Taman

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Pagi itu matahari seperti kue hangat yang dipotong-potong oleh jendela kelas. Aku suka cahaya itu karena selalu berhenti tepat di ujung mejaku. Di luar, suara ayam masih bersahut, seolah belum rela hari berangsur siang. Bu Guru menulis huruf-huruf di papan dan aku menirukannya pelan-pelan. Wajahku berpaling pada meja dan papan tulis bergantian. Meski begitu, beberapa garis masih saja berlari ke arah yang salah.

Bu Guru hari ini tak banyak bicara. Ia meminta kami berkreasi bebas dengan kertas dan buku gambar. Ada yang menggambar rumah, ada yang melipat kertas jadi pesawat, ada juga yang mewarnai gambar pemandangan. Biasanya ia memuji gambarku dan teman-teman, tapi kali ini hanya berjalan pelan di antara meja. Sesekali ia berhenti di mejaku, menatap wajahku agak lama. Matanya seperti mencari sesuatu di wajahku. Padahal aku ingin Bu Guru melihat gambarku, bukan wajahku.

Aku memilih menggambar taman dengan bunga yang tinggi sekali, mungkin setinggi tiang bendera. Di bawahnya, aku menggambar Ibu yang sedang duduk. Ah, iya, pagi tadi Ibu tidak mengantarku ke pintu depan sebelum berangkat sekolah. Ibu bilang ingin berbaring sebentar. Aku pikir Ibu masih mengantuk, jadi aku berangkat saja.  Ia memakai baju yang sama seperti di gambarku, warna hijau yang lembut seperti embun di rerumputan. Aku belum sempat menunjukkan gambarku kepada Bu Guru ketika ia menghampiriku, menepuk bahuku lembut.

“Ikut Bu Guru sebentar, yuk. Kita ke taman,” katanya.

Aku mengangguk. Kupikir, mungkin di sekolah ada taman baru. Aku suka taman. Di sana biasanya ada ayunan, pohon, dan kupu-kupu yang tak takut pada manusia. Aku ingin membawa kertas gambarku ke sana, supaya aku bisa membayangkan Ibu duduk di taman, sama seperti yang kugambar. Namun, aku lupa membawanya sebab Bu Guru menggandeng tanganku agak tergesa.

Bu Guru menggenggam tanganku. Tangannya hangat, tapi tidak seperti biasanya. Tangannya sedikit lembap. Mungkin karena panas. Kami berjalan melewati halaman sekolah, menuruni jalan kecil yang penuh daun kering dan kerikil berserakan. Aku menendangnya satu, dua, berharap kerikil itu terpental membawa kebosanan.

“Bu Guru, kita ke taman yang mana?” tanyaku.

Bu Guru tersenyum sedikit.

“Taman yang agak jauh,” katanya.

Aku tidak tahu seberapa jauh itu, tapi aku selalu suka tempat baru. Di jalan, kami bertemu beberapa orang yang aku kenal. Ada tetangga, ada ibu temanku, dan mereka semua memakai baju berwarna gelap. Aku ingin menyapa, tapi mereka seperti terburu-buru sehingga tidak melihatku. Wajah mereka seperti ditiup angin yang membawa gerimis.

Kami sampai di ujung jalan. Sepertinya kami telah tiba di tujuan. Namun, tidak ada ayunan, tidak ada bunga. Aku sedikit bingung. Tanahnya luas sekali, warnanya seperti lumpur yang baru dibuat hujan. Pohon-pohon tinggi berdiri diam, daunnya bergoyang pelan. Di bawah, bayangannya bergeser pelan, menutupi kaki orang-orang yang datang.

Angin berembus pelan di antara batu-batu panjang yang berjajar. Orang-orang berkumpul di sana. Tentu saja bukan untuk mengantre ayunan. Mereka mengelilingi sebuah lubang tanah yang baru digali.

Aku menatap Bu guru. “Ini tamannya?”

Ia tidak menjawab. Matanya memandang ke kerumunan orang.

