Baca Di Tebet, Perpustakaan dan Ruang Temu Demi Kemerdekaan Berpikir

Baca Di Tebet sebuah perpustakaan dan ruang temu, dibangun dengan swadaya pribadi oleh dua tokoh pecinta sastra dan buku, yaitu Kanti W Janis dan Wien Muldian. Keduanya memiliki masa kecil yang sama: dukungan keluarga, bahagia dengan buku. Pertemuan mereka ketika dewasa, mewujudkan Baca Di Tebet, yang saat ini menjadi tempat favorit kaum literat di Jakarta. Sekaligus, tempat ini menguatkan keyakinan, bahwa antara lain cara untuk melakukan perlawanan di tengah pembengkokkan hukum dan ketidakadilan, adalah lewat intelijensi dan kemerdekaan berpikir.

Dua Masa Kecil Bersama Buku

Namanya Kanti W Janis. Masa kecilnya di Jakarta. Ayahnya, Roy BB Janis, setiap akhir pekan, selalu membawa Kanti ke toko buku atau bazar buku. Bagi Kanti dan adik serta kakaknya, diajak ke toko atau bazar buku, sama asyiknya diajak ke Taman Ria.

Ia lahir di Jakarta 17 Januari 1985 dari keluarga yang gemar membaca. Ayahnya, almarhum Roy BB Janis, adalah politisi idealis dan kawakan di masanya. Dari ayahnya, ia memahami, membaca adalah energi untuk menjadi manusia yang merdeka. Sebagai ayah, kata Kanti, Roy tidak pernah memaksa anak-anaknya membaca. Melainkan, diwadahi bacaan– diajak membeli buku. Cara baik seorang ayah ditauladani anaknya, menyiratkan pesan: membaca adalah kekuatan hidup.  

Kanti W Janis

Jika kemudiannya Kanti menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit, tentu ini sebagai konsekuensi dari ke toko dan bazar buku yang pulang-pulang dipastikan membawa beberapa judul buku untuk dibaca.

“Saya datang ke perpustakaan saat jam istirahat sekolah untuk membaca Lima Sekawan, ensiklopedia, majalah Bobo, novel-novel karya NH Dini, atau Buku Pintar,” kata Kanti, penulis novel Saraswati, karya nomine di ajang penghargaan Sastra Khatulistiwa (kini Kusala Literary Award) pada 2007.

Kanti punya sahabat, Wien Muldian, lahir di Pontianak, 3 Mei 1972. Wien, anak pertama dari empat bersaudara, terbiasa bergaul dengan buku sejak kecil. Maklum, ayahnya, almarhum Abdul Munir yang bekerja di Departemen Kehakiman dan ibunya Nurliana Daud seorang Guru, amat rajin membelikan Wien buku bacaan. Biasanya buku-buku yang dibelikan ayahnya terkait dengan ilmu-ilmu sosial, seperti buku sejarah, geografi, sosiologi dan kebudayaan.

“Di sudut-sudut rumah penuh dengan buku-buku koleksi ayah dan ibu,” tutur Wien yang dibesarkan di keluarga Gayo Aceh yang merantau ke Pontianak, kemudian Cirebon dan berakhir di Jakarta.  

Saking seringnya berkunjung ke perpustakaan, Wien kecil bercita-cita menjadi penjaga perpustakaan. Alasannya, ia ingin selalu dekat dengan buku-buku.

Di rumah Wien kecil juga sudah memiliki perpustakaan sendiri. Ia punya buku-buku sendiri berbeda dengan buku-buku ayahnya. Buku-bukunya ditata apik di dinding kamar rumahnya di Pontianak, Kalimantan Barat. “Koleksi saya ketika kecil kebanyakan buku-buku pengetahuan umum, komik dan novel.”

Wien Muldian

Keyakinan Wien pada dunia literasi menyala setelah ia mendapatkan beasiswa ke Jepang pada 1996. Di negeri Sakura Wien melihat kecintaan yang begitu besar warga Jepang pada kegiatan membaca buku. Di jalan-jalan ia melihat orang selalu dalam keadaan membaca buku. Toko buku dan perpustakaan selalu ada di setiap sudut kota.

Pada saat itu, Wien sempat pula mendatangi Jimbocho, kota buku tua di Jepang yang dipenuhi toko buku yang juga berfungsi seperti perpustakaan. Melihat ini gairah Wien menyala pada dunia literasi. Pada diri sendiri, ia berjanji, akan tetap aktif dan bergerak di dunia literasi, membangun perpustakaan serta mendorong lahirnya taman baca dan ruang-ruang baca di berbagai kota.

