Lomba Menangis

Ilustrasi: Syahrial Yayan

Ketika ketiga juri berdiri tepat di depannya, pemuda nomor lima puluh tujuh  masih belum mengeluarkan satu tetes pun air mata. Di sekelilingnya, alun-alun kota telah berubah menjadi lautan bebunyian. Pelantang suara terus mengalunkan kisah tentang jasa-jasa orang tua, masa kecil yang indah, dan cinta berbalas. Semua itu berhasil. Orang-orang meraung, tersedu, memukul dada, menutup wajah. Entah apakah mereka menumpahkan semua kehilangan dalam hidup mereka atau tidak. Yang pasti, mereka hantam kromo, demi hadiah utama satu buah motor listrik anyar.

Semuanya berhasil. Kecuali kepadanya.

Karena memang bukan itu yang membawanya ke sini. Ia mengejar tangisan karena mungkin ia bisa, paling tidak, menemukan alasan menangis. Kita masih membicarakan pemuda nomor lima puluh tujuh itu.  Ialah satu satunya yang belum mulai menangis.

Sejak mendengar kabar tentang lomba menangis seminggu silam, juga imbas pendapat temannya, pikirannya tak henti berputar pada perkara tangis-menangis ini. Awalnya, kesulitan tidurlah yang menjadi keluhannya. Entah mengapa rekannya, A, yang sama-sama bekerja di think tank kecil seputaran Menteng, menyatakan mungkin kurang menangislah yang menjadi akar masalah dari gangguan tidur itu.

“Bagaimana?” tanya si pemuda bingung, saat bertemu dengan A di depan mesin kopi. A yang telah mengisi gelas kertasnya, lalu menyeruput sedikit seduhan kafein itu, berkata, “Ya. Kamu bilang susah tidur. Dan masalahnya juga, kamu bilang jarang menangis. Siapa tahu ada yang butuh disalurkan. Orang dewasa biasanya bisa menutup hari dengan menangis dulu, lalu ketiduran. Tapi serius ini, kamu tidak pernah menangis?”

“Ya. Bukan jarang. Tapi tidak pernah.”

A memandang pemuda itu dengan ganjil, “Kamu bahagia kan, sama hidupmu?”

“Bahagia sekali.”

“Bahagia kok sulit tidur.” A terpingkal, pemuda kita tersenyum tipis. A menambahkan, “Atau, ya, bisa jadi. Bukankah tidur sendiri adalah semacam penyerahan diri? Menangis juga begitu—tanda bahwa kau menyerahkan pertahananmu, bahwa kau membiarkan dirimu kalah sebentar dan tanpa kendali. Anggaplah, hanya percobaan. Kita sering mencari pintu-pintu baru ke dalam diri kita, kan? Mungkin saja pintumu adalah air matamu. Kapan katamu tadi, tepatnya, kamu terakhir kali nangis?”

Pemuda itu termenung. Saat kecil, sering. Setelah besar, mungkin sepanjang belasan tahun ini belum pernah. Benarkah insomnia dan “kemandulan” menangisnya berasal dari akar yang sama, yakni ketidakmampuan untuk menyerah? Tapi mengapa? Menyerah untuk apa? Mengapa harus menemukan sesuatu yang tidak perlu dicari? Tidak, jangankan yang sedih, tangisan nikmat saja tidak datang, meski telah ditontonnya film yang hangat dan makan makanan masa kecil yang lezatnya bukan main berkali-kali.

A menyarankan ikut lomba menangis.

Lomba itu akan diadakan memperingati hari ulang tahun kota, di bulan Juni. Kata A, siapa tahu si pemuda bisa ketularan tangisan. Itu mungkin terjadi. Pemuda kita pernah membaca laporan antropologi tentang suku Andaman dan Maori yang menangis ketika bertemu kerabatnya setelah lama berpisah. Mereka duduk bersisian, merangkul leher satu sama lain, lalu tumpahlah air mata itu tanpa bisa dicegah. Orang Trobriand dan Uaupes di Brasil pun demikian. Tangis mereka rangkaian bunyi bersahutan, bergantian dengan tawa keras, membentuk semacam musik duka bersama. Orang Babilonia kuno juga, mereka menangis lalu tertawa dalam satu ritual musim semi! Sekelebat, lewat juga ingatan soal Goethe yang menulis Werther, yang menangis bersama Lotte hingga Barthes menyebutnya mirip hubungan seksual ….