Orang-orang berdiri rapat. Semua memakai baju hitam, sepertinya agar tidak silau oleh matahari. Bu guru pernah bilang, warna hitam bisa menyerap cahaya, jadi mungkin mereka ingin menyimpannya. Namun, cahaya matahari tetap menembus, jatuh di wajah mereka yang basah. Dari jauh, mereka seperti pagar kayu di halaman rumah yang tinggi dan jarak antara kayunya berbeda-beda. Beberapa tangan menggenggam bunga, dan kelopaknya bergetar kecil tiap kali angin lewat.

Aku menatap sekeliling, mencari ayunan dan bunga-bunga, tapi tidak ada. Bunga-bunga tidak tumbuh di tanah, mereka mekar di tangan dan keranjang yang dibawa orang-orang. Lalu ada rumput yang belum tumbuh rata, tanah lembap, dan … aku melihat beberapa teman sekolahku. Aku tidak ingat kapan mereka datang. Ada yang diantar ibunya, ada yang digandeng ayahnya. Aku satu-satunya yang digandeng Bu Guru.

Bu Guru menggenggam tanganku makin erat. Telapak tangannya masih lembap, mungkin karena udara atau karena menggenggam tanganku terlalu lama. Aku ingin bertanya lagi. Apakah di taman ini nanti akan ditanam bunga besar? Namun, tidak jadi. Aku melihat Bu Guru menggigit bibir. Angin berembus agak kencang. Debu-debu yang dibawa angin membuat mata Bu Guru sedikit berair.

Di dekat lubang tanah itu, ada benda panjang berwarna cokelat yang ditutup kain. Aku berpikir, mungkin mereka akan menanam pohon besar. Lubangnya cukup dalam. Pohonnya pasti indah, karena semua orang datang untuk melihat.

Aku bertanya pada Bu Guru, “Bu, mereka mau menanam apa?”

Bu guru tidak langsung menjawab. Tangannya menekan pundakku pelan.

“Bunga. Dan doa-doa,” katanya, suaranya serak.

Aku tidak tahu maksudnya, tapi aku membayangkan bunga yang tumbuh langsung dari tanah tanpa disiram. Mungkin bunganya tinggi dan besar seperti yang ada di gambarku. Mungkin warnanya ungu atau biru—warna yang disukai Ibu.

Beberapa orang terlihat membawa payung yang terbuka. Beberapa yang lain mengenakan kacamata hitam. Aku melihat ke atas. Biasanya, Ibu selalu mengingatkanku untuk membawa payung pada hari yang mendung dan membukanya ketika hujan benar-benar turun. Namun, kulihat matahari ada di atas sana, tak terlalu terik. Bahkan, aku bisa mengintip ke atas sana tanpa membuat mataku perih.

Seseorang di depan menaburkan bunga ke dalam lubang. Bunga-bunga itu jatuh perlahan. Aku menunggu batang pohon diturunkan, tapi yang turun hanya keheningan. Bau tanahnya kuat sekali, seperti hujan yang belum selesai. Aku menarik napas, tapi baunya ikut masuk ke dada, membuat sesak, dan perutku pun terasa penuh.

Beberapa orang menunduk, yang lain memejamkan mata. Angin tiba-tiba berhenti. Aku menatap Bu Guru, tapi ia hanya menggeleng pelan dengan jari telunjuk di depan bibir. Aku tahu itu artinya diam dulu. Namun, diam kali ini panjang sekali, seperti jam dinding di kelas yang jarumnya lupa bergerak. Diam tidak membuatku tenang. Di dadaku ada suara kecil, seperti jam di kelas yang terus berdetak. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Namun, setiap kali seseorang mengembuskan napas, suaranya berpindah ke dadaku.

Di dekat pohon aku melihat dua orang anak yang kukenal. Mereka teman-temanku yang sering kali ribut di belakang kelas. Mereka terlihat berbisik sambil tertawa pelan. Lalu, orang tua mereka menjitak kepala mereka. Mungkin karena orang-orang di sini tidak ada yang berbicara. Aku hampir ikut tertawa. Meski akhirnya hanya tersenyum saja.

