Pada mulanya adalah sekelok sungai. Sungai menjadi jalan,
dan jalan bercabang ke seluruh dunia.
Karena berasal dari sungai maka jalan itu selalu lapar.
— Ben Okri, The Famished Road (1991)
Di bekas hutan ulayat Talang Mamak yang sudah disulap menjadi perkebunan kelapa sawit, jika kita masuk menyusuri seruas jalan ke dalam rimbunan palem raksasa itu, maka kita akan segera bertemu simpang demi simpang, bersilangan, tak ubahnya di tengah kepungan beton kota antah-berantah. Kau bisa tersesat berputar-putar, tanpa petunjuk arah, dan terlebih semua serba seragam; ya, pohon-pohon betonnya, ya kanal-kanal paritnya…
Begitulah yang saya alami di kawasan masyarakat adat Talang Mamak, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Sepanjang tahun 2023-2025, saya datang untuk kerja-kerja lapangan dan pendampingan. Mulai penelitian atas terancamnya padi ladang, melihat bagaimana warga bertahan di tengah gempuran sawit, mengupayakan mata pencarian (livelihood) alternatif melalui pelatihan batik dengan menggali motif setempat, hingga penguatan literasi dan liputan jurnalisme sastrawi.
Desa Talang Sungai Parit tempat saya tinggal, sebenarnya tidak terlalu jauh “masuk ke dalam” dari jalan raya Rengat-Teluk Kuantan. Hanya sekitar 25 km saja dari Air Molek, Ibu Kota Kecamatan Pasir Penyu, kota paling ramai di jalur itu.

Masyarakat adat Talang Mamak tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu. Selain di Rakit Kulim, mereka ada di Kecamatan Rengat Barat, Batang Gangsal, Batang Cenaku dan Kelayang. Sisanya di Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi.
Mereka bermukim di desa sepanjang aliran sungai. Di Kecamatan Rakit Kulim misalnya, ada 15 desa mayoritas Talang Mamak, antara lain Talang Sungai Limau, Talang Perigi, Talang Gadabu, Talang Durian Cacar, Talang Sukamaju, Talang Tujuh Buah Tangga, Lubuk Sitarak, Talang Salantai, dan Talang Sungai Parit tempat saya beraktivitas.
Zulyani Hidayah dalam Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (1997) mencatat bahwa kata talang berarti ladang, merujuk kehidupan mereka sebagai peladang di kawasan Pegunungan Bukit Tiga Puluh. Mamak berarti ibu. Jadi Talang Mamak artinya ladang milik ibu atau pihak ibu. Mereka memang menganut sistem materilinial karena pengaruh Datuk Perpatih nan Sabatang dari Pagaruyung (1997: 253).
Sebenarnya jika dihubungkan dengan Minangkabau, mamak itu bukan berarti ibu. Mamak merujuk sosok laki-laki tertua dalam keluarga dari pihak ibu. Jadi mungkin lebih tepat ladang milik pihak ibu yang dijaga oleh para mamak.
Membawa Pikiran Keliling Kampung
Sebuah perjalanan tak terlupakan pernah saya lakukan dengan menyusuri kawasan Talang Mamak di sekitar Rakit Kulim, mulai dari Talang Sungai Parit, Talang Sungai Limau, Talang Gedabu, Petonggan, dan Talang Perigi. Saya menyusurinya dengan naik motor tua antik milik Ifit, anggota Taji Talang Parit, kelompok pemuda setempat di mana saya jadi pendamping. Motor jenis “pitung” itu dimodifikasi oleh Iffit yang memang hobi utak-atik dunia otomotif.
Dari perjalanan berkeliling “membawa pikiran” itu, saya melihat langsung realitas sekitar, terutama terkait infrastruktur dan efek sawitisasi. Sembari itu, saya juga melihat kekayaan alam kawasan Talang Mamak dari berbagai lapisan.

Mula-mula saya pergi ke Dusun Dua, dusun terujung Desa Talang Sungai Parit. Sebagian kecil dusun ini berada di jalan aspal, di mana masjid dan kantor kepala desa terletak. Tapi lewat sedikit dari masjid, jalan segera berganti tanah liat. Hanya lebih lebar dan tidak terlalu licin sebab ada tebaran kerikil-kerikil kecil yang tampaknya sisa pengerasan jalan makadam.
