Rukun Paksa/Berakit-Rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan

Pepatah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian bekerja sebagai mesin pengatur harapan. Ia menyusun waktu secara berurutan: susah lebih dulu, senang kemudian. Di dalamnya, penderitaan diberi fungsi pedagogis. Ia diperlakukan sebagai modal awal yang, bila dikelola dengan ketekunan, akan menghasilkan kemajuan. Pepatah ini tidak sekadar menyampaikan nasihat moral, tetapi menyimpan pandangan dunia tertentu: kehidupan dipahami bergerak linier, kerja keras diasumsikan berkorelasi langsung dengan hasil, dan alam dianggap menyediakan medan yang relatif stabil bagi hubungan sebab-akibat tersebut.

Pandangan semacam ini mengandaikan dunia yang mudah diprediksi. Sungai mengalir pada jalurnya, musim datang sesuai jadwal, tanah menahan air sebagaimana mestinya. Dalam dunia seperti itu, kesabaran terlihat masuk akal. Menunda kesenangan menjadi strategi rasional. Waktu bekerja sebagai sekutu manusia. Namun dalam lanskap ekologis hari ini, terutama di wilayah yang berulang kali mengalami banjir, longsor, dan gangguan lingkungan lainnya, logika tersebut mengalami keausan. Kesulitan tidak lagi berfungsi sebagai tahap awal dari sesuatu yang lain. Ia tidak bergerak menuju penyelesaian, melainkan menetap dan membentuk kondisi hidup yang terus-menerus dinegosiasikan ulang. Penderitaan kehilangan fungsi transisionalnya. Ia tidak lagi menjanjikan “nanti”, melainkan memproduksi “sekarang” yang terus diperpanjang.

Dalam situasi semacam ini, pepatah tersebut kehilangan daya kerjanya. Ia tetap diucapkan, tetapi tidak lagi mengatur realitas. Ia berubah menjadi artefak bahasa yang mengambang di atas situasi yang tidak lagi mematuhinya. Apa artinya berakit ke hulu ketika arah air sendiri tidak stabil? Untuk apa berenang ke hilir ketika hulu dan hilir tidak lagi terpisah secara jelas, melainkan saling melimpah melalui genangan-genangan yang mengaburkan batas?

(Dok. Nan Tumpah)

Di banyak wilayah Sumatera, air tidak lagi hadir sebagai peristiwa sesekali. Ia telah menjadi kondisi. Ia meresap ke dalam perencanaan hidup, ke dalam arsitektur rumah, ke dalam kebiasaan sehari-hari. Ketinggian lantai dihitung berdasarkan ingatan banjir terakhir. Barang-barang disusun dengan asumsi bahwa air akan datang lagi. Anak-anak tumbuh dengan pengetahuan praktis tentang genangan sebagai bagian dari keseharian.

Dalam konteks ini, tinggal di genangan bukanlah metafora. Ia adalah praktik hidup. Ia menuntut penyesuaian yang terus-menerus tanpa janji pemulihan yang jelas. Tidak ada garis finis yang dapat diandalkan, tidak ada fase “setelah” yang stabil. Yang ada adalah keberulangan yang menuntut kewaspadaan berkelanjutan.

Tinggal di Genangan

Pameran Silotigo dalam program Ke Rumah Nan Tumpah #10 ini berlangsung dua bulan setelah peristiwa galodo dan banjir bandang melanda enam belas kabupaten dan kota di Sumatera Barat pada akhir November 2025. Dampak peristiwa tersebut belum sepenuhnya surut ketika pameran ini diselenggarakan. Namun, seperti banyak bencana ekologis lain di wilayah ini, banjir dan galodo kerap diperlakukan sebagai kejadian luar biasa, seolah datang dari luar sistem kehidupan sehari-hari.

Bagi warga yang hidup di wilayah rawan banjir, peristiwa semacam ini bukan kejutan total. Ia lebih tepat dibaca sebagai puncak dari akumulasi masalah lingkungan yang telah berlangsung lama dan jarang diselesaikan secara menyeluruh. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, banjir bandang terakhir mengikuti rangkaian kejadian sebelumnya: aliran material vulkanik dari Gunung Marapi pada Mei 2024, galodo dan banjir-banjir yang dalam dua tahun terakhir tidak selalu dianggap sebagai bencana berita berskala nasional, serta perubahan kecil namun konsisten pada pola aliran air dan struktur tanah. Rangkaian ini membentuk narasi lain tentang bencana, tidak sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai gejala dari sistem ekologis yang kehilangan keseimbangannya.

