Narasi Spritual tentang Alam dan Manusia; Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan

Ungkapan Minangkabau – alam takambang jadi guru— jelas memiliki perspektif spiritual dalam memandang alam. Alam bukan benda mati yang pasif dan bisa dimanfaatkan sesukanya, ia justru dipandang sebagai guru yang bisa mengajarkan kita banyak pengetahuan. Ulama Minangkabau meninggalkan banyak tulisan, termasuk yang berisi tentang pengalaman spiritual keagamaan.Hanya saja sejauh ini tak banyak peneliti yang tertarik membahas masalah spritualitas dalam karya ulama Minangkabau yang sebagian besar berupa naskah kuno dalam aksara Jawi itu.

Spritualitas tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan dan pengalaman mistis, tapi berkorelasi dengan banyak bidang. Kajian filsafat melihat spiritualitas sebagai pencarian makna hidup dan kebaikan tertinggi, sementara dari perspektif psikologi, spiritualitas berkaitan dengan kesejahteraan batin, pengelolaan emosi, dan pengembangan kesadaran diri. Dari ranah etika, spiritualitas menjadi landasan moral yang menuntun manusia untuk bertindak baik, adil, dan bertanggung jawab terhadap sesama.1 (Al-Ghazali, 2000: 50; dan Frankl, 2006: 72).

Dalam dunia sastra, masalah spiritual sering dikaitkan dengan pengalaman religious mistis. Misalnya dalam “Syair Burung Pingai” karya Hamzah Fansuri yang mengungkapkan petualangan sang syekh mencari Tuhan2. Begitu juga karya Amir Hamzah, Hamid Jabbar, hingga Abdul Hadi WM yang bicara tentang kedekatan antara hamba dengan pencipta.

Dalam konteks demikian antologi Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra menggunakan perspektif yang lebih luas. Spritualitas tidak hanya berkait dengan Tuhan, tapi juga alam, benda, dan hewan. Melalui narasi visual yang ironis, lucu dan kadang mengejutkan, aku narrator menceritakan pertemuan, dialog dan kesaksiannya terhadap alam dan dirinya sendiri.

Profil Pengarang

Sumber foto: Facebook Heru Joni Putra

Heru Joni Putra lahir di Payakumbuh pada 13 Oktober 1990. Kesenangannya pada pengetahuan dimulai dari keluarga melalui buku yang dibelikan setiap bulan oleh ayahnya— seorang wartawan dan pegawai Departemen Penerangan3. Ketika ayahnya meninggal dunia, ia mulai memasuki dunia kesenian dan sastra untuk melipur kesedihan atas kepergian ayahnya.

Ia mulai belajar musik pada masa SMP , terutama jenis musik rock, pada seorang musisi di kota asalnya. Setelah itu berkenalan dan aktif di Komunitas Seni Intro, sebuah kelompok kesenian di Payakumbuh. Di sinilah Heru mulai tertarik dan menulis karya sastra. Mentor utamanya adalah Gus tf Sakai dan Iyut Fitra dua sastrawan pendiri Komunitas Intro4.

Kegiatannya dalam bidang sastra kemudian berlanjut saat ia melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra Inggeris, FIB, Univ. Andalas. Di tempat baru ini ia bertemu dan kemudian aktif dalam diskusi-diskusi yang melibatkan banyak penulis di kampus ini. Di luar bangku kuliah, Heru aktif di Lembaga Penulisan Kreatif (LPK), sebuah unit kegiatan mahasiswa yang aktif dalam bidang penulisan; Rumah Kreatif Kandangpadati, Ranah Teater, dan Ruang Kerja Budaya.

Pada masa kuliah itu juga Heru mulai mempublikasikan puisinya di media sastra lokal, terutama lembaran budaya “Cagak” yang diasuh Yusrizal KW dan bagian dari Harian Padang Ekspress. Setelah itu ia mempublikasikan karyanya dimedia nasional seperti Koran Tempo dan Harian Kompas.

Heru kemudian melanjutkan pendidikannya di Program Cultural Studies, FIB, Universitas Indonesia dengan tesis tentang kontestasi memori dan makam Tan Malaka. Pada tahun 2019 Heru mendapat kesempatan melakukan program residensi ke Bristol, Inggris. Ia kemudian pindah ke Yogyakarta. Di kota gudeg itu memperluas perhatiannya pada dunia senirupa, yang telah dimulainya saat ia aktif sebagai kurator di Galeri Hanafi di Depok. Saat ini, selain menuli puisi, Heru juga menulis kritik sastra, esai budaya dan kritik seni rupa.