Di sudut rawa bersemak, saya lihat sebuah pipa angguk tidak bergerak lagi. Pipa sejenis, bisa dilihat di Duri, dekat Dumai, juga di Minas, tak jauh dari Air Molek. Sejumlah tangki penampungan minyak berwarna hitam dan putih perak terletak di samping kantor Pertamina. Inilah kompleks eksplorasi minyak Hulu Kampar yang beroperasi sejak zaman kolonial.
Saya berdecak kagum atas besarnya potensi kawasan Talang Mamak ini. Punya minyak bumi yang ditambang sejak tahun 1930-an, ada perkebunan karet sejak masa Hindia-Belanda, dan tentu juga hutannya yang ditebang sejak tahun 1970-an atas nama HPH rezim Orde Baru. Kini berganti hamparan perkebunan kelapa sawit atas nama HGU yang diberikan rezim Orde Terbaru (Reformasi?) kepada perusahaan-perusahaan oligarki.
Minyak bumi terus ditambang. Meski ada pipa angguk yang sudah berhenti mengangguk, namun masih banyak mesin penyedot beroperasi di titik lain. Dulu minyak dialirkan pipa sampai ke Batu Gajah, kini dijemput truk tangki Pertamina alih-alih memperparah kondisi jalan. Pendek kata, kekayaan sumber daya alam tak mengubah kampung jadi lebih sejahtera.

Dalam novel Dokter Rimbu (1979) karya El-Hakim (Abu Hanifah), ironi semacam ini juga tersua. Berlatar masa kolonial di Indragiri (waktu itu, afdeling Indragiri meliputi Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan Kuantan, sekarang Kabupaten Kuantan Singingi atau Kuansing). Tokohnya, dr. Hakam, seorang dokter idealis yang turun ke desa-desa tengah hutan. Ia lewati jalan setapak, sungai dan rawa demi menemui pasien-pasiennya, terutama saat berjangkit pendemi malaria yang disebut demam kuro. Karena itulah ia digelari “Dokter Rimbu” alias dokter hutan-rimba. Dari proses “turba” itu, dr. Hakam melakukan refleksi atas lapis kekayaan Indragiri:
Orang-orang asing dari luar cukup mengetahui kekayaan tanah ini dan mereka berusaha mengeruk kekayaan bumi seperti minyak dan emas, lama-kelamaan akan merobah suasana daerah ini. Yang akan kaya tampaknya bukanlah penduduk asli. Tetapi hari depan itu masih lama rupanya, melihat senangnya serta tenangnya hidup orang kampung. Mereka baru akan bekerja agak keras kalau akan mengadakan kenduri, atau kalau ada pengantin yang akan bersanding atau menghadapi hari Raya atau lebaran. Sebelum dan sesudah itu hidupnya berlalu dan meluncur dengan tenang dan tenteram setiap hari. Kekuatan bumi di situ adalah pula kekuatan dan kelemahan penduduk. Inilah yang terpikir oleh dr. Hakam ketika ia berkecimpung di air sungai yang sejuk serta jernih itu (1979: 63).
Ya, saya pun bersaksi bahwa lapisan sumber daya alam Indragiri kaya sekali. Setidaknya terlihat di kawasan Talang Mamak, suku tuha yang seharusnya lebih berhak atas kekayaan itu. Dari emas hingga migas, dari kayu hingga komoditas; dulu karet, kini sawit.
Di Riau, kelapa sawit dalam skala kecil kemungkinan sudah ada sejak zaman Belanda atau Jepang. Dalam novel Dan Perang pun Usai (1979) karya Ismail Marahimin disebutkan pemakaian lampu minyak sawit oleh masyarakat Teratak Buluh, Kampar. Cerita mengacu pada sejarah pembuatan rel kereta api Sawahlunto-Pekanbaru dengan mengerahkan tenaga romusha.

Dalam adegan hubungan gelap antara Kliwon, seorang romusha, dengan Siti, istri pemilik warung, disebutkan demikian: Pelita minyak kelapa sawit di atas meja dagangan berkelip-kelip menyaksikan kisah asmara mereka yang terjadi begitu saja, tanpa pendahuluan yang berarti, dan tanpa permainan akhir yang mesra (1977: 69). Begitu pula saat menggambarkan hubungan Letnan Ose, komandan romusha, dengan Satiyah, pembantunya dari Jawa: Di atas meja pendek di kamar depan masih menyala pelita minyak kelapa sawit dan di dekatnya terlihat piring-mangkok bekas makan Letnan Ose (hal. 72).
