
Beberapa bulan lalu, aku membuatkan saudara perempuanku legal briefing untuk membantunya menangani suatu sengketa harta warisan di luar negeri. Ikhtisar hukum tersebut berisikan sintesis aturan properti, ketentuan pajak lintas-batas, dan sejarah prosedural yang cukup rumit dari dua negara dengan sistem hukum yang berbeda. Ketika kukirimkan kepadanya, suaminya membacanya, dan tanggapan pertamanya sangat positif. “Wow,” tulisnya, “aku jadi paham sekarang mengapa kau berhasil dalam kariermu.” Beberapa jam kemudian datang pesan kedua. Katanya, dia tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya seberapa banyak peran AI dalam membuat konsep itu.
Pertanyaan itu diajukan tanpa nada permusuhan, tetapi mengubah segalanya. Awalnya dia mengagumi dokumen itu, kemudian mulai bertanya-tanya apakah dia benar-benar mengagumiku. Ternyata keduanya adalah hal yang sangat berbeda, dan dia tahu itu. Teks tersebut, yang beberapa saat sebelumnya tampak mengandung kualitas kecerdasanku yang khas, tiba-tiba kini terlihat seperti sebuah produk, sesuatu yang bisa datang dari mana saja. Apa yang dia alami dalam pesan kedua itu, dan apa yang kurasakan saat membacanya, adalah sesuatu yang dalam teori sastra selama sebagian besar abad kedua puluh selalu ditekankan tidak boleh hilang: aura pengarang.
Dari beberapa sumber, kita telah diberitahu selama lebih dari lima puluh tahun bahwa pengarang sudah mati. Roland Barthes mengumumkannya pada tahun 1967. Michel Foucault mengubah dan memperdalam klaim tersebut pada tahun 1969. Bersama-sama, mereka membongkar figur Romantis tentang jenius kreatif yang menyendiri, individu terilhami yang biografi dan niatnya diharapkan membuka makna dari setiap teks dan, sebagai gantinya, keduanya mengusulkan bahwa makna dihasilkan dalam membaca, dalam wacana, dan dalam mesin institusi budaya. Kritik sastra bergerak secara substansial ke arah itu, meskipun narasi bakunya menyederhanakan sesuatu yang lebih rumit. Kritik biografis sebenarnya tidak pernah hilang. Lebih tepatnya, kritik ini menjadi tidak populer di kalangan tertentu sementara terus berlanjut di sebagian besar kalangan lainnya. Kritik genetik, yang berkaitan dengan manuskrip, draf, dan tahapan kerja kepengarangan yang dapat ditelusuri dalam sejarah tekstual, telah berkembang di Perancis dan tempat lain selama beberapa dekade. Kritik ini beroperasi tepat pada premis bahwa proses kerja pengarang itu penting, bahwa perjalanan menuju teks yang selesai itu merupakan bentuk makna tersendiri. [Begitu pentingnya proses kerja kepengarangan ini], bahkan seorang strukturalis yang paling teguh sekalipun, ketika dihadapkan dengan penemuan surat-surat Philip Larkin atau catatan harian Sylvia Plath1, cenderung membacanya.
Namun, di era large language model (LLM)2 ini, pengarang, yang konon sudah lama terkubur, telah menjadi pusat kegalauan kehidupan intelektual kontemporer. Pernyataan resmi universitas, kebijakan editorial, debat jurnalistik, laporan perusahaan—semuanya memiliki persyaratan yang berputar secara obsesif di sekitar pertanyaan yang menurut teori telah terpecahkan: Siapa yang menulis ini? Munculnya kembali pertanyaan itu bukanlah pertanda bahwa Barthes dan Foucault salah. Itu adalah pertanda bahwa kita tidak mengajukan pertanyaan mereka dengan cukup tepat. Kita menggabungkan dua pertanyaan yang sangat berbeda menjadi satu, dan harga yang harus dibayar untuk penggabungan itu kini telah jatuh tempo.
Esai Barthes yang berjudul “The Death of the Author” sering diterima sebagai klaim deskriptif, sebuah uraian tentang apa yang telah terjadi pada budaya sastra di penghujung tahun 1960-an. Tapi Seán Burke, dalam studinya yang sangat penting The Death and Return of the Author (1992), berpendapat secara meyakinkan bahwa sebagian besar esai Barthes sebenarnya bersifat preskriptif: sebuah polemik melawan praktik kritis yang mendasarkan interpretasi pada maksud pengarang, yang oleh Barthes dianggap sebagai laku ortodoks yang represif dibandingkan pendekatan alami terhadap teks. Ia menegaskan bahwa makna seharusnya dipahami sebagai hasil dari pertemuan antara teks dan pembaca. Pengarang harus mati agar pembaca dapat hidup.
Yang tidak dibahas Barthes, karena memang bukan ini yang menjadi concern-nya, adalah mekanisme yang menghasilkan, mengklasifikasikan, mendistribusikan, dan menetapkan pertanggungjawaban pada teks, terlepas dari bagaimana maknanya beredar. Di situlah bedanya Foucault, yang pertanyaannya lebih bersifat sosiologis. Dalam “What is an Author?”, yang disampaikan sebagai kuliah pada tahun 1969 dan sekaligus untuk menanggapi Barthes, Foucault tidak bertanya apa arti pengarang bagi interpretasi, tetapi apa makna kategori-pengarang bagi institusi. Jawabannya: “Pengarang” berfungsi sebagai alat klasifikasi. Ia mengelompokkan teks menjadi oeuvre3; Ia menetapkan legalitas kepemilikan, yang memungkinkan lahirnya hak cipta; Ia menetapkan pertanggungjawaban, yang memungkinkan sensor dan pencemaran nama baik; Ia memberikan prestise, mengatur genre, dan menyusun seluruh perangkat yang melaluinya budaya ditransmisikan dan dihargai.

