
“Lawatan kita ke desa terdampak bencana itu tak boleh berakhir dengan hampa. Jauh-jauh ke sana, kita harus melakukan kegiatan lain yang bermakna. Kebetulan, ini sudah mendekati bulan puasa. Bulan penuh keberkahan. Karena itu, kita akan sekalian berkunjung ke makam Syekh Burhanuddin untuk melakukan aksi bersih-bersih,” kata Kepala Biro Protokol Kementerian Sosial, menyampaikan pengumuman kepada para pejabat eselon dalam sebuah rapat terbatas.
“Ibu Menteri akan memimpin langsung pembersihan kompleks makam. Beberapa pejabat eselon dan para pejabat daerah diundang untuk hadir. Beberapa wartawan, fotografer, dan kameramen dari media nasional juga akan kita ajak. Kita tanggung semua biaya akomodasi mereka dan sudah kita siapkan juga amplop untuk mereka,” kata si kepala biro lagi.
Sang menteri, yang duduk persis di samping si kepala biro, berdeham pelan setelah mendengar pengumuman itu. “Jangan lupa siapkan juga untuk wartawan-wartawan lokal di sana!”
“Siap, Bu!”
“Jadi, semuanya ada berapa orang dalam daftar undangan?”
“Tujuh pejabat eselon kemensos, tiga belas pejabat provinsi termasuk Gubernur, dan delapan pejabat kabupaten termasuk Bupati. Ada juga Ketua DPRD, Kepala Badan Penanggulangan Bencana, Dandim, dan Kapolres setempat. Selain itu ada camat dan beberapa kepala desa setempat.”
“Tidak ada perwakilan dari tokoh adat?”
“Oh, betul, Bu Menteri. Hampir saja lupa. Segera saya tambahkan.”
Sang menteri mengangguk pelan. “Jangan yang terlalu tua. Nanti kalau pingsan, repot.”
“Baik, Bu.”
***
Pada pagi yang telah dijadwalkan, langit Ulakan tampak pucat. Turun dari mobil, sang menteri berjalan lambat menuju pintu utama rumah sakit, disambut oleh beberapa pejabat lokal dan petinggi rumah sakit. Ia mengenakan baju panjang bermotif kotak-kotak warna marun, celana hitam, dan sepatu kets berwarna senada. Di tangan kirinya tergenggam botol kecil cairan pembersih tangan yang hampir selalu ia bawa ke mana-mana meskipun pandemi telah dinyatakan berakhir. Dengan tangan yang sama pula ia menenteng tas kulit bermerek terkenal asal Prancis.
Lima hari sebelumnya, Nagari Ulakan dilanda badai dahsyat berupa hujan deras yang menyebabkan banjir dan longsor sekaligus. Malang tak dapat dihalau, selain merusak rumah, longsor menyebabkan beberapa pohon tumbang yang menimpa beberapa warga dan menewaskan tiga di antaranya.
“Selamat pagi semua!” kata sang menteri, sambil melambaikan satu tangan ke atas.
Gubernur dan para pejabat lokal lainnya, yang telah tiba lebih dulu dan menunggu di depan pintu rumah sakit, menundukkan badan menyambut sang menteri. Beberapa dari mereka tampak tak ingin ketinggalan untuk menyalami. Direktur rumah sakit menyebut nama-nama korban dan menjelaskan kondisi mereka kepada sang menteri yang terus berjalan masuk: satu patah tulang paha, dua luka kepala terbuka, satu memar parah di dada.
“Tiga orang sudah meninggal, Bu Menteri,” katanya. “Termasuk seorang anak.”
Sang menteri mengangguk acuh tak acuh. “Ya, saya sudah dengar.”
“Apa kita langsung ke ruang rawat saja?”
“O ya, ayo!”
Udara rumah sakit masih berbau kesedihan. Para pejabat kementerian berjalan beriringan bersama sang menteri, masing-masing menenteng kantong besar bertuliskan “Bantuan Kemanusiaan”. Sadar bahwa fotografer terus mengikuti gerak-gerik mereka, mereka lantas mengubah cara membawa kantong itu, menjinjingnya lebih tinggi supaya tulisan di kantong itu terlihat lebih jelas dalam bidikan kamera.