Sawit dikembangkan Belanda secara massal di Deli tahun 1911. Setelah sebelumnya, 1848, empat batang bibit dari Afrika Barat berhasil hidup di Kebun Raya Bogor. Tahun 1856 pernah diuji coba di Banyumas, dan tahun 1869 di Muara Enim.
Dalam politik perkebunan, komoditi yang disambut pasar akan dikembangkan lebih lanjut. Kadangkala mencapai titik jenuh, seperti tembakau Deli tutup buku karena over-produksi. Karet yang lebih dulu diminati pasar, menyebar cepat di sabuk perkebunan Sumatera. Sawit yang mendapat lampu hijau dari pasar Eropa, terus dikembangkan di Aceh Tamiang, Pasaman, Bengkulu dan Riau. Namun belum bisa menandingi eksistensi kelapa atau kopra. Selain itu, karet juga masih belum merasa perlu diganti sepanjang harga tak terpuruk-puruk amat.
Mendekati era pasar bebas, pemerintah dan investor seperti sadar bahwa kopra terlalu sulit dijadikan andalan komoditi massal. Maka percepatan, jika bukan perpacuan, segera dilakukan dengan meniadakan eksistensi kelapa. Kita tentu ingat kampanye minyak kelapa yang disebut tidak sehat karena mengandung kalesterol. Minyak kelapa pun susut dan pasarannya surut.
Tapi kini terbukti bahwa kelapa punya produk tak ternilai, coconut oil, yang ternyata amat baik buat kesehatan. Kampanye melemahkan pasar komoditi ini sama persis yang dialami tembakau, bahan utama pembuatan kretek (produk khas dalam negeri yang setara, jika bukan melebihi, cerutu Kuba). Tembakau dianggap tak sehat, dan biasanya sepaket dengan kampanye anti-rokok; namun seiring dengan itu produk rokok putih dari luar mengalir masuk ke pasaran.

Di Dusun Dua, banyak rumah beton dan warung besar, boleh jadi langganan orang kebun. Sebab di sini lahan sawit masyarakat sangat luas. Warga Dusun Dua juga banyak sebagai PNS, wiraswasta, perangkat desa, dan karyawan perusahaan. Bahkan jumlah warga yang berprofesi sebagai karyawan perusahaan hampir menyamai Dusun Empat yang memang terbentuk dari kompleks karyawan PTPN V. Sebagian besar penghuni Dusun Dua adalah etnik Melayu dan Jawa—artinya profesi-profesi “mentereng” itu tak terkait dengan puak Talang Mamak.
Jalan yang saya tempuh terhubung dengan Desa Talang Sungai Limau dan desa-desa lain arah ke Belilas, di Jalan Lintas Timur Sumatera. Belilas, ibu kota Kecamatan Siberida yang berkembang pesat seolah menggantikan Air Molek yang mulai stagnan. Kebun perusahaan, seperti PT INECDA dan PT Mega, terletak lebih jauh lagi di kedalaman sana.
Di depan mata saya kebun sawit milik penduduk. Itu konsekwensi mengikuti langgam komoditas yang laku di pasaran dunia. Mereka buka lahan sawit, seturut perusahaan, sebagian mengonversi lahan karet. Artinya, berkebun sawit merupakan keniscayaan, karena kali ini sawitlah yang kebagian pulung keberuntungan.
Meski itu juga tak mudah. Pabrik olahan sawit yang dijanjikan ikut menampung hasil panen petani sekitar, tak selalu benar. Pihak perusahaan mesti mendahulukan pengolahan buah tandan segar panenan kebun sendiri. Petani dan pengumpul putar otak mencari selisih harga dengan pabrik lain. Putar otak sekaligus putar setir ini menambah waktu beserta bahan bakar kendaraan. Ternyata selisih harga jual pun tak menggembirakan, bahkan tak jarang tekor sebab sesampai di tempat yang dituju harga sudah berubah. Fluktuasi harga sangat cepat dan riskan.

Di sisi lain, perusahaan perkebunan, sebagaimana perusahaan kayu, termasuk royal membuka jalan. Jalan-jalan ini memang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berbagai keperluan, bahkan bisa berkembang menjadi jalan yang ditingkatkan status dan kapasitasnya. Misalnya saja jalur Siak-Pelalawan-Jepura, bukankah awalnya merupakan jalan perusahaan kayu, yang sekarang justru menjadi bagian Jalan Lintas Timur Sumatera?