Dalam narasi ini, air bertindak sebagai medium yang menyimpan dan membawa berbagai material sekaligus. Ia mencatat dampak alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pengerukan tanah, dan perencanaan ruang yang memisahkan hulu dari hilir secara administratif, bukan ekologis.

Krisis ekologis yang tampak hari ini tidak dapat dilepaskan dari warisan panjang cara berpikir kolonial tentang alam. Dalam kerangka tersebut, alam diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat dipilah-pilah. Hutan menjadi kayu, tanah menjadi komoditas, sungai menjadi saluran. Relasi antarunsur diputus demi efisiensi ekstraksi. Pengetahuan lokal yang memahami alam sebagai jaringan keterkaitan disisihkan oleh model pembangunan yang menuntut kejelasan fungsi dan batas.

(Dok. Nan Tumpah)

Dalam konteks Minangkabau, falsafah  Alam Takambang Jadi Guru kerap dihadirkan sebagai penanda kearifan lokal. Namun dalam praktik, falsafah itu lebih sering menjadi slogan retrospektif. Alam baru dibaca setelah ia rusak. Pembelajaran datang setelah kegagalan. Guru akhirnya berbicara melalui bencana, tidak melalui keseharian yang seimbang. Dengan demikian, falsafah tersebut mengalami pembalikan. Alam mengajar melalui konsekuensi, bukan melalui harmoni.

Sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah berada di dalam lanskap ini. Ia terletak di Perumahan Bumi Kasai Permai, sebuah kawasan di Kabupaten Padang Pariaman yang dibangun sejak tahun 1996 dan mulai ramai dihuni pada 1998. Sejak masa awal hunian itulah, banjir telah menjadi bagian dari pengalaman kolektif warga. Dengan kata lain, kawasan ini tidak pernah benar-benar bebas dari air. Genangan bukan peristiwa baru, melainkan kondisi yang menyertai sejarah pemukiman itu sendiri.

Karena itu, lokasi ini bukan ruang seni yang terpisah dari gangguan lingkungan. Ia berdiri di wilayah yang menyimpan ingatan banjir sebelumnya sekaligus kecemasan akan genangan berikutnya. Aktivitas yang berlangsung di dalamnya selalu berhadapan dengan ketidakpastian: apakah ruang akan tetap kering, apakah akses masuk perumahan akan terputus, atau apakah kegiatan harus berhenti sementara karena sarana, prasarana, dan buku dan kertas kerja terendam air.

Pengetahuan Situasional

Dalam kondisi ruang dan lingkungan yang tidak menyediakan stabilitas, bentuk pengetahuan yang mungkin bekerja pun tidak dapat diasumsikan tetap. Sejak 2015, program-program Nan Tumpah di sekretariatnya, termasuk Kelas Kelana Akhir Pekan, bergerak dalam kerangka tersebut. Kelas tidak berlangsung sebagai transfer pengetahuan yang terstruktur, melainkan sebagai praktik berjalan, melihat, dan mendengar. Pengetahuan lahir dari perjumpaan langsung dengan lingkungan sekitar dan dengan pengalaman warga.

Namun praktik ini tidak mengklaim posisi sebagai solusi. Ia tidak berdiri di atas krisis, melainkan bergerak di dalamnya. Pengetahuan yang dihasilkan bersifat situasional: bergantung pada kondisi ruang, cuaca, relasi sosial, dan hanya bermakna sejauh ia berfungsi dalam konteks tertentu. Ketika kondisi berubah, pengetahuan tersebut tidak diwariskan sebagai sistem, melainkan dinegosiasikan ulang.  

Karena itu, karya-karya dalam pameran Silotigo ini tidak ditempatkan di ruang pamer konvensional. Mereka hadir di ruang latihan Komunitas Seni Nan Tumpah yang disulap menjadi galeri sementara, serta menyebar ke teras dan garasi rumah warga, dinding yang telah mengalami retak dan tambalan, ruang tamu, kebun, hingga puing-puing rumah yang ditinggalkan sejak gempa 2009 dan banjir-banjir setelahnya. Ruang-ruang ini tentu saja bukan ruang kosong yang siap diisi makna, tetapi ruang yang telah penuh oleh lapisan pengalaman hidup.

