
Lima menit sebelum panggilan itu datang, saya bertengkar dengan istri saya. Dia marah-marah karena saya pulang tidak bawa uang. Beruntung panggilan itu datang. Jika tidak, mungkin saya sudah menampar mulutnya yang tidak henti-hentinya menumpahkan serapah. Panggilan itu rasanya seperti berkah, dan sepertinya panggilan itu memang berkah.
Lelaki di seberang telepon menyapa, bertanya kabar. Saat mendengar suaranya, saya merasa pernah mengenalnya di suatu tempat.
“Aduh, kita*) tidak simpankah nomor saya? Ini saya Iswan. Ingat tidak?”
“Astaga, Pak Iswan? Tentu saya ingat. Maaf HP saya baru, yang lama rusak. Nomor Bapak hilang.”
Setelah berbasa-basi, dia pun menjelaskan alasannya menghubungi saya setelah lebih lima tahun tidak pernah menghubungi. Dia bilang dirinya sedang terlibat masalah. Tapi masalah ini mungkin juga anugerah, lanjutnya.
“Begini,” kata Iswan memulai ceritanya. “Tadi dalam perjalanan pulang, saya mampir ke pom bensin buat buang air. Saya lihat ada tas tertinggal di pintu toilet. Langsung saya ambil. Berat. Saya cek isinya, ternyata uang. Bukan uang sedikit. Uang besar ini. 13 juta. Selain uang, ada juga perhiasan, lengkap dengan surat-suratnya. Ada dompet, tapi tidak ada kartu identitas. Hanya ada foto 3 x 4 ….”
Ketika mendengarkan dia bicara, baru saya sadar; bukanlah suaranya yang membuat saya ingat, melainkan aksen khas Sulawesi Tenggara-nya. Lebih tepatnya aksen Konawe Utara. Saya pernah tinggal selama dua tahun di sana. Saya bekerja di perusahaan tambang nikel sebelum dirumahkan karena adanya moratorium tambang. Presiden meminta Bupati membangun smelter dan pabrik agar bahan tambang diolah dulu, tidak langsung dibawa mentah-mentah keluar negeri. Karena itu saya kehilangan pekerjaan. Karena kehilangan pekerjaan, saya terpaksa ikut Iswan. Saya tidak punya keluarga di Konawe Utara, dan Iswan mengajak saya tinggal di rumahnya. Hampir setahun saya tinggal bersama keluarganya. Saya sudah menganggap keluarga Iswan seperti keluarga saya sendiri. Selama menunggu tambang dibuka, saya ikut bantu-bantu mengurus empang miliknya. Tapi setelah enam bulan ikut dia, nyatanya tambang tidak juga dibuka. Saya terpaksa pulang ke kampung halaman saya di Lombok. Kemudian saya menikah, dan istri saya tidak mengizinkan saya kembali ke Konawe Utara.
“… Mungkin ini barang rampokan. Pelakunya ketahuan terus kabur. Mungkin juga ini rezeki kita .…”
Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakannya setelah itu. Ingatan saya berkelana ke masa-masa tinggal bersama Iswan. Lelaki ini oportunis. Dia bukan lelaki jahat, tetapi tidak suci juga. Dulu waktu sama-sama kehilangan pekerjaan, dia mengajak saya pura-pura memperbaiki jalan poros Sulawesi, tidak jauh dari rumahnya. Setiap ada mobil lewat, kami pura-pura menutup lubang di jalan dengan pasir dan batu. Pengendara mobil akan bersimpati dan memberi kami uang. Setelah mobil lewat, kami berhenti bekerja. Hanya ketika ada mobil lewat saja kami pura-pura bekerja.
Ingatan itu membuat saya yakin, dia benar-benar Iswan.
“Jadi bagaimana?”
“Hah, apanya?”
“Aduh, kita tidak dengarkah cerita saya?”
“Maaf saya kurang fokus. Sampai di mana tadi?”
“Saya mau minta tolong ….”
Langsung tidak nyaman hati saya mendengarnya. Bukannya apa-apa, saya sedang susah, tidak mungkin menolong orang.
