Penulisan sejarah sastra berskala besar pada dasarnya menuntut garis waktu yang panjang sekaligus representatif, namun di tengah gelombang sastra yang disebut over-produktif oleh Rita Felski (2008) dalam Uses of Literature, pekerjaan tersebut kian terasa mustahil. Pembacaan menuntut kedalaman, sedangkan waktu selalu memberikan batasan—apalagi untuk ratusan atau bahkan ribuan karya sastra.
Di tengah kesenjangan inilah digital humanities muncul sebagai jalan keluar—penawaran. Sayangnya, tawaran ini tidak mudah diterima begitu saja oleh para peneliti; pendidik; maupun pemerhati di bidang sastra. Ada kekhawatiran bahwa digital humanities akan menyelewengkan dasar-dasar humaniora yang menonjolkan berpikir kritis, kemudian digantikan dengan cara pandang komputasional.
Mereka meragukan pembacaan yang dilakukan oleh komputer, karena membaca sastra itu mengungkap hal ‘yang tak terlihat’, sedangkan komputer dianggap hanya mengumpulkan hal-hal yang terlihat (dalam jumlah banyak). Sementara itu, pembacaan yang dilakukan oleh komputer menawarkan ruang-ruang kemungkinan yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.
Jika memang saat ini adalah era digital humanities, maka pertanyaan besarnya adalah apakah pembacaan komputasional akan menggantikan pembacaan tekstual?
Pembacaan Komputasional itu Sepele dan Sia-Sia?
Martin Paul Eve (2022) dalam the Digital Humanities and Literary Studies menyebutkan bahwa penggunaan metode digital dalam kajian sastra masih menyisakan perdebatan yang tak kunjung usai. Pengkritiknya menganggap metode digital dalam kajian sastra hanyalah pekerjaan yang sepele dan sia-sia—bahkan ada yang menganggapnya sebagai bagian dari rencana neoliberalisme.
Dianggap sepele karena metode digital ‘hanya’ bisa melakukan pekerjaan yang berupa menghitung jumlah kata, alih-alih kedalaman makna. Sementara dianggap sia-sia karena metode digital tidak bisa memberitahu hal-hal yang belum diketahui. Bahkan Daniel Allington, dkk (2016) dalam A Political History of Digital Humanities mengungkapkan bahwa proyek digital humanities adalah satu di antara rupa lain dari kebijakan neoliberal.
Di era yang telah didominasi oleh industri-industri digital seperti saat ini, kerja-kerja akademik dengan hasil temuan yang bisa segera dimanfaatkan oleh industri (yang dominan saat ini) lebih dihargai. Lebih dari itu, kebijakan neoliberal juga menuntut perguruan-perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dengan kebutuhan komersial era saat ini.
Tidak mengherankan jika perguruan tinggi mulai berlomba-lomba memasukkan digital humanities ke dalam kurikulumnya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Daniel Allington, dkk menyatakan dengan lantang bahwa digital humanities membuat sastra tunduk pada pembacaan komputasional.
Jika pengkritik digital humanities lantang menolak, maka pendukung digital humanities sebaliknya: nyaring bersuara. Pemanfaatan metode digital dalam kajian sastra membuka ruang penulisan sejarah sastra berskala besar sekaligus melampaui kajian-kajian sastra yang terkendala oleh pembacaan berbatas usia. Kritik atas digital humanities yang dianggap sepele karena hanya menghitung jumlah kata dijawab oleh para pendukungnya dengan dalih: karena memang hal sepele, maka yang melakukannya cukup komputer—bukan manusia.
Kendati muncul sebagai tawaran solutif, pembacaan komputasional dalam kajian sastra juga akan dihadang oleh kerikil-kerikil tajam yang menjadi rintangan dalam proses perjalanannya. Karena menjanjikan penulisan sejarah sastra berskala besar, digital humanities membutuhkan pengembangan perangkat lunak yang mampu mewadahi kebutuhan tersebut—dan itu bukanlah hal yang mudah.
Ditambah lagi, kurikulum sastra di beberapa perguruan tinggi Indonesia masih jarang yang menyentuh aspek digital humanities. Belum lagi hambatan-hambatan lain yang bersifat teknis seperti ketersediaan teks digital secara legal dan aspek ‘perawatan’ teknologi yang rawan terserang kejahatan digital.
Jebakan Oposisi Biner antara Digital dan Konvensional
Selama ini agaknya kerja digital dan kerja sastra kerap dipertentangkan, sehingga studi sastra ‘dijebak’ untuk memilih salah satu. Jebakan inilah yang membelenggu kajian sastra untuk memilih antara pembacaan komputasional atau pembacaan tekstual. Jika sudah memilih satu, maka kajian sastra harus membuang (bahkan membunuh) satu yang lain. ‘Jebakan’ ini terus mengejar istilah-istilah turunan selanjutnya seperti kerja teknis vs kerja kritis, distant reading vs close reading, hingga deskripsi vs interpretasi.
Padahal bukankah setiap pasang dari istilah-istilah tersebut tidak selalu saling meniadakan? Misalnya saja pembacaan komputasional yang membutuhkan validasi dari pembacaan tekstual. Artinya, kehadiran pembacaan komputasional tidak pernah mengancam keberadaan pembacaan tekstual karena akurasi data yang ‘didapatkan’ oleh komputer membutuhkan validasi dari manusia yang sebelumnya (atau setelahnya) membaca teks sastra yang dikaji.
Kesadaran ini sekaligus menjawab kekhawatiran Lisa Marie Rhody (2017) dalam artikelnya Beyond Darwinian Distance: Situating Distant Reading in a Feminist Ut Pictura Poesis Tradition tentang ketiadaan membaca saat menggunakan metode komputasional. Hal ini memang menjadi tantangan dalam digital humanities karena kajian sastra dianggap cukup dengan mengandalkan komputer sebagai pengumpul data atau pembuat visualisasi data—sehingga teks aslinya tak pernah dibaca utuh.
Padahal pembacaan komputasional dan tekstual tetap digunakan secara bersamaan untuk menjaga akurasi sekaligus validasi. Jebakan oposisi biner lainnya juga harus dihindari seperti deskripsi vs interpretasi. Kerja komputasional dianggap sekadar deskripsi, sedangkan kerja interpretasi adalah milik pembacaan tekstual. Padahal bukankah interpretasi tanpa deskripsi adalah kegoyahan dan deksripsi tanpa interpretasi adalah pengulangan?
Lalu, Baiknya Bagaimana?
Kerja digital humanities pada dasarnya memberikan kontribusi penting untuk perkembangan studi sastra. Sebut saja penggunaan stylometry untuk mengidentifikasi gaya seorang penulis—bahkan pernah digunakan untuk menemukan penulis dari surat ancaman pembunuhan. Contoh lainnya adalah pemanfaatan visualisasi dengan model digital humanities sebagai upaya untuk memercepat penemuan gambaran awal. Dampak yang paling nyata adalah keefektifan kerja saat melakukan pemetaan perjalanan sastra (misalnya) selama 5 tahun terakhir.
Pada akhirnya, saya lebih bersepakat bahwa digital humanities tidak akan pernah menggantikan posisi pembacaan tekstual—pembacaan komputasional bukanlah akhir dari membaca, tapi awal dari pertanyaan baru. Digital humanities tidak akan pernah menggantikan, tetapi ia membukakan jalan ‘segar’ atas studi lama yang sulit (mustahil) dijangkau karena ‘kebesarannya’. Bukankah seperti itu? (*)





