
Ombak pantai Padang berdebur di bawah langit kota yang mendung. Minggu pagi, 27 September 2026, pukul 08.00 WIB, sebuah odong-odong— mobil Kijang modifikasi yang biasa menjadi tumpangan “rekreasi” warga—menepi di depan Masjid Al Hakim, Jalan Samudera, Padang. Di dinding kanannya terbentang spanduk: “Telusur Sastra: Setting Cerita Novel Sitti Nurbaya”. Ini merupakan program Yayasan Cagak Inti Kultura (cagak.id) yang didukung Kementerian Kebudayaan RI. Telusur Sastra mengajak pembaca muda mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan cerita.
Telusur sastra, menurut Ria Febrina, Ketua Pelaksana Cagak Sastra, salah satu kegiatan yang banyak diminati, sehingga dari kuota 40 orang menjadi 60 orang. Tentu, tim kerja kreatif Cagak Sastra yang terdiri dari Fahmi Akbar, Alya Aqila, Anggi Oktavia, Latifa, Nada Aprilia, Sulthan Daffa dan Novirman ini terasa makin menyala karena menarik minat banyak orang.

Lihatlah! Puluhan orang, sebagian besar mahasiswa dan anak muda, datang mengenakan kaus hitam bergambar mesin tik dengan tulisan “Cagak Sastra”. Satu per satu mereka naik ke odong-odong. Pak sopir langsung memutar lagu Minang “Sitti Nurbaya” ciptaan Nuskan Syarif yang dinyanyikan Ria Amelia. Suasana pun terbangun: pagi itu, mereka akan masuk ke dalam latar atau setting sebuah novel.
Alfikri, pemandu program Telusur Sastra, memberi aba-aba. Sesuai selebaran agenda yang telah dibagikan, rombongan akan singgah dan melintasi tempat-tempat dalam novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli yang benar-benar ada di Kota Padang. Di setiap titik perhentian, Nada Aprilia, mahasiswi FIB Universitas Andalas, membacakan kutipan novel yang berlatar di lokasi tersebut. Sastrawan sekaligus sejarawan Deddy Arsya lalu mengupas sejarah tempat itu dan kaitannya dengan kisah dalam fiksi.
Novel sebagai Peta Ingatan Kota
Sitti Nurbaya (1922) menjadi tonggak awal yang menandai kelahiran genre roman dalam kesusastraan Indonesia. Novel ini bukan sekadar kisah cinta yang kandas karena perbedaan status sosial dan perjodohan paksa, melainkan juga potret sosial-budaya masyarakat Minangkabau dan Kota Padang awal abad ke-20 di bawah kolonialisme.
Menurut Deddy Arsya, Marah Rusli melukiskan latar tempat dengan detail yang luar biasa—jalan-jalan kota, taman, kawasan pelabuhan, hingga tempat rekreasi. Novel ini pun berfungsi sebagai dokumen ruang kota Padang kolonial yang kelengkapannya jarang tertandingi sumber sejarah lain pada masanya. Lewat fiksi, pembaca dan peneliti dapat menelusuri jejak ruang kota, kebiasaan sosial, dan mentalitas zaman yang tak selalu terekam dalam arsip resmi.

Karena itulah, menyusuri latar Sitti Nurbaya di Padang menjadi cara membaca ulang novel ini: bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai peta ingatan kota—topografi sosial yang direkam Marah Rusli dengan ketelitian seorang saksi zaman.
Mengunjungi Tempat, Menjalani Cerita
Odong-odong bergerak meninggalkan Jalan Samudera, diiringi konvoi sepeda motor peserta berkaus hitam yang sama. Rombongan memasuki kawasan Sekolah Belanda Pasar Ambacang, atau Schoolstraat, yang kini dikenal sebagai Jalan Bundo Kanduang. Lewat pelantang suara, Alfikri dan Deddy menjelaskan bahwa di sinilah, dalam novel, Syamsul Bahri dan Sitti Nurbaya menimba ilmu. Di depan sekolah tumbuh pohon ketapang rindang, tempat keduanya berteduh sepulang sekolah.

