari sesuatu yang sedang pergi.

Aku melihat Ibu dari ambang pintu dapur. Ibu Raras, begitu ia dipanggil tetangga, duduk di kursi kayu tua di teras belakang rumah. Kursi itu sudah ditempatinya selama bertahun-tahun, seolah kayu dan tubuhnya saling merawat satu sama lain. Matahari hampir mencapai puncaknya; jam menunjukkan pukul sepuluh kurang sedikit.

Setiap hari Ibu berjemur di tempat itu, menjemput hangat yang katanya dapat mengusir dingin di persendian dan di hati. Tapi hari itu sinar matahari telah bergeser; tubuhnya tidak lagi disentuh cahaya. Ia tetap duduk tanpa bergerak, seperti akar dari pohon mangga yang berdiri di hadapannya—tertahan, terikat oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Ada kerutan di keningnya, kerutan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sejenis lipatan kesedihan yang tidak berasal dari lelah atau sakit; lebih seperti semacam kehilangan yang belum sempat diceritakannya kepada siapa pun. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya dengan perlahan, seolah takut kursi itu akan patah oleh beban yang tidak pernah aku bayangkan.

“Ibu?” panggilku pelan.

Tatapan matanya kosong. Ia menoleh, tapi matanya seperti menembus tubuhku, seakan aku hanyalah jendela yang terbuka menuju kenangan lain. Wajahnya murung, seperti diusap bayang-bayang gelap dari sesuatu yang belum terjadi, tetapi sudah dirasakannya.

“Kamu sudah sarapan?” tanyanya tiba-tiba. Suaranya datar, hampir seperti bisikan yang ditiup angin.

“Sudah. Ibu kenapa? Kok bengong dari tadi?”

Ia menggeleng perlahan. “Tidak apa-apa. Hanya … Ibu merasa aneh.”

Aku menunggu ia melanjutkan, tetapi ia diam. Ibu bukan tipe yang banyak bicara. Sejak Ayah meninggal lima tahun lalu, ia makin menutup diri, hidupnya lebih sering diisi dengan membaca buku-buku tua dan merawat tanaman. Namun hari itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak bisa kusebutkan namanya.

Aku memperhatikan tangannya yang gemetar. Urat-urat biru menjalar seperti sungai-sungai kecil yang mulai mengering. Aku menggenggam tangannya, tapi ia tetap menatap jauh, ke arah pohon mangga yang mulai berbuah.

“Bu,” kataku lagi, “kalau ada apa-apa, cerita ke aku.”

Ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang bersiap menyelam ke dalam air yang dingin. “Kamu tahu, Arsy,” katanya lirih, “tadi malam Ibu mimpi aneh.”

Aku tidak langsung merespons. Ibu bukan orang yang mudah diusik mimpinya. Ia selalu berkata mimpi hanyalah cermin dari apa yang kita simpan di kepala. Tapi nada suaranya membuatku merinding.

“Ibu mimpi rumah ini gelap semua,” lanjutnya. “Tidak ada lampu, tidak ada suara. Seperti semua sudah pergi. Tapi di tengah gelap itu … Ibu melihat bayangan seseorang berdiri di pintu. Tinggi … dan diam. Saat Ibu mendekat, bayangan itu tidak bergerak, hanya mengangkat tangan, seperti mengajak Ibu ikut.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat. Tubuh Ibu sedikit bergetar.

“Itu hanya mimpi, Bu.”

Ia tersenyum sedikit, senyum yang hanya terangkat setengah. “Ibu tahu. Tapi mimpi itu terasa terlalu nyata. Seperti bukan mimpi.”

Kami kembali diam. Angin mengibaskan ujung jilbab Ibu. Di kejauhan terdengar suara radio dari rumah tetangga. Rasanya dunia tetap berjalan seperti biasa, tetapi di teras rumahku, waktu terasa melambat, menunggu sesuatu yang tak ingin kami sebut.

Sebenarnya Ibu sudah sering sakit akhir-akhir ini. Kepalanya sering pusing, dan tubuhnya mudah lelah. Namun ia selalu menolak jika diminta periksa ke dokter. “Ibu masih kuat,” katanya setiap aku memaksa. “Luka yang paling sulit sembuh itu bukan yang di badan, Arsy. Tapi yang di hati.”

Aku tahu itu tentang Ayah.

Respati, suami dari Raras, meninggal lima tahun lalu karena serangan jantung. Hari itu aku masih di luar kota. Saat telepon masuk dan suara tetangga memanggilku dengan nada panik, dunia seolah melesak ke tubuhku, mematahkan bagian yang tidak pernah sembuh sepenuhnya. Ibu berubah sejak itu. Ia menjadi seperti rumah yang kehilangan sebagian dindingnya—masih berdiri, tapi selalu ditiup angin kesunyian.

Sejak semalam sebenarnya Ibu sudah terlihat aneh. Ia duduk lama di ruang tamu sambil memegang foto Ayah. Matanya merah, seolah menahan tangis yang tak ingin ditumpahkannya. Ketika kutanya, ia hanya menjawab, “Ibu cuma kangen.” Tapi hari ini, aku merasa ada yang lebih dari sekadar rindu.

“Ibu mau pindah tempat dulu?” tanyaku. “Di sini udah nggak kena matahari.”

Ibu menggeleng. “Ibu suka di sini.”