Fungsi-pengarang, dalam konteks ini, merupakan konstruksi hukum dan wacana yang beroperasi hampir tanpa memerlukan manusia nyata yang menulis kata-kata di atas halaman. Kita tahu, Foucault sampai pada pemahaman ini, seperti halnya pada banyak pemahaman lainnya, melalui perhatiannya pada sosiologi institusi. Karya awalnya tentang medikalisasi homoseksualitas telah menunjukkan bagaimana kategori institusional membentuk dan menghasilkan subjek yang justru mereka klaim hanya untuk dideskripsikan dan diklasifikasikan. Fungsi-pengarang bekerja serupa: tampak seolah-olah melacak sesuatu yang alami tentang hubungan antara orang dan ciptaannya, tetapi sebenarnya tidak. Yang terjadi adalah pengaturan historis tertentu.
Perbedaan ini, yakni pengarang sebagai kehadiran kreatif dan pengarang sebagai fungsi institusional, selalu tersirat dalam perdebatan Barthes-Foucault. Namun, perbedaan ini tidak pernah dikembangkan dengan cukup tepat dalam dekade-dekade berikutnya. Roger Chartier, dalam The Order of Books (1992), meneliti bagaimana penerbit dan pembaca bersama-sama membangun fungsi-pengarang di berbagai periode sejarah; karya Andrew Bennett, The Author (2004), memetakan medan teoretis secara praktis; dan para sarjana yang bekerja di persimpangan kajian humaniora digital dan tekstual, baru-baru ini, bergumul dengan apa yang dilakukan oleh bentuk-bentuk penulisan yang terdistribusi dan terhubung jaringan terhadap kategori atribusi tradisional. Tetapi tidak ada dalam semua literatur itu yang benar-benar mempersiapkan kita untuk krisis spesifik yang sedang kita hadapi sekarang.
Krisis itu adalah: AI telah memisahkan, dengan kekuatan yang tiba-tiba dan nyata, dua hal yang sebelumnya dibiarkan menyatu oleh teori sastra. Di satu sisi, pengarang kreatif – manusia biografis yang kerja kognitif dan estetiknya menjadi dasar teks – secara progresif dialih-dayakan. Di sisi lain, fungsi-pengarang institusional tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin intensif: seseorang harus memegang hak cipta, seseorang harus tercantum sebagai penulis, seseorang harus bertanggung jawab ketika teks tersebut salah. Perpecahan ini mendefinisikan apa yang saya sebut sebagai Pengarang Administratif: individu yang menandatangani teks, memikul tanggung jawab, menerima pujian, mempersembahkan karya tersebut kepada dunia, tetapi yang telah mendelegasikan—dalam proporsi yang bervariasi tetapi seringkali substansial—kerja kognitif dan estetik untuk memproduksinya kepada sistem yang tidak mereka bangun dan yang logika generatifnya tidak sepenuhnya mereka pahami.
Bukan hanya teori sastra yang gagal mengantisipasi hal ini. Lembaga kehidupan intelektual, universitas, penerbit, badan pemberi hibah, dan asosiasi profesional, sama-sama tidak siap. Beberapa dekade sebagian besar dihabiskan dengan menerima begitu saja vonis teoretis bahwa pengarang adalah sebuah konstruksi, tanpa menyadari bahwa infrastruktur hukum dan ekonomi kepengarangan justru berpegang pada asumsi yang berlawanan. Hukum hak cipta selalu mensyaratkan pengarang manusia. Dunia akademis selalu mensyaratkan atribusi. Baik hukum hak cipta maupun akademisi tidak menunjukkan minat untuk merevisi persyaratan ini berdasarkan teori pascastrukturalis. Hasilnya, serangkaian institusi kini berjuang menerapkan kerangka akuntabilitas berbasis pengarang pada dunia di mana tindakan kreatif kepengarangan semakin bersifat opsional.
Sebelum mengukur apa yang hilang, ada baiknya kita menentukan secara tepat apa yang hilang tersebut. Sosok Romantis tentang jenius kreatif yang menyendiri, pengarang yang menghasilkan pemikiran orisinal ex nihilo dari kedalaman pikiran individu yang terinspirasi adalah—seperti yang ditunjukkan oleh Martha Woodmansee dalam esai pentingnya “The Genius and the Copyright” (1984)—penemuan historis yang relatif baru. Hal ini muncul di Jerman dan Inggris pada abad ke-18 sebagai argumen hukum strategis, yang dikembangkan oleh para penulis yang membutuhkan justifikasi kepemilikan atas karya mereka di pasar percetakan yang baru dikomersilkan. Sebelum ini, para penulis dipahami secara sangat berbeda: sebagai pengrajin, pengumpul, bejana tradisi dan inspirasi ilahi, peserta dalam rantai panjang peminjaman dan pengerjaan ulang. Gagasan bahwa sebuah teks menjadi milik pengarangnya karena sepenuhnya berasal dari pikiran individu pengarang tersebut, bahwa kreativitas adalah bentuk kekayaan intelektual pribadi, dalam skala sejarah sastra, merupakan hal baru sekitar dua setengah abad.
Dengan demikian, apa yang mungkin sedang dibongkar oleh AI bukanlah kebenaran abadi manusia, melainkan fiksi hukum yang, selama dua setengah abad tersebut, telah memperoleh kekuatan alam. Dengan menyadari hal ini, semakin jelaslah sudah kecemasan yang kita rasakan saat menyaksikan AI mengikis model kepengarangan individual. Ini murni bukan kepanikan estetika. Ini, setidaknya sebagian, adalah disorientasi akibat menyaksikan suatu pengaturan hukum dan ekonomi tertentu kehilangan fondasinya. Namun historisisme-nya Woodmansee hanya mampu meredakan keprihatinan itu sampai batas tertentu. Sebab, ada sesuatu yang nyata, bukan sekadar ideologis, yang sedang dilacak oleh konstruksi Romantis tentang kejeniusan, betapapun tendensiusnya. Hal itu adalah gesekan kognitif.