Odong-odong dan konvoi motor kembali melaju, lalu berhenti di Alang Laweh.
“Di sini banyak bangsawan Padang tinggal. Anak raja dan putri raja bermukim, bahkan mendirikan kerajaan sendiri yang bernama Kerajaan Alang Laweh,” tutur Deddy bersemangat. Ia penyair yang juga dikenal sebagai penulis buku sejarah Padang abad XVII–XVIII.
Giliran Nada membacakan kutipan yang berlatar tepat di tempat itu:
“Pada senja hari yang baru diceritakan, kelihatan bendi Sutan Mahmud masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah gedung di kampung Alang Lawas. Di dalam bendi ini duduk Sutan Mahmud.”

Dari Alang Laweh, peserta bergerak ke Kampung Ranah Parak Rumbio, sekitar Jalan Ranah saat ini. Dalam novel, di sinilah Datuk Maringgih tinggal. Rumah dan lingkungannya digambarkan kusam dan kotor—gambaran yang dibacakan Nada dengan irama suara yang memikat:
“Di kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu, beratapan seng. Letaknya jauh dari jalan besar, dalam kebun yang luas, tersembunyi di bawah pohon-pohon kayu yang rindang. Jika ditilik pada alat perkakas rumah ini dan susunannya, nyatalah rumah ini suatu rumah yang tiada dipelihara benar-benar, karena sekalian yang ada dalamnya telah tua kotor dan tempatnya tiada teratur dengan baik.
Di serambi muka hanya ada sebuah lampu gantung macam lama, yang telah berkarat besi-besinya. Apabila tak ada orang datang, lampu itu tiada dipasang. Dan oleh sebab yang empunya rumah rupanya jarang menerima jamu pada malam hari di sana, minyak tanah yang ada dalam lampu itu, terkadang-kadang berpekan-pekan belum habis.
Di bawah lampu ini, ada meja bundar, yang rupanya telah sangat tua, dikelilingi oleh empat kursi goyang dari kayu, yang warnanya hampir tak kelihatan lagi, karena catnya telah hilang. Di ruang tengah, hanya ada sebuah lemari makan, yang umurnya kira-kira setengah abad.”

Perjalanan berlanjut ke Pasa Gadang, kawasan pertokoan dan pergudangan di dekat Sungai Arau. Dalam novel, di sinilah tiga toko besar milik Baginda Sulaiman, ayah Sitti Nurbaya, habis terbakar akibat sabotase anak buah Datuk Maringgih. Di sini peserta menyimak kutipan tentang kekayaan sang saudagar:
“Itulah Datuk Maringgih, saudagar Padang yang termasyhur kayanya, sampai ke negeri-negeri lain. Pada masa itu, di antara saudagar-saudagar bangsa Melayu di Padang, tiada seorang pun dapat melawan kekayaan Datuk Maringgih ini. Hampir sekalian toko dan rumah yang besar-besar di Pasar Gadang, kepunyaannya. Hampir sekalian tanah di Padang, tertulis di atas namanya. Sawahnya beratus piring dan kebunnya beratus bahu. Hampir sekalian perahu yang berlabuh di Muara, di dalam tangannya. Sekalian rotan dan damar, serta hasil hutan yang lain-lain, yang datang dari Painan dan Terusan, masuk ke dalam tempat penyimpanannya. Berkapal-kapal kelapa keringnya, yang dikirimkannya ke benua Eropah. Bergudang-gudang barang-barang yang dipesannya dari negeri lain-lain.”
Sambil mendengar cerita dan berfoto bersama, rombongan kemudian melintasi dan singgah di Kota Tua Muara Batang Arau, di sisi utara Sungai Arau, kawasan Muaro. Di sana terbentang jalur kereta api dan jalan besar yang dulu menjadi urat nadi pengangkutan barang.
Di Gunung Kera
Peserta lalu memasuki gerbang objek wisata Gunung Padang. Orang Belanda dulu menamainya Apenberg—gunung kera—sebab di puncaknya banyak kera jinak yang menyenangkan hati para pendaki. Hingga kini, kera-kera itu masih mudah dijumpai.

