
“Ambil keranjangnya,” kata seorang ibu pada anak perempuan usia SD, ketika baru saja masuk area Out of The Boox (OOTB), Bazar Buku Lokal dan Impor, di Fabriek Padang, pada Minggu 1 Februari lalu. Anak itu, mengambil sebuah keranjang yang terletak di lantai, di antara meja-meja yang terdapat susunan tumpukan buku-buku beragam judul.
“Nanti bukunya aku pilih masukin ke sini kan Bu,” kata anak tersebut, kepada perempuan muda, yang tampak datang bersama suami dan dua orang anaknya. Si ibu mengangguk. Selain gadis kecil yang baru saja menuju meja tumpukkan buku anak, tampak ada adiknya, laki-laki, yang terkesan cuek melihat-lihat orang-orang yang mulai ramai menjelang siang itu.

Di barisan kasir, terlihat beberapa orang antre membayar, dengan beberapa buku di tangan, dan terlihat para ayah dan ibu, kita sebut saja begitu, keranjangnya penuh buku bacaan untuk anak-anaknya. Juga beberapa anak muda, dengan pilihan buku siap untuk dibayar.
Di bagian ujung, beberapa anak-anak jongkok memilih buku terbitan Mizan “Kecil-Kecil Punya Karya”, yang harganya lebih murah dari biasanya. Ada, satu, dua, tiga, ya enam orang anak, yang tidak saling kenal fokus pada tumpukan buku anak murah.
“Kami senang ke acara semacam Out of The Boox, bazar buku ini karena bisa membawa anak-anak, dan bisa memperkenalkan banyak buku kepada mereka, dan mereka memilih buku yang mereka sukai,” kata Nilna R Isna, pegawai BPJS ini kepada cagak.id. yang datang juga bersama suaminya. Nilna seorang ibu, yang di masa SMAnya juga akrab dengan bazar buku besar di Padang, yaitu Padang Book Fair, Minangkabau Book Fair serta Islamic Book Fair yang meriah dalam rentang tahun 2005-2009.
Menurut Nilna, ternyata membawa anak-anak bermain di acara bazar buku itu seru. Anak-anak terlihat riang berlari-lari dari satu meja tumpukan buku ke meja lainnya. Mereka senang, mungkin karena banyak pilihan.
“Saya lihat banyak buku-buku aktivitas untuk anak-anak TK dan buku-buku cerita terbitan Mizan yang cocok sekali buat anak-anak usia 3-5 tahun,” ujar Nilna, yang selain kelas I SD, juga memang punya anak usia tersebut.

“Dengan membawa anak-anak kita ke pameran buku, ke toko buku, kita sebenarnya sedang menanamkan nilai, bahwa membeli dan membaca buku itu harus masuk kategori penting dalam program pendidikan anak,” Silvia, pegawai swasta yang tinggal di Kuranji Padang. Silvia, ibu 35 tahun beranak dua ini, mengaku senang membawa anak-anak yang masih kelas III dan V SD ini, memberi pengalaman baru. Ke toko buku dan ke ajang seperti (OOTB), ini, tentu beda serunya. Setidaknya kelak ia remaja atau dewasa bisa mengingat, ayah dan ibu pernah bawa ke pasar buku yang bukan di toko buku.
Silvia yang datang bersama suaminya, mengaku setiap bulan punya bujet khusus untuk beli buku bacaan anak-anak. Ini juga perintang-rintang dia bermain hp.
“Ibu, kok buku ensiklopedia gak ada di sini,” kata salah seorang anak Silvia.
“Coba tanya ke om yang jaga,” jawab Silvia sambil tersenyum. Ia mengatakan, anak-anaknya suka ensiklopedia, karena di rumah dia punya satu set Ensklopedia Popular Anak dan itu mereka sukai karena banyak gambar dan bahasanya mudah dipahami anak. Walau era digital, Silvia mengatakan, orang tua harus punya cara menjadikan buku sebagai salah satu kebutuhan untuk dia sepanjang masa.
Di Akhir Pekan, Ramai Keluarga Muda
OOTB berlangsung sejak 22 januari – 9 Februari 2026, digelar oleh Penerbit Mizan bekerjasama dengan Fabriek Padang. Menurut Nurman Penanggungjawab OOTB, bazar buku ini diikuti lebih dari 100 penerbit.
“Ada 1300 koli buku yang kita bawa untuk warga kota Padang,” kata Nurman. Nurman menjelaskan, bazar buku ini, disebut juga Gudang Buku Keliling, kalau ditotal keseluruhan buku secara eksemplar, maka ada 20 juta buku semuanya. Wow. Cukup banyak.