Kanti + Wien = Baca Di Tebet

Pada suatu ketika, Mei 2018, dua orang dengan masa kecil di atas, bertemu dalam acara Kongres Serikat Penulis, dimana Kanti adalah Sekjennya ketika itu.  Mereka berkenalan. Berbagi cerita, soal buku, baca dan Pustaka. Sama-sama suka buku, sama-sama suka sastra. Sejak saat itu, mereka mulai bersahabat baik.

Impian keduanya sama: membangun perpustakaan. Mewujudkan semua orang dapat mengakses bacaan sebagai ruang yang memerdekan jiwa dan pikiran. Empat tahun setelah pertemuan pertama, pada 20 Februari  2022, keduanya mewujudukan kesepakatan, membangun perpustakaan dan ruang temu, yang dikenal luas saat ini dengan nama Baca Di Tebet, beralamat di Jl Tebet Barat Dalam Raya Nomor 29, Jakarta Selatan.

Karena koleksi buku pribadinya yang melimpah, membuat Wien juga pada masa itu (sebelum bertemu Kanti) aktif membuka ruang baca di berbagai tempat, mulai dari Depok, Duren Tiga, Cempaka Putih, hingga Kota Tua. Buku-bukunya itu ia kumpulkan sejak kecil. Dan di tempat lain dalam impian yang sama, Kanti juga berpikir bagaimana membangun perpustakaan.

Suasana di Kafe Makan Di Tebet

Tuhan mempertemukan, Kanti dan Wien, dua orang dengan masa kecil yang tumbuh bersama keluarga pecinta buku, melebur menjadi Baca Di Tebet (penulisannya bukan dengan “di” tapi “Di””). Wien punya ribuan buku, Kanti selain buku, juga memiliki gedung untuk perpustakaan. Buku-buku Wien pun berlabuh di gedung milik Kanti di Tebet. Mereka pun menata ruang, membeli rak, merancang program dan memanaj kegiatan dan sosialisasi.

Di situ, pada lantai 2, selepas anak tangga teratas, setelah membuka pintu kaca, pengunjung langsung disambut ribuan buku. Meja dan kursi baca tertata, terlihat pengunjung sedang membaca, kerja dan cengkerama. Ruang tersebut bernama “Ruang Temu Roy BB Janis”.  

Setelah pintu masuk, ada sebuah pintu ke sisi kiri: tertulis Ruang Pikir. Di dalamnya, terbentang sebuah meja berbatu pualam, mesin tik tua klasik, dan dikelilingi buku-buku dengan rak yang bagai menyundul langit-langit ruang yang sunyi dan kedap, namun terasa nyaman.

Berada di Ruang Pikir, yang menghadap ke jalan raya, di sisi kiri ketika pintu kaca dibuka, kita masuk ke “Ruang Baca dan Karya”, yang juga terdapat meja-meja baca, serta rak-rak penuh buku menjulang ke loteng. Di sekitaran rak ada tangga, untuk “memetik” buku yang tidak bisa dijangkau sambil berdiri saja. Ada 27 ribuan buku koleksi Baca Di Tebet, dengan berbagai genre.

Kanti dan Wien mendirikan Baca Di Tebet, sebagai makna dari kemerdekaan berpikir, yang salah satunya hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang membaca buku. Alasannya, membaca sebagai kekuatan dan ilmu pengetahuan, akan melindungi seseorang dari ketidakadilan.

Wien Muldian, Eros Djarot dan Kanti W Janis setelah peluncuran Biografi Eros Djarot

Kanti merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Wien jebolan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, menghadirkan Baca di Tebet sebagai ruang temu yang santai. Jika perpustakaan umumnya melarang orang untuk makan dan minum, Baca Di Tebet malah memperbolehkan itu. Pengunjung datang tidak hanya untuk membaca, tetapi juga menyelesaikan pekerjaan, tugas kuliah, diskusi, ngobrol, foto pranikah, makan, ngopi dan lainnya. Penyanyi Raisa, bahkan menjadikan Baca di Tebet sebagai seting video klip salah satu lagunya. Para aktivis literasi, penerbit, selebriti, tokoh dan komunitas menjadikan Baca Di Tebet sebagai ruang diskusi publik dengan berbagai isu.

