Banamo Kampuang Banuaran, Kampuang nan tatuo Alam Surambi Sungai Pagu, kadudukan daulat maso daulu. Mulo mandapek di Kualo Banda Lakun, asa nan dari Batang Hari, nan mamudiakkan Batang Bangko. Banuaran kotonyo tuo, tampek Inyiak Syamsudin Sadewono, nan tuo Puti Lipua Jajak, babungka ameh duo baleh taia, pandai batenggang di nan indak, wakatu lapang jaan jaie.
Kampung tersebut bernama Banuaran, kampung tertua di Alam Surambi Sungai Pagu, tempat daulat raja-raja dahulu. Kerajaan ini bermula di Kualo Banda Lakun, asal orang-orangnya dari Batang Hari, kemudian mudik ke Batang Bangko. Banuaran adalah kampung tua, tempat Inyik Samsudin Sadewano, serta Puti Lipua Jajak, seorang yang kaya raya serta pandai menenggang keadaan.
Diduduak-i wakia baliau, sasudah pindah ka Kampuang Dalam, Bagindo Sultan Gadang, Daulat Tak Rajo Kaganti Rajo, didampiangi Datuak Rajo Mulia, nan memuliakan kagadangan, daulat tampek ba iyo jo batido, malakuan amanat dari daulat, mamacik pitaruah dari daulat, satitiak jadikan lauik, sabingka jadikan gunuang.
Pasca pindah ke Kampung Dalam, beliau mengambil seorang wakil yang bernama Bagindo Sultan Gadang, menjadi ganti raja, yang didampingi oleh Datuk Rajo Mulia, melaksanakan amanat dari daulat, memegang petaruh daulat, setitik dijadikan laut, segenggam dijadikan gunung.
Lorong kapado Rajo Bagindo, iyolah pamacik tambo pusako, barumah gadang batapian, bapamenan inyik surang, duo jo ula nan balingka. Kapado tangannyo tambo dipacik, urang batanyo basubaliak, bateh nagari jan sampai sungkik.
Sementara Raja Baginda, beliau memegang tambo pusaka, punya rumah gadang sendiri, punya tepian mandi sendiri, juga punya peliharaan berupa harimau dan seekor ular besar. Di tangannya memegang tambo, tempat orang-orang bertanya mengenai batas-batas wilayah.
(Dalam Alam Surambi Sungai Pagu, Iku Lareh Kapalo Rantau, Kapak Radai Luhak Nan Tigo karangan Marsadis DT. ST. Mamat, Puti Lenggogeni Rumah Panjang Sigintir bertanggal 7 Juli 1980)
***

Siang itu saya tak menemukan lagi aroma Inyiak Samsudin Sadewano Nan Bagombak Merah Bajangguik Putiah di sepanjang pekarangan rumah gadang Bagindo Rajo Adat Alam Surambi Sungai Pagu, juga sisa-sisa pekik ketakutan Belanda yang dulu lintang-pukang dikejar harimau Balun saat hendak membakar rumah gadang tersebut. Yang saya jumpai justru seorang perempuan paruh baya, berkerudung cokelat, dengan kacamata bundar, dan sedang memegang tangkai sapu. Dari mulut perempuan inilah kemudian saya mendengar banyak hal mengenai kisah-kisah heroik masa lalu.
Engsel pintu rumah gadang itu sudah sedikit turun, menimbulkan derit panjang saat perempuan itu menariknya, sebelum kemudian aroma kayu kering menyerbu hidung saya. Perempuan itu kemudian menyilakan saya masuk. Anak tangga semen langsung mengantarkan saya pada ruangan kecil yang menyatu dengan rumah gadang, yang tentu saja tidak lazim jika dibandingkan dengan desain rumah gadang pada umumnya di tanah matrilineal ini.
Pandangan saya pertama kali langsung tertumbuk pada barang-barang yang digantung di dinding; ada lukah bambu berbagai ukuran, sumpik, deretan foto lama, logam-logam yang dijejer di lemari kaca, juga beberapa kursi rotan yang masih terawat. Seperti rumah gadang lain, rumah gadang Rajo Adat Sungai Pagu ini juga didesain dengan jendela lebar dan diperhitungkan ke mana arah menghadapnya, sehingga sirkulasi udara sangat baik dan berada di dalamnya tidak terasa gerah.

Satu-persatu, saya mulai mengonfirmasi bacaan saya selama ini; tentang kedatangan orang-orang Bungo Satangkai yang membawa air sungai Nil dan menimbangnya dengan aliran Batang Bangko, tentang sengketa antara Inyiak Garagasi dengan Inyiak nan Kawi Majoano, kedatangan dua orang Inyiak; Samilu Aie dan Samiek, pun delapan rombongan setelahnya. Kemudian terakhir, rombongan Inyiak 60 Kurang Aso yang membangun kerajaan secara terstruktur dengan konsep Rajo Ampek Selo. Raja Alam dengan suku Malayu, Raja Adat dengan suku Kampai, Raja Ibadat dengan suku Panai, dan Parikpaga dengan suku Tigo Lareh Bakapanjangan.
“Masa PDRI, Syafruddin Prawiranegara pernah menginap di sini, beliau bersama rombongan saat itu hendak menuju Abai, karena terlalu lelah dalam gerilya, beliau menjadikan rumah gadang ini sebagai tempat peristirahatan. Tapi besok malamnya, saat rombongan sudah bergerak menuju Abai, serdadu-serdadu Belanda menyerbu rumah gadang ini dan membakarnya. Dua rangkiang di bagian depan hangus terbakar, tetapi saat mereka hendak membakar rumah gadang, inyiak dan seekor ular besar turun dari bukit belakang rumah dan mengganyang mereka,” ujar perempuan itu penuh minat.

