Anakronisme dan Motif Ideologis: Pembacaan Kritis Atas Leiden 2020-1920

Tentu saja saya harus mengucapkan selamat kepada Hasbunallah Haris atas terbitnya novel mutakhir penulis muda ini, Leiden 2020-1920. Apa lagi naskahnya meraih Juara II pada Sayembara Novel DKJ 2023, tentu capaian tersebut menjadi salah satu impuls yang memantik atensi publik. Sebagai gambaran, jika ada orang yang ingin membaca sebuah karya fiksi berisi cerita kolonialisme beserta legenda urban tentang harta karun, filologi, mitos lokal, cerita petualangan, misteri dan sedikit bumbu klenik, Leiden 2020-1920 tentu bisa diajukan sebagai salah satu pilihan.

Novel setebal 552 halaman ini memang merupakan capaian yang patut dirayakan bersama. Akan tetapi, ‘perayaan’ yang patut bagi novel ini tidak sekadar ‘perayaan’ yang telah mengalami penyempitan makna sebagaimana fenomena belakangan, di mana ‘perayaan’ karya menyempit menjadi sebatas ucapan selamat dan puja-puji semata, namun menyampingkan pembacaan kritis. Pada dimensi yang kerap tersampingkan itulah ulasan ini berpijak.

Anakronisme, serba kebetulan, tokoh dan penokohan yang lemah, kecelakaan motif idiologis, dan cacat logika seolah fondasi bagi Leiden 2020-1920. Penentuan tematik agaknya terlalu rumit bagi novel ini. Di satu sisi, pembaca Leiden 2020-1920, bahkan Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2023, agaknya terburu-buru menilai novel ini sebagai perpaduan antara fiksi sejarah dan cerita detektif. Akan tetapi, yang perlu dipahami benar adalah sejauh apa dan bagaimana fiksi sejarah dapat mempermainkan aspek historis, dan di manakah letak cerita detektifnya?

Anakronisme Akut

Banyak prosais yang bermain di wilayah historisitas dalam karir kepenulisannya, sebutlah misalnya Dan Brown dan Robert Alexander, atau dalam konteks Indonesia terdapat nama-nama semacam Pramoedya Ananta Toer dan A.A. Navis. Mereka memiliki pola penggunaan sejarah sebagai bahan penceritaan, misalnya pemanfaatan misteri sebagai peranti penceritaan yang memaksa tokoh melakukan penelusuran bagai detektif dalam suatu konteks sejarah sehingga menghasilkan tafsir baru bagi peristiwa lampau.

Seperti yang dilakukan oleh Dan Brown terhadap karya-karya seni yang memantik perdebatan di kalangan gereja, atau seperti pula yang dilakukan oleh Robert Alexander dalam The Rasputin’s Daughter yang membalikkan imajinasi mistis tentang Grigori Rasputin melalui sudut pandang putrinya, Maria.

(Dari kiri ke kanan) Hasbunallah Haris, Bunga Suci Pertiwi, Ilhamdi Putra dan Ganda Cipta

Sedangkan Pram dan Navis mengajukan motif idiologis yang tidak sekadar menafsir ulang atau mengisi ruang kosong sejarah. Alih-alih memosisikan sejarah sebagai kanvas penceritaan, keduanya justru menggunakan aspek historis sebagai cat yang memberi alternatif bagi pembacaan sejarah yang tidak pernah terlepas dari kondisi sosio-kultural. Sebutlah misalnya tetralogi Pulau Buru, Larasati dan Rekayasa Sejarah si Patai. Pram dalam Larasati menggambarkan adanya pembagian peran dalam momentum revolusi di tengah pergumulan situasi sosio-politik.

Ara tidak sekadar menjadi tokoh sentral yang segala halnya berimplikasi secara langsung atau menagih peran perempuan itu. Pram membangun tokoh Ara sebagai perempuan penghibur di periode kacau itu dengan segala sisi manusiawinya, perempuan yang memiliki harapan sekaligus keterputusasaan dalam suatu kelindan yang kompleks. Maka tampillah Larasati, si Bintang Ara, yang sublim tidak sekadar persona, Ara adalah representasi atas lapisan sosial yang menjalankan peran sesuai dengan porsinya.