Karya Kolektif Silotigo di Lingkungan Warga. (Dok. Nan Tumpah)

Penempatan karya di ruang-ruang tersebut tidak dimaksudkan sebagai intervensi heroik, apalagi sebagai upaya menebus atau memperbaiki kondisi ruang yang kerap dilabeli kumuh. Ia lebih menyerupai penyisipan. Seni tidak datang untuk menutup kekurangan ruang, tetapi ikut menempatinya sementara. Ia juga tidak hadir dengan misi “memberdayakan” atau “mengedukasi” masyarakat, dua istilah yang sering terdengar mulia namun menyimpan asumsi  relasi kuasa. Seniman tidak ditempatkan sebagai pembawa nilai atau pembaharu, melainkan sebagai tamu yang perlu membaca ruang sosialnya, beradaptasi dan memahami kapan boleh berbicara, kapan cukup mendengar. Kesadaran akan posisi ini menjadi bagian penting dari praktik artistik itu sendiri.

Belajar, dalam konteks ini, tidak diarahkan pada penguasaan. Ia lebih dekat pada praktik membaca tanda-tanda yang tidak pernah sepenuhnya jelas. Apa yang berguna hari ini dapat kehilangan relevansinya ketika ruang berubah fungsi atau akses terputus. Pengetahuan situasional tidak menjanjikan kepastian, tetapi melatih kewaspadaan.

Rukun sebagai Cara Bertahan

Residensi Kolektif Silotigo, yang dijalani Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil selama satu bulan di Sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah dan sekitarnya, berlangsung dalam situasi yang tidak ideal. Tidak ada ruang kerja yang sepenuhnya privat. Tidak ada waktu yang bersih dari gangguan. Ketiga perupa membawa cara kerja, kebiasaan, dan ritme yang berbeda.

Silotigo sendiri terbentuk dari pertemuan mereka dalam program Galanggang Arang 2024, ketika ketiga perupa disatukan dalam penggarapan karya commission art. Pasca program tersebut, pertemuan mereka berkembang menjadi ruang diskusi, pertukaran gagasan, dan eksplorasi kemungkinan kerja bersama. Pameran ini menjadi presentasi tunggal pertama Silotigo, sekaligus uji coba apakah kerja kolektif dapat bertahan dalam praktik yang lebih panjang dan tidak sepenuhnya terstruktur.

Dalam residensi ini, kerja bersama tidak dibangun melalui kesepakatan estetika yang mapan, melainkan melalui negosiasi sehari-hari yang bersifat praktis. Rukun tidak lahir dari keselarasan. Ia muncul dari kebutuhan agar proses berlangsung meskipun perbedaan tidak atau belum terselesaikan. Rukun berfungsi sebagai kondisi minimal, bukan ideal. Ia tidak menghapus ketegangan, tetapi menahannya pada tingkat yang memungkinkan kerja terus berjalan.

Relasi dengan warga sekitar bergerak dalam logika serupa. Residensi dan persiapan pameran Silotigo segera keluar dari urusan antar-seniman dan bergeser menjadi perjumpaan yang tidak sepenuhnya ajeg antara praktik seni dan kehidupan keseharian warga. Kedekatan ruang memaksa bentuk kebersamaan tertentu. Kehadiran ketiga perupa di Korong Kasai tentu tidak otomatis terbaca sebagai seni. Bagi sebagian warga, mereka mungkin hanya tiga orang yang datang dan tinggal sementara, bekerja dengan kebiasaan ganjil—keganjilan yang tidak sepenuhnya baru, mengingat praktik Komunitas Seni Nan Tumpah sebelumnya. Mereka berada di wilayah antara: cukup dekat untuk terlihat, cukup asing untuk tetap dipertanyakan. Proses kerja berlangsung di ruang yang memiliki fungsi domestik. Seni harus bernegosiasi dengan jam ibadah, jam istirahat, dan aktivitas sehari-hari.