Oh ya, Heru juga menulis untuk sebuah rubrik berbahasa Minang berjudul “Cubadak Kantang” di sebuah media online, Garak.id. Kolom ini dipenuhi narasi satir dengan bahasa yang sarkastis. Seakan ia ingin meluapkan kemarahan dan kemuakanya melalui bahasa daerahnya sendiri. Sejak awal semester tahun ini, Heru menjadi guru di sebuah perguruan di Bogor dan menetap di kota sejuk itu.

Karya Heru Joni Putra

Pada tahun 2017 Heru menerbitkan antologi pertamanya, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, ( Nuansa, Bandung, 2017). Buku pertama ini menyajikan narasi-narasi kritis yang satir dan ironis dalam balutan pepatah, ungkapan, bahkan pantun. Keseluruhan narasi disatukan oleh seorang tokoh yang bisa berganti peran, Badrul Mustafa.

Dalam sebuah wawancara, HJP menyatakan bahwa ia dengan sengaja menghindari sajak liris-ekspresif yang digandrungi di kalangan penyair Indonesia. Maka ia mencari alternatif lain, dengan menyajikan puisi naratif yang menggambarkan sikap dan opiniya. Karyanya jadi menarik karena dengan sikap kritisnya HJP menyajikan narasi lucu dan ironis. Contoh paling gamblang adalah “Janggut Haji Agus Salim”.

Sumber foto: Facebook Heru Joni Putra

Buku pertama ini mendapat perhatian pembaca sastra sehingga meraih buku puisi terbaik versi Majalah Tempo (2018) dan Wisran Hadi Award (2019), serta diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris oleh George A. Fowler dengan judul Will Badrul Mustafa Never Die: Verse from The Front (Lontar, 2020).

Dalam sebuah wawancara tentang antologi tersebut, Heru menyatakan kondisi sosial saat itu amat mempengaruhi puisi yang ditulisnya.

“.. munculnya “nabi-nabi baru” di zaman kontemporer ini, baik nabi-nabi dalam bidang agama, politik, ataupun kebudayaan; orang yang disakral-sakralkan, seakan tak mungkin salah, merasa sebagai sumber kebenaran, dan seterusnya. Heroisme para nabi kontemporer itu membuat saya lelah. Dan itu yang membuat saya melakukan karikaturisasi atas berbagai sosok “nabi-nabi baru” itu dalam bentuk tokoh Badrul Mustafa sebanyak 40 karakter.”5

Informasi di atas menunjukkan bagaimana kondisi sosial amat mempengaruhi Heru sebagai seorang penyair. Saya ingin memanfaatkan informasi itu sebagai pintu masuk untuk membahas puisi dalam buku kedua HJP, Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan.

Di tahun 2020 saya bertemu Heru di kampus kami di Padang. Ia bercerita tentang perjalanannya ke beberapa surau, pertemuan dengan beberapa mursid, serta beberapa pengalaman ‘aneh’ saat ia mengobrol dengan guru-guru tarikat di wilayah kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Tapi pengakuannya yang mengharukan adalah bahwa ia kini menulis puisi diawali dengan salat sunat, atau minimal berwudu. Baginya, menulis puisi adalah laku spritual, bagian dari ibadah. Tampaknya, sikap itulah yang melandasi puisi-puisi yang ia tulis dalam periode setelah masa wabah Covid itu. Masa wabah itu juga memungkinkan Heru untuk lebih intens berladang dan mengenal alam lebih dekat. Selama masa Covid ia menanam beberapa tanaman rempah di kampungnya di lereng Gunung Marapi. Dalam masa sabah Covid itulah puis-puisi dalam antologi ini ditulis.

Berbeda dari buku pertama, dalam buku kedua ini Heru tidak menginformasikan publikasi awal dari puisi-puisi yang ditulisnya. Informasi itu penting sebab tema dan nuansa bahasa yang terdapat dalam buku terbaru ini berbeda jauh dari buku sebelumnya. Informasi tentang puisi justru saya dapatkan di luar buku, terutama wawancara dan perbincangannya dengan orang lain.

