Setelah Kalah Berperang, Ramai-Ramai Pergi Bersuluk

Ilustrasi pertempuran bersejarah. (Sumber: StockCake)

Perang usai, tapi bencana baru saja dimulai. Sawah telantar, harga beras melonjak, dan penduduk yang kalah memilih menyepi ke bilik-bilik tarikat—sementara Kompeni, seperti biasa, menangguk untung dari penderitaan yang mereka ciptakan sendiri.

Kondisi yang begini, misalnya, pernah terjadi pada 1684 ketika Padang yang beraliansi dengan Kompeni berperang melawan aliansi Pauh dan Koto Tangah. Sumber VOC melaporkan: “Hal ini telah menyengsarakan penduduk Padang dan masyarakat lain yang tinggal di sekitar dan menyebabkan kelaparan yang meluas.”

Ketika perang berlangsung lagi pada dua dekade setelah itu, akibat-akibatnya juga sama menyengsarakannya. Arsip-arsip Kompeni mengakui sendiri nestapa yang mereka timbulkan akibat penghancuran kampung-kampung Pauh, yang sama artinya dengan kehancuran lumbung pangan nagari-nagari tetangganya karena kedudukan nagari itu sebagai pusat padi: “[H]ancurnya tanah-tanah yang indah dan subur, yang menjadi simpanan pangan bagi nagari-nagari di sekitarnya”.

Setelah perang berakhir, kondisi ini bukannya segera pulih dengan sendirinya. Bagi kampung-kampung yang dikalahkan dan dihancurkan, merebak rasa putus asa dalam bentuk ketidakpedulian pada pertanian.

Setelah nagari mereka babak-belur dalam perang melawan aliansi Kompeni dan Padang, penduduk Koto Tangah dilaporkan menjadi tidak peduli lagi dengan tanah pertanian mereka. Penduduk memilih untuk beramai-ramai berkhalwat, memasuki bilik-bilik sunyi tarikat, ketimbang memulai mengerjakan sawah-sawah mereka lagi. Arsip VOC menyebut kalau mereka “menjalankan pengucilan diri [suluk] yang terkenal sekali dan di atas segalanya meninggalkan rumahnya dengan sedikit pertimbangan, karena mereka sekarang sepertinya ingin menjalani kehidupan spiritual.”

Tidak hanya dirasakan di Koto Tangah, kondisi pasca-perang juga amat memedihkan di Pauh.

“Van de verdreven en verstroyde Pauh hoorde men niet meer, welkers landen nu aent lantschap van Padang behooren, alwaer groote sterfte en, gelijk gcsegt, gebrek van rijs onder den lantaart was geweest.”

(Tidak ada lagi yang terdengar tentang Pauh yang terusir dan tercerai-berai, yang tanahnya sekarang menjadi wilayah Padang, di mana terdapat banyak kematian dan, seperti dikatakan, gelap gulita ketika malam.)

Ilustrasi pasukan Resimen Infanteri Ringan ke-1 Prancis yang terpukul mundur pada Pertempuran Maida. (Sumber: Illustrated Battles of the Nineteenth Century, Vol. 2, hlm. 577, 1895)

Ketika sawah-sawah diterlantarkan, ketika semangat untuk mengolahnya pudar-padam, dapat dipastikan yang mengikutinya di kemudian hari ialah krisis beras. Makanan pokok itu menjadi langka, dan kalaupun tersedia, harganya mahal.

Di tengah badai krisis beras di kawasan itu, maka Kompeni mencoba menyiasatinya dengan mengirimkan beras secara mendesak melalui laut dengan kapal-kapal mereka. Pada umumnya beras itu didatangkan dari gudang pusat VOC di Batavia, tetapi ada juga yang dikirim dari Benggala. Arsip Kompeni melaporkan: “[K]arena beras jarang ditanam akibat kerusuhan, itulah sebabnya pesanan dikirim ke sana … Iijsselmonde dan dua kapal kecil disediakan untuk pengiriman”.

Namun, kebijakan itu hanya untuk sementara saja. Dewan Padang terus mendorong Nagari Padang dan nagari-nagari sekelilingnya untuk kembali menanam padi, kembali mengolah sawah mereka. Laporan ke Batavia menyebutkan, mereka mencoba untuk mendorong orang Pauh dan Koto Tangah menanam padi kembali, “men spoort hen aan tot kei planten van padi”.

Bungus dan Tarusan, dapat dikata, juga mengalami kelesuan yang sama. Kedua nagari di selatan Padang itu merupakan penghasil beras juga. Penduduknya mengalami gairah yang padam untuk menanam padi atau menghasilkan beras lagi.

Akibat kekalahan yang mereka derita dalam perang dengan Kompeni, para petani di sana tidak dapat kembali ke pekerjaan mereka sebelumnya dengan mudah. Kompeni mencoba membawa mereka kembali ke titik di mana produksi padi mereka berlimpah lagi seperti sebelum perang.