Saya pernah bekerja di Amazon, di mana ada praktik menulis yang diterapkan Jeff Bezos di seluruh organisasi, yang dipahami oleh sebagian besar peserta sebagai kegiatan yang sama pentingnya dengan berpikir maupun berkomunikasi. Pertemuan penting tidak dimulai dengan presentasi. Pertemuan dimulai dengan narasi tertulis, biasanya enam halaman, kadang-kadang lebih panjang, yang dibaca peserta dalam diam hingga tiga puluh menit sebelum diskusi dimulai. Dokumen itu penting bukan hanya karena menyampaikan informasi, tetapi juga karena pembuatannya membutuhkan disiplin tertentu. Menulis narasi berarti dipaksa untuk menghadapi batasan kejelasan diri sendiri: menemukan di mana Anda telah mengganti keyakinan dengan bukti, di mana argumen Anda memiliki celah yang tidak Anda sadari karena Anda tidak pernah mencoba menyusunnya dalam kalimat yang berurutan, di mana solusi yang Anda usulkan sebenarnya tidak mengatasi masalah yang telah Anda jelaskan. Dalam praktik ini, menulis bukanlah transkripsi dari pemikiran sebelumnya. Menulis adalah produksi pemikiran, sekaligus sebagai instrumen dan penguji pemikiran tersebut.
Logika di balik praktik ini tidaklah sulit untuk dijelaskan. Pertemuan yang dimulai dengan presentasi, dengan slide yang telah diedit sebelumnya dan pengaturan panggung pembicara, memberi setiap orang di ruangan itu perlindungan untuk menghindari konfrontasi dengan kualitas sebenarnya dari pemikiran yang ada di baliknya. Dokumen ini menyingkirkan perlindungan tersebut. Ini bukanlah prinsip yang diciptakan Amazon, dan juga bukan prinsip yang selalu mereka junjung tinggi dalam praktiknya. Tapi ide dasarnya bahwa menulis adalah disiplin berpikir dan bukan sekadar wahana untuk berpikir, tetap berlaku—terlepas dari kemasan korporatnya. Organisasi yang mengganti disiplin ini dengan dokumen yang dihasilkan AI tidak hanya mengalih-dayakan kepenulisan: mereka berarti juga telah mengalih-dayakan penemuan tentang apa yang sebenarnya mereka yakini.
Prinsip ini meluas jauh melampaui budaya perusahaan. Samuel Beckett, yang pada akhir tahun 1940-an memutuskan untuk menulis dalam bahasa Perancis ketimbang menggunakan bahasa ibunya Inggris, menjelaskan pilihan tersebut kepada teman dan penerjemahnya sebagai dorongan yang mendesaknya untuk menulis “tanpa gaya”. Bagi Beckett, bahasa Perancis memaksakan perlawanan yang tidak diberikan oleh bahasa Inggris. Lagipula, kefasihan otomatis juga merupakan bentuk pemenjaraan. Artinya, pikiran datang dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dihaluskan menjadi irama bahasa dari apa yang telah dikatakan sebelumnya. Bahasa Perancis lebih sulit: membuatnya memperlambat tempo, meraih kata-kata yang tidak keluar secara otomatis, menyusun kalimat yang terasa belum selesai dengan cara baru dan produktif. Dengan metode gesekan inilah ia menghasilkan Molloy atau The Unnamable .
LLM di zaman AI menghilangkan gesekan ini sampai ke akar-akarnya. Lebih dari sekadar mempercepat transkripsi, seperti yang telah dilakukan teknologi sebelumnya, model ini menggantikan tindakan komposisi kognitif dengan tindakan prediksi statistik. Ketika Anda meminta LLM untuk membuat draf esai, Anda tidak mengeksternalisasi pikiran Anda ke pensil yang lebih cepat dan lebih mumpuni. Anda mengganti logika kombinatorial sistem dengan pemikiran Anda sendiri dan sebagai imbalannya menerima keluaran yang dikalibrasi untuk menghasilkan formulasi yang paling mungkin, paling fasih, dan paling tidak mengejutkan dari apa pun yang telah Anda maksudkan. Kesenjangan antara mendiktekan ide kepada seorang amanuensis4 seperti yang dilakukan Milton, dan meminta bantuan kepada sebuah LLM bukanlah kesenjangan derajat. Ini adalah kesenjangan jenis.
Dari pekerjaannya sebagai petugas klaim untuk Lembaga Asuransi Kecelakaan Kerja di Praha, Franz Kafka mendapatkan pemahaman yang tak lazim tentang hubungan mesin institusional dan manusia yang mau tak mau terpaksa menjalaninya. Dalam The Trial, Josef K diproses oleh seorang apparat hukum yang melaksanakan fungsinya secara bebas tanpa dipahami oleh siapapun atau atau \(bahkan\) tanpa seizin dari si pembuat prosedur itu sendiri. Dokumen beredar. Berkas tersedia. Tuntutan diajukan dan keputusan pun diambil. Tidak seorang pun memahami struktur lengkap sistem tersebut, dan memang sistem itu tidak mengharuskan siapa pun untuk memahaminya. Mesin institusional terus berjalan tanpa keberadaan pembuat keputusan, yang mestinya hadir dan dapat diidentifikasi. Apa yang dipahami Kafka tentang birokrasi, kini mungkin kita kenali pada fungsi-pengarang dalam zaman AI: nama, peran institusional dan pertanggungjawaban hukum tetap ada, sementara kehadiran kreatif di baliknya menjadi awalnya bersifat opsional, lalu menjadi vestigial5, kemudian lenyap.
Ini bukan hipotesis. Dunia pengadilan telah bergulat dengan feomena suram semacam ini dengan cara-cara yang mungkin bagi Kafka sudah sangat familiar. Pada tahun 2023, seorang pengacara New York mengajukan ikhtisar hukum yang berisi kutipan-kutipan kasus yang tidak pernah ada, dihasilkan oleh ChatGPT, yang telah meng-confabulate6-nya dengan kefasihan seorang ahli hukum yang sangat terlatih. Pengacara tersebut akhirnya dikenai sanksi. Fungsi-pengarang beroperasi persis seperti yang digambarkan Foucault: menetapkan pertanggungjawaban pada individu yang disebutkan namanya, terlepas dari siapa atau apa yang sebenarnya menghasilkan bahasa tersebut. AI itu sendiri tidak memiliki byline \(nama sebagai penulis\) yang dapat dikaitkan dengan konsekuensi apa pun. Beda dengan si pengacara. Di Australia, sebuah universitas besar telah dipermalukan ketika teks yang dihasilkan AI muncul dalam komunikasi resmi kampus. Lembaga tersebut mengemban konsekuensi reputasi, sementara asal-muasal sebenarnya teks tersebut tidak relevan dengan struktur akuntabilitas.
