Hal Mistis dan Strategi Ekonomi di Dunia Perdagangan Masa Lalu

Biografi Moehammad Saleh yang berjudul Riwajat Hidup dan Perasaian Saja, Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar telah menjadi sumber banyak kajian di kalangan akademisi. Saya pertama kali mendapat informasi tentang buku ini dari tulisan Tsuyoshi Kato, “Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX”, yang dimuat dalam Akira Nagazumi (ed.) Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang. Saya pun berusaha mendapatkan buku tersebut. Dokumen pertama yang saya peroleh berupa fotokopi dalam aksara Arab-Melayu dalam bahasa Melayu-Minangkabau. Akan tetapi dokumen itu hilang karena kurang rapi menyimpannya. Beberapa tahun kemudian saya menemukan salinannya dalam aksara Latin di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau, Padang Panjang. Dokumen kedua ini lenyap setelah dipinjam seorang teman.

Beberapa tahun setelahnya,  saya mendapatkan lagi buku berbahasa Indonesia yang diketik dengan huruf Latin. Menurut informasi di kulit dalam, buku ini diterbitkan secara terbatas oleh sebuah yayasan keluarga. Selain aksaranya yang telah beralih menjadi aksara Latin, buku ini juga telah ‘disusun bebas, didandani baru” oleh S.M Latif, cucu dari Moehammad Saleh. Latif adalah ahli tanaman anggrek yang telah menulis banyak buku tentang tumbuhan kebanggaan Indonesia itu.  Ia dipercaya menjadi kurator tanaman anggrek untuk koleksi Kebun Raya Bogor. Buku karyanya tentang tanaman anggrek masih bisa dibeli secara online hingga saat ini.

Tak banyak informasi tentang S.M Latif. Sedikit informasi tentang sosoknya ditulis oleh Muhammad Radjab, wartawan yang menemuinya saat melakukan kunjungan ke Kayu Tanam.

“Dari sini kami pergi ke Perpustakaan Negara, yang dipimpin oleh Tuan S.M. Latif, seorang sarjana yang lebih suka berkhalwat di dalam hutan daripada di kota. Buku-bukunya dalam berbagai bahasa beribu-ribu banyaknya, sebenarnya kepunyaan Tuan latif sendiri, tetapi telah diwakafkannya kepada negara. Siapa saja boleh membaca tapi dengan syarat, ia sendiri harus datang di Kayu Tanam, dan menelaahi buku-buku itu di sana, di bawah naungan pohon-pohon yang rimbun”

(Radjab, 2018, Catatan di Sumatra, halaman 127).  

Latif merupakan  pendiri Sekolah Ekonomi di Kayutanam, Sumatra Barat, tempat Mochtar Lubis pernah bersekolah. Jadi, S.M. Latif ini adalah guru Mochtar Lubis, wartawan dan sastrawan kawakan serta salah seorang pendiri Majalah Sastra Horison.  Lubis menulis sebuah novel remaja  Berkelana di Rimba yang seakan membawa pembacanya menyelami petualangan di hutan lebat dengan segala jenis tanaman dan binatang. Tampaknya tulisan itu berasal dari pengalaman penulisnya saat memasuki belantara bukit barisan bersama S.M Latif, saat Lubis bersekolah di Kayu Tanam. Bisa jadi juga, pengalaman di sekolah itulah yang membawa Mochtar Lubis tertarik pada dunia lingkungan hidup menjelang akhir masa hidupnya.

Buku yang dirujuk untuk tulisan ini berasal dari suntingan S.M. Latif yang diterbitkan pada 1965. Tsuyoshi Kato – sarjana Jepang yang banyak menulis tentang Minangkabau– menyatakan bahwa otobiografi Moehammad Saleh ini sangat berharga karena langka. “..tidak banyak dokumen otobiografi orang Indonesia yang menjangkau lebih dari awal abad XX”  (Kato, 1980:77).