Aku tidak memaksa. Kami kembali diam. Hanya suara dedaunan yang jatuh, dan sesekali kicau burung yang terdengar dari jauh. Aku memperhatikan wajah Ibu. Pipi yang merosot, mata yang seperti menyimpan kabut. Jam di dinding dapur berdetak pelan, tapi detaknya seperti tumbuh lebih keras di telingaku.

“Apa Ibu takut?” tanyaku tiba-tiba. Aku sendiri heran kenapa pertanyaan itu keluar.

Ibu tidak menjawab segera. Ia terdiam, lalu menarik napas lirih. “Ibu bukan takut, Arsy. Ibu cuma merasa … seperti ada yang mendekat. Sesuatu yang tidak bisa Ibu lihat, tapi bisa Ibu rasakan. Seperti saat kamu tahu hujan akan turun, meski langit masih cerah.”

Kata-kata itu membuat tengkukku merinding. Bukan karena menyeramkan—tapi karena suaranya seperti suara seseorang yang sedang berpamitan.

“Bu, jangan ngomong gitu,” kataku.

Ia kembali tersenyum. “Kematian bukan hal yang perlu ditakuti. Kita semua akan ke sana, Arsy. Yang Ibu takuti hanya satu … apakah kamu siap kalau suatu hari Ibu nggak ada?”

Aku terdiam. Lalu kupegang tangannya lebih erat.

“Aku nggak akan pernah siap.”

Ibu menatapku lama. “Ibu juga dulu begitu saat kakekmu meninggal. Tapi ternyata hidup akan berjalan apa pun yang terjadi. Kamu hanya perlu melangkah.”

Detik itu aku merasakan sesuatu mencair di dadaku—campuran pilu, marah, takut. Seolah dunia membentang terlalu luas dan aku berdiri di pusatnya sambil kehilangan seorang penuntun.

Waktu berlalu perlahan. Kami duduk tanpa kata. Sesekali angin membawa wangi bunga kamboja dari halaman depan. Bau itu menusuk, seperti bau kenangan yang lama terkubur. Ibu menatap langit, seakan mencari sesuatu yang tak pernah ia ceritakan.

“Arsy,” suara Ibu lembut.

“Ya, Bu?”

“Ada yang ingin Ibu bilang.”

Aku menunggu, jantungku memukul dadaku.

“Kalau nanti Ibu pergi … jangan biarkan rumah ini kosong. Rumah yang kosong cepat tua. Cepat rapuh.”

Aku menggeleng cepat. “Ibu ngomong gitu lagi.”

“Ibu cuma takut kamu terlalu lama menyimpan duka. Kamu harus hidup, Arsy. Jangan jadi bayangan. Jangan jadi rumah yang gelap seperti di mimpi Ibu.”

Aku membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada kata yang keluar. Tenggorokanku kering.

Tiba-tiba Ibu menaruh tangan di atas tanganku. Sentuhannya hangat, tapi hangat yang pelan, seperti cahaya sore yang tahu waktunya hampir habis.

“Terima kasih, Arsy,” katanya pelan. “Sudah menemani Ibu.”

Ada sesuatu di nada suaranya—sebuah kepasrahan yang begitu lembut, tetapi jelas. Seketika napasku tercekat.

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya aku melihat betapa letihnya Ibu. Ada sesuatu di wajahnya yang berubah—sebuah ketenangan yang menakutkan. Ketika ia menutup mata, aku merasakan seluruh dunia menahan diri dari bergerak.

“Bu?” panggilku.

Ia tidak menjawab.

Aku menggoyangkan bahunya pelan. “Bu …”

Ia masih diam. Embusan napasnya terlalu pelan—pelan sampai aku tidak yakin itu ada.

Detik itu, waktu berhenti. Atau mungkin hanya tubuhku yang berhenti merasakannya.

Aku memanggilnya lagi, lebih keras. “Bu!” Tidak ada jawaban.

Seperti daun yang jatuh tanpa suara, Ibu rebah pelan ke sandaran kursi. Ada kedamaian aneh yang tersisa di wajahnya.

Aku merengkuhnya, memanggil tanpa henti, suaraku pecah, tubuhku gemetar. Tetapi Ibu tetap diam. Hening itu mengisi seluruh teras, merambat seperti kabut, menelan seluruh suara yang pernah ada.

Di kejauhan, angin membawa bau kamboja lagi. Bau itu lebih kuat dari sebelumnya.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku memeluk tubuh Ibu. Waktu seperti menolak berjalan. Dunia terasa asing. Hanya detak jantungku yang masih ada—mengentak keras, seolah berusaha menghidupkan dua tubuh sekaligus.

Akhirnya aku menutup mata Ibu dengan tangan yang bergetar. “Ibu …” bisikku, “aku belum siap ….”

Tapi Ibu terlihat seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah sekian lama tersesat. Hari itu matahari terus bergerak tanpa menunggu siapa pun. Bayang-bayang pohon mangga berubah bentuk, memanjang, seperti tangan raksasa yang hendak memeluk sesuatu yang hilang.

Dan di kursi tua itu, aku duduk dengan tangan menggenggam tangan Ibu yang mulai dingin. Sementara angin pagi yang tersisa mengusap wajahku, aku sadar: Bahwa ada hari-hari yang memisahkan. Ada hari-hari yang mengakhiri. Dan ada hari—seperti hari itu—yang hanya datang sekali dalam hidup seseorang. Untuk menandai bahwa separuh dunianya telah pergi. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top