
Sabtu malam, 23 Mei 2026, Padangpanjang berada dalam suasana yang sedikit ganjil. Pemadaman listrik di sejumlah wilayah Sumatera Barat dan sebagian Sumatera membuat kampus ISI Padangpanjang menjadi salah satu titik yang ramai didatangi orang. Fasilitas genset yang tetap menyala, colokan listrik, serta jaringan wifi kampus menghadirkan ruang darurat kecil di tengah situasi yang tidak biasa. Malam itu, keadaan yang serba tidak pasti justru menghadirkan satu hal yang menarik: penonton tetap bergerak menuju Teater Arena ISI Padangpanjang, seolah percaya bahwa seni selalu menemukan caranya untuk tetap hidup di tengah ketidakpastian.
Teater Arena, gedung pertunjukan yang sudah penuh jejak usia, kembali menjalankan tugasnya. Ruang itu tidak pernah dibangun untuk menghadirkan kemewahan. Kerentaan bangunannya justru terasa nyata: plafon yang bolong, backdrop panggung yang mulai berjamur, serta sejumlah bagian ruang yang seperti terlalu lama menunggu perbaikan. Namun justru di ruang seperti itulah pertunjukan kampus terus hidup, lahir dari semangat bertahan, bukan dari fasilitas yang sempurna.
Malam itu, Aphrodite, karya koreografer Menthari Ashia dipresentasikan melalui platform Lapau Tari #4, sebuah inisiatif yang difasilitasi HMJ Tari Minang bersama HMJ Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang. Platform seperti ini penting bukan sekadar sebagai agenda pertunjukan, melainkan sebagai ruang uji bagi koreografer muda untuk mempertemukan gagasan artistiknya dengan publik. Fungsinya menyerupai laboratorium terbuka, tempat karya tidak hanya dipentaskan, tetapi dipertaruhkan di hadapan penonton.
Istilah lapau sendiri memiliki resonansi kultural yang kuat dalam tradisi Minangkabau. Lapau bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang percakapan, perdebatan, pertukaran gagasan, bahkan pembentukan opini sosial. Penggunaan istilah ini sebagai nama platform tari menghadirkan harapan bahwa pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi pemantik pembacaan artistik yang lebih luas.
Kesadaran Komposisi
Menthari Ashia, atau Yayi, bukan nama yang datang dari ruang kosong. Riwayat artistiknya menunjukkan perjalanan yang cukup panjang sebagai penari yang tumbuh melalui berbagai kolaborasi bersama koreografer lokal, nasional, hingga internasional, sebelum akhirnya menegaskan dirinya sebagai pencipta karya sendiri. Pengalaman seperti ini penting, sebab seorang koreografer tidak lahir hanya dari kemampuan menggerakkan tubuh, tetapi juga dari akumulasi pengalaman, perjumpaan metode, serta proses membaca tubuh sebagai medium artistik.
Latar pendidikan dan pengalaman artistik Yayi memperlihatkan kedekatannya dengan dua wilayah sekaligus: tradisi dan kontemporer. Posisi inilah yang membuat Aphrodite menarik dibaca, bukan hanya sebagai satu pertunjukan baru, tetapi sebagai bagian dari upaya seorang koreografer muda memperjelas arah artistiknya sendiri—bagaimana ia memilih tema, mengelola tubuh penari, membangun komposisi panggung, serta menyusun pengalaman emosional menjadi bahasa koreografi. Setiap karya, pada akhirnya, selalu menjadi pernyataan: bukan hanya tentang apa yang ingin dikatakan, tetapi juga tentang bagaimana seorang seniman ingin dikenali dalam peta penciptaan yang lebih luas.
Judul Aphrodite segera mengarahkan ingatan pada mitologi Yunani. Aphrodite dikenal sebagai dewi cinta, kecantikan, hasrat, dan kesuburan, tetapi figur ini tidak pernah hanya bicara tentang cinta sebagai keindahan. Sosoknya juga membawa sisi lain: gairah, kecemburuan, obsesi, kepemilikan, hingga luka yang lahir dari relasi emosional manusia. Pilihan judul ini memberi petunjuk awal tentang medan tematik yang ingin dibangun Menthari Ashia.