Aku melihat lubang di tanah itu sekali lagi. Tidak ada biji, tidak ada akar, tidak ada pot bunga. Aku berpikir mungkin mereka akan menanam sesuatu yang istimewa. Mungkin benar itu bunga yang besar, sebab kulihat orang-orang datang membawa bunga juga.

Seorang laki-laki tua berdiri di tepi lubang, tangannya gemetar saat menggenggam sekop. Ketika ia menunduk, air dari matanya jatuh ke tanah. Aku heran, mengapa orang meneteskan air ke tanah bukannya menyiram dengan air? Sekali lagi, aku ingin bertanya, tapi tidak ada orang yang bisa ditanya. Semua orang menunduk, jadi aku diam saja.

Lalu ada bunyi.

Srek …

Bruk …

Sruk …

Tanah mulai dijatuhkan ke dalam lubang itu. Setiap bunyi membuat udara jadi berat. Aku menatap ke langit. Awan tiba-tiba menutupi matahari. Warna siang jadi pucat, seperti kertas gambarku yang kuhapus saat aku salah menggambar rambut Ibu.

Sejak itu aku diam. Hanya melihat tanah yang perlahan tertutup. Aku tidak tahu apa yang mereka timbun di dalam lubang, tapi aku merasa tanahnya tidak benar-benar diam.

Aku mendengar seseorang menangis. Aku menoleh. Wajah Bu Guru basah, tapi ia tersenyum padaku dengan mata yang sama. Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba tenggorokanku terasa sempit, seperti habis minum air dengan buru-buru. Aku tidak menangis, tapi sesuatu di dalam kepalaku terasa ingin keluar, seperti ketika aku terpaksa mewarnai langit dengan warna abu-abu sebab pensil warna biru tidak bisa kutemukan.

Tanahnya sudah rata sekarang. Orang-orang mulai pulang, meninggalkan bunga-bunga yang bertebaran di tanah. Beberapa orang yang berlalu menatapku dengan senyum yang hening sembari menyeka mata mereka. Aku masih berdiri di sana, menatap gundukan kecil itu. Tadi Bu Guru bilang, semua orang menanam doa di sini. Namun, aku tidak melihat bijinya. Kupikir, kalau memang ditanam, nanti akan tumbuh sesuatu.

Angin lewat sekali lagi, membawa bau bunga dan tanah basah. Aku teringat Ibu yang pagi tadi bilang ingin berbaring sebentar. Tangannya sempat menyentuh rambutku, dingin tapi lembut. Ia menjawab salamku dengan suara yang hampir hilang, lalu memejamkan mata. Aku pikir Ibu tentu lelah.

Orang-orang mulai pergi, tapi aku masih mendengar langkah-langkah kecil yang entah milik siapa. Seperti ada yang memanggilku dari jauh, tapi aku tidak tahu dari arah mana.

“Sudah, ayo pulang,” kata Bu Guru pelan.

Aku mengangguk, tapi mataku masih menatap tanah. Aku ingin menunggu sampai tanamannya tumbuh, walau sedikit saja. Namun, yang bergerak hanya bayangan awan. Angin berjalan lebih dulu, membawa harum bunga yang tertinggal. Kukira, mungkin bunga di taman itu mulai tumbuh sebentar lagi. Nanti kalau sudah tumbuh akan kuajak Ibu melihatnya.

Aku menatap ke arah tangan-tangan yang masih menabur bunga ke tanah. Kelopak-kelopaknya beterbangan, menempel di ujung rumput dan batu-batu. Angin meniup beberapa ke arahku. Aku menangkap satu, kecil sekali, dan aromanya samar—seperti bau bantal Ibu ketika ia baru bangun tidur. Aku menutup kelopak itu di telapak tanganku.

Aku menggenggam kelopak itu erat-erat. Nanti akan kuceritakan pada Ibu—tentang taman tanpa ayunan, tentang bunga yang ditanam tanpa biji, tentang Bu Guru yang menangis karena debu. Aku tidak sabar menunggunya bangun. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top