Sementara dalam tertralogi Pulau Buru, Pram mempertontonkan kompleksitas linimasa dan rangkaian peristiwa yang mewakili identitas idiologisnya. Navis dalam Rekayasa Sejarah si Patai bahkan melakukan pelintiran terhadap peristiwa sejarah secara kias di tengah fenomena pejabat lokal yang korup.

Motif penceritaan seperti inilah yang tidak ditemukan dalam Leiden 2020-1920. Alih-alih menawarkan refleksi baru atas sejarah, mengisi ruang kosong, atau sekurangnya menciptakan percabangan peristiwa di tengah fakta historis, novel ini justru mengalami anakronisme akut yang tak terselamatkan, ditambah pula dengan cacat logika yang menjadikan banyak hal dalam novel ini begitu berantakan.

Ada sangat banyak anakronisme dalam buku ini, misalnya kapan Tan Malaka menjadi tokoh pergerakan yang diawasi Belanda dan bagaimana tata kelola aparatur negara kolonial Hindia Belanda. Ulasan ini hanya mengulas satu anakronisme yang mendasari cerita, yakni perihal tokoh Alex van der Meer, seorang Belanda totok, lahir dan besar di Belanda, agen PID, serta baru pertama kali menjejakkan kaki di Hindia Belanda pada tahun 1920.

PID (Politieke Inlichtingendienst) secara harfiah berarti Dinas Intelijen Politik, sebuah badan intelijen yang dibentuk pada 16 Mei 1916 oleh Gubernur Jenderal van Limburg Stirum yang dikenal liberal. Secara politis, PID dibentuk sebagai langkah pencegahan kemunculan gerakan radikal yang berkembang pesat di Eropa, terutama paham komunis. Berkembangnya paham liberal di Belanda kala itu dan reputasi PID yang sangat buruk, kian menyudutkan organisasi yang disebut telah mengubah Hindia Belanda menjadi Negara Polisi (Politie Staat).

Terlebih lagi tata kelola organisasi PID diletakkan di bawah Kejaksaan Agung Hindia Belanda (Hoofdparket), sehingga stigma terhadap PID menghasilkan tudingan adanya superioritas Kejaksaan yang melebihi Parlemen. Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu penyebab pembubaran PID pada April 1919, dan pada 24 September 1919 dibentuklah ARD (Algemene Recherchedienst) atau Dinas Penyelidikan Umum.

Kesampingkan dulu narasi halaman 57 di mana Alex menyatakan PID memang dibubarkan namun “Kementerian Kolonial kembali menugaskan kami ke Hindia Belanda”, dan narasi itu terjadi pada tahun 1920 ketika PID telah dibubarkan. Motif pembentukan PID dan cara kerja intelijen terhadap pribumi mengharuskan para Agen PID untuk fasih berbahasa lokal, dalam kasus Alex tentu saja Bahasa Minang dan Bahasa Melayu.

Hal itu mengharuskan rekrutmen terhadap Agen PID dilangsungkan di Hindia Belanda dengan manyasar Belanda totok, terutama Belanda Indo, yang memahami bahasa masyarakat lokal. Bahkan sejauh penelusuran terhadap dokumen terkait PID, tidak terdapat sebuah dokumen yang menyatakan bahwa rekrutmen Agen PID dilakukan di negeri Belanda. Lain soal bila Haris mampu membuktikan sebaliknya.

Bila dicermati kembali, Hindia Belanda memiliki model tata kelola aparat pemerintahan yang berbeda dari negeri Belanda di Eropa. Misalnya keberadaan model Dual System dan Indirect Rule. Model Dual System terdiri dari Binnenlandsch Bestuur (BB) yang merupakan orang Belanda totok berpendidikan tinggi dan menjadi cikal bakal birokrat Indonesia, dan Inlandsch Bestuur (IB) yang merupakan pegawai pribumi dengan jabatan yang diwariskan turun temurun.

Sementara Indirect Rule atau pemerintahan tidak langsung dilakukan melalui perantara pribumi. Model inilah yang turut mengalami penyesuaian dalam tata kelola PID yang sama sekali berbeda dan terpisah dari intelijen Belanda pada periode yang sama.