Apakah Heru masih membungkus buku kedua ini dengan narasi? Tentu saja, tapi dengan arah dan masalah yang berbeda. Pada buku pertama ia berkisah sebagai narrator yang menceritakan kisah di luar dirinya, tentang sebuah peristiwa dan tokoh. Pada buku kedua ini, HJP lebih banyak menarasikan petualangan spritualnya pada alam, ilmu pengetahuan dan diri sendiri.

Jika pada buku pertama ia bercerita tentang hal di luar diri, maka kini ia justru berkisah tentang perjalan diri dalam memahami alam sekitar. Aspek humor satir yang ironis tidak lagi kita temui dalam buku terbaru ini. Yang dirasakan adalah hentakan asing yang meninggalkan gema usai membacanya. Memang dalam beberapa puisi ia masih menyisakan ironi— yang bersifat reflektif, bukan kritis. Bisa jadi, inilah kitab puisi yang menghimpun petualangan HJP saat merealisasikan filosofi kampung halamannya; alam terkembang jadi guru.

Antologi ini dibuka dengan puisi berjudul “Selamat Ulang Tahun Heroisme”, yang mengisahkan tentang perasaan senang monyet karena harimau, sang raja hutan, tersesat dan kebingungan di rimba raya, serta ular piton yang tergoda untuk melahap landak. Puisi ini ditutup dengan peristiwa tragis, ketika akhirnya piton melahap landak, “duri-duri landak/menunjuk langit/dari dalam perutnya/”. Puisi awal ini seakan menjadi isyarat tentang kisah yang akan disajikan dalam puisi-puisi berikutnya; kisah tragis dan nasib ironis kesombongan manusia yang ingin menguasai alam sekitarnya.

Dari sisi tematik, ada tiga hal yang menjadi tema dalam antologi puisi ini. Pertama adalah masalah lingkungan dan kepedulian sosial, renungan diri dan pengalaman spritual.

Lingkungan dan Kepedulian Sosial

Ada sekitar delapan puisi yang secara spesifik bicara tentang lingkungan. Saya pilih “Api/ Samphlastik” (9) sebagai kasus untuk pembahasan ini:

API
SAMPHLASTK


tidak ada kacang panjang
tidak ada kentang

hanya judul puisi ini
yang busa
aku bawa untukmu
Pulang kerja sebelum siang

cangkulku demam
hilang gairah pada tanah
dan hari ini patah tiga
sediakala kubawa ke ladang
ia sering hilang ingatan

setiap kali menggali
tak jarang ia bertanya

ini di bumi atau di mana

Bagi saya, judul puisi ini – yang susunan fonemnya berantakan— menggambarkan sampah plastik yang berserakan. Puisi menggambarkan keprihatinan terhadap sampah yang berserakan di mana-mana. Keprihatinan itu digambarkan dengan nasib malang petani yang tak bisa lagi membawa hasil ladang pulang karena cangkul telah patah disebabkan tanah yang kehilangan kesuburan dan dipenuhi sampah.

Yang menarik dari puisi ini adalah narasi yang dibangun untuk menggambarkan bumi yang kerontang, mengeras dan kehilangan kesuburan. Narasi itu dibangun melalui kisah antara antara /aku lirik/ dengan cangkul. Cangkul dipersonifikasi, sehingga ia bisa diserang demam hilang gairah, bahkan hilang ingatan. Cangkul bahkan juga bertanya, dengan nada protes, /ini di bumi atau di mana/. Kisah yang sederhana dan dalam bahasa yang lugas. Justru dengan dua hal itu ia menjadi narasi yang kuat untuk menggambarkan keluguan petani yang mengalami nasib malang.

Ivan Adilla, membicarakan “Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan” dalam acara “Cagak Sastra”.

Narasi ekspresif seperti dalam Sampah Plastik, menceritakan keluhan petani yang tak hanya membawa sampah plastik dari ladang dan cangkulnya patah tiga karena menghantam sampah plastik yang memenuhi tanah. Petani menyampaikan kisah itu dalam bahasa sederhana. Namun kesederhanaan bahasa itulah yang menjadi kekuatan puisi ini. Kekuatannya bukan pada diksi dan metafora, tapi pada ironi yang dibangunnya.

