Tuan Bangau

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Seperti yang biasanya terjadi, orang-orang tidak segera pergi setelah pertunjukan usai. Tenda para penampil segera dikerumuni penonton yang tergila-gila, terutama atas aksi Tuan Bangau.

Ya, dialah satu-satunya yang tersorot lampu, menjadi pusat perhatian, sedangkan penampil-penampil lain seolah mendapat sisanya. Sedikit di antara para penampil yang juga menyambut penonton di bilik pribadi; sekadar menerima foto bersama dan menera tanda tangan untuk penonton. Sebagian yang lain malah tidak menyambut siapa-siapa.

“Lihat Tuan Bangau,” gerutu salah seorang yang tak mendapat seorang pun penggemar. “Padahal apa yang bisa dibanggakan atas penampilannya itu?”

“Santai saja, Bardim. Bayaran kita sama.” Seorang penampil lain, yang juga duduk santai di biliknya sembari menonton bilik-bilik lain dikunjungi penggemar, menyahuti dengan terkekeh.

“Dan tunggu sampai Tuan Bangau menuntut lebih! Bos tak akan peduli meski apa pun yang dituntutnya akan merugikan kita!”

“Kau berlebihan, Bardim. Tidak mungkin Tuan Bangau menyusahkan kita.”

“Lihat saja nanti, Pak Jagung!”

Namun, Tuan Bangau sendiri toh bukanlah orang yang ambisius. Dia bukan burung. “Bangau” hanya julukan yang disematkan bos pemilik sirkus, lantaran tubuh lelaki itu kurus dan sekilas mirip burung bangau.

Tuan Bangau hanyalah orang gagal dalam kehidupan. Beberapa tahun lalu, sebelum bergabung dengan rombongan sirkus, dia pekerja biasa di sebuah pabrik baja. Karena tidak cukup cerdik, dia terdepak oleh konspirasi yang disusun beberapa rekan kerjanya sendiri. Setelah itu beberapa pekerjaan dia lakoni, tetapi Tuan Bangau selalu gagal. Dia selalu pulang dengan harapan esok akan ada pekerjaan baru untuknya.

“Setelah Pak Bos menemukannya, kalau kita mau jujur, sirkus kita kembali ramai, kan?” ucap si penampil yang dijuluki Pak Jagung. “Jangan terlalu cemburu. Kita tahu Tuan Bangau hanya peduli tentang bayaran. Hal yang paling dia takuti adalah mati kelaparan.”

“Mudah bagimu bilang begitu? Kita sejak muda dibesarkan oleh sirkus ini. Tak ada yang lebih berharga selain pujian dan cinta dari para penonton itu!” balas Bardim.

“Kau sudah mendapat itu setelah penampilanmu, Nak. Tidakkah kau dengar gemuruh tepuk tangan tadi?”

“Ah, kau selalu begitu! Kau tak punya pandangan yang jauh ke depan. Kau hanya tahu apa yang terjadi saat ini, bukan apa yang bisa terjadi kelak!”

Selagi obrolan itu berlangsung, Tuan Bangau sibuk meladeni permintaan penonton yang mengerumuninya. Mereka bertanya bagaimana dia bisa menampilkan atraksi berbahaya sekaligus indah seperti tadi. Mereka bertanya bagaimana dia bisa bergabung menjadi anggota sirkus ini. Dan, mereka bertanya apa Tuan Bangau bahagia dengan pekerjaannya.

“Tentu saya bahagia,” kata Tuan Bangau. “Tak ada yang lebih menyenangkan dari membikin orang-orang tersenyum, sementara saya sendiri bisa tidur dengan tenang tiap malam tanpa harus mencemaskan apa-apa. Dan, mengenai atraksi tadi, saya tidak dapat berbicara banyak. Saya tak tahu bagaimana saya bisa menampilkan itu. Saya rasa hanya bakat alam.”

“Wah, Anda benar-benar hebat, Tuan Bangau!” puji seorang penonton, lalu diiringi tepuk tangan penonton-penonton lainnya.

“Saya bergabung ke sini berkat Pak Bos. Beliau angkat saya dari jurang kekalahan. Dan, di sinilah saya sekarang. Saya harap Tuan dan Nyonya sekalian mengucap terima kasih kepada beliau,” kata Tuan Bangau, seraya menunjuk sang bos, seorang pria yang sejak tadi berdiri sendiri di sudut tenda. Tubuhnya gemuk dan tinggi. Dan dia memakai jas yang tampaknya akan mudah robek jika melakukan sedikit saja gerakan mendadak. Para penonton menghampiri untuk menyalaminya. Dia sangat girang mendapat pujian.