Secara serentak dunia bisnis kini sedang menghasilkan versinya sendiri tentang kejadian serupa. Perusahaan konsultan telah menemukan dokumen strategi yang disusun oleh AI yang dipresentasikan sebagai analisis asli. Perusahaan farmasi telah menemukan surat pengajuan permohonan izin yang dihasilkan oleh AI. Laporan keuangan yang dirancang oleh LLM telah beredar dengan menggunakan nama manusia. Dalam setiap kasus ini, struktur kepengarangan institusional—nama, tanda tangan, dan akuntabilitas—tetap terjaga, sementara kreativitas dan fungsi kognitif telah berpindah ke tempat lain. Dan dalam dunia peer review akademis, editor di berbagai jurnal melaporkan telah menerima banyak ulasan yang dapat diidentifikasi sebagai hasil buatan mesin: pujiannya bersifat umum dan kritiknya berkelit-kelit—tanpa gesekan, yang justru mencerminkan ketidakhadiran pembaca, yang sebenarnya bisa saja bergulat dengan argumen spesifik dari makalah spesifik yang sedang dinilai.
Di banyak universitas, isu ini pada umumnya ditanggapi dengan upaya menjunjung tinggi panduan perilaku dan pernyataan komitmen. Mahasiswa diminta untuk menegaskan bahwa karya yang mereka serahkan bukan dihasilkan oleh AI. Seorang sejarawan yang saya kenal, yang mengajar di sebuah universitas riset di Berlin, pernah menyampaikan bahwa ia menemukan karya yang diduga keras dihasilkan oleh AI, sementara ia juga khawatir telah menghukum mahasiswanya yang tidak menggunakan AI. Ia curiga jangan-jangan pernyataan komitmen itu tidak ada gunanya, merasa tidak nyaman dengan hal itu, tetapi tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Pernyataan komitmen tersebut, seperti yang sudah saya coba jelaskan kepadanya, dari awalnya memang dirancang bukan untuk ditegakkan. Ia hanyalah sebuah mekanisme yang sekilas tampak seperti respons terhadap suatu masalah tetapi masalah itu sendiri sama sekali tidak tersentuh. Walhasil, jalan buntu di mana-mana. Lembaga yang menanggapi tantangan AI dengan kode etik lebih memilih niat baik ketimbang mekanisme. Mereka sepakat bahwa masalahnya adalah integritas individu, bukan insentif sistemik. Jelas-jelas diagnosis yang salah, dan intervensi yang dihasilkan juga akan salah selama masalah tersebut masih berlanjut.
Dalam analisisnya tentang reproduksi mekanis, Walter Benjamin menyadari bahwa hal itu tidak hanya menghancurkan aura seni, tetapi juga menciptakan bentuk-bentuk baru darinya. Gerakan dialektik yang sama kini juga sedang berlangsung dengan kepengarangan. Sesuatu yang lama sedang dilikuidasi; sesuatu yang baru mulai muncul. Jika teks tertulis kehilangan kemampuan untuk mengemban aura kepengarangan yang dulunya berasal dari jejak yang terlihat dari kerja keras pikiran tertentu, maka lokus baru dari aura itu adalah pertunjukan pemikiran secara real time. Meskipun masih belum terbentuk jelas, kini sedang tumbuh minat budaya pada format yang tidak dapat ditiru oleh AI: bukan esai yang sudah dipoles, tetapi pertukaran intelektual yang hidup; bukan argumen yang sudah selesai, tetapi argumen yang sedang dibangun, pemikiran yang prosesnya dapat dilihat, di bawah tekanan, di depan penonton yang bisa saja menyerang balik dan menolak untuk merasa puas.
Contohnya dalam budaya intelektual kontemporer sudah mulai mengambil bentuk. Pakar sastra Merve Emre telah mengembangkan sebuah podcast, The Critic and Her Publics, yang sebagian bersumber dari seminar-seminarnya, membawa keluar proses berpikir kritis dari ruang seminar dan memindahkannya ke dalam bentuk rekaman, tanpa diedit supaya menjadi halus. Rasa ragu, pengembangan ide melalui dialog, momen ketika argumen berubah di bawah tekanan seorang mahasiswa yang keberatan—semuanya ada di sana. Serial BBC-nya filsuf Michael Sandel, The Public Philosopher, berlangsung serupa: bukan sebagai kuliah atau diskusi panel, tetapi sebagai pertunjukan improvisasi seorang filsuf yang sedang bekerja melalui pertanyaan etika yang diperdebatkan dalam dialog real time dengan audiens yang tidak setuju dengannya, sehingga memaksanya merevisi pernyataannya di depan kamera. Kekuatan format ini justru berasal dari fakta bahwa Sandel tidak dapat memprediksi keberatan yang akan muncul kemudian. Ia harus berpikir ketimbang cari aman.
Semua ini merupakan contoh awal dari sesuatu yang bisa saja disebut sebagai reorientasi budaya yang signifikan. Konferensi akademis, misalnya, mulai memulihkan sesuatu yang selama ini telah diabaikannya: keaslian argumen, yang dilakukan antara pihak-pihak yang saling tidak setuju, lebih daripada presentasi bergilir mengenai kesimpulan yang telah dibentuk sebelumnya. Namun, ini perlu kehati-hatian yang serius. Karisma bukanlah kecerdasan. Kecepatan artikulasi bukanlah kedalaman pemikiran. Budaya yang mengutamakan pertunjukan intelektual langsung di atas segalanya akan berisiko memberi penghargaan pada penampilan melebihi pemahaman. Para introvert, dalam tatanan baru yang mulai muncul ini, akan menghadapi kerugian ganda: pertama, tergerusnya tulisan sebagai media istimewa tempat para pemikir reflektif secara tradisional selama ini menunjukkan kedalaman intelektualnya; dan kedua, prioritas semakin banyak diberikan pada pertunjukan komunikasi verbal secara real-time. Setelah membebaskan diri kita sendiri dari tirani teks yang disusun oleh AI, kita pada akhirnya barangkali malah akan diperintah oleh tirani aktor panggung yang fasih berbicara.