Booklet pertunjukan menyebut Aphrodite sebagai ruang ketika “kedekatan berubah menjadi bayangan,” ketika tubuh-tubuh saling mendekat, menjauh, lalu tersesat dalam kecemburuan dan hasrat untuk memiliki. Rumusan ini menunjukkan bahwa cinta dalam karya ini tidak diposisikan sebagai pengalaman romantik yang utuh, melainkan sebagai ruang emosional yang rapuh, retak, dan melelahkan, tetapi selalu mengundang manusia untuk kembali jatuh ke dalamnya. Tafsir seperti ini terasa dekat dengan kehidupan hari ini, ketika relasi antarmanusia sering bergerak di antara kerinduan dan keterasingan, antara kelembutan dan luka. Cinta bukan lagi ruang yang menenangkan, tetapi medan konflik batin yang terus mengganggu tubuh dan ingatan.
Tema seperti ini memberi peluang artistik yang besar sekaligus pertaruhan yang tidak kecil. Cinta, hasrat, kecemburuan, dan kehilangan bukan tema baru dalam seni pertunjukan, tetapi selalu menantang untuk diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh tanpa jatuh menjadi ilustrasi emosional yang dangkal. Pertanyaan utamanya kemudian sederhana: sejauh mana Aphrodite mampu menghadirkan pengalaman, bukan sekadar pernyataan tentang emosi.

Pilihan artistik Aphrodite segera terbaca sejak penonton memasuki ruang visual pertunjukan. Sebuah plastik bening berukuran kurang lebih 5 x 6 meter dibentangkan menggantung di bagian atas tengah panggung, sementara dari dalamnya menjuntai benang-benang merah tipis ke bawah. Tatanan artistik ini menjadi elemen visual yang kuat: sederhana, tetapi sugestif. Plastik bening menghadirkan kesan ruang yang rapuh sekaligus terperangkap, sementara benang-benang merah membuka kemungkinan tafsir tentang luka, ikatan, atau hasrat yang menjulur dan membebani tubuh-tubuh di bawahnya. Tata artistik seperti ini tidak hadir sebagai dekorasi, tetapi sebagai metafora visual yang sejak awal membangun atmosfer dramaturgis.
Enam orang penari dengan kostum serba putih bergerak di bawah instalasi tersebut, membangun peristiwa-peristiwa emosional yang seolah hadir dari ingatan Aphrodite sendiri. Pilihan kostum yang bersih dan netral membuat perhatian penonton tertuju pada tubuh sebagai pusat ekspresi. Komposisi panggung terasa tertata rapi, dengan penempatan tubuh yang terukur, membentuk gambar-gambar visual yang modern dan cukup matang secara koreografis. Kesadaran komposisi inilah yang membuat Aphrodite tidak jatuh menjadi pertunjukan gerak yang liar tanpa kendali, melainkan menjaga ketepatan visual sebagai bagian dari daya pukau panggung.
Struktur pertunjukan dibangun melalui dua peristiwa besar yang dipisahkan oleh momen panggung kosong, seolah memberi jeda bagi penonton untuk berpindah dari satu lapisan emosi ke lapisan berikutnya. Irama pertunjukan bergerak progresif, dari tempo yang lambat menuju intensitas yang semakin cepat. Perubahan ini ditopang oleh musik dan pencahayaan yang ikut menggeser suasana, membangun eskalasi dramatik yang cukup terukur. Ritme pertunjukan terasa hidup karena perubahan-perubahan ini dirancang sebagai bagian dari progres emosional, bukan sekadar efek panggung.
Pilihan gerak menjadi salah satu kekuatan penting Aphrodite. Vocabulary gerak yang berangkat dari idiom tubuh tradisi Minangkabau tidak dipresentasikan secara literal, tetapi diolah menjadi bahasa ekspresi yang lebih modern. Tubuh-tubuh penari bergerak dalam jejak tradisi yang telah mengalami pembacaan ulang, sehingga karya ini tidak terjebak pada representasi bentuk tradisional, tetapi memanfaatkan energi tubuh tradisi sebagai bahan mentah bagi ekspresi kontemporer. Upaya seperti ini menarik, sebab modernitas koreografi yang dibangun tidak sepenuhnya memutus hubungan dengan akar tubuhnya.