Selain di Padang, untuk wilayah Sumatera OOTB juga digelar di Kota Lampung, Pekanbaru dan Medan. Padang termasuk daerah dengan minat beli dan baca buku yang tinggi. Di akhir pekan, pengunjung kata Nurman tembus sekitar antara 3000-4000an orang. Dan rata-rata keluar membawa kantong berisi buku.
“Khusus akhir pekan banyak pengunjung dari keluarga muda, bersama istri atau suami membawa anak-anak memilih-milih dan membeli buku…. “ terang Nurman. Tapi, remaja, mahasiswa dan kaum muda, hampir setiap hari berkunjung dan mereka cenderung mencari bacaan fiksi, karya-karya sastra. Di OOTB, tersedia buku-buku sastra: novel dan kumpulan cerita, budaya, bacaan anak, sains, agama dan manajemen serta banyak lainnya. Dan di sini diskon buku sampai 70 persen.
Rayhan, mahasiswa UNP Padang, mengaku ke OOTB, mencari novel-novel murah, terutama terbitan Mizan Group, apalagi novel terjemahan. Baginya, dapat buku yang diskon sampai 40 persen sudah luar biasa. Cuma kadang, buku-buku yang diskon sampai 70 persen, tidak buku yang diminatinya.

Adanya iven seperti OOTB ini, menurut Ketua Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Padang, Tomy Iskandar Syarif, menjawab keraguan kita yang selama ini menduga minat beli dan baca buku di Kota Padang rendah. Ternyata tidak, kan? Asalkan tempat penyelenggaraan yang tepat, terutama pas bagi Gen Z dan keluarga muda, maka pengunjung akan ramai. Gen Z dan keluarga muda, pergi ke acara semacam bazar buku, kata Tomy, selain mencari buku yang mereka butuhkan, juga sembari menikmati suasana kegiatan yang diselenggarakan dengan menarik.
“Mereka tidak hanya mencari novel, tapi juga buku-buku pemikiran atau semacam Tan Malaka, Karl Marx, Machiavelli, dan Pramudya Ananta Toer, dan lainnya…. Ini artinya, mereka tahu apa yang dicari…,” ujar Tomy menegaskan. Di sinilah, pada OOTB antusias warga, mulai dari anak, remaja, dewasa dan keluarga, relatif ramai berkunjung, karena yang datang pasti pecinta buku. Di sini ruang seru mereka. Bisa lihat, pilih, lirik diskon dan beli sambil asyik-asyik.
Membeli Buku, Sebuah Kemewahan
Menyaksikan sebuah keluarga, ayah, ibu dan anak, atau ayah atau ibu bersama anak ke toko buku maupun ke bazar buku sebagaimana ilustrasi di awal tulisan ini, di zaman kini, suatu hal yang bermakna. Apalagi, melihat mereka pulang dengan senyum membawa satu dua judul buku untuk dibaca di rumah. Tentu di zaman dimana toko buku banyak tutup, orang lebih memilih menatap layar handphone menyaksikan konten-konten di IG, TikTok, YouTube, Facebook sampai godaan game yang makin menyita waktu, melihat keluarga, dan juga para Gen Z ke toko buku jelas suatu yang menakjubkan.
Aqila, mahasiswa FIB Unand, mengaku ke OOTB, sengaja mencari buku-buku bagus diskon tinggi, untuk dibaca dan dikoleksinya. Kebiasaan membeli buku, katanya diajarkan oleh ayahnya sejak dini. Ia sering dibelikan buku dan diajak orangtuanya ke toko buku, sehingga menjadi kebiasaan baik. Kalau kita suka buku, memiliki rak buku yang belum penuh itu, bikin semangat kita menyediakan uang lebih untuk membeli buku untuk dibaca itu juga meningkat.