Tapi di sisi lain, itu mendatangkan resiko, seperti menjadi jalur pencurian kayu ilegal, pembabatan hutan dan pembukaan lahan serampangan. Termasuk munculnya pemukiman baru di kawasan yang belum terpetakan. Misalnya di Taman Nasional Tessa Nilo, Pelalawan. Karena jalan-jalan tersebut umumnya dibutuhkan secara sporadis, seperti saat membuka lahan atau saat panen, maka kebanyakan tak ada perawatan apalagi peningkatan kapasitas.
Sementara masyarakat sekitar, baik pemukim lama maupun baru, terlanjur tergantung pada keberadaan jalan-jalan tersebut, sehingga mau tak mau harus tetap memanfaatkannya sekalipun keadaannya dari waktu ke waktu semakin rusak, runyam dan memprihatinkan. Masyarakat pun terbenam dalam infrastruktur semu jika bukan kamuflase yang menyengsarakan.
Hal ini mengingatkan saya pada cerpen Wildan Yatim, “Jalur Membenam” (1977), berlatar masa karet booming di Pasaman. Apa daya, ketimpangan pembangunan pusat-daerah, membuat infrastruktur jalan raya hancur—memicu lahirnya PRRI. “Emas putih” tak terangkut. Truk-truk bagai tak sanggup membawa hasil panen ke tempat penampungan di Talu, Rao atau Lubuksikaping. Untunglah waktu itu Pelabuhan Sasak masih aktif, sehingga dari pelabuhan rakyat itu karet diangkut kapal ke Padang, tempat harga lebih bersaing.
Motor Tua yang Terperosok

Masyarakat adat Talang Mamak di Kecamatan Rakit Kulim tak terlepas dari situasi di atas. Jika kita masuk lebih jauh menyusuri seruas jalan ke dalam rimbunan kebun sawit, akan kita temukan simpang demi simpang bersilangan. Menunjukkan masifnya pembukaan kebun sawit.
Tapi banyaknya jalan tidak menjamin mutu dan kapasitasnya, malah menyulitkan perawatan karena tak ada skala prioritas. Bahkan sulit dibedakan mana jalan utama dan mana jalan sekunder. Akibat lebih jauh, jalan antar kampung dan penghubung ke “dunia luar” seperti ke Air Molek atau Belilas, praktis tak terawat. Bahkan jalur ke pusat kecamatan Rakit Kulim di Talang Perigi tak ubahnya kubangan gajah.
Setelah puas berputar-putar di Dusun Dua, saya menuju kawasan Talang Gedabu. Tapi tak jauh dari rumah Pak Batin Irasan dan Pak Dukun Marusi (Batin dan Dukun adalah pucuk pimpinan dan perangkat adat), jalan ditutup karena ada pernikahan anak Pak Haji Melayu. Sudah tiga hari, dan pada malam terakhir akan ada penyanyi organ tunggal dari Padang. Jika saja ia kalangan Haji Ambun—artinya orang Talang Mamak pemeluk ajaran Islam Langkah Lama—dapat dipastikan akan ada ritual begawai (tradisi adu ayam) entah berapa hari lamanya.

Saya melipir melewati rumah perhelatan itu diikuti dentam sound system menembakkan lagu pantai timur. Di jembatan Sungai Ekok, perbatasan Talang Sungai Parit dan Talang Gedabu, saya berhenti sejenak. Memandang alur sungai yang keruh dan kebun karet merana di tepinya. Kawanan monyet melompat dari dahan ke dahan.
Di Talang Gedabu, banyak bermukim orang Batak dan Nias. Satu-dua gereja tampak dalam tahap pembangunan. Di sebuah warung makan Jawa, saya berhenti istirahat. Pemilik warung bertanya mau ke mana, dan ketika saya sebut mengikuti saja ujung jalan, ia bergumam,”Berarti ke Pasar Petonggan. Tapi, jalannya rusak, paling parah dekat kantor desa,” kata si bapak.
Saya turuti saja kemauan hati tanpa memedulikan titik rusak dimaksud. Saya terus memacu sepeda antik Iffit, sampai akhirnya tiba di jalur lumpur. Seorang memberi petunjuk jalan alternatif ke dalam kebun sawit. Saya mengikutinya, dan saat itulah saya memasuki “jalur-jalur membenam” tak terperikan. Saya berputar-putar lama dan motor terperosok berkali-kali.