Tugu Silotigo – Karya kolaborasi Imam, Olim dan Boy Nistil. (Dok. Nan Tumpah)

Anak-anak komplek, yang sebagian besar tergabung dalam Kelas Kelana Akhir Pekan memainkan peran penting dalam mengaburkan batas ini. Mereka masuk ke dalam proses  ketiga seniman tanpa pengantar dan tanpa kewajiban memahami apa yang sedang dikerjakan. Mereka melihat, bertanya, mengomentari, lalu pergi. Mereka tidak menuntut penjelasan konseptual, juga tidak merasa perlu membedakan secara tegas antara seni dan aktivitas sehari-hari. Kehadiran anak-anak ini menggeser seni dari ranah intensi ke ranah kehadiran. Seni menjadi sesuatu yang dilakukan di hadapan orang lain, bukan semata sesuatu yang disiapkan untuk dipresentasikan kemudian.

Karya-karya yang dipamerkan di dalam galeri sementara merupakan karya yang dibawa dari studio masing-masing perupa: Imam Teguh Sy dari Pasawangan Art yang berdomisili di Padang Panjang, Olimsyaf Putra Asmara dari Komunitas Punago di Kayutanam, dan Boy Nistil dari Kaday Loket di Solok. Sementara itu, karya-karya yang hadir di luar ruang latihan adalah hasil kolaborasi mereka selama satu bulan residensi. Karya-karya tersebut diproduksi langsung di lokasi. Material yang digunakan pun sebagian besar ditemukan dari lingkungan sekitar: genteng, seng, kayu, kain bekas, limbah, hingga sisa material bangunan. Karya-karya dipajang di dinding rumah dan ruang tamu, di puing-puing, di antara rumput liar, tumpukan sampah, kandang ayam, dan tiang jemuran warga. Pilihan ini bukan glorifikasi kefanaan, melainkan sebagai pengakuan terhadap kondisi material tempat karya itu hadir. Dalam lingkungan yang tidak stabil, keberlanjutan bukan asumsi, melainkan pertanyaan.

IMAM TEGUH SY – TRAGEDI LARA. 70 X 90 C MIXMEDIA ON CANVAS. 2025 (Dok. Nan Tumpah)

Di dalam ruang galeri sementara, karakter masing-masing perupa tetap terbaca jelas. Lukisan Imam Teguh Sy tidak dibangun dari bidang yang rapi atau struktur yang tegas, melainkan dari tumpukan sapuan, coretan, dan tempelan bentuk yang saling menimpa. Figur muncul lalu tenggelam kembali ke dalam lapisan warna yang padat dan kontras. Wajah-wajah hadir tanpa pusat perspektif yang pasti, seolah terbawa arus imaji yang menyilang satu sama lain. Biru, merah, merah muda, dan hijau bertemu dalam tegangan yang terjaga. Tubuh, tangan, kepala, atau serpihannya tampil sebagai fragmen yang bergeser dan bertumpuk. Ekspresi figur-figur itu ambigu, antara bermain, berteriak, menghilang, atau sekadar lewat sebagai lintasan. Lukisan Imam bekerja sebagai kumpulan momen visual yang tidak disusun secara kronologis, melainkan simultan. Apa yang dilihat tidak diarahkan menuju satu makna, tetapi dibiarkan berjejal.

IMAM TEGUH SY – RIAK TINGGAL, KAU PERGI PULANG. 120CM X 80CM. AKRILIK ON CANVAS.2025 (Dok. Nan Tumpah)

Dalam karya-karya Olimsyaf Putra Asmara, tampak disiplin repetisi yang nyaris meditatif. Hampir tidak ada permukaan yang dibiarkan lengang. Bidang diisi oleh garis-garis kecil yang berputar, berlapis, dan saling menekan hingga membentuk kepadatan visual. Latar tidak berfungsi sebagai penyangga objek, melainkan sebagai medan yang aktif. Pola spiral, alur rapat, dan tekstur yang dibangun melalui goresan berulang menciptakan kesan gerak yang tertahan. Tekniknya menunjukkan kontrol yang sabar dan konsisten. Garis-garis kecil yang berulang mengindikasikan kerja waktu yang panjang.

