Puisi, Navis, dan INS Kayutanam

JudulDermaga dengan Empat Sekoci (kumpulan puisi)
PenulisAA Navis
PenerbitINS Kayutanam, 1975
Tebal44 halaman

Di rubrik Pustaka Sastra Padang Ekspres ini, saya pernah meninjau secara ringkas kumpulan puisi Wisran Hadi, berjudul Simalakama. Pada waktu yang bersamaan dan penerbit yang sama dengan buku tersebut, terbit pula buku kumpulan puisi AA Navis, Dermaga dengan Empat Sekoci. Buku telah diterbitkan ulang oleh Citra Budaya Indonesia, 2000.

Buku ini tentu saja memberikan gambaran yang sama pada kehidupan sastra kita. Penulisan puisi menjadi sebuah pilihan yang esensial bagi para penulis kita. Pada puisi berbagai tantangan pencapaian dan eksperimentasi estetika tersedia. Setidaknya, kedua kumpulan puisi Simalakama dan Dermaga dengan Empat Sekoci ini memperlihatkan kesan demikian. Bagaimanakah AA Navis memandang puisi, genre tulisan yang tidak dilanjutkan dalam karirnya sebagai pengarang?

Sebelum menulis prosa, aku menulis puisi/ dua puluh lima tahun yang lalu./ Aku berhenti karena mengira/ puisi tak cukup kata./ kini aku berobah pikiran/ (terlambat, bukan?)/ Bahwa puisi yang sedikit kata/ rupanya suatu permukaan belaka/ dari ungkapan yang tak bertara (hlm. 5). Kalimat-kalimat ini memberikan gambaran bagaimana Navis mencoba untuk menemukan bentuk ungkap yang sesuai dengan dirinya, dalam menulis dan mengekspresikan gagasannya. Kita tahu bahwa kemudian Navis memiliki kekuatan dalam prosa, baik cerpen maupun novel.

Buku kumpulan puisi ini memuat 36 puisi ditambah dua puisi pengantar atau puisi persembahan, yang ditulis antara tahun 1948-1951. Puisi-puisi Navis banyak berbicara tentang orang-orang di sekitarnya, dalam hubungan sosial dan gambaran-gambaran suasana yang terjadi di tengah masyarakat. Misalnya saja puisi berjudul Sandiwara Kampung, yang menggambarkan para penonton yang tak betah menunggu permainan dimulai, dan bertanya-tanya. Rupanya pelaku masih bertengkar/ semua mau duluan keluar/ semua ingin pemegang peran utama/ berebut jadi pahlawan terpuja/ meski kesiangan tak mau tahu/ persetan penonton yang kesal menunggu.// Apakah pantas/ jika penonton naik kepentas? (hlm. 33). Puisi menghadirkan metafora perangai orang-orang yang ingin mencari jabatan dan pencitraan dengan mengabaikan rakyat dan masyarakat.

INS Kayutanam yang dikenal dengan sistem pendidikannya yang bagus, dan perhatian yang besar pada kesenian, salah satunya terwujud dalam penerbitan karya sastra ini. Dari kegiatan ini juga terlihat bagaimana para sastrawan kita dulu berusaha menghidupi dan menjaga sastra tetap berkembang. Buku yang diterbitkan secara stensilan ini adalah bagian penting dari usaha para penulis masa itu, yang memang memiliki tantangan yang berbeda dalam kegiatan penerbitan sastra. Namun kondisi demikian dihadapi dengan biasa saja, bahkan dengan candaan: Maka aku kumpulkan puisiku/ lalu menyaringnya berkali-kali/ yang tinggal kucantum seperti adanya/ menurut kandunganselagi aku muda./ Rangsangan menerbitkan puisi ini, karena/ kalau orang boleh menulis apa saja/ kalau orang boleh menulis puisi bangsat/ kalau orang boleh menulis mantera sebagai puisi/ aku tentu boleh ikut ambil bagian./ Aku kira tak seorangpun yang akan merugi/ demi melihat Dermaga Empat Sekoci./ paling-paling ada yang menyumpah/ -navis ini sudah latah. (hlm. 5).  

Buku kumpulan puisi ini patutlah disimak dan dipelajari dalam upaya mengkaji proses kreatif pengarang, atau dapat diperdalam untuk melihat bagaimana capaian estetika literer Navis. Navis juga memberikan gambaran masyarakat dan situasi sosial, dengan segala problematika yang terjadi pada masa-masa penulisan puisi-puisi ini.  


Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top