Kepada para korban luka-luka yang masih bisa diajak bicara, sang menteri mencoba menguatkan mereka. “Hari ini tertimpa pohon, besok kita mungkin akan tertimpa rezeki yang berlimpah!”
Tidak ada reaksi apa pun dari para korban mendengar ucapan sang menteri. Kunjungan rombongan pejabat itu justru membuat suasana rumah sakit menjadi tegang, bikin mereka tak nyaman.
Setelah kunjungan yang singkat itu, rombongan bergegas menuju makam. Sopir-sopir yang membawa iring-iringan mobil mempercepat laju, mengejar jadwal yang sudah dimampatkan oleh protokoler. Dua mobil dan tiga motor patwal ditugaskan untuk mengawal mereka, mengusir kendaraan lain yang menghalangi mereka di jalan. Semua lampu merah di setiap persimpangan jalan mereka terabas seolah mereka adalah ambulans yang sedang membawa pasien sekarat.
Di gang menuju kompleks makam, warga berjejer dengan wajah penasaran. Murid-murid SD dari sejumlah sekolah, atas instruksi dari kepala dinas pendidikan yang ditembuskan kepada para kepala sekolah, berdiri dengan barisan rapi. Iring-iringan mobil para pejabat berpelat merah melambatkan laju, ditingkahi sirine mobil patwal. Rombongan menteri tiba tepat menjelang tengah hari, sesuai susunan acara. Terik matahari bulan Juli, yang semakin menyengat karena pepohonan di sekitar makam mulai jarang, tak membuat niat mereka surut untuk melakukan aksi bersih-bersih.
Dinaungi payung besar yang dipegang oleh ajudannya, sang menteri turun dari mobil dengan langkah kecil-kecil dan senyum lebar yang tampak sudah terlatih sejak ia menjabat kepala daerah sebuah kota kecil di Jawa 15 tahun lalu sebelum ditunjuk menjadi menteri. Ia berjalan beriringan dengan Gubernur, Bupati, beberapa anggota DPRD, Kapolres, Dandim, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta Camat yang semuanya memakai baju kurung tradisional. Masing-masing mereka mengambil sapu lidi yang telah disiapkan persis di pintu masuk menuju makam. Sang menteri menggenggam satu sapu lidi paling bagus yang telah disiapkan untuknya, mengangkat sapu itu sejenak ke atas seperti baru pertama kali melihat sapu lidi sebagus itu.
Sebelum aksi bersih-bersih dimulai, sang menteri menyampaikan sedikit kata pengantar yang disimak dengan hening oleh semua orang yang ada di tempat itu.
“Sudah lama saya ingin melawat ke makam Syekh Burhanuddin ini. Tempat yang sangat spiritual, tempat semua orang berdoa dan mencari keberkahan. Tapi, baru kali ini saya berkesempatan,” kata sang menteri, sambil sesekali melemparkan senyum ke arah kamera. Seorang fotografer menunduk rendah, menekan shutter dengan semangat seperti sedang memotret sebuah peristiwa penting.
Kegiatan menyapu makam pun dimulai. Para pejabat melangkah perlahan menuju pusara utama. Beberapa dari mereka mencoba menyapu dengan sungguh-sungguh, mengarahkan sapu ke dedaunan kering yang sengaja dibiarkan oleh pengurus makam. Yang lain sekadar menggoyang-goyangkan sapu ke tanah seperti sedang menggambar lingkaran gaib.
“Sedikit ke kanan, Bu,” kata seorang kameramen dari salah satu stasiun TV nasional.
“Kanan sedikit lagi, Bu,” timpal seorang fotografer dari media lokal.
“Oke,” jawab sang menteri, lalu bergeser lima langkah ke arah kanan sesuai arahan.
“Pak Camat, tolong berdiri agak ke belakang. Fokus kita ke Ibu Menteri dulu,” tegur Kepala Biro Protokol Kementerian.