Tubuh Menjadi Semacam Arsip
Daya pukau Aphrodite lahir dari keberhasilannya menggabungkan spektakel visual, komposisi tubuh yang rapi, serta progres dramaturgi yang terukur. Namun justru di titik itulah karya ini menyisakan satu pertanyaan. Komposisi yang sangat tertata kadang membuat ledakan emosionalnya terasa terlalu terkendali, seolah tubuh lebih kuat bekerja sebagai gambar visual daripada sebagai medan batin yang benar-benar pecah di atas panggung. Pertanyaan ini penting, sebab tema yang berbicara tentang hasrat, kehilangan, dan luka selalu menuntut tubuh untuk bergerak lebih jauh dari sekadar keindahan bentuk.
Aphrodite memperlihatkan cinta bukan sebagai pengalaman yang utuh dan menenangkan, tetapi sebagai ruang emosional yang retak, penuh hasrat, kecemburuan, luka, dan keterasingan. Tubuh-tubuh di atas panggung tidak sedang merayakan cinta, melainkan memperlihatkan bagaimana relasi antarmanusia sering bergerak di antara kedekatan dan kehilangan, antara keinginan untuk memiliki dan rasa takut untuk ditinggalkan. Cinta dalam karya ini bukan sesuatu yang indah dalam pengertian romantik, tetapi sesuatu yang terus mengganggu tubuh dan ingatan.

Kekuatan Aphrodite terletak pada kemampuannya membangun pengalaman visual yang puitik melalui tubuh, ruang, cahaya, dan musik yang bekerja secara kolektif. Pilihan artistik yang modern, komposisi koreografi yang tertata, serta pengolahan idiom tubuh tradisi Minangkabau ke dalam bahasa ekspresi kontemporer menunjukkan sensibilitas artistik yang cukup matang dari Menthari Ashia sebagai koreografer muda. Tubuh dalam karya ini menjadi semacam arsip yang menyimpan jejak hasrat, kehilangan, dan emosi yang tidak pernah selesai sepenuhnya.
Namun, justru di titik itu Aphrodite juga menyisakan satu catatan penting. Spektakel visual, komposisi tubuh, musik, dan pencahayaan telah bekerja cukup kuat membangun atmosfer emosional, tetapi pertunjukan ini berpotensi menjadi jauh lebih dramatik jika pengolahan tubuh penarinya masuk lebih dalam sebagai arsip dari hasrat, kehilangan, dan emosi yang dibawa tema tersebut. Wajah, pandangan mata, ritme napas, serta detail-detail kecil dari tubuh emosional penari seharusnya dapat digarap lebih intens sebagai bagian dari identifikasi artistik yang lebih konkret. Kehadiran elemen-elemen itu akan membuat cinta, luka, dan kehilangan tidak hanya terbaca melalui komposisi gerak, tetapi benar-benar hidup sebagai pengalaman batin yang tampak di tubuh penari.
Titik inilah yang menjadi tantangan sekaligus peluang artistik Aphrodite. Keindahan visual dan modernitas koreografinya sudah terbentuk, tetapi kedalaman tubuh emosionalnya masih bisa didorong lebih jauh agar karya tidak hanya memikat sebagai spektakel, melainkan juga meninggalkan daya hantam dramaturgis yang lebih kuat.
Konteks yang lebih luas membuat Aphrodite layak dicatat sebagai salah satu gejala menarik dalam perkembangan tari kontemporer Sumatera Barat hari ini. Menthari Ashia memperlihatkan keberanian untuk bergerak menjauh dari pola representasi yang literal menuju penciptaan tubuh yang lebih simbolik, emosional, dan visual. Pilihan ini penting, sebab tari kontemporer tidak tumbuh hanya dari pembaruan bentuk, tetapi juga dari keberanian membangun cara pandang artistik yang baru.
Sebagai karya, Aphrodite menunjukkan potensi artistik yang menjanjikan. Menthari Ashia memperlihatkan sensibilitas visual, keberanian tematik, dan kecakapan membangun komposisi panggung yang cukup matang sebagai koreografer muda. Harapan ke depan tentu bukan hanya pada kemampuan menghadirkan tubuh yang indah di atas panggung, tetapi pada keberanian menggali tubuh sebagai ruang yang lebih dalam, tempat hasrat, kehilangan, dan emosi tidak sekadar ditampilkan, melainkan benar-benar dihidupkan. Lalu kemudian, di situlah tari kontemporer menemukan kekuatan artistiknya yang paling menggugah.