A menjelaskan, “Tidakkah kau ingin menjadi manusia modern masa kini yang berulang kali menonton Titanic hanya demi menangis deras yang kabarnya enak, seolah selalu ada kegembiraan aneh dalam basah model ini? Ikutlah! Ikutlah!” Itulah, akhirnya pemuda kita mendaftar bersama kekasihnya, dengan alasan mengisi waktu libur dengan kencan unik, tanpa kekasihnya tahu bahwa ia hanya ingin menangis.

***

Setelah mengecek pacarnya yang ada di barisan belakang—yang terlihat menikmati tangis orang lain dengan cengir lebar—pemuda kita menilai peserta lain untuk menemukan sumber tularannya.

Kebanyakan peserta menangis terdiri dari perempuan paruh baya, meski ada juga lelaki dan anak-anak. Tangisan mereka begitu hebohnya. Beberapa seperti ingin mengubah air mata itu menjadi air minum, yang lainnya tenggelam dalam gestur memukul, berteriak, menarik-narik rambut. Ada perempuan tua di sebelahnya. Dengan daster bunga dan kerpus rajut, ia mengeluarkan bunyi huhuhuhu dengan pipi kuyup. Di sisi lain, seorang lelaki berumur empat puluhan bersimbah keringat, mencoba sekuat tenaga menangis meski dengan itu bibirnya keluar-masuk. Di tempat yang agak jauh, anak-anak lebih banyak menertawakan satu sama lain, tidak jauh beda konyolnya dengan perempuan setelan senam merah-putih dua baris di depan, yang terlihat melebih-lebihkan tangisan hingga nyaris ambruk dan pingsan.

Dengan hiruk pikuk itu, bukannya ikut menangis, si pemuda merasa dirinya ada di tengah-tengah penangis upahan, yang meratapi orang-orang yang tidak dikenal. Seperti orang-orang di masa lalu yang dibayar untuk menangis di Yunani, Roma, Timur Tengah, sampai ke Kepulauan Solomon. Mereka memimpin ritual berkabung, menguatkan kesedihan orang lain, meski kadang dianggap kurang tulus. Namun, tidakkah menangis harusnya menjadi ekspresi yang murni?

Sebelum lomba dimulai, peserta sudah diwanti. Tak boleh menggunakan bantuan bawang merah, tak boleh menyakiti diri sendiri, tak boleh dipancing dengan musik sedih atau foto. Hanya narasi sentimental dari pengeras suara yang boleh. Narasi itu tidak mempan ke si pemuda. Ia justru menyelidik ke peserta lain yang sudah tenggelam dalam air mata. Apakah ia … terlalu sadar?

Dokter matanya telah memastikan kelenjar lakrimalnya sehat. Psikiater yang ditemuinya untuk urusan susah tidur tidak menemukan gejala psikis gangguan berat. Ia juga selalu punya cara mengekspresikan apa yang kata-kata tak mampu dengan medium simbolik dan kerja kreatifnya. Tidak ada yang keliru secara medis. Namun, mengapa semua orang bisa menangis dengan mudah?

Ia pikir, mungkin, dalam situasi semacam itu, mustahil tangisan itu menular, sebab ia tidak lahir dari kehilangan nyata yang dirasakan bersama-sama. Mustahil menular, bila tangisan itu dijadikan pertunjukan konyol dan penambah efek drama di depan penonton. Untuk menemukan jawaban, dibongkarnya ingatan soal air mata yang telah menjadi bukti kedalaman iman dalam agama-agama, dari para sufi, tembok ratapan, mukjizat di patung-patung suci, membayangkan semua budaya, semua aturan, semua penafsiran, dari mistikus perempuan ke para sensibility writer abad ke-17. Belum? Baik. Bukankah menangis itu universal? Semua manusia, di segala budaya, pernah menangis. Bayi ke gaek tak terkecuali, sebagaimana Darwin menyebut tangisan sebagai ekspresi khas manusia, seperti hewan yang boleh melolong, mengerang, dan mengeluarkan cairan … masih, tidak bisa!

Dan sekarang, berkejaran sepanjang lima belas menit ini, ia harus menemukan cara agar mereka muncul. Padahal juri sebentar lagi akan melintas di hadapannya. Ia mencoba mengopi suara hu yang panjang dari sebelahnya, juga menikmati apa yang dinarasikan pelantang. Namun rasa-rasanya sia-sia, seolah ini tidak berlaku pada orang yang emosinya sulit dimanipulasi.

