
Hari ini enam tahun setelah pertemuan terakhir kami.
Aku berdiri di pasir pantai yang basah, membiarkan ombak menghantam kakiku yang telanjang. Menyeret kenangan demi kenangan yang lahir dan besar di tanah kelahiranku ini. Desa ini tidak banyak berubah, selain penampilan orang-orangnya yang makin menyerupai orang kota dan jejak kuliner masa lalu yang mulai menghilang, berganti kuliner Barat yang mengganggu selera makanku.
Aku menunggu sahabat masa kecil yang akan datang menemuiku. Namun, sudah satu jam menunggu, ia tak kunjung datang.
“Ia tak akan datang,” suara seseorang menghampiriku.
Aku berbalik dan melihat lelaki tua membawa keranjang berisi ikan yang berjalan terbungkuk-bungkuk.
“Kamu menunggu Pak Bari?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Bapak tahu dari mana?”
“Ia selalu membuat janji pertemuan di sini, tetapi tak satu pun ia temui.”
Aku ingin bertanya lebih banyak, tetapi lelaki tua itu berjalan meninggalkanku. Mengapa ia tidak menepati janji bertemu dengan orang-orang yang sudah ia sepakati? Kami selalu bersama-sama sejak kecil, berbagi semua keinginan dan cita-cita. Aku merantau ke Jakarta, sementara ia teguh mengabdikan dirinya menjadi guru SD di desa kami. Ia ingin mendidik dan menyiapkan anak-anak desa menjadi lebih baik di masa depan.
“Pergi saja ke rumahnya,” teriak lelaki tua itu meninggalkanku yang berdiri termangu dengan kaki dilibas ombak.
Aku berlari menghampiri lelaki tua itu untuk menanyakan alamat. Ia memberiku petunjuk ke arah barat lalu keluar di jalan setapak menuju pedesaan pinggir pantai. Dulu, ia tinggal di dekat rumahku tapi sejak orang tuanya meninggal ia pindah ke tepi pantai.
Jalan setapak menuju rumahnya tergenang air laut dan dipenuhi tumbuhan ceplukan sehingga aku sulit melewatinya. Lelaki tua itu mengatakan rumahnya bercat krem, berada di ujung jalan setapak. Aku memasuki halaman rumah yang bersih dan rapi itu. Rasa senyap menyergapku ketika berdiri di depan pintu. Rumah ini seperti tidak berpenghuni.
Aku mengetuk pintu beberapa kali sebelum suara berat menjawab dengan kesal dari dalam rumah. Pintu terbuka dan ia berdiri di hadapanku dengan tatapan yang tidak kukenali lagi. Ia bukan Bari yang dulu. Wajahnya kotor dan muram. Ia membiarkan kumis dan jenggotnya memanjang tak terurus, begitu juga dengan rambutnya. Matanya tajam, menyorot penuh dendam. Aku mundur selangkah ketika ia mendorong pintu hingga terbuka lebar.
“Oh, kamu,” katanya datar tanpa rasa bersalah telah menelantarkanku di pantai satu jam tanpa kabar.
“Kenapa kamu tidak datang ke pantai?” tanyaku.
Ia mengibaskan tangan seolah mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. Bunga-bunga di halaman sedang mekar dan terasa sangat kontras dengan wajah pemiliknya yang sangar.
“Kamu apa kabar?” tanyaku setelah kami duduk di kursi teras.
Aku mengingat pembicaraan kami lewat gawai yang sepertinya biasa saja, tetapi kenapa dalam pertemuan ini ia seperti orang lain? Aku ingin mengatakan bahwa ia telah membuang-buang waktuku yang bisa kugunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat tetapi tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan menatapku tajam.
“Aku sedang menunggu seseorang, jadi aku harus fokus,” katanya.
“Menunggu siapa?” tanyaku.
Ia berdiri dengan gelisah, melihat ke arah jalan setapak. Tatapan matanya berubah nanar. Aku bangkit berdiri dan menyentuh lengannya. Tiba-tiba air matanya membasahi pipi. Aku membimbingnya untuk kembali duduk lalu melongok ke arah rumah, siapa tahu ada orang lain di dalam rumah. Namun, sepertinya ia tinggal sendirian. Apa yang terjadi dengannya?
“Bari, kamu kenapa?” tanyaku tak mengerti.
Ia bangkit dan berjalan meninggalkan teras rumah menuju jalan setapak. Ke mana ia akan pergi? Aku mengikuti langkahnya menyusuri jalanan setapak yang makin penuh air. Laut sebentar lagi pasang. Apa yang akan ia lakukan?
“Ia hilang di sini,” katanya ketika tiba di pinggir pantai, tempat kami janji bertemu.
Aku menduga-duga apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya. Apakah ia sedang berusaha menceritakan barangnya yang hilang?
“Apa yang hilang?” tanyaku.
“Dia.”
Lalu sepanjang senja hingga malam datang, ia hanya duduk menunggu di sana. Tidak bisa kuajak bicara dan tidak bisa kuajak pulang. Tidak ada satu orang pun bisa memberi keterangan tentang apa yang sedang terjadi, hingga aku memutuskan untuk pulang dan membiarkan ia tetap menunggu. Malam terasa aneh, ketika aku membayangkan ia duduk menunggu di pinggir pantai sambil meracau.
***
“Dia sudah lama gila ….”
“Dia kehilangan orang yang dia cintai ….”
“Dia tidak akan bisa waras lagi ….”
“Dia menunggu seseorang untuk membunuhnya ….”
Orang-orang memberikan alasan tentang kegilaannya, tetapi tidak satu pun terdengar masuk akal bagiku. Hingga samar-samar aku mendengar desas-desus tentang salah seorang murid kesayangannya. Murid itu bernama Muslifah. Bari membiayai sekolahnya. Namun, Muslifah menjadi bulan-bulanan keluarga. Suatu hari saat Bari sakit dan tidak mengajar, orang menemukan mayat Muslifah tergeletak di pinggir pantai dengan jejak kekerasan yang ditinggalkan ayah kandungnya sendiri. Sejak itu Bari tidak sanggup lagi mengajar. Ia merasa gagal sebagai seorang guru. Kegiatannya hanya menunggu orang tua kandung Muslifah keluar dari penjara dan ingin membunuhnya.
“Aku masih menunggu seseorang …,” katanya lagi malam itu.
Ia kembali duduk di pinggir pantai, menunggu. Kali ini tangannya membawa parang. Tidak ada orang lain selain diriku di sana yang waswas melihat tingkahnya. Orang satu kampung hanya menganggapnya orang gila yang harus dibiarkan saja selama tidak membuat keributan. Aku diam-diam merasakan kesedihan mendalam kehilangan guru terbaik di desa kami.
“Siapa orang yang kamu tunggu?” tanyaku.
Ia hanya menggeleng. “Nanti kamu akan tahu.”
Namun, hingga malam selesai tidak ada satu orang pun datang. Aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan pedih. Sahabatku yang baik ini telah benar-benar berubah menjadi gila. Andai ia tahu, ayah kandung Muslifah tidak pernah dihukum dan bebas berkeliaran karena ditolong seorang pembesar yang menggunakan jasanya. Sementara Bari masih terus menunggu. Entah sampai kapan. []
Trenggalek, 3 September 2024