Tak satupun dari kejadian ini yang akan mengembalikan kita ke era budaya sastra sebelum AI, dan tentulah naif jika berpura-pura sebaliknya. Teknologinya akan terus berkembang. Tak ada satu lembaga pun yang akan melenyapkan kegunaannya melalui peraturan tertentu meskipun lembaga tersebut memiliki kapasitas untuk benar-benar menegakkan peraturan semacam itu. Pertanyaan yang lebih jujur bukanlah apakah AI akan terus digunakan dalam produksi intelektual, karena memang inilah yang akan terjadi, melainkan apa makna yang kita harapkan di masa depan dari hubungan pengarang yang disebutkan namanya dan tindakan kognitif kepengarangan, dan bagaimana institusi dapat membangun mekanisme, lebih dari sekadar pernyataan komitmen, sehingga hubungan itu bisa terlihat dan oleh karena itu dapat dipertanggungjawabkan.
Respons yang lebih bertahan semestinyalah bersifat institusional: membangun format dan struktur insentif yang menghargai bukti keterlibatan kognitif daripada sekadar produksi teks yang telah dipoles. Barthes memberi kita the death of the author sebagai preskripsi tentang bagaimana seharusnya makna sastra dipahami. Foucault memberi kita fungsi-pengarang sebagai deskripsi tentang bagaimana kepengarangan beroperasi di dalam institusi. Tak satupun di antara mereka, yang menulis pada akhir tahun 1960-an, pernah membayangkan suatu momen ketika kesenjangan antara kedua analisis ini akan melebar hingga mencapai titik krisis. Momen itu telah tiba.
Pengarang tidak akan mati untuk kedua kalinya. Ia justru kini sedang membelah diri menjadi dua figur yang berbeda. Di satu sisi, Pengarang Administratif: orang yang memegang posisi kelembagaan, hak cipta, pertaruhan reputasi, kewajiban, tanpa perlu menunjukkan tindakan kognitif yang dulunya justru memberikan justifikasi atas semua atribusi itu. Di sisi lain, sesuatu yang belum dapat kita namai sepenuhnya secara memadai: pemikir yang memperoleh aura kepengarangan justru dengan mendemonstrasikan, dalam format yang tidak bisa dipalsukan atau didelegasikan, kapasitas untuk terlibat dengan suatu masalah melalui gesekan, secara real-time, dengan pengorbanan intelektual sebenarnya.
Di antara kedua figur ini terbentang pelbagai pertanyaan mendasar yang kini perlu dijawab oleh budaya intelektual. Apa sesungguhnya yang kita maksudkan ketika kita memberi nama pada suatu argumen dan mempertahankannya sebagai sebuah kontribusi intelektual? Klaim apa yang ingin kita ajukan dengan tindakan atribusi ini? Dan apa artinya jika klaim itu benar?
Pesan kedua dari iparku tadi, pada akhirnya, bukanlah sebuah tuduhan. Ia adalah ungkapan ketidakpastian yang tulus, ungkapan ketidaktahuan cara membaca teks yang mungkin atau juga mungkin tidak mengandung jejak pikiran tertentu. Dia sedang mengalami, tanpa kosakata teoretis apa pun untuk itu, kebingungan yang sama seperti kita semua alami saat ini di dalam diri masing-masing. Pengarang mungkin saja ada di sana, hadir sepenuhnya dalam pengertian kognitif, orang yang berpikir melalui argumen dan memikul tanggung jawab atas setiap langkah argumen tersebut; atau pengarang mungkin hanya hadir secara administratif, sebuah nama pada sebuah dokumen yang diproduksi di tempat lain melalui suatu proses yang dikelola oleh orang yang disebutkan namanya, tetapi bukan pengarang dalam arti sebenarnya. Saudara iparku tidak mampu memahami ini. Begitu juga kita, yang semakin tidak memahaminya. Dan justru itulah masalah yang harus diselesaikan oleh teori sastra, lembaga intelektual dan masyarakat pembaca pada umumnya—dengan caranya masing-masing.
Catatan Penerjemah: Respons Ketiga
Catatan ini dimaksudkan tak ubahnya seperti kenderaan double gear yang kupakai untuk mendaki bukit literer yang licin dan liat. Dengan gardan satu, aku ingin menandaskan bahwa AI telah menjadi keniscayaan, tak terhindarkan. Meskipun demikian, ia tidak akan pernah dapat menggantikan sisi kemanusiaan seorang pengarang yang sebenar-benarnya pengarang; ia hanya membantu mengoptimalkan. Kemudian masuk dua: menunjukkan bahwa, meskipun terhadap karya terjemahan, gesekan kreatif atau proses kerja kepengarangan masih dapat diterapkan atau justru tak terelakkan—kalau saja orang punya cukup kesadaran akan dirinya sebagai pengarang teks dan diri teks yang sedang digarapnya. Pengarang atau penerjemah yang sebenarnya (atau sejati, lebih tepat?), aku yakin, tidak akan rela mempertaruhkan reputasinya hanya demi publikasi.
Esai Sathi dalam The Times Literary Supplement (TLS) edisi 4 September 2026 ini sebenarnya berada di bawah rubrik komentar. Tertarik sekaligus tergelitik dengan uraiannya tentang eksistensi dan masa depan kepengarangan dalam dunia tulis-baca di zaman AI, kucoba terjemahkan komentar itu—dengan bantuan AI, tentu saja.
Awalnya kukira ini akan sangat mudah; tinggal copy-paste, poles sana-sini dan, boom, maka jadilah! Tapi ternyata tidak. Buktinya, dengan pace yang terbiasa kujalani dalam proses menerjemahkan, hampir tiga pekan sudah berlalu sejak pertama kalinya draf awal terjemahan AI itu kugarap.