“Terima kasih, terima kasih!” seru sang pemilik sirkus itu. “Bila suatu hari nanti kami singgah lagi ke kota ini, kami sangat bahagia atas kedatangan Tuan dan Nyonya untuk menonton!”

“Kami pasti akan datang!”

“Kami menunggu Tuan Bangau!

“Ya, Tuan Bangau luar biasa!”

Seruan penonton tentang Tuan Bangau makin tak terbendung. Setelah hiruk pikuk itu usai, anggota sirkus bersiap untuk tidur malam sebelum esok paginya pergi dari kota ini. Malam berlangsung begitu memuakkan bagi penampil yang cemburu seperti Bardim, tapi tak banyak yang seperti itu.

“Semua akan berlalu. Di kota berikutnya boleh jadi kau yang menjadi pahlawan,” hibur Pak Jagung.

Bardim mendengus pendek.

“Kita yang tak mendapatkan pujian hanya akan melihat sebuah kota sebagai tempat biasa yang akan terlupakan.” Pak Jagung kembali berkata. “Namun, bagi penampil yang dipuja-puji seperti Tuan Bangau, kota seperti ini akan jadi tempat tujuan yang didamba. Betapa membosankan kehidupan di belakang layar dalam kelompok sirkus. Betapa sepi dan murung jika sehari saja berlalu tanpa digelar pertunjukan. Menjumpai orang-orang yang mencintai dan memujamu, adalah surga lain yang mungkin bisa seorang penampil temukan. Dan begitulah yang Tuan Bangau kini pikirkan.”

“Dan kau sama sekali tidak mengharapkan itu?” Bardim, yang tampak sedikit lebih tenang, menatap Pak Jagung penuh rasa ingin tahu.

Pak Jagung hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai. “Segala apa yang kita terima dan tidak kita terima telah ditentukan oleh langit.”

“Kau selalu bisa mencari cara untuk memengaruhi orang, Pak Jagung.”

“Aku hanya tak mau kau berbuat hal-hal buruk, Nak.”

Mendengar itu, Bardim cuma terdiam.

***

Tuan Bangau sendiri tak merasa apa yang terjadi hari itu adalah suatu kesalahan. Dia hanya ‘bekerja’ dengan sebaik mungkin dan penonton menyukainya dan sebatas itu. Dia senang memperoleh perhatian, diperlakukan selayaknya seorang seniman besar. Dia orang paling baru di antara anggota sirkus, tapi seolah-olah dia yang paling berharga. Dia kira semua anggota sirkus lainnya akan mencintainya karena sebelumnya sirkus mereka tak pernah ramai pengunjung. Sejak kedatangannya, sirkus mereka selalu menjual habis semua tiket.

“Kau tahu segalanya akan berbeda setelah ini, bukan?”

Suara itu mengagetkan Tuan Bangau saat dia sudah akan memejamkan mata, bersiap tidur. Lekas dia nyalakan lampu meja dan mendapati Pak Bos berdiri di depan pintu biliknya yang hanya terbuat dari kain kelambu.

“Eh, Pak Bos? Ada yang mau Anda sampaikan?”

“Sebenarnya, ya, memang ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Sudah saatnya. Tidak bisa ditunda lagi.” Lelaki gendut itu menarik napas panjang, menghelanya selagi dia memasuki bilik Tuan Bangau.

Tuan Bangau memberikan tempat duduk untuk sang bos dengan menggeser pantatnya sendiri ke sudut ranjang.

Pak Bos berujar dengan suara yang nyaris seperti bisikan, “Bardim tak menarik lagi. Kau tahu beberapa kota kita lewati, tapi seolah bukan dia bintangnya.”

“Kota sebelumnya bukankah dia dipuja-puji, Pak Bos?”

“Kau tak mengamati seluruh bagian tenda, Tuan Bangau. Pujian dari kota itu hanya segelintir. Itu pun karena mereka tak punya cita rasa bagus.” Pak Bos menjeda, lalu terkekeh getir seakan mengakui suatu kebodohan yang lama dia pendam dalam kepalanya. “Harus kuakui, aku agak payah dalam mencari bakat. Termasuk ketika aku yakin dialah orang yang tepat.”