Di pinggang gunung, rombongan berhenti sejenak. Yusrizal KW, Ketua Yayasan Cagak yang menggelar acara ini, mengatakan bahwa Telusur Sastra merupakan upaya mendekatkan pembaca muda kepada sastra. Novel Sitti Nurbaya dengan program “telusur sastra” menjadi pintu masuk yang menyenangkan untuk menjelajahi sisi lain sebuah novel. Sebagian besar peserta sudah membaca karya Marah Rusli itu. Daya tariknya, latar-latar cerita tersebut bisa ditemui secara nyata di Kota Padang—termasuk Gunung Padang ini.
Menurut Deddy, dalam novel, Gunung Padang adalah tempat rekreasi, tempat orang berpacaran, sekaligus tempat Sitti Nurbaya, Syamsul Bahri, dan kawan-kawannya bermain. Dari puncaknya terhampar pemandangan: Kota Padang di utara, laut biru di barat, lapangan dan Sungai Arau di timur, kompleks penjara Muaro, hingga puncak Gunung Singgalang dan Marapi di kejauhan.
Ketika Fiksi Dijadikan Fakta
Di hadapan peserta, Deddy menegaskan bahwa Sitti Nurbaya adalah karya sastra, fiksi ciptaan Marah Rusli—bukan legenda, sebagaimana tertulis pada sebuah plang Dinas Pariwisata Kota Padang. Pengarangnya jelas, dan Marah Rusli tidak menulisnya dari legenda yang diwariskan turun-temurun di tengah masyarakat.

Begitu pula “makam Sitti Nurbaya” di Gunung Padang. Itu bukan makam sesungguhnya, apalagi makam tokoh novel yang pernah difilmkan itu. Di sinilah lucunya: dengan diadakannya makam tersebut, fiksi seolah-olah dijadikan fakta.
Program seperti ini, kata Deddy, bisa menambah pemahaman masyarakat tentang batas fiksi dan fakta—bahwa sastra bercerita lewat rekaan pengarangnya. Senada, Ivan Adilla, dosen FIB Unand, menilai anggapan Sitti Nurbaya sebagai legenda muncul karena kisahnya begitu melekat di hati dan ingatan masyarakat. “Sampai-sampai dibuatkan makamnya,” tukas Ivan.

Bagi Ivan, Telusur Sastra menarik karena mengajak peserta mengenal dan memahami cerita lewat perjalanan langsung ke latarnya. Nabila Jeihan, dosen Universitas Negeri Padang yang hadir bersama mahasiswanya, sependapat. Menurutnya, karya sastra tidak hanya untuk dibaca; dari informasi di dalamnya, kita bisa menelusuri dan mengenal lebih jauh tokoh, cerita, dan latarnya dengan cara yang menyenangkan.
Rasa penasaran pun membawa peserta bersemangat mendaki Gunung Padang dan masuk ke gua demi menemukan “makam” Sitti Nurbaya. Untuk sampai ke makam buatan itu—yang oleh sebagian orang bahkan dipercaya nyata—dibutuhkan stamina ekstra. Guanya sempit dan curam, tak muat lebih dari sepuluh orang sekaligus. Di sana, peserta dan pengunjung bergantian berpose di depan makam.

“Setidaknya bisa menjawab rasa penasaran kita,” kata Aldi, salah seorang pengunjung. Selebihnya, ujarnya, tinggal kita yang menyimpulkan: ini makam asli, buatan untuk kepentingan wisata, atau sekadar mempertegas mitos yang sudah ada.
Fiksi telah bergerak keluar dari halaman buku dan membentuk mitos, identitas, bahkan nama tempat. Novel ini juga menuai protes.
Menjelang pukul 12.00, telusur pun usai. Gerimis pagi tak sampai menjadi hujan; ia hanya menemani langkah peserta di Gunung Padang hingga siang sebagai gerimis kecil. Kegiatan yang diikuti pelajar, mahsiswa, dosen, komunitas sastra ini berjalan lancar, dan hari itu menegaskan satu hal: sastra punya ranah yang menarik. Ia tak hanya dibaca, tetapi juga diperbincangkan, dipentaskan, ditelusuri, dan dihidupkan kembali dalam ingatan. []