Sementara itu, Boy Nistil bekerja dengan bahasa visual yang tegas dan tereduksi. Bentuk-bentuk geometris seperti segitiga, setengah lingkaran, garis lurus, pola zig-zag, titik, dan simbol yang mengingatkan pada rambu atau diagram disusun tanpa ilusi kedalaman yang rumit. Ruang dibangun melalui pertemuan bidang warna solid dan kontur hitam yang kuat. Biru, merah bata, kuning, hijau, ungu, dan hitam ditempatkan berdampingan tanpa gradasi halus. Sapuan kuas tetap tampak, tetapi tidak diarahkan untuk membangun volume. Yang ditekankan Boy adalah bidang sebagai bidang. Dalam kecenderungan ini, ia bersinggungan dengan tradisi mural, desain grafis, atau estetika poster dan komik. Motif roda gigi, garis ukur, dan simbol mekanis menghadirkan kesan sistem, meski sistem itu tampil sebagai diagram yang disederhanakan. Dunia visualnya terasa terfragmentasi ke dalam kompartemen warna yang berdiri berdampingan tanpa sepenuhnya menyatu.

Pada karya-karya kolaboratif di ruang warga, ketiga bahasa visual ini tidak dilebur, melainkan saling bersisian. Alih-alih mencari kesatuan formal, karya-karya kolaborasi justru memperlihatkan pertemuan yang bersifat parsial dan sementara. Setiap perupa membawa kebiasaan visualnya masing-masing, lalu menyesuaikannya secara pragmatis terhadap ruang dan material yang tersedia. Dengan demikian, kolaborasi tidak menghasilkan gaya baru yang mapan, tetapi memperlihatkan proses saling menyesuaikan yang terus berubah dari satu lokasi ke lokasi lain.

BOY NISTIL – DIRTY BRAIN, GOOD HEART (Dok. Nan Tumpah)

Karya ketiga seniman tidak berdiri sebagai objek yang terpisah dari fungsi ruang, melainkan melekat pada struktur yang telah ada. Potongan seng dicat satu per satu lalu disusun berjajar mengikuti kontur dinding yang lembap. Lingkaran kayu bercat digantung di tembok bata yang retak. Sampah plastik disusun diatas potongan kayu yang menyerupai layang-layang, dan kemudian digantung di beberapa area terbuka yang sehari-hari dilalui. Penempatan ini membuat karya harus berbagi perhatian dengan benda-benda lain seperti jemuran, perabot, tanaman, kandang ternak yang tidak pernah benar-benar disingkirkan. Akibatnya, karya tidak selalu tampil sebagai pusat pandang, melainkan sebagai elemen tambahan yang bisa terlewat, disentuh, atau bahkan terganggu oleh aktivitas sehari-hari. Situasi ini menolak cara pandang galeri yang mengisolasi karya dari kehidupan di sekitarnya.

Material menjadi bagian penting dari pembacaan visual ini. Seng berkarat, kayu lapuk, genteng bekas, dan serpihan bangunan tidak disamarkan, tetapi dipertahankan jejaknya. Warna-warna terang tidak menutupi usia material, melainkan menegaskannya. Di antara dinding rumah, teras, jemuran, kabel listrik, pohon-pohon dan tanaman liar, karya-karya itu hadir tanpa bingkai pemisah. Dalam situasi ini, visualitas tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan kondisi tempat ia muncul.

Dalam skala yang lebih luas, pameran ini mengajukan pertanyaan tentang posisi seni dalam krisis ekologis. Residensi sering dipahami sebagai pertukaran setara antara seniman dan konteks lokal. Namun kesetaraan ini rapuh. Seniman memiliki mobilitas dan kemungkinan untuk pergi. Warga tidak. Rukun Paksa tidak menutup ketimpangan ini, tetapi menempatkannya sebagai bagian dari struktur yang tidak dapat dihindari.

Falsafah Alam Takambang Jadi Guru kini terasa bermasalah karena hubungan manusia dengan alam telah rusak. Bukannya memberi petunjuk, alam justru menjadi saksi kegagalan memahami sistem ekologis secara utuh. Belajar dari alam berarti berani mengakui dan mempelajari kesalahan yang diwariskan, bukan sekadar memuja kebijaksanaan yang diasumsikan selalu tersedia.

Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan tidak menawarkan jalan keluar dan tidak menjanjikan pemulihan. Pameran ini menolak posisi seni sebagai penengah moral atau pengamat yang aman. Dengan memilih hadir di dalam kondisi yang sama, ia menempatkan seni pada risiko dipertanyakan kegunaannya, keberadaannya, dan batas-batas etisnya sendiri. Tinggal di genangan berarti menerima keterbatasan tersebut sebagai bagian dari kerja, bukan sebagai latar yang dapat diabaikan. []

Kasai, 3 Februari 2026 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top