Toilet merupakan ruang yang sering dianggap sepele. Padahal, toilet termasuk kebutuhan paling dasar dalam perjalanan manusia. Ketika bepergian jauh, upaya menemukan toilet saja sudah menjadi cobaan. Apalagi untuk menemukan toilet yang bersih dan layak, hal ini adalah cobaan berikutnya.
Di antara pencarian itu, ada satu pemandangan yang berulang kali menarik perhatian saya; bukan soal kebersihan, melainkan jejak yang ditinggalkan perempuan pada dinding toilet.
Di dinding toilet perempuan, terutama di sekitar cermin, sering terlihat bekas lipstik dengan beragam warna turunan merah. Ada yang samar, ada pula yang tebal dan jelas, seolah sengaja ditinggalkan. Bukan satu atau dua, tapi banyak– berkelompok, membentuk pola yang aneh. Pola itu terbentuk dari cap jari tangan, ada juga yang tampak seperti bekas ciuman langsung ke permukaan dinding yang meninggalkan jejek bibir. Saya tertegun menatapnya. Bukan karena jijik, melainkan karena penasaran: mengapa jejak itu ditinggalkan, dan kenapa di toilet?
Saya menyadari pertama kali kebiasaan ini saat melakukan perjalanan jauh. Di sebuah toilet umum, saya berdiri cukup lama memperhatikan dinding yang dipenuhi bekas lipstik. Saya pernah ingin bertanya langsung kepada seorang perempuan muda yang tanpa ragu menempelkan sisa lipstiknya di dinding. Pertanyaan yang ingin saya ajukan padanya sederhana: Kenapa tidak menggunakan tisu atau mencuci tangan saja? Namun niat itu saya urungkan. Rasanya, menurut saya, tidak sopan menanyakan kebiasaan personal di ruang yang semestinya privat. Pertanyaan itu pun berlalu, tapi tidak dengan rasa ingin tahu.
***
Waktu berlalu. Sekarang saya sudah menjadi seorang mahasiswi. Meskipun sudah kuliah, pertanyaan remeh itu masih tersimpan dalam sebuah ruang di kepala saya. Saat pertama kali ke kampus, salah satu hal yang paling ingin saya lihat adalah toilet perempuan. Saya berasumsi bahwa toilet di kampus tentu akan lebih bersih dan terjaga. Asumsi itu tidak sepenuhnya salah. Area kloset terlihat bersih dan air pun mengalir dengan lancar. Namun, perhatian saya segera teralihkan pada sebuah cermin besar di toilet tersebut. Di sisi kanan dan kirinya terlihat sekumpulan bekas lipstik, seolah menjadi hiasan dinding tak resmi.

Di sela-sela jam perkuliahan, terutama waktu istirahat dan jam salat, toilet itu menjadi ruang yang cukup ramai dan sesak. Sekelompok mahasiswi tertawa sambil bercermin dan saling memperhatikan riasan wajah masing-masing.
”Ini benar-benar bagai karya seni”, ujar salah seorang dari mereka, sambil menunjuk ke arah dinding yang penuh warna merah itu.
Seorang perempuan lain dengan santai menempelkan sisa lipstiknya ke dinding. Ketika saya bertanya, ia menjawab singkat, ”Sudah kebiasaan. Lebih praktis.” Yang lain menyahut bahwa bekas itu menunjukkan keberadaan mereka sebagai perempuan. Ucapan itu datang dengan ringannya, seolah tak ada sesuatu yang harus dipersoalkan. Sekumpul jawaban itu menarik, tapi juga memunculkan pertanyaan lain. Apakah tidak ada yang merasa risih? Apakah ruang publik boleh diperlakukan seperti ruang pribadi? Dan bagaimana perasaan petugas kebersihan yang harus membersihkannya toilet setiap hari?
***
Rasa penasaran saya belum terjawab. Saya kemudian berkunjung ke kampus salah seorang teman lama. Di sana, hiasan dinding tak resmi itu kembali saya temukan. Saya kembali menatap dinding dan cermin di sana. Melihat itu, teman saya memberikan sebuah penjelasan.
”Itu sudah menjadi hal biasa. Petugas kebersihan sampai capek membersihkannya. Beberapa waktu lalu, pihak kampus sempat memasang tulisan larangan menempelkan lipstik atau make-up di dinding kamar mandi. Larangan itu tidak banyak mengubah keadaan. Bekas lipstik tetap muncul setiap harinya. Akhinya, pihak kampus mencopot cermin dan mengecat ulang dinding toilet. Hasilnya, dinding tetap bersih dalam beberapa waktu. Namun, beberapa bulan kemudian, cermin di pasang kembali. Hanya dalam hitungan hari, bekas lipstik kembali bermunculan di sisi-sisi cermin. Sejak itu kami menyimpulkan, cerminlah yang menjadi pemicu.