”Perpustakaan itu bukan tempat nyimpan buku, tapi untuk merawat pengetahuan. Buku-buku ini tidak ada gunanya kalau tidak ada yang baca dan kalau enggak diobrolin,” ujar Kanti, yang juga dikenal sebagai advokad dan aktivis sosial ini. Ditambahkannya lagi, dengan membangun Baca Di Tebet, ia ingin orang tahu hak-haknya, pintar, cerdas, berani jadi dirinya sendiri. Kalau di sekolah kita didikte, disuapin, maka kata Ketua Koperasi Penulis Bangsa Indonesia ini, perpustakaan adalah tempat kita belajar berpikir merdeka, melawan lewat intelijensi dan kemerdekaan berpikir.

Yenny Wahid dan tamu khusus pecinta buku Baca Di Tebet

Wien, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), Jakarta menguatkan Kanti dengan mengatakan, “Yang menjadi impian saya dalam, bagaimana mewujudkan Indonesia yang membaca. Di berbagai tempat di Indonesia dibangun perpustakaan yang buka terus menerus dan sepenuhnya dikelola oleh masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran hidup untuk menjadi lebih baik lagi.”

Ruang Temu Kaum Literat

“Ruang ini sangat inspiratif,” kata Andrinof A Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas 2014-2015, saat berkunjung ke Baca Di tebet. Dia duduk di Ruang Pikir, diskusi ringan dengan Andrinof, setelah keliling melihat-lihat buku. Menurutnya, ini sesuatu yang istimewa, dan ia tidak menduga bahwa di Jakarta ada perpustakaan dan ruang temu seperti Baca Di Tebet dengan jumlah koleksi buku mencapai 27 ribuan. Andrinof mengaku sejak dua tahun lalu ingin mampir, tapi baru kesampaian Desember lalu. Kepada Kanti dan Wien, ia aturkan rasa hormat karena berbuat sesuatu yang negeri ini butuhkan. “Menyesal saya telat ke tempat ini,” kata dosen Ekonomi Politik Universitas Indonesia ini sambil memegang beberapa buku di rak Ruang Temu Roy BB Janis.

Andrinof A Chaniago, bersama Wien Muldian di Ruang Pikir

“Tempatnya cozy. Bukunya lengkap. Dan sering ada acara buku dan literasi di sini. Mimpi kita di daerah-daerah, bisa punya ruang serupa Baca Di Tebet,” tukas Benny Arnas, sastrawan asal Lubuk Linggau, Palembang yang beberapa kali mampir ke Baca Di Tebet. “Kunjungan berikutnya, saya akan nginap di sini,” timpal Beny, yang juga tahu Baca Di Tebet menyediakan beberapa kamar untuk memnginap bagi pegiat literasi dari daerah-daerah di berbagai provinsi.

Pengelolaan perpustakaan ini ditopang dengan keberadaan kafe, semacam unit pendukung finansial. Kafe Makan Di Tebet, di lantai 1, cukup ramai saban hari. Menariknya, meja-meja yang tertata rapi, dilatari rak dengan buku-buku menarik. Pengunjung, yang tak lanjut ke perpustakaan ke lantai 2, mereka cukup di lantai 1 kafe atau restoran. Pesan minuman atau makan, sembari membuka laptop, baca buku atau ngobrol dengan beberapa teman. Di sisi kiri kafe, ada coffee shop, dengan aneka pilihan kopi dan minuman lainnya. Seluruh ruangan di Baca Di Tebet dilengkapi AC, colokan listrik, Wi-fi, dispenser air dan musala.

Ruang temu dan diskusi

Demi keberlangsungan pengelolaan Baca Di tebet, Wien dan Kanti juga menerapkan, untuk masuk ke perpustakaan, wajib menjadi anggota terlebih dahulu. Jika sekiranya akan jarang berkunjung ke sini, bisa membayar biaya harian sebesar 35 ribu rupiah. Itu relatif murah, apalagi bisa dari pagi sampai malam. Untuk biaya langganan atau anggota perpustakaan dkenakan biaya sekitar 100 ribu perbulan.

Ada tiga pilihan keanggotaan, Anggota Tahunan: Rp 800.000,00/tahun untuk umum dan Rp 600.000,00/tahun untuk pelajar umur 12 tahun sampai S2; Anggota Bulanan: Rp 100.000,00/bulan; Anggota Harian: Rp35.000,00/kedatangan.