“Anak muda ke bazar buku, sendiri atau rombongan, itu membuat kita merasa bersyukur. Karena generasi gemar membaca dan mau menyisihkan jajannya membeli buku itu luar biasa,” kata Muslim Yakub, seorang wiraswasta yang datang ke OOTB sendirian karena ingin melihat-lihat buku-buku langka, mana tahu ada yang menarik. Muslim, pria 45 tahun ini, mengaku gandrung beli buku sejak masih SMP. Kebetulan dulu ia suka membaca buku ke taman baca di Padang Teater, baca-baca komik dan beli buku bacaan bekas untuk dibaca di rumah.
Ketika ditanya, apakah ia dan keluarga termasuk punya jadwal khusus atau perencanaan khusus ke toko buku maupun membeli buku. Muslim bercerita, ia sejak dulu kagum melihat orang-orang punya koleksi banyak buku di rumahnya. Ya memang, kadang keluarga Indonesia secara ekonomi belum mampu menyisihkan uang untuk beli buku. Apalagi mereka memang tidak tertarik pada dunia membaca. Ini makin tidak masuk akal diajak membaca apalagi membeli buku. Dipinjami saja belum tentu mau.
Rizal KS, 54 tahun, mengaku paling sering menghadiri iven pameran atau bazar buku, baik di Padang atau Jakarta. Baginya, membaca dan membeli buku sudah lazim dalam hidupnya. Sejak remaja, saya sering membeli novel atau buku cerita, juga meminjam ke taman baca yang ketika itu tahun 90an dan awal 2000-an marak di berbagai tempat di kota Padang. Karena itu, ia yang tak mau menyebutkan pekerjaannya secara spesifik ini mengatakan, kalau terbiasa membaca buku, tidak bertemu buku itu bikin gak enak hati.
Bagi Rizal, kalau ada orang tua memotivasi anaknya gemar membaca, membelikan buku, itulah sesungguhnya investasi paling mahal bagi anak. Cuma, katanya, rambut kita sama hitam, pemahaman kita terhadap sebuah persoalan berbeda-beda. Ada orang tua sangat bangga membelikan anaknya handphone harga belasan juta, ada orangtua merasa bahagia membelikan anaknya sebuah buku fiksi harga ratusan ribu. Bagi Rizal, buku, tetap kemewahan.

“Membawa anak ke pameran buku itu seperti membawa mereka ke taman bermain pikiran,” kata Rizal berkias kata. Benar. Anak-anak yang dikenalkan ke buku sejak dini, remaja, ia bagai kita antar ke sebuah dunia yang menghadirkan gagasan, rasa dan pikiran. Sehingga ia memiliki perspektif tertentu yang baik dalam melihat masalah dan penyelesaiannya.
Para ahli pun banyak mengatakan, bahwa kehadiran kita bersama anak-anak ke bazar buku, toko buku, perpustakaan adalah sebuah tanggungjawab moral, yang sesungguhnya tidak bisa diremehkan. Dari kebiasaan atau hal baik tentang buku yang kita sediakan untuk anak sejak dini, apalagi di rumah ada perpustakaan pribadi, memiliki arti bahwa anak akan belajar bahwa buku itu benda fisik yang menyenangkan—ada baunya, ada tekstur kertasnya, dan ada visual yang megah.
Membiarkan anak memilih satu buku pilihannya sendiri di pameran akan menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) terhadap bacaan tersebut, sebagaimana pengalaman Nilna bersama anak-anak, yang membiarkan anak-anaknya bergembira berlarian mencari dan memilih buku-buku yang menurut anaknya bagus.
Berangkat dari pemahaman “pentingnya mengajak anak memiliki pengalaman bersama buku”, ada hal yang perlu diingat, yakninya, sebagai orangtua, tidak cukup dengan membuat anak mencintai buku, tapi juga menjadikan anak mencintai waktu yang mereka habiskan bersama orang tua saat membaca buku. Jika orang tua hanya menyuruh anak baca sementara mereka asyik main ponsel, program ini akan gagal. Kuncinya adalah keteladanan, contoh dari orang tua.
Sebagai catatan bersama, bahwa dalam sosiologi, ada konsep bernama Home Library Culture. Keberadaan fisik buku di setiap sudut rumah menciptakan ekosistem.
Secara filosofi kehadiran, anak yang tumbuh di rumah penuh buku secara bawah sadar menangkap pesan bahwa “pengetahuan itu penting dan dekat”. Buku menjadi furnitur jiwa. Tanpa perlu dipaksa baca, melihat punggung buku setiap hari membangun rasa akrab terhadap ilmu pengetahuan, sehingga menyentuh, membaca dan menjadi energi sebagai manusia berilmupengetahuan. []




