| Judul | Batin Lima Penyair |
| Penulis | Adri Sandra, Eddy Pranata PNP, Elfialdi, Iyut Fitra, Yusrizal KW |
| Penerbit | Yayasan Taraju (1996) |
| Tebal | 85 halaman |
Antologi puisi bersama sering dihasilkan dalam perhelatan sastra. Misalnya saja sebagai bagian dari festival sastra, pertemuan sastra, sayembara sastra, atau bentuk lainnya. Demikian juga, antologi puisi kadang dihasilkan dari pilihan tertentu untuk merespon tema-tema yang menarik, dokumentasi sastra, atau pilihan editor yang merasa penting untuk membicarakan puisi-puisi dalam bahasan atau kajiannya.
Salah satu antologi puisi yang pernah hadir di Sumatera Barat adalah Batin Lima Penyair. Buku ini berisi puisi-puisi yang ditulis oleh lima penyair yaitu Adri Sandra, Eddy Pranata PNP, Elfialdi, Iyut Fitra, dan Yusrizal KW. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Taraju pada tahun 1996. Masing-masing penyair menyertakan 13 puisi untuk dimasukkan dalam buku ini.
Tidak ada penjelasan yang eksplisit mengenai bagaimana pemilihan puisi-puisi yang terangkum dalam antologi Batin ini. Sepertinya masing-masing penyair memilih karya-karya yang menarik dan bagus dalam capaian puitiknya. Bisa jadi para penyair itu mengirimkan karyanya lebih banyak dari yang diterbitkan, untuk kemudian dipilih oleh editor atau Yayasan Taraju.
Dalam pengantarnya, Edy Utama memberikan catatan umum mengenai buku ini, meski pun tidak menyinggung persoalan pemilihan puisi di atas. Kaitan yang disampaikan oleh Edy Utama adalah bahwa lima penyair Sumatera Barat diundang untuk mengikuti Temu Penyair Ada 21 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Saya kira kelima penyair yang puisinya ada dalam buku ini yang mengikuti pertemuan penyair tersebut. Dengan demikian, buku ini menjadi buku kumpulan puisi yang akan dibacakan dalam peristiwa Temu Penyair Abad 21 tersebut.
Catatan menarik Edy Utama ini sebenarnya menyangkut dengan masa depan kepenyairan, yang dalam kasus ini adalah kelima penyair di atas. Apakah mereka akan memiliki nafas panjang untuk menekuni dunia kepenyairan, atau kepenulisan. Tiga puluh tahun atau tiga dekade setelah buku antologi puisi ini terbit, kita masih menyaksikan mereka tetap aktif dalam dunia kepenyairan dan kepenulisan. Kecuali Elfialdi yang memilih untuk berhenti menulis dan bekerja dengan membuka rumah makan dengan menu khas ikan bakarnya.
Puisi-puisi dalam buku Batin ini memberikan sebuah cara untuk melihat proses kreatif para penyair dalam satu kurun masa tertentu. Hal yang juga bisa digunakan pada antologi lainnya. Hanya saja, dengan jumlah puisi yang memadai seperti dalam buku ini kita dapat menempatkannya dalam sebuah objek pembacaan dan kajian. Kita dapat mendekatinya dengan berbagai kemungkinan, misalnya tema-tema apa saja yang menjadi sumber karya dan ketertarikan para penyair. Bentuk atau gaya seperti apa yang dikembangkan oleh para penyair pada masa tertentu. Kita juga dapat melihat pertumbuhan dan dinamika para penyair di daerah-daerah.
Antologi puisi Batin ini merupakan salah satu dari buku yang diterbitkan oleh Yayasan Taraju, sebuah komunitas sastra yang cukup berpengaruh di Sumatera Barat, dan Indonesia, pada tahun 1990an. Batin menjadi salah satu dokumentasi perkembangan sastra di Sumatera Barat yang berhasil dilakukan oleh Yayasan Taraju. Buku ini juga merefleksikan sastra sebagai sebuah kerja bersama para penggiatnya, menjadi aktivisme bersama.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





