
Nenek moyangku memahat peta dunia bukan di atas lembaran kertas atau layar kaca yang bercahaya, melainkan di dalam lengkung tulang dadaku.
Selama ribuan generasi, bangsa Hirundo rustica—kami, para burung layang-layang—hanya mengenal satu hukum suci: ketika embun di Siberia mulai berubah menjadi kristal es yang menusuk bulu, angin utara akan meniup peluitnya. Kami akan membubung ke langit, membiarkan tubuh kami yang ringkih didorong oleh arus angin global yang sejuk, melintasi separuh lingkaran bumi menuju selatan, tempat tanah Jawa selalu menyediakan padang rumput yang hangat dan jutaan serangga kecil yang menari di atas rawa.
Namun, musim migrasi tahun ini datang dengan bau hangus yang asing.
“Arus angin di depan kita melintir, Tetua,” cicit seekor burung muda di sayap kiriku saat kami baru saja melewati semenanjung kelabu. Sayapnya yang kecil bergetar hebat bukan karena lelah, melainkan karena kehabisan napas di dalam udara yang terasa tebal, pengap, dan berbau belerang.
“Tetap dalam barisan!” jawabku parau, meski aku tahu langit di depan kami bukan lagi langit yang kukenal sejak lima tahun lalu.
Sesuatu di bumi tengah telah robek. Pemanasan global yang dipicu oleh cerobong-cerobong industri manusia telah mengacak-acak jalur udara. Sabuk angin dunia—kompas gaib yang biasanya menuntun kami dengan kelembutan seorang ibu—kini mendidih. Ia berubah menjadi monster liar yang melahirkan badai tak terduga di tengah lautan dan gelombang panas (heatwave) ekstrem yang membuat kepakan sayap kami terasa seberat menyeret batu.
Malam itu, di atas Selat Malaka, petaka yang sesungguhnya datang. Kami tidak disambut oleh rintik hujan monsun sejuk yang biasa membersihkan debu di bulu-bulu kami. Langit mendadak tersedak oleh kabut asap pekat dari kebakaran lahan gambut di daratan hulu.
Asap itu masuk ke dalam mata kami, membakar tenggorokan, dan yang paling mengerikan: ia merusak sensor magnetik di dalam kepala kami. Kompas di tubuhku patah. Barisan kami pecah di tengah kegelapan yang berbau arang pohon beringin.
Ketika pagi datang dengan warna matahari yang kuning tembaga akibat tertutup polusi, aku menyadari aku telah tertinggal sendirian. Kawananku lenyap di dalam pekatnya jelaga.
Aku terbang rendah, mencari warna hijau—setitik barisan pohon bakau atau hamparan sawah yang biasanya menjadi tempat kami beristirahat dan memulihkan tenaga. Namun, bumi di bawahku telah menjelma menjadi lanskap mati yang asing. Tidak ada tanah yang basah atau wangi rawa yang karib.
Aku mendarat dengan tubuh yang limbung di atas sebatang dahan yang semenit kemudian kusadari bukan kayu, melainkan tiang besi menara jala (antena komunikasi) yang berdiri di puncak sebuah gedung pencakar langit.
Di sekelilingku, sejauh mata memandang, dunia telah berubah menjadi hutan beton yang gundul dan pengap. Di bawah sana, manusia-manusia berjalan seperti semut di atas lantai semen yang membara oleh sengatan terik mencapai empat puluh tiga derajat Celsius. Udara di antara gedung-gedung tinggi itu berputar-putar di tempat yang sama, membawa hawa panas yang dibuang oleh ribuan mesin pengondisi udara (AC) dari dalam kantor-kantor mewah.
Aku mencoba mencari air. Di sebuah taman buatan di bawah menara, ada sebuah kolam hias kecil dengan air yang berkilau jernih. Dengan sisa tenaga di sayapku, aku meluncur turun.
Namun, begitu paruhku menyentuh air itu, yang kurasakan bukanlah kesegaran, melainkan rasa pahit yang menyiksa lidah. Itu bukan air alami; itu adalah air kimia daur ulang yang dicampur kaporit tinggi agar tetap terlihat biru di mata manusia perkotaan. Di tepi kolam, beberapa tanaman replika dari plastik berdiri kaku, disemprot parfum beraroma pinus tiruan untuk membohongi hidung para pengunjung.
Aku melompat mundur ke atas beton yang panas, tenggorokanku semakin tercekat.
Dari balik jendela kaca besar gedung di depanku, seorang anak manusia menempelkan wajahnya yang bersih ke kaca ber-AC. Ia memegang sebuah gawai mahal, mengarahkan kameranya ke arahku yang sedang sekarat di atas lantai beton, lalu tersenyum seolah sedang melihat tontonan yang lucu di kebun binatang.
Aku ingin mencicit keras kepadanya. Aku ingin menggunakan suara sisa migrasiku untuk mengatakan: Jangan rekam kematianku sebagai hiburan, Manusia! Ketika kompas di tubuh bangsa kami patah dan kami mati di tengah hutan beton kalian, itu adalah tanda bahwa langit kalian sudah tidak layak lagi dihuni oleh kehidupan. Kami adalah alarm yang kalian matikan paksa dengan cerobong asap dan keserakahan kalian. Setelah kami habis, kalian adalah antrean berikutnya yang akan mati lemas di dalam kotak-kotak kaca ber-AC kalian!
Namun, sebutir burung layang-layang tidak memiliki wibawa di hadapan raksasa beton.
Malam kembali datang tanpa membawa embun. Suhu udara di atas lantai beton itu tetap membara, menjerat leherku dengan kepengapan yang konstan. Sensor di kepalaku kini telah mati total, kehilangan ingatan tentang di mana Siberia yang dingin atau di mana Jawa yang hijau.
Aku merebahkan tubuhku yang berbobot tak lebih dari beberapa belas gram itu di atas semen kering. Sayapku yang telah melintasi ribuan mil samudra kini terlipat kaku, tertutup oleh lapisan tipis abu pembakaran kota. Sebelum mataku menutup sepenuhnya di bawah sorot lampu-lampu neon kota yang kejam dan bising, aku membayangkan kembali indahnya terbang di antara awan kumulus yang gemuk dan jujur—sebuah masa yang kini telah dihapus oleh manusia dari buku takdir bumi.