Saleh tidak pernah bersekolah, apalagi menempuh pendidikan Belanda. Mulanya ia hanya ingin belajar  mengaji, karena merasa malu menyaksikan teman-temannya sudah bisa salat dan mengaji sementara ia tidak tahu apa-apa. Saat yang sama ia sudah mulai berjualan ikan yang dibelinya dari nelayan di pantai. Suatu hari, Saleh ingin memborong ikan kering yang dibawa sebuah kapal dari Sibolga. Ketika bertanya tentang harga ikan, nakhoda menghitung seluruh biaya; harga beli, sewa kapal, biaya angkut dan sebagainya. Semua itu ditulis di atas batu tulis. Setelah itu nakhoda minta Saleh dan temannya menjumlahkan semua biaya itu.

Jawab Saleh, “Di antara kami semua ini, tak satupun yang bisa tulis baca”. Nakhoda hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Ia kemudian mengajarkan Saleh menghitung menggunakan jari. Pedagang itu kemudian mengingatkan pentingnya bisa baca tulis untuk berdagang.

Suatu hari, Saleh melihat-lihat ke sekitar kantor syahbandar, kalau-kalau ada perahu yang membawa ikan kering dari tempat lain. “Saya lihat dekat kantor yang tersebut secarik kertas terbuang di tanah dan setelah saya ambil ternyata pada kertas itu bertulisan  angka-angka, bersusunan, berkali-kali disebut anak-anak sekolah kini, yaitu dari 1 sampai 10 (1X1, 2X1 dan seterusnya)… adalah dua hari lamanya saya pikirkan. Saya membilang-bilangnya dan meniru tulisannya di kertas lain. “(Latif, 1965:53). Begitu sampai pada penjumlahan dan pembagian, Saleh mengalami kesulitan. Ia kemudian belajar berhitung dan menulis Melayu pada seorang guru. “Akhirnya saya katakakan pada Sidi Maradin bahwa saya ingin belajar sambil saya persemahkan kepadanya se-peles minyak manis (minyak kelapa) dan tembakau dengan dauun rokok nipah”.  Hanya sebulan belajar di tempat itu, kelompok belajar itu bubar karena kerusuhan yang tak sengaja.

Saleh kemudian melanjutkan pelajaran menulis pada seorang asal Bengkulu yang bekerja sebagai juru tulis kompeni, bernama Mahmud. Ada sekitar sepuluh orang muridnya. Saleh mendatangi guru Mahmud untuk belajar. “Saya bawakan sakar sepuluh buku dan tembakau kuning, tembakau darat namanya, selemping. Lengkap dengan daun pisang karangnya. Beliau suka benar minum air (gula) sakar, panas-panas, tiap sudah makan. Saya ceritakanlah kepada beliau maksud saya”…(Latif, 1965: 57).

Selanjutnya, Saleh secara detil menceritakan pengalamannya belajar menulis itu. “Engku Mahmud memberi saya batu tulis sebuah yang bersuratkan sebuah kalimat, tersusun dari pada kira-kira 5 buah kata. Tulisan itu harus saya tiru berkali-kali, beberapa baris, setelah ditunjukkan guru berulang-ulang bacaan atau ucapan kata-kata tadi. Pada hari yang pertama saya rasai benar rumitnya belajar. Rasakan keluar peluh saya. (Latif, 1965: 57).

Elaborasi mendalam terhadap biografi ini dilakukan oleh Mestika Zed (2017), Saudagar Pariaman, Menerjang Ombak Membangun Maskapai. Dalam kajiannya Zed menunjukkan kepiawaian dan kecermatan Saleh dalam berusaha, melalui berbagai strategi agar usahanya berjalan lancar dan berkembang. Pada sisi lain, Saleh juga mencatat berbagai kepercayaan tentang bidang mistis dan pengalaman metafisis. Di antaranya keperayaan tengang “uang betina”, ilmu nujum,  jimat dan tokoh mistis. Bagaimana Saleh menempatkan pengalaman mistis itu dalam strategi perdagangan?

Strategi Dagang

Kemampuan baca-tulis dan berhitung yang dikuasai Salehmenjadi salah satu modal utama baginya untuk memasuki dan bersaing di dunia perdagangan. Kemampuan itu kemudian berkembang menjadi kepandaian tata buku untuk membuat neraca keuangan, sehingga Saleh kemudian dikenal sebagai ‘tukang uang”, alias akuntan publik. Kemampuan ini membawa Saleh mengenal pedagang di sekitarnya, aneka jenis komoditi yang dijual, untung rugi perdagangan, hingga komoditi yang laris di pasaran.  

