| Judul | Menempuh Tujuh Penjara: Pengalaman Seorang Perintis Kemerdekaan Generasi Terakhir |
| Penulis | Maisir Thaib |
| Penerbit | Syamza, 1992 |
| Tebal | 179 halaman |
Maisir Thaiba tau Martha mungkin jarang dibicarakan dalam sejarah kesusasteraan atau keagamaan di Sumatra Barat. Menurut penelitian yang telah saya lakukan untuk kepentingan penuisan tesis, sosok ini merupakan salah satu orang penting dalam dua bidang itu. Ia penulis roman yang diterbitkan oleh Penjiaran ILmoe dalam seri Roman Pergaoelan. Ia menulis setidaknya dua roman yang kontroversial, yaitu Leider Mr. Semangat dan Oestaz A. Masjoek. Roman pertama membuat pihak penjajah Belanda cukup marah. Roman propaganda ini memang cukup subversif, menggerakkan semangat kemerdekaan dengan sangat vulgar.
Sosok Leider yang digambarkan mirip dengan gambaran sosok Tan Malaka. Propagandis yang selalui bergerilya dari satu tempat ke tempat lain, dengan berbagai penyamaran dan pengamanan yang sangat ketat. Akibat roman Leider Mr. Semangat ini, Martha kemudian ditangkap oleh polisi politik reserse (PID), ketika ia tengah berada di Kalimantan untuk membangun dan memimpin pondok pesantren. Ia kemudian dibawa kembali ke Bukittinggi, untuk menjalani persidangan, dan perjalanan tersebut menyebabkan ia transit beberapa kali di rumah tahanan atau penjara. Akhirnya Martha dihukum satu setengah tahun di penjara Sukamiskin, Jawa Barat.
Sementara roman Oestaz A. Masjoek juga menimbulkan kontroversi, karena dianggap menghina praktik suluk di kalangan umat Islam. Secara khusus, roman ini juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam konferensi Perti, dan memutuskan bahwa roman itu harus disita dan dibakar, serta pengarangnya dikecam. Namun demikian, berbagai pembelaan terhadap roman ini sebagai sebuah kritik juga muncul, misalnya apa yang dilakukan oleh Buya Hamka dan juga tulisan A.A Navis.
Sebagai sebuah autobiografi, buku Menempuh Tujuh Penjara ini menyajikan berbagai informasi penting yang dapat dikaitkan dengan berbagai topik yang terjadi, yang selaras dengan lini masa informasi yang disajikan. Misalnya saja, sejarah Normaal School yang menjadi bagian penting dalam kehidupan Martha, dapat diperkaya melalui buku ini. Demikian juga dengan jaringan ulama dan pendidikan pesantren di Sumatra Barat, sebagian besar pondok pesantren modern di Jawa, hingga Kalimantan, dicatat dengan baik oleh Martha. Beberapa tokoh penting dalam dunia politik, agama, dan budaya juga terkait erat dengan Martha dan disertai dengan kesan-kesan yang cukup menarik.
Apa yang dicatat dalam autobiografi Martha ini memuat persoalan-persoalan pribadi hingga masalah sosial, politik, pendidikan, sastra, hingga agama. Ia juga memberikan kritik yang keras, sesuai dengan pandangan pribadi dan aktivitasnya dalam dunia pergerakan. Buku ini dapat dijadikan sebagai referensi penting untuk mengisi bagian-bagian dari peristiwa atau sejarah sosial budaya, khususnya di Sumatra Barat.
Rubrik “Pusaka sastra” ini mengulas secara ringkas buku-buku, terutama karya sastra, yang pernah diterbitkan di Sumatera Barat. Keinginan untuk kembali menelusuri, mengingat, dan mengenalkan sejumlah karya sastra dan karya intelektual yang menjadi bagian dari sejarah di Sumatera Barat ini, dimaksudkan untuk merangkai sejarah sosial budaya, khususnya sejarah sastra Indonesia di Sumatera Barat. Buku-buku yang dibahas dalam rubrik ini merupakan hasil penelusuran di perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja rubrik ini tidak dapat memberikan ulasan yang menyeluruh. Karena itu, jika ada masukan atau saran dari pembaca mengenai buku yang pernah didengar atau dibaca informasinya, dan bernilai penting bagi kita bersama, dan masih dapat dilacak, dan selayaknya untuk dibahas di rubrik ini, dapat disampaikan ke redaksi@cagak.id