Puisi Terjemahan

di hutan-hutan
aku belajar
bahasa pepohonan

kuhafal setiap kosakata
dan pengucapannya

aku tiru suara pohon tumbang
bunyi akar menembus tanah
dan sejumlah kalimat untuk menggugurkan dedaunan

ke dalam bahasa pohon
aku terjemahkan
puisi pemberontakan
juga puisi tentang hijaunya
kampung halaman

dan aku baca
dengan logat tunggul kayu

tapi sungguh
entah mengapa

terjemahan kata tumbuh
tak kunjung aku temukan
dalam bahasa pepohonan

Melalui personifikasi pepohonan, dalam puisi ini, aku lirik langsung berdialog dan lebur bersama alam. Dia tidak lagi memberitakan masalah lingkungan— seperti pada puisi pertama— tapi menarasikan perjumpaan, dialog dan keheranan tentang tidak adanya kata /tumbuh/ dalam bahasa pepohonan. Pohon tidak mengenal lagi kosa kata itu karena mereka terus ditebangi, hanyut dan dibakar.

Penyair mengungkapkan keprihatinannya dengan cara halus, yaitu hilangnya kosa kata /pertumbuhan/. Seperti dimaklumi, kosa kata adalah lambang sebuah konsepsi yang dimiliki sebuah entitas. Begitu kosa kata itu lenyap, maka berarti konsepsi yang termuat di dalamnya juga punah. Terjemahan yang gagal karena hilangnya konsepsi tentang pertumbuhan.

Peta Dunia di Sekolah Dasar

hujan lebih dari sekadar tiba
ia masuk melalui gerbang utama
atas seng
yang menganga

kulihat bangkai lonceng besi
seperti dengkul kesunyian

pohon jati yang dulu tumbuh
di suatu rimba

masih setia berjaga
meski telah lama menjadi
kursi dan meja

guru-guru telah lama balik arah
ke dalam tanah
menjadi pandir kembali
di alam lainnya

dan hamparan lumut
lebih dari sekadar hijau:

membuka
jalan yang lebih nyata
di atas sisa-sisa peta dunia.

Potret buram dunia pendidikan kita. Keburaman itu digambarkan melalui atap sekolah yang bocor terbuka, fasilitas dari zaman dari zaman ketumbar, lonceng besi dan kursi jati. Serkolah yang tak terurus sehingga lumut telah tumbuh di atas peta dunia yang terdapat di sana.

Ada dua sarana yang digunakan Heru untuk mengungkapkan sikapnya. Pertama melalui narasi visual tentang sekolah tua yang bobrok dan tak terurus. Kedua melalui perumpamaan yang dipilih tentang lonceng besi yang seperti dengkul kesunyian. Mengingatkan akan otak di dengkul, dan dengkul itu pasif dan sunyi. Sama sekali tak lagi dipakai. Lebih parah lagi dari otak dengkul.

Tentang guru, ia tidak menyebutnya meninggal atau wafat, tapi //…telah lama balik arah/ ke dalam tanah/ menjadi pandir kembali/ di alam lainnya//. Ungkapan ini jelas bermakna ganda; gurunya adalah orang tanpa semangat, mati rasa dan pandir.

Oleh sebab itu, bisa dimaklumi kenapa sekolah itu jadi berlumut. Jalanan berlumut yang licin itu kini membentang di atas sisa-sisa peta dunia. Itulah gambaran dunia pendidikan yang disaksikan dan dipersepsikan Heru.

Kesadaran Diri

Bumi Semakin Luas

jauh dari perumpamaan
jeruk purut yang melisut

bumi terus mengembang
dan semakin luas

beberapa waktu lalu
siapa sangka
aku berjalan dalam rumahku
tiga hari tiga malam
dari tempat tidur ke sudut dapur
tak sampai- sampai

dulu sekali
sehari saja berlalu
sudah bisa aku ke mana mana

bumi semakin luas

tujuh hari tujuh malam
aku mengembara
ternyata baru melewati
tanaman lengkuas
kunyit serai
kencur jahe
di halaman rumahku

sudah sangat lama aku
berjalan dan berjalan
empat puluh hari tak berhenti
pohon kelapa seberang rumah
masih begitu jauh

bumi semakin luas
dan tak henti mengembang
semoga tak surut gairahku
mengunjungi kawan karib
sanak saudara

Puisi ini mengungkapkan persepsi aku lirik tentang ruang dan waktu. Ruang yang terasa makin luas dan waktu yang menyempit untuk menempuhnya. Penyebabnya bukan ruang yang makin melebar, tapi intensitas aku dengan alam yang makin mendalam sehingga makin banyak yang harus diamati, dipikiran dan diajak bicara. Dalam keadaan demikian, waktu menjadi mengkerut, menyempit.