Apa yang menghalangiku sebenarnya sehingga tidak segera menganggapnya selesai sebagai sebuah terjemahan dalam, meminjam ungkapan Sathi, proses kerja “kepengarangan” pada pekan pertama itu, dan langsung mengirimnya (ke manapun) untuk diterbitkan? Sedang mencari-cari padanan kata yang pas? Teksnya masih sangat mentah dan terhidu bau AI? Belum memahami konteks kalimat asli? Atau, masih bersitungkin mengupayakan agar terjemahanku ini tidak akan terbaca sebagai terjemahan tapi merupakan karya asli, sebagaimana rekomendasi kebanyakan teori tentang penerjemahan?
Kalau diringkas, alur pikiran dan argumen Sathi mungkin dapat dibaca seperti ini: 1) Di zaman AI saat ini, sudah tidak terlalu jelas lagi hubungan antara nama yang tercantum dalam sebuah teks dan proses kreatif atau tindakan kognitif yang mungkin ada di baliknya. Sebuah teks atau naskah dalam suatu penerbitan, misalnya, bisa saja berasal dari sosok AI atau memang hasil kreasi kognitif dari seorang manusia sebagai pengarang yang berdarah-berdaging; 2) Dalam ketidakjelasan hubungan ini—apakah hasil bantuan AI atau murni karya dari sorang manusia nyata—pertanggungjawaban tetap berada di pundak manusia yang namanya tercantum dalam teks; 3) Bagi Sathi, hubungan antara keduanya—nama yang tercantum pada byline dan tindakan kognitif di baliknya—harus terlihat jelas supaya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya; 4) Sejauh ini, respons yang sudah ada dan yang mulai trend terhadap isu ini adalah: Pertama, menerbitkan dokumen panduan perilaku dan meminta pernyataan komitmen dari orang yang namanya tercantum sebagai penulis bahwa tulisan yang diserahkannya adalah bebas-AI; Kedua, mengusung orang yang namanya tercantum sebagai penulis teks ke dalam acara podcast atau pertunjukan debat yang disiarkan secara langsung dan disaksikan banyak orang.
Kedua respons tsb, hemat Sathi, tidak menyelesaikan masalah. Respons pertama lebih mengutamakan integritas pribadi dan niat baik—sesuatu yang sulit diandalkan dalam zaman yang bad faith on all sides saat ini. Respons kedua akan lebih menguntungkan para extrovert, dan menimbulkan kerugian ganda bagi introvert: tergerusnya tulisan sebagai media reflektif dan lebih ditonjolkannya orang-orang yang fasih berbicara, yang belum tentu memiliki kedalaman pemikiran.
Catatan kaki yang tidak terdapat dalam teks Inggris tetapi kuimbuhkan dalam terjemahan dan (semacam pernyataan disclaimer dalam) Catatan Penerjemah yang menyertainya, keduanya sekaligus bolehlah dianggap sebagai respons ketiga: menunjukkan bukti adanya gesekan dan keterlibatan kognitif supaya tidak sepenuhnya menjadi, sebagaimana disinyalir Sathi, Pengarang Administratif atau, dalam hal ini, Penerjemah Administratif: mencantumkan nama diri sebagai penulis teks dan menyadari konsekuensi atribusi yang akan muncul (pujian dan penghargaan atau cacian dan hukuman) tetapi mendelegasikan penulisan teks itu, parsial atau substansial, kepada AI.
Bagiku, dalam frekuensi dan intensitas yang paling minim sekalipun, gesekan kognitif itu—atau apapun nama yang diberikan untuk menggambarkan proses kreatif yang dijalani pengarang dalam menciptakan sebuah teks, baik asli maupun terjemahan—tidak akan pernah benar-benar hilang-lesap oleh karena kehadiran AI. Dan ini, sekaligus, sebagai counter-argument terhadap klaim Sathi: “LLM di zaman AI menghilangkan gesekan ini sampai ke akar-akarnya.”7
Teringat pada AI dengan kelakuan confabulation-nya, aku jadi penasaran tentang atribut apa yang menjadi pendorong dan kata apa yang patut dicantumkan untuk menggambarkan “tindakan kepengarangan” yang kulakukan dan “gesekan kognitif” yang terjadi dengan bersibuk-sibuk melakukan riset kecil-kecilan di sana-sini sehingga melahirkan catatan kaki dan pernyataan disclaimer ini?
Ketertarikan. Minat. Passion. Keingintahuan. Yang pasti aku penasaran, dan ini agaknya hanya akan terpuaskan dengan berbagai pertanyaan yang mesti dikemas-ulang. Barangkali memang inilah dan, dalam prosesnya kemudian, teringat olehku pernah membaca tentang sesuatu yang katanya hanya dimiliki manusia dan sesuatu itulah yang membuat kita special species ini takkan pernah tergantikan oleh AI.
Menulis dalam konteks kepemimpinan untuk menjawab tantangan yang dihadapi korporasi di zaman AI, Diane Hamilton menekankan pentingnya curiosity yang ia ibaratkan sebagai otot yang mesti dibentuk melalui praktik berulang dan dukungan penuh organisasi. True curiosity, bagi Hamilton, adalah mengkaji ulang ide-ide yang sudah terterima [thought of received ideas]8, memiliki hasrat untuk memecahkan kebekuan ketidakpastian, bukan hanya mengumpulkan informasi untuk menjadi sekadar penghapal paling banyak dan penanggap paling cepat. Dengan demikian, akan lahirlah professional-profesional terbaik yang siap-sedia melakukan jeda, mengajukan pertanyaan, dan memandang di balik apa yang tampak terlihat jelas. (Bukankah laku ini juga yang diperankan oleh pengarang yang sebenarnya?: Pause. Wonder. Looking beyond). Tulisan Hamilton tentang curiosity di Forbes terbitan 3 Mei 2025 itu berjudul “The One Skill That AI Doesn’t Have That Make Human Irreplaceable.” Keahlian yang tidak ada pada AI dan yang membuat manusia tak tergantikan: Keingintahuan.