Camat pun mundur. Ketua DPRD terlihat sibuk membetulkan celananya yang bolak-balik melorot karena lupa memakai ikat pinggang, sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana mencuri pandang ke arah drone di atas kepala mereka.
“Nanti setelah ini, Ibu akan membacakan doa. Sudah kami siapkan teksnya,” bisik Kepala Biro Protokol sambil menyodorkan kertas.
“Tak perlu. Saya sudah hafal. Seorang pemimpin harus bisa menguasai doa-doa, bukan?” jawab sang menteri, lalu tersenyum dan melambai ke arah kamera drone.
Sementara itu, di samping makam, dua pekerja kebersihan makam yang biasanya bertugas, berdiri di belakang pagar. Mereka menyaksikan puluhan pejabat menyapu halaman makam yang sehari sebelumnya sengaja tak mereka bersihkan atas arahan dari ketua pengurus. Mereka menahan geli melihat adegan-adegan di makam itu.
***
Bersih-bersih makam berlangsung selama lima belas menit. Sapu-sapu lidi itu bekerja lebih sebagai piranti koreografi dibanding alat kebersihan. Menteri menyapu ke kanan, maka rombongan pun menyapu ke kanan. Menteri menyapu ke kiri, maka yang lain pun ikut menyapu ke kiri. Menteri berhenti sejenak untuk mengelap keningnya yang berkeringat tipis, maka semua ikut berhenti, pura-pura menyesuaikan posisi sapu, dan sebagian memeriksa layar ponsel masing-masing.
“Maaf, Pak Ketua Dewan, mohon jangan berdiri terlalu dekat dengan Bu Menteri,” bisik Kepala Biro Protokoler kepada Ketua DPRD.
“Oh ya, maaf,” jawab Ketua DPRD, sambil mundur satu langkah, lalu langsung menoleh ke arah lain, mencari spot yang lebih aman dari sorotan tapi tetap dekat dengan sang menteri.
Sementara itu, sang menteri sedari tadi menyapu satu daun yang sama dengan ekspresi khusuk, bolak-balik, seperti sedang menjinakkan roh jahat.
Di salah satu sudut makam, seorang ninik mamak yang diminta hadir sebagai perwakilan tokoh adat tampak berdiri dengan wajah kebingungan. Ia mengenakan saluak emas, tapi tak diberi sapu.
“Mereka sebenarnya menyapu apa?” katanya lirih. Di sebelahnya, Camat mengedipkan sebelah mata, memberi kode agar sang ninik mamak mafhum belaka.
Aksi menyapu makam masih berlanjut. Para fotografer dan kameramen terlihat sibuk mengarahkan gerakan sang menteri seperti sutradara memberikan aba-aba kepada seorang aktor utama.
“Bu Menteri, boleh kita pindah ke bagian belakang makam untuk ambil footage tambahan?” kata seorang kameramen mewakili yang lain.
Menteri mengangguk. Sapu di tangannya masih tampak bersih. Kamera mengikuti dari belakang, membingkai gerak langkahnya yang lambat dan penuh semangat. Di belakangnya, para pejabat lain mengekor. Ajudannya membawakan botol air mineral yang belum dibuka. Ia lantas mengecek dan membetulkan mikrofon clip-on yang nyaris copot dari kerah baju sang menteri.
“Itu ada bungkusan permen. Tolong arahkan Bu Menteri ke situ,” kata seorang kameramen.
“Mana?” tanya Kepala Biro Protokol.
“Itu, di bawah pohon!”
Sang menteri segera dibimbing ke arah sehelai bungkus permen itu. Ia lalu membungkuk, dan menyapu bungkus permen itu perlahan dengan sangat hati-hati. Kamera mengambil gambar dari jarak yang sangat dekat. Cahaya matahari menyinari sebelah pipinya. Sapu menyentuh bungkus permen, dan bungkus itu pun bergeser lembut ke dalam pengki.
“Dapat gambarnya?” tanya Kepala Biro.
“Dapat! Mantap!” jawab kameramen sambil mengangkat jempol. “Shot terbaik!”