Dalam literatur sejarah militer dan intelijen Belanda, periode abad ke-XX setidaknya dapat dibagi pada tiga babak, yakni Periode PD I (1914-1918) di mana Belanda memiliki GS III (Generale Staf, Afdeling III) yang bekerja di bidang intelijen militer dan kontra-intelijen, Periode Idiologis (1919-1938) dengan CID (Centrale Ilichtingendienst) yang berada di bawah Departemen Perang dan bekerja untuk urusan intelijen dalam negeri serta anti-komunisme, dan Periode PD II (1939-1940) saat Belanda menjalin kerjasama intelijen dengan MI6 Inggris. Dalam periode yang sama dengan latar cerita Leiden 2020-1920, Belanda memiliki GS III dan tidak memiliki hubungan hierarkis dengan PID.

Kenyataan bahwa PID berada di bawah kontrol Kejaksaan Agung Hindia Belanda (Hoofdparket) juga mengakibatkan kekeliruan besar dan menggugurkan banyak narasi di novel ini. Di halaman 72 ketika Alex baru tiba di Emmahaven, ia kemudian menuju kantor Militair Detachement Emmahaven untuk melaporkan kedatangannya. Padahal dalam tata kelola organisasi PID, Alex seharusnya melaporkan kedatangannya ke kantor Kejaksaan Padang yang pada tahun itu lokasinya berada di sekitar bagian muara Sungai Batang Arau.

Kerancuan Sosio-Politik dan Minim Riset

Pandangan Alex pada bagian keterkejutannya terhadap potensi kemerdekaan Hindia Belanda di halaman 61 merupakan kekeliruan lain. Respon yang diberikan Alex sejatinya bukanlah respon yang jamak terjadi pada seorang Belanda totok yang lahir dan besar di negeri Belanda. Agaknya Haris membutuhkan referensi analisis sosio-kultural terhadap bagaimana respon masyarakat Belanda terhadap kata “Merdeka”.

Kajian Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 seharusnya menjadi pegangan, atau dalam bentuk yang lebih ringan terdapat pula catatan Elien Utrecht, Melintasi Dua Jaman (2006), yang dapat dipergunakan untuk menemu-kenali gambaran kondisi psikologis kata “Merdeka” dari sudut pandang orang-orang Belanda, baik yang bermukim di Hindia ataupun yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Belanda.

Paparan sosiologis Elien menggambarkan kebingungan yang tidak dapat diurai ketika orang Belanda mendengar kata “Merdeka”, bahkan setelah PD II berakhir dengan kekalahan poros fasis. Kala itu, mereka (Belanda dan Indo) tidak tahu kemerdekaan dalam bentuk apa yang dimaksud, sebab dalam pandangan sosial yang jamak kala itu, Belanda tidak melakukan penjajahan. Seperti pandangan pemerintah Indonesia kepada Timor Timur. Terlebih dalam sudut pandang hukum kolonial, Hindia Belanda merupakan sebuah teritorial yang memiliki konstitusi dan sistem pemerintahannya sendiri.

Bias pandangan Haris sebagai penulis begitu kentara ketika ia berupaya membangun tokoh Alex sebagai seorang pemuda petualang yang dibesarkan di lingkungan Belanda berdarah murni. Akan tetapi hanya dalam waktu berbilang bulan dengan ekses dari Daan, Maria, dan pengamatannya atas penderitaan pribumi secara parsial di Sawahlunto, Alex tiba-tiba beralih tanpa memiliki pertanyaan mendasar tentang apa itu kolonialisme sebagaimana yang dicekoki dalam sistem pendidikan Belanda yang ia terima.

Peletakkan Multatuli sebagai model idiologis bagi Alex juga terlalu lemah. Bahwa Multatuli telah menyaksikan begitu banyak penderitaan pribumi sehingga gerakan kemerdekaan pribumi harus didukung. Benarkah demikian?

Haris agaknya harus kembali membaca dengan teliti menggunakan nalar kritis sebagaimana jamaknya pembacaan yang dilakukan oleh seorang penulis, bahwa Max Havelaar justru bermotif politik untuk mereformasi kolonialisme, bukan menghancurkannya, apalagi meruntuhkan imperialisme.

Max Havelaar bukanlah karya yang menghendaki penentuan nasib bangsa melalui pembangunan nasion atau negara-bangsa, namun karya tersebut justru menghendaki adanya perbaikan tata kelola terhadap koloni. Maka, di manakah letak heroisme yang memantik nasion dari Multatuli sehingga Alex menjadikannya sebagai model idiologis yang memadai untuk mengubah pandangan politiknya?