Jalan Memutar yang Gagal
Saya sampai di Pasar Petonggan dengan pakaian penuh lumpur. Memaksa saya berhenti di warung makan depan pasar, meminta air yang dialirkan dari slang untuk membersihkan badan. Sekalian saya pesan nasi dan makan, sambil berpikir pulangnya tidak lagi melalui Talang Gedabu. Entah bagaimana pikiran saya menyatakan bahwa letak Pasar Petonggan sejajar dengan titik Pasir Bongkal. Jadi jika jalan menuju Batu Sawar, saya pikir, saya bisa memutar langsung ke Pasir Bongkal, dan terus pulang ke Talang Sungai Parit.
Selesai makan saya pacu motor ke arah Batu Sawar, tapi sampai melewati jembatan di atas sungai Indragiri, tak ada tanda-tanda bertemu Pasir Bongkal. Akhirnya saya berhenti membeli pertalit sambil bertanya arah jalan yang sebenarnya.
“Bisa saja Masnya ikuti jalan ini, nanti akan ke luar di Air Molek. Nah, untuk ke Talang Parit, melewati Batu Mandi yang sedang banjir. Selain jauh, jalannya juga tak bisa dilewati,” laki-laki penjual minyak eceran itu membeberkan jalur yang bisa saya tempuh.
Wah, saya kaget sendiri! Sebab itu sangat jauh, dan tak ada jaminan bocay masih beroperasi! Bocay adalah sebutan untuk kapal penambang emas di Batang Kuantan atau Sungai Indragiri. Karena ada jalan terendam banjir, ia beralih fungsi jadi fery penyeberangan. Tapi waktu beroperasinya terbatas, bisa-bisa saya menginap di Air Molek dengan pakaian berlumpur!
Maka terpaksalah saya memutar kembali ke Talang Gedabu dengan kondisi menyedihkan: lelah dan kedinginan. Saya tak konsentrasi ketika kembali menempuh jalan rusak. Apalagi ada strategi menempuh jalan rusak begini. Bagian yang dianggap dangkal karena tak banyak dilalui kendaraan, itu justru bagian terdalam karena lumpurnya mengendap. Begitulah, saya ambil jalur tepi yang saya kira dangkal. Ternyata benar, lumpurnya menyergap roda motor!
Motor antik Iffit tenggelam, dan dengan rasa bersalah karena membuat motor cantik itu menderita, saya berjuang membongkarnya. Berhasil, tapi rantainya terkunci, padahal giginya sudah normal. Lama saya mengutak-atiknya. Gagal. Gerimis mulai menitik, dan saya melihat hamparan jalan rusak terbentang tanpa harapan di depan mata.

Untunglah, tak jauh dari situ ada sebuah bengkel kecil. Tapi pemiliknya ada acara syukuran anak. “Acara turun mandi,” kata si pemilik, lelaki Melayu. Saya tunggu acara selesai. Setelah itu, tukang bengkel membuka tromol rantai, dan mendapatkan tumpukan lumpur. Membuat rantai tak mau bergerak. Setelah perbaikan selesai, urusan kembali kepada jalan yang rusak.
Di depan saya sepeda motor lain tampak lebih payah. Bahkan ada satu sepeda motor tua dengan barang pecah-belah di sadelnya, mungkin tukang mindring, terperosok. Hening. Mati langkah. Saya sendiri tak berdaya menolongnya karena dalam kondisi sama. Akhirnya saya panggil dua pemuda yang lewat. Mereka membantu “mengevakuasi” kendaraan kami.
Dalam kasus kerusakan jalan, seperti dalam contens youtuber, sering muncul komentar minor bahwa itu jalan perkebunan; tanggung jawab perusahaan memperbaikinya. Jika dilihat lokasi jalan yang kiri-kanannya penuh sawit, netizen punya alasan menggeneralisasi statusnya. Tapi sawit sama-sama ditanam perusahaan dan masyarakat sekitar, sehingga latar sawit tidak serta-merta merujuk “milik perusahaan”.
Masifnya (atau obsesifnya?) penanaman sawit, membuat lahan sepanjang jalan utama, bahkan halaman rumah penduduk, penuh sawit. Artinya, sawitlah yang justru “mendatangi” jalan utama, yang beresiko generalisasi seperti dalam hal tanggung jawab perbaikan. Padahal boleh jadi yang rusak itu memang infrastruktur umum yang ada sebelum sawit ditanam.