Selesai sesi menyapu, sang menteri melangkah ke podium kecil yang disiapkan secara mendadak di sudut kompleks makam. Mikrofon berdiri tegak di hadapannya. Setelah membacakan doa, ia pun menyampaikan pidato singkat:
“Hari ini kita tidak hanya sedang melakukan pembersihan makam, tetapi juga pembersihan ingatan kolektif kita. Bahwa sosok Syekh Burhanuddin adalah sosok pahlawan yang berjasa dalam menentang penjajahan di tanah Mingkabau! Kita tidak boleh melupakan itu! Maka, hari ini, atas nama negara, kita hadir di sini, melakukan kegiatan bersih-bersih makam sebagai bentuk penghormatan!”
Seorang wartawan media nasional yang nebeng pesawat dari Jakarta dengan rombongan pejabat menanyakan sebuah pertanyaan dengan nada seolah dia adalah pegawai humas kementerian, “Bu Menteri, apakah aksi ini akan dilakukan di daerah-daerah lain?”
“Tentu! Bukan hanya makam. Tapi juga di tempat-tempat yang menyimpan memori kolektif. Kita ingin menjadikan kebersihan sebagai etika sosial. Kita harus mengarusutamakan kegiatan semacam ini,” jawab sang menteri, yang akan maju sebagai kandidat pada pemilu presiden tahun depan, disambut riuh rendah tepuk tangan dari para pejabat yang hadir.
Ketika aksi bersih-bersih selesai, para pejabat kementerian dan pejabat lokal saling berjabat tangan seperti peserta konferensi. Beberapa dari mereka mengajak foto bersama Menteri, dan saling berbisik-bisik kecil setelahnya. Sapu-sapu dikembalikan ke tempat semula. Menteri lantas masuk ke dalam mobil, dan melambaikan tangan ke arah warga yang masih berkumpul di sekitaran makam.
***
“Bagaimana tadi hasilnya?”
“Bagus sekali, Bu. Siaran pers lengkap beberapa foto, juga sudah dikirim ke semua media dan rekaman videonya akan segera di-upload ke YouTube dan Instagram. Nanti siang sudah tayang,” jawab sang kepala biro.
“Bagus!”
Di hotel tempat rombongan pejabat kementerian menginap, ruang makan telah disiapkan dengan menu Padang versi yang agak sehat: rendang tanpa santan, nasi merah, sayuran rebus tanpa garam, dan beberapa penganan penutup sepeti lemang-tapai, ampiang dadiah, dan kue basung. Sang menteri duduk di tengah, menyantap dengan tenang sambil mendengarkan laporan singkat dari tim media.
“Respons publik cukup positif,” kata Kepala Divisi Komunikasi. “Postingannya sudah mencapai dua ribuan views dan likes dalam waktu dua jam. Mayoritas komentar memuji Bu Menteri.”
“Bagus,” ujar sang menteri sambil memotong telur dadar.
“Ada beberapa komentar sinis, tapi bisa kita tenggelamkan.”
“Tak usah ditanggapi.”
Sementara itu, di rumah salah seorang warga yang tinggal di dekat kompleks makam, seorang anak kecil menatap layar televisi tabung yang menampilkan potongan berita siang:
Dalam kunjungan kemanusiaan ke Ulakan, Menteri Sosial memimpin aksi bersih-bersih di makam tokoh besar Minangkabau, Syekh Burhanuddin. Aksi ini disebut sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab negara dalam merawat memori kolektif bangsa, kata si pembawa acara berita.
Gambar sang menteri yang sedang menyapu daun dan bungkus permen tampak diputar berulang-ulang.
“Mak, mak, itu tadi orang-orang yang nyapu di kuburan!” kata si anak.
Ibunya, yang sedang melipat pakaian di tikar yang dibentang di depan televisi, menoleh.
“O, ya, itu mereka. Muka kita gak ikut masuk ya?” kata ibunya, terkekeh.
“Kenapa menyapu makam begitu masuk tivi ya, Mak?”
Ibunya bingung mau menjawab apa, dan melanjutkan melipat pakaian tanpa menoleh lagi ke arah televisi. []
Catatan:
Ninik mamak: pemuka adat Minangkabau.