Keluasan bumi itu terjadi sekarang, saat ini; ketika untuk mengelilingi tanaman di halaman saja butuh waktu sampai tujuh hari. Padahal /dulu sekali/sehari saja berlalu/sudah bisa aku ke mana mana/. Perhatian yang mendalam terhadap hal-hal kecil di sekitarnya itu mencemaskannya, jangan-jangan ia tak sempat lagi melihat sanak saudara dan lebih tertarik pada benda-benda.

Patung Seorang Filsuf

di pekarang taman satwa
sehabis gempa

sehelas tisu kotor
tertinggal
di atas patung seorang filsuf

dan angin mengembusnya
lebih pelan

seakan ia sedang
menurunkan suatu pengetahuan
untuk merobohkan
patung itu

Puisi ini memberikan narasi visual yang ironis dan nakal tentang posisi filsuf. Patungnya ditempatkan di ruang parkir taman satwa, bukan di jalan utama sebuah kota. Posisi itu mengajak kita berpikir bahwa filsuf tak jauh bedanya dari satwa yang ada di taman itu.

/Sehelai tisu kotor/, adalah ironi visual berikutnya. Ia bukan tisu baru dan bersih, tapi tisu bekas pakai. Tisu kotor itulah yang /menurunkan suatu pengetahuan/ untuk merobohkan/ patung itu/. Merobohkan patung filsuf—yang merupakan simbol dari pemikir— sama halnya dengan penolakan terhadap ilmu pengetahuan.

Kesadaran dan Pengalaman Spritual

Penghormatan Untuk Ketidaktahuan

aku dan ketidaktahuan
kawan buru memburu

di mana saja ia sembunyi

aku pasti menemukannya
tanpa perlu aku
mempelajari
sungsang langkah kakinya

ke manapun aku menghindar
ketidaktahuan
pasti mencegatku

tanpa perlu ia
mengamati
senjang gerak gerikku

pernah kukira
aku dan ketidaktahuan
tafsir menafsir seperti ujung akar
dengan sanding batu
dan pernah kuduga
aku dan ketidaktahuan
runding berunding seperti retak batu
dengan pilinan akar

toh tetap saja aku dan ketidaktahuan
kawan hantam menghatam
tiada henti deram berderam
dan maunya kini tikam menikam

tapi ketidaktahuan adalah kawan
yang tak bisa dikandaskan

aku selalu mengenalinya
sekalipun babak belur mukanya
aku bisa mendengar
hilang-timbul jerit ketidaktahuan
di setiap kata kataku
aku bisa merasakan
tegak-rebah raga ketidaktahuan
di setiap tindak lakuku

tanpa ketidaktahuan
aku tak bisa
memahami diriku sendiri.

Yang menarik adalah cara Heru menggambarkan persahabatannya dengan ketidaktahuan sebagai kawan /buru memburu/. Juga berunding…

Metafora antara akar dan batu, retak batu dan ujung akar.

Aku dan alam saling berdialog, berkejaran tentang ketidaktahuan.

Tanpa ketidaktahuan/ aku tak bisa/ memahami diriku sendiri/

Potret Syekh Khatib Ilyas al- Khalidi

wajah yang pelan bicara
apakah engak
daging bening

atau keheningan kasat mata?

suara yang erat memeluk
apakah engkau
tenang murni
atau saripati waktu?

aata yang sabar mendengar
apakah engkau
induk cahaya
atau biang kasih sayang?
kalbu yang lembut memandang
apakah engkau
asal mula warna putih?

atau pengiring alam raya?

Khatib Ilyas al Khalidi adalah seorang syekh tarikat naqsyabandi-al khalidi yang bermukim di surau. Tampaknya orang tua yang tenang dengan lubuk yang dalam inilah yang sering didatangi HJP saat ia ingin mengetahui dan belajar tentang tarikat yang diminatinya pada masa Covid 19. Puisi di atas menggambarkan kesan spiritual tentang hubungan guru-murid.

Sang murid amat mengagumi dan menghormati gurunya yang santun, suraunya yang lembut dan penuh kasih. Puisi di atas juga menggambarkan betapa HJP melihat gurunya bukan lagi sebagai manusia dalam jasad yang memberi pesan dan ajaran, tapi sosok alim yang penuh adab dan menyejukkan.