Iswan kemudian menjelaskan situasinya. Dia terlibat masalah dengan orang-orang di pertamina. Mereka tidak percaya waktu Iswan bilang tas itu milik saudaranya. Mereka mau lapor polisi. “Kalau sampai berurusan dengan polisi, saya bisa kena masalah. Jadi saya minta tolong kita menyamar jadi saudara saya. Bilang saja kita yang punya tas ini.”
Saya terkejut. Gila. Saya mau dilibatkan dalam skenario kejahatan. Tentu saja saya takut. Tapi saya bohong kalau bilang tidak tergoda. Uang itu besar sekali. Iswan bukan orang pelit, dia pasti akan memberi tidak sedikit. Apalagi dia pernah berkata, saya ini sudah seperti adiknya sendiri.
“Nanti kita bilang saja tas kita ini ketinggalan di toilet karena buru-buru. Sekarang kita sedang dalam perjalanan keluar kota, jadi tidak bisa kembali. Jadi kita percayakan tas itu ke saya.”
“Memangnya bisa begitu?”
“Bisa saja. Yang penting kita bisa buktikan tas itu benar-benar milik kita. Ada pulpen?”
“Sebentar, saya cari dulu.”
Saya pun masuk ke kamar, menyiapkan bolpoin dan buku.
“Begini, nanti kalau kita ditanya ciri-ciri tasnya seperti apa, jelaskan seperti yang saya bilang. Catat!” perintahnya. Lalu dia melanjutkan. “Tas selempang hitam merk Polo. Di dalamnya ada uang 13 juta 8 ratus ribu rupiah. Ada kalung perhiasan emas putih dan kalung mutiara 15 gram beserta suratnya. Nama toko di suratnya Mutiara Indah. Alamatnya Jakarta Pusat. Ada ATM BRI 1 lembar. Resep obat 1 lembar ….”
Setelah menyebut ciri-ciri dan apa yang ada di dalam tas, dia meminta saya mengulanginya.
“Oke, cukup. Kita sudah siap?”
Setelah saya menyanggupi, Iswan melangkah ke ruangan tempat orang-orang itu menahan tas yang dia temukan. Karena telepon tidak dimatikan, saya mendengar setiap langkah kaki Iswan. Entah kenapa suara langkah kakinya terdengar gugup di telinga saya. Mungkin juga karena saya sedang gugup. Setiap tapak sepatunya menyentuh lantai, jantung saya berdebar semakin cepat. Napas saya tak karuan. Padahal saya cukup terbiasa berbohong, tapi tetap saja saya takut ketahuan. Soalnya ini bukan level kebohongan biasa. Ini level kebohongan pejabat. Persekongkolan yang bisa diganjar penjara. Bagaimana kalau mereka tidak percaya? Bagaimana kalau nanti urusan ini dilanjut ke kantor polisi?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya takut. Tapi tiba-tiba saya teringat cerita itu. Sebelum pulang ke Lombok, saya diajak Iswan ikut jadi tim sukses calon bupati. Saya heran dia memilih melawan petahana. Padahal petahana jauh lebih kuat secara finansial. Petahana berani kasih 1 juta per kepala untuk para memilihnya. Tapi Iswan tidak peduli. Dia yakin petahana bakal kalah. Iswan menjelaskan, orang-orang sudah muak sama petahana. Orang-orang maunya putra daerah yang naik. “Dengarkan saya,” lanjut Iswan, “dalam politik dan dalam hidup, kita harus berpegang pada akar yang kuat. Saya ini tidak akan maju kalau tidak yakin akan menang,” ujarnya menasihati. Benar saja, petahana kalah. Setelah itu dia dapat banyak proyek. Mengingat itu, nyali saya tumbuh lagi.
***
“Pak, ini saudara saya yang punya tas mau bicara.”
Iswan menyerahkan HP-nya. Terdengar suara berat seorang lelaki. Dia memperkenalkan diri sebagai Taufik. Saya pun memperkenalkan diri sebagai pemilik tas. Lalu Taufik menjelaskan situasinya. Dia berkata tidak percaya kepada Iswan dan saya. Jika saya benar pemilik tas, seharusnya saya bisa menjelaskan ciri-ciri dan isinya. Lagak sok kuasanya sudah seperti polisi saja. Saya pun menjelaskan dengan sangat lancar. Saya tidak menyangka bisa bicara selancar itu. Saya sampai heran, benarkah saya yang sedang bicara?