Namun, kesangsian terus saja muncul: mungkinkah masyarakat yang sudah dihancurkan seluruh kekayaan material dan jiwanya, harta benda dan moralitasnya, daya hidup dan semangat juangnya, dapat dengan mudah menerima saran dan nasihat dari ‘bekas’ musuh yang membuatnya harus menanggungkan semua itu?

Pada titik inilah kita bisa memahami dan memaklumi, mengapa langkah-langkah ‘pertapaan’ yang lebih dipilih orang Koto Tangah ketimbang harus mengerjakan sawahnya. Pada titik ini pula kita tahu, di tengah keputus-asaan dan kehilangan daya hidup, kehancuran dan kenestapaan, mengapa jalan tarikat menjadi jalan yang akan lebih dipilih oleh banyak orang.

Akan tetapi, seperti yang umum telah ditemui, Pemerintahan Kompeni di Padang menghindari untuk menyalahkan diri mereka sendiri atas kemunduran semangat kerja yang begitu dalam yang melanda nagari-nagari yang mereka hancurkan itu. Mereka justru menyalahkan pemimpin-pemimpin lokal dari nagari-nagari itu yang mereka anggap tidak becus—dan kebiasaan-kebiasaan buruk merekalah yang menghancurkan diri mereka sendiri.

Penyebab sebenarnya dari kemalasan yang berujung kepada kemiskinan yang sangat parah itu, katanya, adalah ketidakmampuan para penghulu kepala dan para penghulu yang lebih rendah dalam memimpin rakyatnya. Mereka punya kebiasaan beristri banyak yang keterlaluan. Mereka juga sibuk dengan ayam-ayam aduan. “Tidak ada hal lain yang dapat dikaitkan dengan penjelasan ini selain hanya kelakuan mereka yang keterlaluan dengan banyaknya perempuan (istri) dan rumah sabung ayam, yang melaluinya mereka akan menyia-nyiakan diri mereka sendiri.”

Seandainya pun memang kebiasaan-kebiasaan buruk semacam itu mengejala, tidak mungkin jugakah kalau semua itu juga menjadi semacam bentuk pelarian dari perasaan gagal dan putus asa yang sama?

Persoalan kelangkaan beras di Padang dan nagari-nagari sekitarnya masih akan terjadi dalam dekade-dekade berikutnya. Kali ini, yang menjadi penyebabnya ialah mengganasnya wabah.

Seperti telah disinggung juga, Padang sebagai kota pelabuhan jelas tidak memproduksi beras sendiri untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Namun, Nagari Padang, kampung tradisional orang-orang Minangkabau di timur kota itu, punya bentangan areal persawahan yang luas. Belum lagi, nagari-nagari tradisional lain di pinggiran Padang, semisal Pauh dan Koto Tangah yang lebih besar dan padat penduduknya, ialah pusat beras. Dapat dikira, kebutuhan beras hamba-hamba Kompeni dalam kota dapat dipenuhi oleh nagari-nagari itu.

Tidak jarang, beras untuk penduduk Padang juga didatangkan dari Bayang dan Batang Kapas, di mana sawah-sawah membentang sama luasnya dengan Pauh. Pasaman, terutama Kinali, juga pernah disebut sebagai pemasok beras utama di kota-kota pelabuhan Pantai Barat Sumatra bahkan hingga ke Natal dan Tapanuli.

Hanya saja, ketika wabah penyakit mengganas menyerang nagari-nagari penghasil beras tersebut, sudah dapat dipastikan pasokan beras bagi penduduk Padang akan terputus. Pada 1765, misalnya, kematian yang tinggi di antara penduduk asli Padang dan nagari sekitarnya telah menyebabkan banyak sawah yang tidak bisa digarap. Kebutuhan pokok di sana menjadi langka dan mahal.

Petrus Albertus jr. dan Samuel jr. berangkat ke Padang pada 27 Agustus tahun tersebut dengan membawa 83 karung beras. Sampai akhir tahun tersebut, masih dirasa perlu untuk memasok beras ke Padang lebih banyak lagi. Harga beras mahal dan langka di situ. “Wabah penyakit seperti campak dan cacar” menyebabkan “tiga perempat dari sawah-sawah telah terlantar”.

Krisis beras nyatanya juga besertakan ataupun didahului amuk penyakit. Namun, di tengah kondisi krisis atau kelangkaan semacam itu, Kompeni justru menangguk untung besar. “Beras dijual Kompeni dengan keuntungan 50%,” kata sebuah laporan Kompeni.

[Selengkapnya dalam: Padang Abad XVII-XVIII: Sejarah Masyarakat dan Tradisi, Kabarita, 2026 (cet. 2)]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top