Saya kemudian diajak ke bagian dalam rumah setelah berkata saya ingin menuliskan sesuatu tentang rumah gadang ini dan juga sejarahnya. Perempuan itu bersemangat mengangkat sebilah papan lantai dan meminta saya melongok ke dangau rumah, di tiangnya masih membekas warna hitam bekas terbakar, juga lempengan kayu hangus yang mungkin memang sengaja dibiarkan demikian sejak Belanda membakarnya.
“Jadi inyiak masih ada dan menjaga rumah gadang ini sampai sekarang, Puti?” Saya bertanya setelah perempuan itu menutup kembali lantai rumah gadang.
“Ya, di hari-hari tertentu, seperti mambantai kabau nan gadang, acara adat, atau pernikahan, selalu ada jatah yang diantarkan ke atas bukit untuk inyiak.”
Saya mengangguki itu, kisah-kisah tentang harimau Balun yang menjaga tanah ulayat orang Kampai memang sudah santer terdengar. Harimau itu kadang juga terlihat oleh warga, tetapi hanya sekilas karena menurut cerita, tidak semua orang punya keberuntungan dapat melihat harimau Balun yang ukurannya sangat besar tersebut. “Pokoknya dari kaki bukit ini sampai Diak Sako, sampai ke atasnya lagi, sepanjang bukit Barisan yang masuk ke dalam wilayah Sungai Pagu, itu dijaga oleh inyiak. Jangan coba-coba berbuat kurang ajar di ulayat ini.” Kawan saya, Anoma, pernah menyampaikan perihal harimau Balun.

Perempuan yang kini berada di hadapan saya, keturunan ke-16 dari Rajo Adat Kerajaan Sungai Pagu, menuturkan banyak hal yang sudah terjadi di dunia ini. Ada yang tercatat tapi juga ada yang tidak, bahkan ada yang hanya sekadar hadir dalam ingatan masyarakat dan semua orang mematuhi hukum tersebut. Perihal harimau memang sudah menjadi rahasia umum belaka, setiap orang Sungai Pagu tahu itu dan juga pantangan-pantangannya, meski tidak seluruhnya menyaksikan kehadiran sang inyiak.
Saat saya berkeliling dan melihat koleksi foto-foto di bagian dalam, saya melihat sebuah foto lama seorang perempuan berbaju merah yang sedang berdiri di samping sebuah manuskrip kuno. Saya langsung mengalihkan pandangan, dan perempuan di hadapan saya tersenyum.
“Itu saat pameran surat emas raja-raja di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, entah di tahun 95 entah 96, sudah lupa,” jawabnya diiringi tawa.

Sumber: Koleksi Tropenmuseum, Belanda
Saat saya mengutarakan ingin melihat naskah asli tersebut (karena yang dipamerkan di dalam kotak kaca luar hanya foto copy saja), perempuan itu keberatan. Saya terus merengek, tetapi semua sia-sia. Keajaiban baru berpihak pada saya saat mengatakan saya juga bersuku Kampai, dengan begitu kami tentu saja sama, keturunan Kampai Nan 24. Inilah senjata yang kemudian membuat perempuan itu bangkit dari duduknya menuju bilik rumah gadang di dekat anjungan dan membawa sebuah tabung bambu lama berwarna hitam ke hadapan saya.
Naskah Balun tersebut masih berupa gulungan, kemungkinan media tulis yang dipakai adalah kulit sapi atau kambing. Tetapi yang jelas naskah aslinya memang betul-betul mengagumkan daripada sekadar foto copy yang ditampilkan sebagai pameran di dalam rumah gadang.
“Kalau bukan orang Kampai yang datang, naskah ini tidak akan ditunjukkan,” ujar perempuan itu membuka penutup bambu. “Naskah ini dibersihkan setiap enam bukan sekali, di hari-hari baik ini adalah warisan yang kami jaga selama turun-temurun sebagai pemegang kunci adat kerajaan.”
Saya tercengang melihat isi tabung bambu tersebut. Gulungan naskah kunonya begitu halus dan rapi, disusun sedemikian rupa dengan cap kerajaan berada di bagian tengah. Saya mengamatinya cukup lama, tetapi sayang perempuan itu melarang saya mengambil foto naskah asli tersebut, hanya boleh melihatnya saja.
“Datanglah ke istano-istano yang ada di sini, mana tahu ada hal yang membuat terkesan. Kita orang Kampai selalu dianugerahi kemampuan untuk peduli pada sejarah, peduli pada asal-usul dari mana kita, juga tentang siapa kita sebenarnya. Karena itulah suku kita memegang tambo adat di kerajaan.”
Saya mengatupkan mata, menyesap udara rumah gadang itu lebih dalam lagi dan menyimpan buhul dalam hati, semoga perempuan itu tetap berumur panjang. Keturunan ke-16 yang masih memegang kunci kerajaan. Satu kali, saya membayangkan bagaimana jika ada naskah lain yang jauh lebih rahasia? Tentang harta karun kerajaan? Atau harta-harta ulayat yang memang sengaja disembunyikan untuk anak kemenakan di masa depan? Di jalan pulang itu, hati saya kecut, karena jalanan dilalui mobil-mobil bak mengangkut solar, juga terpal-terpal biru yang ditanam di puncak bukit. Pemegang kunci hanya tinggal kunci belaka, rumahnya sudah di ansur sedikit demi sedikit. (*)