Dengan demikian, pengunjung mendapatkan pelayanan prima, keberlangsungan pengelolaan yang pendanaannya tak bergantung pemerintah atau sponsor, membuat Baca Di Tebet akan bertahan sebagai ruang temu dan perpustakaan. Pengunjung boleh berlama-lama di Baca Di Tebet. Jadwalnya: Selasa – Kamis, Minggu dari pukul 10.00 – 18.00 Wib, Jumat 12.30-20.30 dan Sabtu pukul 10.00 – 22.00 Wib .

Baca Di Tebet, hanya libur di hari Senin. Selebihnya buka sepanjang hari.

Di Kafe Baca Di Tebet, menikmati makanan, kerja dan baca buku

Para tokoh, penulis buku, artis, aktivis, mahasiswa serta komunitas berbagai genre, telah menjadikan Baca Di Tebet sebagai tempat ‘berdiskusi’ atau gelar kegiatan atau sekadar memilih satu dua buku untuk dibaca. Di sini juga menjadi ruang bertemu penulis dan pembaca, saling berbagi cerita. Begitu juga, karena Wien seorang pegiat literasi dan salah seorang penggagas lahirnya Forum Taman Baca Masyarakat, banyak pegiat literasi dari berbagai provinsi yang ke Jakarta mampir dan nginap di Baca Di Tebet untuk ngobrol dan berdiskusi. Kata Wien, ini bagian dari kemajuan gagasan berliterasi.

Sebut saja nama-nama penting dan populer tanah air, pernah beracara atau mampir ke Baca Di tebet. Di antaranya: Erros Djarot, Yenny Wahid, Halida Hatta, Najwa Shihab, Dee Lestari, Ayu Utami, Rieke Diah Pitaloka, Rocky Gerung, Bambang Harymurti, Peter Carey, Raim Laode, Once Mikel, Raisa, Lola Amaria, Christine Hakim, Prilly Latuconsina, Raisa, KLA Project, Happy Salma, Ariel Tatum dan banyak lainnya. Hal itu menandakan, kalangan pesohor, intelektual maupun aktivis, serta mahasiswa menjadikan Baca Di Tebet, tempat yang layak diapresiasi sebagai ruang bertemu, berpikir, berdiskusi dan bercengkerama dengan dunia buku sembara bertukar gagasan.

Pakar Politik dari Skotlandia Chritopher Dorigne-Thomson, Yusrizal KW, musisi Raim Laode dan Wien Muldian usai diskusi kecil di Kafe Makan Di Tebet

Mengusung konsep perpustakaan modern dengan suasana santai, layaknya rumah teman, Baik Wien maupun Kanti, menyadari bahwa saat ini banyak orang membutuhkan ruang yang bisa memfasilitasi pertukaran gagasan, konten, dan kreativitas, menjadikannya tempat lahirnya ide-ide baru. Baca Di Tebet mencoba menjawab semua itu.

“Tempatnya mengepung kita dengan buku,” kata Sari Indah, yang sengaja datang di hari Minggu dari Depok, sembari janjian dengan teman. Baca Di Tebet, koleksi bukunya luar biasa. Kita banyak mendapatkan mulai dari buku lama dan baru, Bahasa Inggris maupun Indonesia, yang semuanya sudah dibantu seleksi secara kualitas oleh pengelolanya. Senada dengan Sari Indah, Farasy Abdi mahasiswa UI, mengatakan tempat ini surga bagi kaum literat. Kita bagai terseret di dunia yang ternyata kita ingini.

Adi Adrian KLA Project, Once Mekel, Raim Laode, Kanti W Janis, Wien Muldian dan Ade Andrini

“Bagi saya, Baca Di Tebet menjadi oase bagi para penyendiri, para pecandu ketenangan, dan orang stress yang butuh tempat untuk menepi di tengah bisingnya Tebet dan sumpeknya Kota Jakarta,” kata Muhamad Iqbal Haqiqi pada sebuah artikelnya, menulis kesan setelah berkunjung ke Baca Di Tebet.

Dedi Yusmen, Vice President Eksplorasi Regional Indonesia Timur, Pertamina Hulu Energi, merasa takjub ketika sempat berkunjung ke Baca Di Tebet. Kata Dedi, apa yang dilakukan Kanti dan Wien sebuah kerja besar peradaban, memiliki idealisme dan kecintaan pada ruang literat yang luas dan dalam. Ia memberi, hadir untuk ilmu pengetahuan dan kerinduan bagi mereka yang menjadikan buku sebagai mata air gagasan dan pikiran-pikiran kritis.(*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top