Supaya lebih meyakinkan kita bahwa curiosity memang benar-benar merupakan atribut khas manusia, Hamilton memperkuat argumennya dengan mendedahkan apa saja yang dimiliki AI dengan model LLM-nya itu dan apa pula yang dapat dilakukan manusia supaya tetap relevan sehingga tak tergantikan. Pertama, AI mengajukan pertanyaan berdasarkan pola; bukan karena rasa ingin tahu seperti manusia. Kedua, AI tak mampu menemukan sesuatu yang benar-benar baru dan belum pernah dikenal sebelumnya (the unknown); manusia mampu. Ketiga, AI mampu mengolah triliunan data tetapi tak berminat menantang asumsi dan mengeksplorasinya lebih jauh tanpa instruksi; ia tidak mampu berpikir abstrak atau secara emosional. Keempat, model yang digunakan AI hanya mampu menyajikan data dan parameter yang telah disediakan manusia. Kelima, AI tidak mampu berinovasi seperti manusia; ia hanya alat untuk optimisasi. Keenam, AI mampu mengelola the predictable secara otomatis; sedangkan terhadap the uncertain, hanya manusialah yang sanggup menjadi tuannya. Terakhir, berkat curiosity ini, AI tidak akan mampu melenyapkan, tetapi justru memperkuat dan mendefinisikan ulang, talenta manusia9.
Dan rasa ingin tahu ini jugalah yang membawaku ke penemuan selanjutnya yang cukup mengejutkan: per 21 September 2026, esai Sathi ini dihapus dari laman situs TLS karena tidak memenuhi kebijakan yang telah digariskan tegas oleh berkala dwi mingguan itu. Catatan editor selengkapnya dari majalah itu berbunyi: Kami menghapus esai ini. AI telah digunakan dalam proses pembuatannya. Panduan penyuntingan TLS melarang penggunaan AI dalam proses penulisan dan penyuntingan. Pengarangnya menyatakan tidak tahu tentang kebijakan ini.
Tapi apakah Sathi benar-benar tidak tahu? Atau jangan-jangan Sathi, dengan sikapnya yang sebenarnya lebih tepat disebut ignorantly knowledgeable, memang sengaja melakukan itu untuk menguji premis esainya dan memberikan bukti konkret bahwa krisis kepengarangan itu nyata adanya, penggunaaan AI takkan terhentikan, dan belum ada satu pun institusi—termasuk lembaga sekaliber TLS—yang sanggup melenyapkan penggunaannya atau menawarkan jalan keluar bagi kondisi krisisi ini melalui peraturan apapun.

Atau juga mungkin ini, yang selanjutnya akan membawa kita masuk semakin jauh ke dalam jantung masalah, mencerminkan betapa rapuh dan rentannya—sehingga guyah dan sulit untuk dipacakkan dengan kokoh—apa yang kita agung-agungkan sebagai ruh yang menghidupi laku kepengarangan: tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Sathi menyatakan tidak ngeh dengan kebijakan editorial TLS, dan suplemen sastra majalah Times ini sendiri mengasumsikan Sathi sudah tahu. “Aku tidak tahu karena tidak ada yang bilang padaku” dari Sathi dan “Kami kira Anda tahu” dari TLS, keduanya merupakan ungkapan umum yang sering diucapkan ketika orang, sengaja atau tanpa sadar, menepiskan tanggung jawab dan pertanggungjawaban.
Tanggung jawab (responsibility) berangkat dari the heart, bersifat personal, dan kata kuncinya adalah ownership bahwa “apa yang salah atau benar, itu dariku dan milikku”; pertanggungjawaban (accountability) berpangkal dari the head, melibatkan pihak lain*,* kata sandinya adalah measurement bahwa “bagaimana dan sejauh mana aku menerima konsekuensi dari apa yang kulakukan”.
Kita belum dan mungkin tidak akan pernah tahu narasi selanjutnya tentang kasus ini: apakah Sathi dikenai sanksi atau justru TLS mendapatkan somasi dari Sathi atas pencemaran reputasi? Mungkinkah mereka telah membuat semacam gentlement agreement di bawah tangan untuk tidak melakukan tindakan apapun dari kedua belah pihak guna memutus mata rantai vicious circle of accountability: menekankan rasa tanggung jawab cenderung membuat takut, dan ketakutan cenderung mengurangi perilaku bertanggung jawab?. Tidak akan ada saling menyalahkan di antara para pihak. Sebab, mereka juga saling memahami bahwa “accountability without blame is a competitive advantage”.
Ironis? Boleh jadi. Tapi aku lebih suka menyebutnya “Efek Tenungan AI”, sebagai fakta magis sekaligus brutal yang tak terbantahkan dan, sekali lagi, tak terhindarkan: AI akan terus memancarkan pesonanya dan semakin menggoda manusia untuk mencumbu dan menggaulinya, bahkan mungkin dengan penuh-seluruh keluh dan peluh; sementara itu, di sisi lain, manusia menjadi semakin diperbudak oleh cinta yang penuh hasrat-hampa syahwat. Lantas, what else to do? Adakah jalan yang bisa kita tempuh, meskipun berliku tak berujung, untuk memperlunak kenyataan keras yang menggelikan sekaligus menakutkan ini supaya tetap tertanggungkan?

Sementara menunggu Godot, mari kita menghibur diri di tengah hamparan dedaunan rumput dengan melantunkan kembali senandung Song of Myself-nya10 Walt Whitman: “Do I contradict myself/Very well then I contradict myself/I am large/I contain multitudes”. Atau, kalau tidak cukup sabar, ayo ikut menggabungkan diri ke dalam gerakan revolusi Tom Peters di Thriving on Chaos11 sembari berteriak lantang: “Tawarkan padaku surga tanpa paradoks, maka aku akan lebih memilih neraka”.#
Esai ini diterjemahkan oleh Marfaizon Pangai, yang kini sedang mulai menjalani kurva kedua hidupnya setelah (November ini) menjalani pensiun dari dunia korporat. Kegalauan dalam esai Sathi ini, menurutnya, memang benar-benar artifisial (dibuat-buat), dan perdebatan tentangnya akan selesai kalau saja Sathi bersedia mengikutsertakan Anthony Giddens di dalamnya.
