Pejabat Tinggi VOC Korupsi, Dicambuk dan Dirantai di Depan Umum, Dibuang Jauh ke Afrika

Ilustrasi pembantaian Batavia tahun 1740, diambil dari Atlas van Stolk. Katalogus der historie-, spot- en zinneprenten betrekkelijk de geschiedenis van Nederland (1895), Amsterdam: F. Muller & Co. (OCLC: 10847666), sebagaimana dirujuk dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), Jakarta: TransMedia Pustaka, hlm. 122 (ISBN: 979-799-052-4).

Karier Coenraet Fredrik Hofman di VOC berlangsung cemerlang sebelum akhirnya tersungkur akibat skandal korupsi. Riwayat hidupnya berakhir sebagai pesakitan.

Pada 11 Mei 1717, pemerintah pusat memanggil Hofman—Komandan Pantai Barat Sumatra, pejabat tertinggi di kawasan itu—ke Batavia untuk dimintai keterangan. Bersamanya, dipanggil pula keempat bawahan utamanya. Pemerintah pusat menuduh mereka telah menyalahgunakan wewenang VOC untuk kepentingan pribadi.

Batavia kemudian mengirim mantan Gubernur Jenderal Abraham Schepmoes untuk melakukan investigasi ke Pantai Barat Sumatra, sementara Abraham Patras ditugaskan mengisi posisi yang ditinggalkan Hofman.

Pada 9 Desember 1717, Schepmoes kembali ke Batavia. Hasil penyelidikannya menunjukkan telah terjadi “gangguan yang menjengkelkan” di Pantai Barat Sumatra—ia menemukan defisit sebesar 43.975 rijksdaalder. Kas perusahaan ternyata digunakan untuk membeli barang-barang pribadi oleh para pejabat tinggi di sana. Schepmoes bahkan menyita sejumlah tekstil—bagian dari kekurangan kas itu—di rumah dinas Hofman di dalam Benteng Padang, kantor utama VOC untuk kawasan yang membentang dari Barus di utara hingga Mukomuko di selatan (benteng ini kelak berganti nama menjadi Fort Buuren pada 1751). Dari rumah Hofman, Schepmoes juga menemukan sisa uang penjualan tanah dalam jumlah jauh lebih besar yang tidak pernah dilaporkan.

Meniti ke Puncak Karier

Menurut F.W. Stapel, Coenraet Fredrik Hofman adalah orang Jerman, diperkirakan lahir sekitar tahun 1666. Tempat kelahirannya dieja secara berbeda-beda dalam dokumen VOC—Essingen, Assenen, Assenhem, hingga Hassenheym.

Pada 1686, Hofman tiba dengan kapal Oosterlandt di Batavia untuk memulai karier sebagai kelasi dua bergaji 10 rijksdaalder per bulan. Penempatan pertamanya sebagai pegawai VOC di Hindia adalah di Benteng Padang. Berkat kemampuan menulis dan berhitungnya, ia ditempatkan sebagai juru tulis.

Pada 1693, Komandan Benteng Padang, Abraham Boudens, mengangkatnya menjadi asisten bergaji 24 rijksdaalder. Namun kantor pusat VOC di Batavia menilai pengangkatan ini terlalu sewenang-wenang dan gajinya terlalu tinggi, sehingga pangkat Hofman diturunkan kembali menjadi kelasi dua.

Penurunan ini hanya sementara. Tak lama kemudian, perusahaan mengangkatnya sebagai asisten di Ambon pada 1695 dengan gaji 20 rijksdaalder. Sejak itu, Hofman bertugas berturut-turut di Ambon, Ternate, dan Batavia, naik pangkat secara bertahap menjadi wakil pedagang (onderkoopman) lalu pedagang (koopman).

Pada 1708, saat menjabat administrator pertama gudang besi VOC di Batavia, ia menarik perhatian para atasannya dengan kinerja yang baik. Karena itu, pada 25 April 1710, perusahaan mengangkatnya sebagai Komandan Pantai Barat Sumatra dengan pangkat kepala pedagang (opperkoopman)—pangkat tertinggi dalam birokrasi VOC.

Hofman pun kembali ke Padang dengan martabat tertinggi—tempat yang sama di mana ia memulai kariernya sebagai kelasi dua, 24 tahun sebelumnya.

Selama bertugas di Pantai Barat Sumatra, pada 1715 ia mulai menyusun laporan etnografis berjudul “Opkomst der Padangnesen en Derzelver Regeringen”, yang disusun dari berbagai memoar Melayu dan tradisi lisan setempat. Di dalamnya, Hofman menguraikan asal-usul kerajaan Minangkabau dan Nagari Padang, adat istiadat, serta sistem kekerabatan matriarkat yang khas di kawasan itu.

Pada 1717, ia merampungkan karya tersebut dan mengirimkan salinannya ke Batavia disertai surat pengantar:

“Untuk Yang Mulia… saya melampirkan catatan-catatan pribadi saya mengenai catatan asli pertama pemerintahan lokal di sini, dan dengan cara bagaimana pemerintahan ini berubah dari waktu ke waktu.”

Karyanya tampaknya mendapat sambutan baik dari pemerintah pusat—sebuah puncak karier yang, tak berselang lama kemudian, justru diikuti kejatuhan mengerikan akibat skandal korupsi.

Bersekongkol dengan Istri dan Bawahan

Dalam menjalankan korupsinya, Hofman bersekongkol dengan sejumlah bawahan. Jongtijs dan Draijpon, dua wakilnya di Benteng Padang, kedapatan menyimpan 18.000 rijksdaalder dari kas barang-barang pribadi di gudang VOC. Dua wakil lainnya, Vlasvat dan van Santen, mengaku telah bertindak atas perintah Hofman (Generale Missiven, 15 Januari 1718).

Pejabat administrator Francais Spijk juga terbukti menyelewengkan uang perusahaan senilai 2.943 rijksdaalder, sementara pendeta Canter Visscher menjual tekstil milik Kompeni seharga 3.016 rijksdaalder untuk kepentingan pribadi.

Istri Hofman sendiri disebut-sebut terlibat dalam kejahatan serupa—ia diketahui menyogok para pedagang dalam upaya penyelundupan budak guna “memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri,” menurut sumber VOC yang sama.

Perusahaan segera memerintahkan agar Hofman dan para tertuduh lain diborgol dan diangkut dengan kapal ke Batavia. Kasus mereka diajukan ke Raad van Justitie (Dewan Kehakiman) Batavia dan mulai disidangkan pada tahun berikutnya.

Plakaatboek (11 Juli 1736) mencatat bahwa pada 9 September 1719, Raad van Justitie menjatuhkan putusan: Hofman dipecat dari jabatannya, dinyatakan tidak layak dan tidak boleh lagi bekerja di kantor VOC mana pun, dan pangkatnya sebagai pegawai Kompeni dicopot. Ia juga dijatuhi hukuman cambuk dan dirantai di depan umum, lalu diwajibkan melayani Kompeni sebagai tahanan rantai tanpa bayaran (kerja paksa) selama 15 tahun.

Hofman sudah berusia lebih dari 50 tahun ketika putusan itu dijatuhkan. Ia sempat mengajukan peninjauan kembali, namun pada 14 Mei 1720 Raad van Justitie menolak permintaan revisi tersebut.

Pada 7 September 1720—masih menurut Plakaatboek edisi yang sama—eksekusi atas Hofman mulai dijalankan. Tanjung Harapan ditetapkan sebagai tempat ia harus menjalani 15 tahun kerja paksa yang menyengsarakan: titik nadir bagi karier yang pernah begitu cemerlang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top