Toilet perempuan dengan cermin besar menunjukkan bekas lipstik

Toilet perempuan tanpa cermin tampak bersih tanpa jejak riasan di dinding, di gambar terlihat bekas cermin yang dicopot pihak kampus
Pengalaman hari itu, membuat saya mencoba memperhatikan lebih jauh terkait hal ini. Di kampus saya sendiri, terdapat dua jenis toilet perempuan. Toilet pertama memiliki cermin tanpa wastafel, sehingga jarak antara orang yang bercermin dan dinding sangat dekat. Toilet kedua memiliki wastafel, hal ini memberikan jarak antara pengguna dengan dinding di sekitar cermin. Lain halnya dengan gambar wastafel di atas, wastafel di toilet kampus saya lebih tinggi dan memberikan jarak yang cukup jauh bagi pengguna jika ingin menyentuh dinding. Kondisi ini sedikit berbeda dengan gambar wastafel di atas.
Saya memperhatikan keduanya di waktu-waktu istirahat. Hasilnya cukup menarik. Toilet tanpa wastafel relatif lebih bersih dari noda make-up. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Sebaliknya, toilet kedua dengan jarak yang dekat itu penuh dengan bekas lipstik. Ketika saya tanyakan hal ini kepada salah seorang pengguna toilet, ia menjawab, ”Kalau dekat, ya gampang. Kalau jauh, malas.” Ia menambahkan bahwa kebiasaan itu tidak selalu dilakukan di toilet. Kadang, bekas lipstik juga ditinggalkan di tempat lain, seperti bangku ataupun tempat lainya tergantung kebiasaan.
Saya keluar dari toilet dengan senyum kecil. Pertanyaan sederhana yang sempat saya anggap sepele ternyata membawa saya pada serangkaian pengamatan kecil. Cermin, jarak dan kebiasaan seseorang tampak saling berkaitan satu sama lain. Dari pengamatan sederhana itu, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa, cermin bukan penyebab utama, melainkan pemicu. Akar masalahnya adalah kebiasaan yang terbawa ke ruang publik. Satu bekas lipstik memancing bekas lipstik lain. Jejak kecil berubah menjadi pola yang terus berulang.
Saya teringat sebuah video di media sosial, tentang petugas kebersihan yang sudah lelah membersihkan bekas lipstik di toilet perempuan. Suatu hari saat sekelompok perempuan yang tengah bermake-up dan mencium cermin, lalu menyisakan bekas lipstiknya di cermin. Petugas kebersihan itu pun datang, dengan menggunakan kain pel yang sebelumnya dicelupkan ke kloset. Ia mulai mengepel cermin itu di hadapan perempuan-perempuan tersebut. Mereka pun terdiam. Petugas kebersihan itu keluar dengan santainya. Cara yang ekstrem, tapi efektif membuat jera.
Setiap kali dinding dibersihkan, jejak itu hilang. Namun, tidak lama kemudian, satu bekas muncul lagi, lalu akan disusul bekas lainnya. Seperti pola yang berulang, tanpa pernah benar-benar berhenti. Toilet yang sering dianggap ruang sepele dalam kehidupan sehari-hari, rupanya menyimpan cerita-cerita kecil yang jarang diperhatikan. Jejak lipstik itu mungkin akan terus dibersihkan dan terus muncul kembali. Diam-diam menjadi bagian dari rutinitas yang dianggap biasa. (*)