Kondisi di kawasan Talang Mamak, terepresentasikan dalam pembuka novel Ben Okri, The Famished Road, sebagaimana saya cuplik di atas. Kalimatnya sangat impresif menggambarkan muasal sebuah jalan.“Pada mulanya adalah sekelok sungai. Sungai menjadi jalan, dan jalan bercabang ke seluruh dunia. Karena berasal dari sungai maka jalan itu selalu lapar.”
Sungai-Sungai yang Terkubur
Kawasan Talang Mamak Rakit Kulim punya banyak sungai kecil, selain sungai utama yang di hulu, dari perbatasan Sumbar hingga kawasan Teluk Kuantan, bernama Batang Kuantan. Di hilir, mulai di Cerenti, dinamai Sungai Indragiri hingga bermuara di Tembilahan.
Peta tahun 1930-an menunjukkan aliran sungai-sungai kecil bersifat sentripetal menuju sungai Indragiri: Sungai Sirih, Sungai Lubuk Batuan, Sungai Paya Kaca, Sungai Lubuk Panjang, Sungai Limau serta Sungai Parit sendiri yang nama desanya dinisbatkan dari sini. Sungai-sungai itu sumber penghidupan masyarat; menyediakan kebutuhan pokok berupa aneka ikan, kebutuhan air, dan kanal alami penjaga lahan gambut tetap normal.
Sungai itu kanal nafas bagi lahan gambut. Juga jalur sampan dan rakit pengangkut kebutuhan dari dan ke Sungai Indragiri. Dari sungai besar itu, bisa lanjut ke laut atau selat, sebagaimana cerita asal-usul nama Rakit Kulim. Konon, leluhur Talang Mamak dulu berlayar naik rakit kulim (kayu ulin) menuju Melaka menjemput Narasinga dan memintanya bertahta di Rengat Lama. Makamnya masih diziarahi di Menduyan, dekat Jepura. Dan tradisi Menjelang Rajo masih terus dilakukan pada setiap Hari Raya. Para tokoh adat datang bersampan (kini via jalan darat) membawa persembahan hasil bumi kepada raja di istana Rengat.
Pemukiman awal Talang Mamak di sini sebenarnya di tepian sungai Indragiri, dengan nama Benua Awan. Ketika mulai terdesak pendatang, tanpa ribut-ribut mereka pindah ke hulu sungai-sungai kecil di sekitar hutan ulayat. Tapi kedatangan para pembuka kebun sawit, dengan mesin, bibit, buruh, dan pabrik, membuat mereka tak berkutik.
Dulu, ketika memutuskan “menyingkir” dari tepian Indragiri sampai melewati tapal batas Pasir Bongkal, orang Talang Mamak melakukannya dengan kesadaran menggarap hutan ulayat. Mereka tak bisa dianggap mengalah atau kalah, karena interaksi dengan kampung-kampung yang dihuni para pendatang berjalan wajar. Ziarah ke makam Patih Besi, leluhur mereka di desa asal, masih rutin dilakukan. Tempat-tempat keramat masih terjaga. Bahan ritual yang bersumber dari hutan mudah didapat karena lingkungan terawat.
Kini jalur sungai terlanjur ditinggalkan, karena dianggap kurang aksesible, lenyapnya tradisi bersampan atau berakit, dan air sungai itu sekarang sudah susut dangkal. Sungai-sungai kecil pun hilang tertimbun pembukaan kebun atau berubah menjadi parit sawit.
Ketika Belanda membuka perkebunan karet pada tahun 1920-an dengan mendatangkan buruh dari Jawa, orang Talang Mamak masih belum merasa mendapat gempuran keras. Mereka sendiri setahap demi setahap belajar dan kemudian ikut menanam karet yang wujud “fasadnya” juga serupa pohon hutan. Hutan ulayat dan tanah adat juga masih luas.

Gempuran pertama agak keras mungkin mulai dirasakan ketika tahun 1970-an perusahaan kayu merangsek. Puncaknya tahun 1980-an saat sawit ikut ambil bagian. Namun itu mungkin juga masih belum terlalu mengagetkan karena pembukaan lahan sawit masih boleh dikatakan terbatas dan lokasinya masih jauh di sekitaran Belilas.