“Berapa tadi uangnya?” tanya Taufik.
“13 juta,” ulang saya.
“13 juta saja?”
“13 juta 8 ratus ribu. Semuanya pecahan seratus ribu,” kata saya lantang.
“Memang benar Bapak bisa menjelaskan ciri-ciri tas ini dengan sempurna. Tapi, maaf saja, saya kok masih kurang percaya. Bagaimana saya percaya ada orang yang begitu teledornya meninggalkan uang sebanyak ini? Sudah begitu, tidak ada identitas Bapak di dompet ini.”
Taufik terus saja mengoceh. Saya lantas teringat apa yang tadi dikatakan Iswan. Orang-orang ini setelah mengambil tas itu darinya, berkata uang di dalam sana hanya ada 2 juta. Dan mereka berempat sudah mau bagi-bagi. Mengingat itu saya kesal sekali. Saya pun mengancam jika mereka terus mempersulit, saya akan minta mereka diurus. “Saya ini manajer perusahaan tambang di Moroshi. Saya punya koneksi sama polisi.” Lagi-lagi saya terkejut dengan improvisasi saya. Mendengar apa yang saya katakan, orang-orang itu langsung ciut nyalinya. Nada bicara mereka berubah lunak. Tapi mereka masih tetap tidak percaya. Akhirnya saya langsung tembak saja, “Bapak maunya apa?”
Taufik diam sejenak. Samar-samar saya dengar dia berbisik-bisik dengan teman-temannya. Saya lantas membayangkan dia menutup mulut telepon seraya meminta saran. Lalu dia mulai bicara. “Saya tidak mau apa-apa, hanya kurang percaya saja.”
Saya kesal betul mendengarnya. Saya pun menawarkan langkah terakhir, saya akan kirimkan ucapan terima kasih seperti saran Iswan.
HP diserahkan kembali ke Iswan yang menunggu di luar ruangan.
“Jadi bagaimana penyelesaiannya?”
“Aman, Pak. Mereka percaya.”
“Tidak salah saya telepon kita. Nanti begitu keluar dari sini, langsung saya transfer bagian kita.”
“Santai saja, Pak. Tidak usah repot-repot,” kata saya pura-pura. “Bisa bantu Bapak saja saya sudah senang.”
“Tidak bisa begitu. Ini kalau orang lain saya mintakan tolong, belum tentu kita dapat rezeki langit ini.”
Saya senang sekali mendengarnya.
“Jadi berapa kita kasih mereka?”
“Terserah Bapak saja.”
“Bagaimana kalau yang 800 itu?”
“Kalau itu sekiranya baik, saya ikut saja.”
Setelah itu Iswan mendatangi mereka untuk menyodorkan ucapan terima kasih itu. Taufik dan teman-temannya menolak. Mereka tersingggung. Taufik meminta berbicara lagi dengan saya. Kepada saya dia berkata tidak menerima gratifikasi. “Saya sudah percaya lillahitaalla sama Bapak. Tapi Bapak sekarang malah mau sogok kami. Saya tidak mau hanya karena uang sekecil itu saya dipecat,” kata Taufik. Dia pun menjelaskan di kantornya ada CCTV, ada rekan kerja yang suka iri; dia tidak mau membahayakan pekerjaannya.
Bajingan ini bukan tidak mau uang, cuma tidak mau ketahuan saja!
“Begini sudah. Kalau Bapak memang benar mau berbaik hati ke kami. Bapak cukup belikan pulsa sejumlah itu. Pulsa lebih aman. Tidak terlacak,” ujar Taufik.
Saya pun langsung meminta uang tabungan istri saya sejumlah 800 ribu untuk Taufik dan ketiga temannya. Saya bilang ke istri, nanti saya ganti 4 kali lipat. Tapi nyatanya sampai enam bulan setelah itu, saya tidak juga menggantinya. Nomor Iswan tidak aktif. Nomor Taufik dan teman-temannya juga tidak aktif. Saya dan istri saya kemudian bercerai. Panggilan itu rupanya memang benar berkah. []
Blencong, 2024
*) Kata ganti orang kedua yang digunakan orang Sulawesi, lebih sopan daripada kamu.