“Bardim orang yang sangat berbakat, Pak.”

“Ya, aku tahu. Aku tahu. Dia berbakat, tapi tidak lagi di sirkus kita. Kurasa Bardim akan meraih suksesnya di tempat lain,” ujar Pak Bos tanpa mau berbasa-basi lagi.

“Maksud Pak Bos?”

“Ya, Bardim sudah saatnya kulepaskan. Dia sudah tak memenuhi standar sirkusku. Lihatlah setiap dia tampil: tak pernah terlihat tulus. Selalu mengeluhkan ini-itu. Selalu menggerutu di belakangku. Bahkan dia sering membicarakan hal buruk tentangku secara diam-diam.”

“Pak Bos, saya kira tuduhan itu tidak benar.” Tuan Bangau tampak tak percaya.

“Hei, Nak. Aku punya telinga dan mata di banyak tempat.” Sang bos terkekeh. “Di sirkus ini siapa yang memegang wewenang penuh selain diriku? Tidak ada. Dan, karena itu, seluruh rasa suka sekaligus kebencian hanya akan tertuju padaku. Aku tak tahu apa kau pernah mendapat omongan buruk itu dari Bardim. Tapi, aku tahu beberapa penampil mendapatkannya. Bagaimanapun dia sudah tak layak di sini. Setitik racun akan merusak seluruh susu di dalam wadahku. Aku tak mau sirkusku hancur karena dia.”

Tuan Bangau hanya tercenung mendengar itu.

“Kau tak perlu khawatir. Aku memberi tahu kau tentang ini bukan karena apa, Tuan Bangau. Namun, kurasa kaulah yang paling cocok untuk menggantikan posisi si Bardim itu sebagai maskot kita semua,” ucap Pak Bos dengan bangga.

“Apa?!”

“Ya, kau tak salah dengar.” Pak Bos terkekeh sekali lagi. “Kaulah yang akan duduk di antrean terakhir; sang maskot yang akan menutup pertunjukan dengan tepuk tangan meriah dari para penonton!”

“Saya … saya tak tahu harus bilang apa, Pak Bos. Tapi, bukankah ada lebih banyak kawan lain yang lebih pantas?”

“Tidak, tidak. Kaulah yang pantas untuk saat ini, Tuan Bangau. Percayalah, aku tak akan salah. Setelah ini sirkus kita akan kehujanan uang. Dan demi Tuhan aku tak bakal membeli apa-apa selain meningkatkan fasilitas untuk kalian semua! Ya, karena kalianlah orang-orang yang mendukungku. Tanpa kau dan penampil lainnya, Tuan Bangau, apalah yang bisa kukerjakan.”

Tuan Bangau tak bisa menanggapi kalimat itu. Jika sang bos berkata ‘begitu’, maka memang ‘begitu’ pulalah yang mesti terjadi dan dijalankan.

***

Hanya saja, pagi yang murung, saat rombongan sirkus itu hendak melanjutkan tour ke kota berikutnya …

Seseorang berlari pontang-panting, berseru ketakutan, “Tuan Bangau mati!”

Sebentar saja, tenda para penampil dipenuhi anggota sirkus.

“Tuan Bangau dibunuh!” teriak orang itu lagi. “Tuan Bangau dibunuh!”

“Apa kau bilang?!”

“Tubuhnya penuh luka tikaman! Ada yang membunuh kawan kita! Aduh, Tuhan! Ada yang membunuh kawan baik kita!” teriak orang itu lagi dengan pilu.

Dalam bisunya, Pak Jagung melempar jauh tatapan ke seberang kerumunan, yang mana saat itu seorang Bardim berdiri dengan tenang dan dingin. Sejenak mereka saling bersitatap, tapi tak ada yang mereka katakan. Tak perlu sebaris suara untuk menjadikan penyebab kematian Tuan Bangau menjadi jernih.

Maka, pagi yang murung itu, mereka tak jadi pergi. Pak Bos meraung-raung demi kematian maskot barunya. Sampai polisi tiba kemari, sampai detik itulah Bardim punya waktu untuk memikirkan bagaimana cara agar orang-orang tak menangkapnya. []

Gempol, 2024—2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top