Memasuki 1990-an, sawit digelontorkan besar-besaran, menghabiskan lahan nyaris serentak. Caranya adalah dengan membakar lahan. Hutan yang sudah ditebangi, diumpankan kepada api supaya segalanya jadi mudah. Membuat kabut asap menggayuti langit Sumatera hingga negeri tetangga—mereka menyebutnya jerebu. Tuan dan Puan di Singapur dan Malaysia, boleh menyumpah, tapi ketahuilah, investasi besar berasal dari semenanjung juga.
Celakanya, yang tertuduh penyebab kabut asap adalah peladang tradisional Talang Mamak. Mereka memang mengandalkan api dalam berhuma, tapi bukan membakar membabi-buta. Mereka punya aturan ritual, tahap demi tahap, dengan mantra-mantra dan tata cara amat terjaga. Justru bertolak belakang dengan cara kerja perusahaan yang serba mudah dan cepat.
Sampai sekarang, masyarakat adat dipersekusi dengan tuduhan itu, sehingga menghalangi mereka bertanam padi ladang. Bagi yang kedapatan menyalakan api, sekalipun dalam koridor tata cara adat, akan ditangkap. Para polisi sekitar dilengkapi alat satelit pemantau asap, mengincar peladang padi. Padahal pula, padi ladang bagi masyarakat Talang Mamak sesuatu yang krusial, bukan saja sumber pangan, juga syarat dalam ritual-ritual adat.
Bagaimana instannya cara kerja perusahaan, dapat disimak dari cerita Pak Dukun Marusi. Pada awalnya ia hanya mendengar sayup-sayup ada kebun dibuka jauh di Belilas. Ia dan masyarakatnya tenang-tenang saja karena merasa hutan adat mereka tak akan terjangkau.
Barangkali mereka berpatokan pada tanaman karet yang ekspansinya terbilang lambat, dan terbukti sepanjang masa jayanya, karet tak sampai menghabiskan semua hutan. Bahkan PTPN V tak lagi melakukan penetrasi sejak masa akhir kolonial. Sawit lain. Tiba-tiba saja dalam waktu singkat lahan sawit telah sampai ke batas ulayat mereka dan meluas ke mana-mana!
Semua orang tercengang. Pak Dukun tercengang lebih-lebih. Bayangkan, suatu hari ketika ia datang ke kebun karet miliknya di kawasan Danau Tiga, ternyata kebun karet yang baru ia datangi seminggu sebelumnya itu sudah tidak ada! Ke mana?
“Habis dibabat perusahaan,” jawab Pak Dukun dengan nada tertahan. Empat hektar kebun karetnya ludes ditebangi eksevator milik investor!
Orang Talang Mamak terdesak. Mundur kena, maju kena. Mundur tak mungkin sebab pemukiman awal sudah jadi kampung orang non-Talang Mamak. Maju mustahil sebab hutan ulayat sudah berganti kebun perusahaan dengan batang pelepah berduri.
Itu barisan raksasa bukan hutan, sekalipun sekelompok akademisi dari Universitas Gajah Mada mencoba merumuskan bahwa sawit adalah hutan. Kritik tajam datang dari banyak kalangan. Sawit lebih tepat disebut hantu monokultur. Karena itu, sebutan sawit secara etimologis dekat dengan istilah sawitan di Jawa, yang artinya seragam.

Tania Li dan Pujo Semadi menyebutnya “para raksasa”, tempat di mana masyarakat adat dan warga periferal terpaksa hidup di antara mereka. Hidup di Antara Para Raksasa, demikian judul buku mereka yang terbit baru-baru ini.
Jadi kelapa sawitlah yang mendatangi jalan-jalan alami orang Talang Mamak, jalan-jalan setapak ke huma, kebun, antar dusun, ke hutan untuk mencari jerenang, berburu rusa, bahkan ke tempat-tempat keramat leluhur. Tapi kemudian jalan-jalan baru dibangun, merapat ke jalan setapak, sehingga jalan lama itu akhirnya berubah mendatangi atau menghampiri kebun-kebun sawit. Lapar, selalu lapar, seolah roh sungai yang menggelapar minta dibangkitkan.
Saya menengadah. Hujan mulai turun. Bercampur air asin di mata saya yang sejak tadi sebenarnya merebak diam-diam bersama rintik. Untuk beberapa lama saya masih berputar-putar mengurai jalan di tengah kebun raya sawit yang gelap dan mengerikan.