Pengetahuan tentang komoditi dan pasar itu menjadi dasar bagi Saleh melihat peluang. Misalnya komiditi minyak busuk atau minyak kopra. Begitu tahu bahwa minyak busuk  punya pasar bagus, ia segera mencari informasi tentang cara pembuatan minyak busuk itu. Dimulai dengan menghubungi dua orang tenaga kerja asal Nias, usaha itu kemudian berkembang menjadi pabrik minyak kelapa, bahkan ia menjadi distributor minyak kelapa untuk daerah darek.

Salah satu masalah dalam bidang bisnis minyak adalah soal ditribusinya. Pada masa itu, distribusi minyak dilakukan menggunakan perian yang dibawa oleh kuli dengan berjalan kaki ke daerah darek. Cara distribusi itu tentu saja tidak efektif karena membutuhkan banyak kuli dan waktu yang lama. Untuk mengatasi masalah itu, Saleh melakukan inovasi dengan mengirim minyak kelapa menggunakan pedati. Inovasi yang penuh resiko ini diawalinya dengan hati-hati dengan pedati milik sendiri. Namun demikian, ia berhasil mendapatkan cara mengirim minyak kelapa dengan pedati dengan aman ke daerah darek. Inovasi itu memungkinkan ia mengirim minyak kelapa lebih banyak, bahkan menguasai perdagangan komoditi itu ke daerah darek.

Salah satu episode menarik dalam biografinya adalah persaingan Saleh dengan seorang pedagang Cina untuk merebut pasar garam di wilayah darek. Garam yang dibongkar di pantai Pariaman dibawa dengan pedati ke wilayah darek melalui Lembah Anai dan Padang Panjang. Selama beberapa decade, pedagang Cina memonopoli perdagangan karena dialah yang punya modal besar untuk menyewa pedati dan membeli garam. Saleh mencoba peluang untuk menyaingi pedagang Cina itu. Caranya adalah dengan menyewa pedati sisa dengan harga sewa lebih murah, sehingga modal usahanya juga lebih kecil, dan bisa menjual garam dengan harga bersaing. Dengan kecerdikan dan ketelitiannya, Saleh berhasil mengalahkan pedagang Cina itu dan merebut pasar garam untuk daerah darek.  

Saleh juga menyadari bahwa kedekatan dengan penguasa (kolonial) akan menjadi jalan untuknya di dunia perdagangan. Untuk itu ia menjalankan strategi agar bisa mendekat kepada penguasa. Melalui opas (pembantu) yang bertugas berbelanja ke warung, Saleh menawarkan beras bermutu baik dengan harga yang lebih rendah. Dari beras besrlanjut ke sayuran, dan akhirnya ia menjadi pemasok kebutuhan harian keluarga residen Pariaman. Akhirnya ia dipanggil untuk menghadap nyonya Residen, berkenalan dengan Residen, dan berhasil mendapat banyak kepercayaan dari penguasa kolonial. Kedekatan dengan penguasa membuat Saleh menjadi kontraktor atap rumbia dan bambu yang dibutuhkan tentara Belanda untuk perang Aceh.

Dunia Mistis dan Pengalaman Metafisis

Melalui biografinya, Saleh juga mencatat kepercayaan tentang  berbagai hal mistis dan pengalaman metafisisnya. Di antaranya adalah tentang “uang betina”, yaitu uang dari jenis atau sumber tertentu yang dengan cepat bisa berkembang biak dan memberikan keuntungan. Saleh berkisah tentang uang ringgit dan rupiah yang seakan tak mau berpisah dari tangannya. Ringgit dan rupiah itu menjadi modal dagang dan telah memberikan keuntungan dalam perdagangganya dalam beberapa waktu terakhir. “Tiga kali saya coba membiayakannya, tetapi—heran—tidak seorang juga yag hendak menerimanya” (Latif, 1965: 54). Jadi Saleh berpikir, bahwa penolakan orang terhadap ringgit dan rupiah itu merupakan ilham baginya agar uang itu dijadikan azimat saja. Saleh membungkusnya dalam kain sutera kuning dan menyimpanya baik-baik. Dalam biografi ini ia juga menulis pesan kepada anak cucunya agar menyimpan dengan baik uang ringit dan rupiah itu.