Tiga juri akhirnya memasuki barisan si pemuda. Mereka berjalan pelan membawa papan skor. Sebentar, bagaimana menakar skor tertinggi tangisan? Bagaimana mungkin derai air mata  ditakar dengan bilangan? Bagaimana mereka sanggup menimbang derita seolah-olah kesedihan adalah sebutir biji kacang yang bisa ditaruh di timbangan? Bukankah tangis, dalam khazanah purbanya manusia, selalu dipandang sebagai limpahan suci setara doa dan pengorbanan? Tidakkah janggal bila kini ia diperlakukan laksana hiburan, yang ditonton, diperlombakan, dan diklasifikasi berdasarkan … nilai?

***

Makin dekat para juri itu, makin berjejal pula pikirannya.

Ia teringat suku dan bangsa yang menangis berjam-jam demi mengantar roh. Ia teringat kaum yang menjerit riuh, berbaur tawa, demi merayakan kematian sebagai pintu. Ia teringat bagaimana tangis menjadi lidah dan ikatan suatu kelompok, yang merajut duka menjadi satu tubuh. Tunggu, apa yang sedang dikejarnya ini—mengesankan para juri atau dirinya sendiri?

Para juri memasang raut heran ketika menilai si pemuda. Pemuda kita menatap kosong, lurus ke depan. Seorang juri bertanya, “Mengapa anda tidak menangis?”

Si pemuda menjawab, “Tidakkah terbaca kesenyapan ini sebagai kepedihan paling murni? Penderitaan saya yang sejati tidak pernah melibatkan air mata—tapi benar, saya sedang menangis ini.”

“Anda harus menangis yang benar dulu, untuk dinilai.”

Si pemuda malah balik bertanya, “Maaf, bisa dicontohkan?”

Para juri saling berpandangan. Mereka tersenyum tipis, menulis sesuatu di papan skor, lalu beralih ke peserta lain tanpa komentar.

Makin jauh juri menilai, makin kecil suara tangisan para peserta. Yang berada di barisan depan sudah sepenuhnya berhenti. Beberapa peserta telah kehilangan suara. Ketika peluit tanda waktu habis berbunyi, hanya tersisa isak tangis mereka yang tangisnya kebablasan. Orang-orang berceloteh sambil membicarakan siapa yang paling heboh, berspekulasi mungkin mereka bisa setotal itu karena memikirkan pinjaman online.

Sejam kemudian, pengumuman pemenang dibacakan. Nama-nama yang dipanggil berasal dari para peserta yang air matanya paling kelihatan. Pemenang utama jatuh pada tangisan dengan ngueng cempreng. Pemenang kedua mengeluarkan suara mirip kambing disembelih. Pemenang ketiga membuat penonton terbahak ketika ia memeragakan ulang, karena ia menangis sampai berceceran ingusnya.

Si pemuda (dan kekasihnya) tidak menang.

Sepanjang perjalanan menyetir, kekasihnya menceritakan ini kencan terunik dan paling menyenangkan yang pernah mereka lakukan, sebagaimana uniknya lomba menangis ini, yang hanya sekian dari keanehan manusia lainnya, karena bahkan Ovid dan kawan-kawan dulu sekali pernah memopulerkan menangis di depan kekasih sebagai seni persuasi, semacam aplikasi kencan tempo dulu, hanya dengan lebih banyak cairan.

Katanya, sambil tertawa, “Beb, mungkin kamu akan terlihat lebih atraktif saat itu bagiku, bila kamu menangis.” Si pemuda kurang memperhatikan apalagi yang dibahasnya. Entah mengapa rasanya seperti baru saja dikritik.

Jadi, ya. Apabila malam ini ia masih tidak bisa tidur lagi, ia berencana akan melompat ke rencana B—psikiaternya menyarankan berhenti minum kopi dan berhenti membaca berita. Berita buruk. Soal kesulitan rakyat kecil. Soal harga-harga yang melonjak. Soal korupsi pejabat tinggi yang tak habis-habis. Nah, bila saran itu lagi yang diterimanya, ia pikir akan lebih baik membuat janji dengan dokter jiwa yang baru. []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top