HJP tidak memandang gujrunya karena ilmu dan pengetahuannya, tapi karena sikap dan karomahnya sebagai seorang guru. Ia tidak lagi dilihat sebagai jasad, tapi daging bening; matanya yang bening layaknya induk cahaya, dan kalbunya begitu bersih layaknya asal mula warna putih.

Sumber Foto: Facebook Heru Joni Putra

Penutup

Pengalaman spiritual adalah pengalaman yang sulit untuk dijelaskan. Ia kadang sulit dipahami dan dimengerti. Dalam puisinya HJP mencoba mengungkapkan pengalaman itu melalui narasi sederhana. Kekuatan Heru adalah mengukapkan pengalaman dan laku spritualnya dengan narasi sederhana. Ia tidak menjelaskan dan mendeskripsikan, apalagi menyampaikan pesan.

Saya kira, puisi naratif tentang pengalaman spritual ini berakar dari tradisi bercerita yang hidup dalam masyarakat Minangkabau. Di sana, ada tradisi untuk berbahasa dengan bahasa kiasan yang dimaksudkan untuk melatih kearifan dan sensitifitas. Tentu juga untuk menyindir. Hal itu lahir dalam bentuk kaba, pantun, pepatah petitih.

Heru adalah seorang narator, yang menceritakan pengalaman spritualnya tentang alam, benda dan Tuhan. Sebagai narrator, ia hanya menceritakan kesan dan pengalaman serta kesaksian, bukan memberikan kesimpulan. Dengan cara seperti itu, sajaknya menjadi terbuka, sarat ambiguitas yang membuka peluang untuk ditafsirkan berbeda oleh pembacanya.

Dalam hal sosial, ia menceritakan kisah pilu, tanpa ungkapan menghujat, maupun kemarahan. Sikapnya dibangun dari cara ia membangun dan memilih kisah yang disampaikan. Ia menyampaikan sikap secara tersirat, bukan secara langsung.

Demikianlah, HJP dalam antologi ini berbagi pengalaman, kesan dan gagasannya. Narasinya ringkas, efektif dan penuh kejutan. Ketika dunia pengetahuan buntu dan sia-sia, Heru memilih menikmati keterbatasan dini. Inilah puisi naratif dari penyair yang melakukan petualangan spritual ke alam sekitar dan jatidiri.

Buku ini menyodorkan kita pada narasi ironis, satiris dan tragis dalam bahasa yang lugas. Enak dinikmati sekaligus membuat kita merenung. Akan tetapi, seperti halnya pengalaman spritual dan mistis – yang menyenangkan, mengherankan dan menyentak— tidak selalu mudah menjelaskan pengalaman pembacaan yang dirasakan. []

  1. Al Gazali, 2000. Filsafat Etika Islam. Bandung: Mizan. ↩︎
  2. Salah satu baitnya yang sering dikutip adalah //Hamzah Fansuri di dalam Mekkah// mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah // dari Barus ke Quddus terlalu payah // akhirnya dijumpa di dalam rumah.” ↩︎
  3. “Saya selalu dibawakan koran Haluan setiap hari dan berbagai buletin serta satu buku per bulan. Setiap akhir pekan, saya diperbolehkan belajar menulis (dengan cara menyalin berita di koran) menggunakan mesin tik.
    …Ayah saya tidak tahu bahwa saya senang nulis karya sastra. Sebab buku-buku sastra adalah pelarian pertama saya setelah beliau berpulang.” Instagram hjp (Heru Joni Putra ) 1 Mei 2026. ↩︎
  4. Tentang Komunitas Intro, lihat Heru Joni Putra (2026)” Obituary Iyut Fitra: Puisi Sebagai Salam” Cagak.id, 05 Mei 2026, https://www.cagak.id/esai/obituari-iyut-fitra-puisi-sebagai-salam/; dan Ivan Adilla (2026) “Sastra Sebagai Ikon Sebuah Kota”, Antara,10 September. https://sumbar.antaranews.com/berita/778077/sastra-sebagai-ikon-sebuah-kota. ↩︎
  5. Zulkifli Songyanan,2019. Wawancara. Heru Joni Putra: Hoax dan Playing Victim, Buruan.co. 29 Juni. https://www.buruan.co/heru-joni-putra-hoaks-dan-playing-victim/ ↩︎

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top