Catatan Kaki
- Bagi seorang Strukturalis, makna teks mesti dipahami melalui penafsiran terhadap teks itu sendiri dan bagaimana respons pembaca terhadapnya. Sementara orang yang menghasilkan teks itu, yakni pengarangnya—dengan segenap hasrat dan kegalauannya yang menimbulkan gesekan kreatif dan menggerakkan proses kerja kepengarangan sehingga menghasilkan teks itu—dianggap tidak relevan. Nah, surat Larkin dan catatan harian Plath ini merupakan contoh antitesis yang sempurna bagi pendekatan Strukturalisme. ↩︎
- Large language model (LLM) bisa saja diterjemahkan harfiah menjadi model bahasa yang luas, tetapi ini terlalu menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya kompleks. LLM adalah sistem komputer yang menjadi fondasi bagi cara kerja AI: membaca dan menebak pola kata berdasarkan peta statistik (model), berbahankan teks (language), dari semua sumber triliunan kata (large) yang pernah ada dan muncul di dunia maya. ↩︎
- Sengaja tidak diterjemahkan menjadi untuk menjaga rasa makna yang terkandung di dalamnya. Oeuvre dapat berarti karya, tetapi bukan karya biasa. Dalam ranah sastra dan seni, kata ini merujuk pada seluruh karya seorang pengarang sepanjang hidupnya; bukan satu buku, tapi keseluruhan jejak ruh kepengarangannya. ↩︎
- Juru tulis atau asisten sastra. Dulu, jauh sebelum ada laptop, kebanyakan penulis besar punya amanuensis. Sengaja tidak dialih-bahasakan untuk menjaga nuansa masa di zaman Milton: klasik dan romantis. ↩︎
- Sesuatu yang masih tetap dilakukan hanya karena kebiasaan, meskipun tidak diperlukan lagi karena (dianggap) tidak mendatangkan manfaat apa-apa. Atau, remah-remah kebiasaan yang dulu pada awalnya pernah menjadi suatu persyaratan atau keharusan. ↩︎
- Harfiahnya: bercerita bersama (dari Latin: con/bersama + fabulari/bercerita). Dalam konteks ini, bisa juga diartikan: mengarang-ngarang cerita. Sengaja dibiarkan begitu untuk menunjukkan bahwa kata inilah yang paling pas sebenarnya untuk menggambarkan perilaku AI ketika kita mendapati teks yang disusunnya tidak sesuai dengan fakta atau apa yang kita ketahui selama ini. AI tidak berbohong; ia hanya ber-konfabulasi. Bohong: tahu salah/benar, tapi sampaikan yang salah; konfabulasi: tidak tahu salah/benar, tapi tetap menyampaikannya meskipun dengan mengada-adakan fakta untuk menambal lubang memori hanya supaya narasinya tampak lengkap dan utuh. Makanya, AI tidak akan pernah bilang ia tidak tahu. Berkat konfabulasi, AI mahatahu. ↩︎
- Sementara menuliskan klaim Sathi ini, aku jadi berpikir tentang teori Strukturasi-nya Anthony Giddens dan cukup mengherankan mengapa Sathi melewatkan Giddens dalam perdebatan “abadi” struktur/sistem vs pelaku/agen ini. Bagi Giddens, dan kupikir ini mungkin bisa mengembalikan “kedaulatan” pengarang, penyingkiran subjek dalam dalam strukturalisme dan pascastrukturalisme merupakan skandal yang tidak bisa diterima.(B. Herry-Priyono, Anthony Giddens: Suatu Pengantar, Jakarta: KPG, 2016.) ↩︎
- Ungkapan ini mengingatkanku pada Milan Kundera, yang pernah bilang: “Modern stupidity isn’t ignorance, but non-thought of received ideas.” ↩︎
- Harap dicatat baik-baik: McKinsey Technology Trends Outlook 2026 menyoroti 14 inovasi teknologi terkini, dua di antaranya baru muncul pada 2026: pengembangan agentic software dan AI untuk scientific discovery and engeenering. Menurut laporan itu, ini baru hanya sebagian kecil dari berbagai kemungkinan di balik ekosistem AI yang “shifting the sands beneath our feet”, termasuk barangkali dalam ranah curiosity yang kita anggap dan bangga-banggakan sebagai typically human. (Michael Cui, Roger Roberts, dan Tanguy Catlin, McKinsey Technology Trends Outlook 2026, McKinsey Insight, 15 September 2026, https://mck.co/4oJMQFY, (diakses 9 Oktober 2026.) ↩︎
- Song of Myself adalah yang terpanjang dari puisi-puisi Whitman yang ada dalam bukunya Leaves of Grass, yang terbit pertama kalinya pada 1855. Hingga wafatnya pada 1892, buku ini sudah mengalami tujuh kali revisi. Dan lucunya, dari tiga buku Leaves of Grass yang berbeda (asli dan sampai revisi terakhir), aku tidak menemukan kutipan terkenal ini. Kukira AI mulai mengakaliku dengan konfabulasinya, tapi ternyata kemudian ia mengirimkan salinan foto puisi itu sebagai bukti bahwa puisi itu memang benar-benar ada dalam kenyataan. ↩︎
- Komunitas pemikir dan peminat literatur manajemen dan kepemimpinan tidak akan asing lagi dengan nama yang satu ini. Seminar dan bukunya di berbagai acara korporat dan akademis diminati dan disambut dengan penuh antusiasme dan dianggap revolusioner. Ialah penemu framework 7S McKinsey bersama Bob Waterman dan lainnya. Kalau di dunia seni dan sastra kita mengenal seniman dan sastrawan yang memiliki pemikiran yang cenderung berbeda dan di luar pakem, maka dalam dunia manajemen Tom Peters-lah orangnya. Ini terlihat jelas dalam bukunya Thriving on Chaos, setelah In Search of Excellence yang terkenal itu. Kutipan yang kuatribusikan ke Tom Peters ini kusalin langsung dari ingatanku yang mungkin saja telah berkonfabulasi dan, memang, ternyata AI sendiri tidak terlalu yakin akan kebenarannya. Namun, mengingat banyak buku Peters yang bicara dan dikutip tentang paradoks, maka mengatribusikan kutipan ini kepadanya masih tampak cukup masuk akal. ↩︎