Kisah berikutnya berkait dengan ilmu nujum. Suatu malam Saleh dan teman-temannya mengunjungi seorang Hindustan yang baru sampai di Pariaman. Konon, orang Hindustan ini pandai meramal dan membaca garis tangan. “Giliran saya terakhir sekali…maka dipegangnyalah tangan saya dan dipjit-pijitnya. Sebentar-sebentar ditengoknya dan diperhatikanya muka saya. Maka gemetarlah tubuh saya.”

Akhirnya ahli nujum itu berkata kepada adik ayah Saleh, “ Pelihara anak ini baik-baik”, katanya. “Menurut penglihatan saya, eloknya nasib anak ini tidak ada taranya di seluru negeri Pariaman ini. Persaksikanlah nanti..!”. Saya sendiri terenap, berdiam diri saja mendengarkan kata-katanya yang demikian. Detak hati saya dalam pada itu ramalan tadi elok juga..” (Latif, 1965: 60).

Kisah selanjutnya berkait dengan jimat. Jimat ini diberikan oleh seorang ulama bernama Syekh Abu Bakar, seorang ulama Nakhsabandi asal Meulaboh yang tampaknya cukup populer saat itu. Saleh bertemu dengan Syekh Abu Bakar saat  ia berada di Sibolga. Dalam buku ini diceritakan meriahnya sambutan terhadap ulama tersebut, kegiatannya selama di Sibolga dan berbagai fatwanya tentang masalah perdagangan dan kehidupan pada umumnya.  

Syekh Abu bakar menginap di rumah seorang pedagang bernama Muhammad Said. Di tempat itu juga Saleh menumpang selama tinggal di Sibolga. Ketika sampai di rumah dan sedang duduk santai, saat itulah Syekh Abu Bakar memberi Saleh tiga buah jimat.

“Saya lihat beliau Syekh Abu Bakat tiba-tiba membuka sebuah peti kecil, kepunyaan saya sendiri dan kebetulah terletak di sudut ruang, tempat beliau duduk. Di dalam peti yang tersebut ada kertas dan dawat, beliau ambil kertas tadi, ditulisnya, dilipatnya, dan dibagi tiganya. Sudah minum kopi beliau memanggil saya.

“Marilah kamu kemari, Mohammad Saleh”.

Maka saya pun segera datang merangkak, bersalam dan mencium tangan beliau. Kertas yang tiga potong tadi diunjukkannya kepada saya sambil katanya.

“Inilah azimat untuk kamu pakai. Sebuah lagi untuk binimu. Azimat yang ketiga untuk anakmu. Jika selamat sampai di Pariaman nanti, suruhlah bini dan anakmu memakainya. Azimat yang saya berikan untukmu ini, pakailah sekarang juga”..

(Latif, 1965: 132)

Saleh kemudian menceritakan berbagai kegaitan dakwah yang dilakukan Syekh Abu Bakar selama di Sibolga. Syekh Abu Bakar bertanya tentang rencananya untuk masuk tarikat, dan Saleh menjawab bahwa belum berniat memasuki dunia tarikat karena masih muda dan belajar berlayar. Hubungan Syekh Abu Bakar, Muhammad Said dan Muhammad Saleh  terus berlanjut hingga Saleh kembali ke Pariaman. Menurut S.M.Latif, Syekh Abu Bakar dan Muhammad Said  berkunjung ke Pariaman dan menginap di rumah M. Saleh antara tahun 1870 dan 1880 (Latif, 1965:139).

Saleh juga menceritakan pengalaman metafisinya bertemu nabi Khaidir. Nabi Khaidir adalah sosok misterius yang hidup sezaman dengan Nabi Musa. Dalam al Quran dikisah pertemuan Musa dan Khaidir di tepi laut, perjalanan mereka menyeberangi lautan dan kunjungan ke sebuah negeri. Di beberapa kalangan ulama ada yang percaya bahwa Nabi Khaidir masih hidup hingga kiamat. Ia akan muncul dalam beragam sosok manusia. Orang yang bertemu dengan sosok Nabi Khaidir dipercaya akan mendapatkan berkah.