Bias pandangan ini kembali ditemukan pada narasi Syamil tentang Napoleon Bonaparte. Syamil dengan segala adegan dramaturgi-gigantiknya, sebagaimana yang dikehendaki Haris, menilai Napoleon sebagai pahlawan hanya karena Jenderal pulaku kudeta itu “menyelamatkan” harta Belanda dan menghabisi anggota Freemason. Tidak adakah alasan logis selain ini? Silahkan baca sendiri, saya tidak menemukan hal lain selain narasi gigantik yang bias.

Napoleon adalah imagogi militeris dan pembaru yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan sedemikian rupa dan diringkas sebagai pahlawan. Revolusi yang ia lakukan terhadap Perancis, dengan terlebih dahulu melakukan kudeta pada tahun 1799, pada awalnya memang mebawa pembaruan yang sebelumnya hanya dibayangkan sepintas oleh rakyat Perancis. Tapi ketika berkuasa, Napoleon memperlihatkan wataknya. Banyak riset dan analisis yang pernah mengulas hal ini.

Implikasi Anakronisme

Bolehkah karya sastra menyimpangi fakta sejarah? Boleh-boleh saja selama fakta sejarah yang disimpangi bukanlah fakta notoire.

Lantas apakah fakta notoire benar-benar tidak boleh mengalami penyimpangan di tangan penulis? Tentu saja boleh, namun penulis harus memiliki motif yang memadai sebagai landasan tentang mengapa penyimpangan itu dapat diterima. Rekayasa Sejarah si Patai karya Navis adalah salah satu contohnya, dan tidak ada motif apa-apa dalam Leiden 2020-1920.

Inilah masalahnya. Haris dalam Leiden 2020-1920 memperlihatkan kecenderungan menyukai narasi-narasi penuh puja-puji terhadap karakter di dalam novelnya yang memiliki karakter seragam. Misalnya, tokoh Syamil yang oleh narator dan tokoh lainnya dipandang sangat cerdas, berpengetahuan luas, pandai menarik kesimpulan setelah melalui analisa mendalam. Hal sama juga terjadi pada tokoh Maryati, Riza, Eddie dan Eva. Akan tetapi tidak satu pun dari mereka yang menyadari kekeliruan pada naskah Alex. Kecerdasan yang dibuat-buat itu justru melegitimasi pencarian yang sia-sia, dan hanya untuk itulah novel ini ditulis; kesia-siaan yang tidak menggambarkan maksud dan tujuan apa pun dari penulis.

Bahkan bila menyebut Leiden 2020-1920 sebagai novel detektif, saya tidak tahu pada bagian mana novel ini dapat disebut sebagai novel detektif. Misteri apakah yang dipecahkannya? Adakah pemecahan mistersi secara deduktif? Bahkan, adakah misteri itu sendiri? Dan siapakah tokoh utama dalam novel detektif ini?

Motif Idiologis

Dalam pembacaan awal, saya mengira adanya modus idiologis yang akan ditawarkan oleh penulis, setidaknya di Babak III. Mula-mula saya mengira ada motif di balik pilinan linimasa dan fakta sejarah yang banyak keliru dalam novel ini sebagai suatu strategi penceritaan, kiranya, saya tidak menemukan motif apa-apa. Hal inilah yang mengakibatkan saya meyakini bahwa anakronims itu merupakan kesalahan yang lahir dari riset sejarah yang minim.

Novel ini tidak berisi apa-apa rangkaian imajinasi serba kebetulan yang cacat logika, tokoh yang dibunuh narator melalui narasi gigantiknya dan penokohan yang teramat lemah, penceritaan yang kelewat panjang kali lebar dan bertele-tele tanpa mencapai apapun. Alih-alih tampil patriotik lewat narasi-narasi nasionalis yang sumir, novel ini justru tanpa disadari oleh penulisnya mengalami kecelakaan dan terjerembap dalam sudut pandang Belandasentris yang membawa imajinasi orientalisme tentang tentang betapa eksotisnya negeri jajahan ini. Semuanya dijahit menggunakan narasi-narasi gigantik yang terlalu dipaksakan dan terkesan megalomaniak oleh narator yang memperoleh porsi obesitas. (***)

JudulLeiden 2020-1920
PenulisHasbunallah Haris
PenerbitGramedia Pustaka Utama
EditorRuth Priscilia Angelina
Tahun Terbit2025 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman552 halaman
ISBN978-602-06-8553-3
978-602-06-8554-0 (EPUB)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top