Esai

Esai

Dinas Kebudayaan Sumbar Delapan Tahun Berjalan dalam Peta Buta

Delapan tahun berdiri, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat dinilai berjalan tanpa peta jalan yang jelas dan kehilangan visi sebagai arsitek kebudayaan. Terjebak dalam rutinitas seremonial, ketergantungan dana pokir, dan infrastruktur yang mangkrak, ekosistem seni pun kehilangan arah. Simak kritik tajam Nasrul Azwar tentang urgensi evaluasi menyeluruh.

Dinas Kebudayaan Sumbar Delapan Tahun Berjalan dalam Peta Buta Selengkapnya

Esai

Membaca Fiksi, Mengenal Diri: Kisah Orang Asing dan Keanehan Sastra

Esai ini mengeksplorasi hubungan unik antara sosok orang asing dan dunia fiksi. Keduanya memicu rasa ingin tahu sekaligus kecurigaan, memaksa kita membedakan fakta dari kepalsuan. Melalui karakter asing, fiksi tidak hanya bercerita, tetapi juga menjadi cermin yang menantang persepsi dan berpotensi mengubah cara kita memandang diri sendiri.

Membaca Fiksi, Mengenal Diri: Kisah Orang Asing dan Keanehan Sastra Selengkapnya

Esai

Anakronisme dan Motif Ideologis: Pembacaan Kritis Atas Leiden 2020-1920

Ulasan kritis ini membedah novel Leiden 2020-1920 karya Hasbunallah Haris, peraih Juara II Sayembara Novel DKJ 2023. Ilhamdi Putra menyoroti anakronisme akut, minimnya riset sejarah terkait PID, hingga cacat logika dalam penokohan. Sebuah pembacaan tajam yang mempertanyakan fondasi sejarah dan motif ideologis di balik narasi gigantiknya.

Anakronisme dan Motif Ideologis: Pembacaan Kritis Atas Leiden 2020-1920 Selengkapnya

Esai

Perempuan, Cermin dan Bekas Lipstik pada Dinding Toilet

Mengapa dinding toilet perempuan sering dipenuhi bekas lipstik? Sucia Zonicha menelusuri fenomena unik ini, dari toilet umum hingga kampus. Bukan sekadar soal cermin, esai ini mengungkap bagaimana kebiasaan personal menerobos ruang publik , menciptakan “karya seni” tak resmi yang memicu pertanyaan menggelitik tentang etika dan kebersihan.

Perempuan, Cermin dan Bekas Lipstik pada Dinding Toilet Selengkapnya

Esai

Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan?

Esai ini mengulas kontroversi seputar Multatuli, penulis Max Havelaar, dan penobatannya sebagai ‘Pahlawan’. Karya besarnya mengungkap kekejian tanam paksa di Lebak. Namun, muncul kritik bahwa novel ini adalah protes pribadi dan manifestasi Orientalism, mempertanyakan apakah ia layak dirayakan oleh bekas koloni.

Orkes Sakit Hati Multatuli, ‘Si Paling Menderita’ yang Dirayakan? Selengkapnya

Esai

Apakah Pembacaan Komputasional Akan Menggantikan Pembacaan Tekstual?

Digital humanities muncul menawarkan solusi bagi studi sastra berskala besar yang mustahil dilakukan lewat pembacaan tekstual berbatas waktu. Namun, metode komputasional ini memicu kekhawatiran karena dianggap menyelewengkan dasar humaniora, hanya sebatas menghitung kata, dan tunduk pada kebijakan neoliberal. Padahal, keduanya tidak seharusnya saling meniadakan.

Apakah Pembacaan Komputasional Akan Menggantikan Pembacaan Tekstual? Selengkapnya

Esai

Membandingkan Matrilinealitas Yahudi dan Minangkabau

Meskipun terpisah jarak dan budaya, Yahudi dan Minangkabau berbagi kemiripan unik: sistem matrilineal. Esai ini mengupas perbandingan mendalam antara identitas spiritual Yahudi yang diturunkan lewat ibu, versus struktur adat dan kewarisan Minangkabau yang lebih kompleks. Apakah ini kebetulan sejarah atau takdir semata? Temukan analisis perbedaannya di sini.

Membandingkan Matrilinealitas Yahudi dan Minangkabau Selengkapnya

Scroll to Top