Itulah yang dialami Saleh pada suatu siang saat ia bertugas sebagai juru bayar untuk pekerjaan membongkar garam di pantai Pariaman. Saleh sama sekali tidak menyadari tamu asing yang menghampirinya saat istirahat.

“Baru saja saya bergerak hendak minum, maka datang seorang orang yang tidak saya kenal. Badannya tinggi, gedang panjang. Ia masuk ke dalam kedai langsung menuju saya dan berdiri dekat saya. Telapak tangannya dibentangkannya di atas meja, tempat uang banyak bersusun-susun, sembali katanya kepada saya, ringkas dan cara memerintah “Kepeng segadang!”.

Saya menengadah mencelik mukanya. Saya lihat lehernya dan dadanya penuh dengan nanah, serupa puru sampai ke pinggang, lalu ke kakinya. Ia memakai kain, bersarung hitam buruk, singkat dari pinggang ke lutut saja. Pada ketiaknya sebelah kiri  terapit sebuah upih yag berplipat dua. Kepalanya berlilit  dengan kain buruk juga. Tinggi orang itu agak hati saya tidak lebih dari 5 hasta. Mendengar katanya minta kepeng tadi, saya keruklah saku baju saya yang sebelah kanan, mencari kepeng yang ada di dalamnya. Kebetulan teresek kepeng segadang. Saya ambil uang itu, saya letakkan di telapak tangannya. Telapak tangannya itu—anehnya —  bersih, tidak bernanah atau kotor. Uang itu diterimanya. Ia berjalan keluar kedai dengan tidak berkata sepatah kata juga.

(Latif, 1965: 214).

Malam hari usai kerja, Saleh menceritakan peristiwa aneh yang dialaminya siang tadi. Saat itulah Saleh menyadari siapa tamunyua. “…tuan Said Adat tergelak terbahak-bahak dan menepuk-nepuk punggung saya, sambil katanya. “Kau Mad Saleh, sungguh beruntung bertemu dengan Nabi Chidlir. Dalam seribu orang mencari Nabi Chidlir tidak seorang pun akan berjumpa dia. Diam-diamlah Mad Saleh. Jangan diuar-uarkan kejadian ini kepada orang lain. Moga-moga akan ada berkatnya nanti bagi kamu, Mad Saleh”..(Latif, 1965: 215).  

Penutup

Kisah-kisah mistis dan pengalaman metafisik seperti yang dialami Saleh bukanlah hal asing di dunia perdagangan. Misalnya, menentukan hari baik untuk merantau, memulai usaha, menentukan arah bangunan dan pintu kedai. Bagaimana sikap Saleh terhadap hal-hal mistis dan jimat itu?

Dari kisah yang disampaikannya terlihat bahwa Saleh amat menghormati ulama Hindustan yang ahli nujum maupun Syekh Abu Bakar yang memberinya jimat. Sikapnya memperlihatkan betapa ia amat menghormati ulama itu. Namun demikian ia tidak mengomentari apakah ia mempercayai nujum yang disampaikan. Begitu pun, ia tidak menceritakan nasib jimat yang diberikan Syekh Abu bakar; apakah dipakai atau tidak, dipercaya atau tidak. Hal yang sama terjadi dengan pertemuan desngan Nabi Khaidir. Saleh sama tidak berkomentar ketika Said Adat menyatakan semoga pertemuan itu membuahkan berkah.

Satu-satunya jimat yang ia jaga dengan baik adalah uang ringgit dan rupiah yang ia simpan sendiri. Jimat itu bukan diberikan atau dibuat oleh orang lain, tapi dibungkus dan disimpannya sendiri.

Hal-hal mistis yang dialaminya hampir tak mempengaruhinya dalam berusaha. Saleh tampaknya tak tertarik pada hal-hal mistis, maupun belajar ilmu gaib maupun belajar silat. Ia lebih suka belajar mengaji, bergaul dengan ulama dan bekerja keras.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top